
Setelah resmi menjalin hubungan,, Darren dan thalia menikmati hari mereka hanya berdua.
Senyum dibibir gadis itu tidak pernah surut, Thalia masih tidak menyangka setelah lama dia menjomblo,, Takdir mempertemukan darren dengannya, Rasa bahagia menyelemuti hatinya.
"Apa kau merasa senang?" Tanya darren menatap gadisnya itu
"Humm, Aku sangat senang" Thalia tersenyum manis
"Apa kau tau? Disaat kau menabrakku, Mataku seakan tidak ingin berhenti memandangmu,, Dan aku jatuh cinta pada seorang gadis untuk pertama kalinya" Darren teringat pertemuan mereka saat dirumah sakit
"Sungguh?" Thalia tertegun mendengar ucapan darren
"Humm" Darren mengangguk kepala
"Maaf, Aku tidak memahamimu dari awal,, Tapi, Aku juga menyukaimu saat pertama melihatmu" Ucap thalia menatap wajah darren
"Aku tau,, Aku bisa melihatnya dari matamu, Karena itu aku langsung mengatakan padamu,, Jika aku mencintaimu" Darren menggengam jemari thalia
"Jangan pernah menghindariku lagi, Sayang" Darren mencium punggung tangan thalia
Thalia hanya tersenyum malu, Wajahnya semakin memerah saat darren bersikap begitu romantis.
"Humm, Baiklah" Thalia tersenyum malu
Tangan mereka terus berpegangan dan tidak terlepas sedetik pun,, Darren memang pria yang sangat romantis, Ketika darren mencintai seorang gadis,, Maka darren akan memperlakukan gadisnya dengan sangat manis.
"Ayo" Darren bangkit dari duduknya
"Mau kemana?" Tanya thalia
"Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu,, Dan aku sudah bosan disini, Ayo kita berkeliling?" Ajak darren
"Humm, Aku juga ingin makan eskrim" Ucap thalia dengan wajah imut
"Baiklah, Kita akan mencari eskrim,, Hah, Itu disana" Darren menunjuk kepenjual eskrim
Keduanya bangkit dan berjalan menuju ke penjual eskrim,, Darren yang memesan, Thalia hanya menunggu.
"Sayang, Kau suka yang mana?" Tanya darren masih menggenggam tangan thalia
"Coklat" Jawab thalia
"Tolong berikan yang coklat 2" Ucap darren pada penjual eskrim itu
Tak lama darren menyerahkan satu eskrim pada thalia,, Lalu mereka berdiri sambil memakan eskrim.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku" Tanya darren saat thalia terus menatapnya
"Tidak, Kemarilah" Thalia meminta darren lebih dekat lagi
Darren menurut dan mendekatkan wajahnya, Sesuai keinginan thalia,, Lalu thalia dengan iseng mencomot eskrim dan menaruhnya dihidung darren.
"Hahaha" Thalia tertawa lepas
"Hemz" Darren mendengus
Lalu ikut tertawa melihat tingkah thalia.
"Ya, Aku juga harus mengoleskannya diwajahmu" Seru darren
"Tidak, Jangan" Thalia menghindar, Dan berlari
"Sayang, Jangan berlari nanti kau bisa jatuh" Ucap darren, Mengejar thalia
"Dapat" Darren memeluk thalia dari belakang
"Ahh,Haha" Thalia tertawa saat darren mengoleskan eskrim diwajahnya
"Sekarang kau terlihat menggemaskan" Darren tertawa
"Ihhh" Thalia memukul darren kesal
Saat mereka asik tertawa, Tak sengaja thalia melihat sekelibat orang yang sangat dia kenali.
"Kak david" Gumam thalia
Gadis itu langsung mendekati orang yang dia kenali itu.
"Hei, Mau kemana?" Darren heran, Saat thalia beranjak pergi
Darren mengikuti langkah kaki thalia, Dan terlihat david sedang berdua bersama seorang gadis,, Namun gadis itu terasa asing bagi darren, Karena darren tau itu bukan alishka.
David? Kenapa dia bersama gadis lain? Siapa gadis itu. Batin darren
"Kak david" Panggil thalia
David menoleh kesumber suara, Begitu juga dengan lucy.
"Lia" Gumam david terkejut
"Kakak kenapa tidak mengabariku? Jika kakak sudah keluar dari rumah sakit" Thalia marah
"Maaf lia, Kakak tidak sempat menghubungimu" Balas david tenang
"Siapa gadis ini?" Tanya thalia menatap lucy
Melihat david memegang tangan lucy, Menjadi salah paham dipikiran thalia.
"Dia..." Belum sempat david bicara
"Aku tau, Dia pasti pacar kakak" Ucap thalia antusias
"Pacar?" Lucy mengerutkan dahinya, Begitu juga dengan darren ikut bingung mendengar penuturan thalia
"Hai, Ternyata kau gadis yang cantik" Thalia langsung memegang tangan lucy
"Pantas saja kakakku tergila gila padamu,, Kau juga sangat keren" Puji thalia tersenyum
"Maksudnya?" Lucy bingung
"Kak david tidak cerita padamu? Kalau dia punya adik?" Tanya thalia heran
"Ahh, Baiklah,, Aku akan perkenalkan diriku sendiri, Aku thalia" Thalia tersenyum
"Thalia" Lucy masih bingung
"Ya, Aku calon adik iparmu,, Mulai sekarang aku bisa memanggilmu, Kakak ipar?" Tanya thalia senang
"Kakak ipar?" Teriak lucy kaget, Dan melotot ke david
"Lia, Dia..." Lagi lagi david tidak sempat bicara
"Kakak, Aku menyukainya,, Kapan kalian akan bertunangan?" Thalia terlihat senang
"Hah?" Lucy semakin terkejut
Thalia tiba tiba memeluk lucy, Membuat lucy terbelalak.
"Kakak ipar, Kau harus menjaga kakakku dengab baik,, Karena aku hanya memilikinya didunia ini" Bisik thalia ditelinga lucy
Darren yang melihat thalia memeluk lucy,, Langsung menyeret david sedikit menjauh.
"Apa kau sudah bosan hidup? Jika kau mengkhianati alishka, Edric pasti akan membunuhmu" Bentak darren kesal
"Aku tau,, Lepaskan tanganku" David menyingkirkan tangan darren
"Lalu kenapa kau bersama gadis lain? Siapa gadis itu?" Darren setengah berteriak
"Dia, Lucy" Jawab david
"Lucy?" Darren mengerutkan dahinya
"Kenapa reaksimu begitu? Dia supir baru nona muda,, Aku dan lucy hanya rekan kerja" Tutur david
"Benarkah? Aku tidak melihat edric dan samara, Sedang apa kalian disini?" Darren melirik lucy
"Aku sedang menghiburnya, Karena itu aku membawanya kesini" Jujur david
"Lucy gadis yang baik,, Hanya saja dunia sangat kejam, Dia harus menderita disaat yang lain bersenang senang" Lirih david menatap lucy
"Maaf, Aku tidak tau dia begitu menyedihkan" Pekik darren
"Humm, Pria tidak bertanggung jawab telah merenggut hal yang sangat berharga didalam hidupnya" Ucap david menunduk
"Humm, Sebaiknya katakan pada thalia,, Sebelum thalia salah mengira" Darren menepuk bahu david
Kedua pria itu kembali bersama para gadis itu.
"Maaf, Tapi sepertinya kau salah mengerti" Kata lucy menatap thalia
"Apa maksudmu? Bukankah kau pacar kak david" Thalia heran
"Tidak, Aku bukan pacarnya" Balas lucy santai
"Jangan bercanda, Kau tidak bisa menipuku" Thalia masih tidak percaya
"Aku tidak menipumu,, Aku bukan pacar kakakmu, Aku hanya bekerja dengan kakakmu" Ucap lucy tenang
__ADS_1
"Bekerja?" Thalia mengerutkan dahi bingung
"Benar, Kakakmu memberikanku pekerjaan,, Dia mengatakan jika tuan edric sedang mencari supir pribadi untuk istrinya, Dan aku menerima pekerjaan itu" Tutur lucy
"Yang dia katakan itu benar,, Lucy adalah supir pribadi nona muda" David menimpali
"Jadi kalian tidak ada hubungan spesial?" Tanya thalia
"Tidak ada" Kedua geleng kepala
"Iss, Kenapa tidak mengatakannya dari tadi" Thalia kesal
"Mereka sudah berusaha, Tapi kau tidak ingin mendengarkan, Sayang" Ucap darren tersenyum
"Apa kau juga sudah tau?" Thalia menoleh ke darren
"Humm" Darren hanya mengangguk
"Maaf, Aku tidak tau" Thalia menatap lucy
"Tidak masalah,, Jika aku ada diposisimu mungkin aku juga akan seperti itu" Lucy tersenyum
"Jadi kapan kakak akan kenalkan aku pada pacar kakak?" Tanya thalia ke david
"Jika kau ingin? Malam ini kau bisa bertemu dengannya" Ucap david
"Sungguh? Dimana aku akan bertemu dengannya?" Mata thalia berbinar
"Aku akan menghubungi setelah aku bicara dengannya" Pekik david
"Aku akan menunggu,, Kakak jangan menghilang lagi" Pinta thalia
"Sayang, Apa kau tidak akan memberitaunya?" Darren merapatkan tubuhnya ke thalia
"Sayang? Apa kau baru saja memanggilnya sayang?" Bentak david
"Ya, Sayang" Ucap darren, Memeluk thalia dari belakang
"Ahh, Geli" Pekik thalia, Saat darren mencium bahunya
"Hei, Apa sopan berbuat begitu didepan kakakmu?" Bentak david
"Maaf kakak, Aku tidak perduli kakak setuju atau tidak,, Tapi aku mencintainya, Dan kami akan menikah" Balas thalia tersenyum
"Benar begitu, Sayang?" Thalia melirik darren
"Humm, Benar" Darren mengangguk
"Jika ku katakan tidak boleh, Apa kau tidak akan menikah?" Tanya david menatap tajam
"David, Apa kau meragukanku?" Darren sedikit emosi
Thalia sedikit bingung, Namun dia menggenggam tangan darren dengan erat.
"Tidak, Aku akan tetap menikah dengan darren" Ucap thalia mantap
"Sekalipun kakak tidak setuju, Aku tetap akan menikah,, Tapi aku harap kakak menyetujuinya" Air mata mulai membasahi pipih thalia
"Ayo, Kita pergi saja" Darren ingin pergi, Namun thalia menahannya
"Apa kakak sungguh tidak setuju?" Thalia menatap kakaknya
"Aku merasa nyaman bersamanya, Aku juga merasa senang jika didekatnya,, Aku hanya tidak ingin jauh darinya, Apa kakak tidak bisa melihatnya?" Thalia setengah berteriak
"Baiklah, Jika ini pilihanmu,, Aku menyetujui hubungan kalian" Seru david tersenyum
"Jangan menangis lagi,, Aku tidak suka melihatmu menangis" David mengusap airmata adiknya
"Terimakasih, Kakak" Thalia memeluk kakaknya
"Namun, Jangan pernah melangkahiku,, Awas jika kalian menikah sebelum aku menikah, Aku tidak akan datang" Ancam david
"Hahaha, Apa kau ingin kami menunggumu?" Darren terkekeh
"Tentu saja, Aku juga akan menikah" Pekik david
"Baiklah, Aku menunggu sampai edric menikahkanmu" Cibir darren
"Darren, Ku harap kau bisa menjaga adikku dengan baik" David memukul bahunya
"Aku tau,, Tentu aku akan menjaganya" Balas darren
"Jika kau membuatnya menangis,, Aku akan mencekik lehermu sampai kau memohon ampun" Ancam david
"Siap kakak ipar" Darren menahan tawa
"Aww, Haha baiklah" Darren hanya meringis
Mereka sedang asik mengobrol, David sepertinya melupakan waktu,, Tak lama Bunyi ponsel david mengejutkan mereka.
"Lucy, Apa ponselmu berbunyi?" Tanya david
"Tidak" Lucy menunjukkan ponselnya
"Ahh, Ternyata ponselku" Ucap david melihat pemanggil
"Tuan muda" Gumamnya
Setelah menjawab telfon dari tuan mudanya, David langsung mengajak lucy untuk kembali.
"Ayo, Tuan muda ingin pulang kerumahnya" Pekik david
"Baiklah" Lucy hanya mengangguk
"Lia, Aku harus pergi,, Jaga dirimu baik baik" David mengelus rambut adiknya
"Humm, Kakak tenang saja" Thalia tersenyum
"Darren, Aku terus mengawasimu,, Jangan macam macam" David memberi peringatan
Darren hanya menunjukkan smirknya,, Setelah david pergi, Darren juga mengajak thalia pergi.
"Kita pergi saja,, Aku bosan disini" Keluh darren
"Lalu kita akan kemana?" Tanya thalia
"Entahlah, Apa kau mau shopping? Kita bisa ke mall" Seru darren
"Bagaimana kalau ke taman?" Tanya thalia
"Boleh" Darren hanya tersenyum
"Atau nonton bioskop?" Tanya thalia lagi
"Boleh juga, Apa ada film baru?" Tanya darren
Mereka terus membicarakan tempat yang akan dituju, Berjalan menuju mobil sambil berpegangan tangan.
Dan akhirnya, Thalia memilih untuk pergi ke mall dan darren hanya mengikuti kemauannya saja.
........................
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Samara menemani edric hingga selesai pekerjaannya.
Terlihat lucy sudah berada didekat samara,, Menunggu edric selesai meeting.
"Lucy" Samara menoleh
"Ya nona" Lucy menatap samara
"Duduklah, Kenapa kau terus berdiri" Pinta samara
"Tidak perlu nona, Saya segan" Pekik lucy canggung
"Tidak masalah,, Lagi pula aku belum mengenalmu dengan baik, Sini duduk" Samara memaksa lucy
"Baik nona" Lucy akhirnya duduk disamping samara
"Apa kau sudah menikah?" Tanya samara penasaran
"Belum nona, Saya masih sendiri" Jawab lucy
"Itu bagus,, Berarti kau bisa bebas" Samara mendengus
Lucy hanya mengerutkan dahinya bingung dengan ucapan samara.
Apa nona muda tidak bahagia? Bukankah nona dan tuan saling mencintai. Pikir lucy
"Apa kau punya kekasih, Lucy?" Samara menatap lucy
"Tidak ada" Lirih lucy, Dengan raut wajah yang berubah
"Apa ada masalah?" Samara dapat melihat kesedihan dimata lucy
"Hah, Tidak, Tidak ada nona" Lucy menutupinya
"Kau bohong, Aku bisa melihat kesedihan dimatamu" Seru samara
__ADS_1
"Lucy, Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri,, Maka anggaplah aku seperti kakakmu, Kau bisa ceritakan apapun yang ingin kau katakan" Samara tersenyum
"Terimakasih, Nona" Lucy tertegun
"Humm, Jika kau tidak ingin bercerita maka tidak masalah" Samara memegang tangan lucy
Tak lama edric dan david masuk kedalam ruangan,, Karena telah menyelesaikan meeting sore itu.
Mata edric membulat melihat istrinya memegang tangan supir pribadinya itu.
"Beraninya kau bersentuhan dengan istriku" Bentak edric melihat ke lucy
"Maaf tuan, Maafkan saya" Lucy dengan cepat melepaskan tangan samara
"Ed, Ini bukan salahnya,, Aku yang memegang tangannya" Samara menjelaskan
"Tetap saja dia sudah menyentuhmu, Beby, Aku tidak suka siapapun menyentuhmu tanpa izin dariku" Ucap edric marah
"Tidak perduli dia wanita atau pria,, Tidak ada yang boleh menyentuhmu" Tutur edric
"Baiklah, Aku akan mengingat itu dengan baik,, Sekarang aku ingin pulang,, Ed, Aku sangat lelah" Pinta samara
Samara memeluk edric, Tanpa diminta samara menyandarkan kepalanya didada bidang milik edric.
"Bisakah kau bersikap lebih lembut" Lirih samara
"Beby, Apa kau ingin aku lebih lembut lagi?" Edric menatap samara
"Ya, Aku ingin kau tidak bicara kasar jika bersamaku ed" Pekik samara
"Baiklah, Aku akan menuruti semua keinginanmu beby" Edric mengecup kening istrinya
"David, Siapkan mobil,, Hari ini aku langsung pulang kerumah" Titah edric
"Baik tuan muda" David langsung berjalan lebih dulu
Mereka semua keluar dari ruangan menuju area parkir,, Edric dan samara sudah masuk kemobil.
"Humm" Lucy menahan tangan david
"Lepaskan, Tuan muda tidak suka menunggu" Ucap david
"Apa lebih baik aku pulang saja? Bukankah tugasku hanya mengantar nona muda?" Tanya lucy
"Tidak, Kau tetap ikut, Ayo" David menarik tangan lucy agar masuk ke mobil
Selama perjalanan tidak ada yang bersuara, David dan lucy duduk didepan,, Sementara pasutri itu sedang bermesraan dibangku belakang, Gelorah cinta sudah berkibar dihati mereka.
......................
Alishka sudah sampai dirumah, Terlihat mamah rosa duduk diruang tamu.
"Mamah" Sapa alishka
"Hey, Sayang sudah kembali?" Mamah rosa menoleh
"Sudah" Alishka duduk disamping ibunya
"Mamah sudah makan? Ahh, Aku sangat lapar" Alishka memegang perutnya
"Mamah sedang tidak ingin makan" Balas mamah rosa cuek
"Kenapa? Mamah terlihat tidak seperti biasa" Pekik alishka
"Apa ada masalah?" Tanya alishka heran
"Tidak ada" Jawab mamah rosa acuh
Mamah sangat aneh, Sudah jelas kalau mamah sedang marah,, Tapi kenapa? Mamah tidak pernah ingin cerita. Batin alishka
"Mamah, Besok sudah akhir tahun,, Apa kita tidak merayakannya?" Alishka mengubah topik
"Kau benar,, Kita memang akan merayakannya" Ucap mamah rosa menoleh
"Apa yang akan kita lakukan dimalam tahun baru?" Tanya alishka
"Tanya saja kakakmu,, Bukankah setiap tahunnya dia yang mengatur" Balas mamah rosa cuek
"Semua atas keinginannya, Selalu saja begitu" Ucap mamah rosa kesal
"Kenapa aku merasa mamah sangat kesal dengan kak edric? Mamah juga menjauhi kakak ipar" Cibir alishka
"Alishka, Jaga bicaramu" Bentak mamah rosa
"Aku hanya mengatakan yang ku lihat,, Hari ini mamah terlihat berbeda, Mamah bahkan tidak menyentuh masakan" Pekik alishka
"Kau tidak pernah mengatakan apapun disaat memakan masakan mamah,, Tapi kau justru mengatakan masakan samara sangat enak" Mamah rosa setengah berteriak
"Itu sangat membuat ku kesal,, Apa kau tau? Kakakmu mengubah seluruh dapur menjadi masakan wanita itu,, Haiss, Dia bahkan tidak mengatakannya padaku" Tutur mamah rosa kesal
"Seharusnya dia memberitau ku sebelumnya,, Tapi dia seakan tidak perduli dengan mamahnya" Mamah rosa geram
"Jadi mamah marah karena kak edric mengubah resep masakan? Is mom jealous?" Tanya alishka heran
"Tidak, Untuk apa mamah cemburu" Lirih mamah rosa
"Kenapa mamah tidak menanyakan itu pada kak edric? Kak edric pasti punya alasan sendiri" Seru alishka
"Kenapa bukan dia saja yang mengatakannya? Kenapa harus mamah yang bertanya? Mamah yang melahirkannya, Dia yang harus meminta persetujuanku" Pekik mamah rosa
Tint...Tint....
Suara klekson mobil mengejutkan ibu dan anak itu,, Para pelayan berhamburan menyambut kedatangan tuan muda mereka.
"Itu pasti kak edric" Alishka melihat kepintu utama
"Biarkan saja" Mamah rosa acuh
Tak lama edric memasuki rumah utama, Dan disampingnya terlihat samara terus menggenggam tangannya.
"Mamah" Sapa edric dan samara
"Lihat, Betapa wanita ini sangat manja dengan kakakmu" Cibir mamah rosa menatap genggaman tangan edric dan samara
"Cukup mah, Ucapan mamah bisa menyakiti kakak ipar" Alishka setengah berteriak
"Lalu kenapa? Bukankah dia juga menyakiti mamah" Mamah rosa balik marah
"Mamah" Samara mencoba mendekat
"Apa aku sudah menyakiti mamah?" Mata samara mulai berkaca kaca
"Hentikan sandiwaramu,, Jangan pura pura merasa bersalah" Bentak mamah rosa
"Mamah" Teriak edric emosi
"Ingat batasan mamah, Atau aku akan melupakan siapa mamah" Edric menekan suaranya
"Kau memang sudah melupakan mamah, Ed" Mamah rosa menatap tidak suka
"Apa maksud mamah?" Edric mengerutkan dahinya heran
"Kau lebih percaya dengan istrimukan? Kau tidak percaya dengan mamah? Benar begitu" Cibir mamah rosa
"Dan kau, Semenjak edric menikahimu,, Edric semakin berubah, Dia bahkan melupakan aku mamahnya" Mamah rosa menatap samara
"Tidak mah, Aku tidak melakukan apapun,, Percaya denganku mah" Samara berusaha membujuk ibu mertuanya
"Benarkah? Lalu kenapa tidak ada yang mengatakan padaku jika kau yang mengatur masakan didapur mulai sekarang?" Tanya mamah rosa
"Jika kau memintanya maka itu tidak masalah,, Tapi perubahan ini sangat menyakiti hatiku, Samara" Mamah rosa membuang wajah
"Maafkan aku mah,, Aku sungguh menyakiti hati mamah" Samara menunduk menangis
"Maaf mamah" Samara terisak ingin bersungkuh dikaki mamah rosa
"Beby, Kau tidak perlu melakukan itu" Edric mencegahnya
"Tapi aku sudah menyakiti mamah, Ed, Seharusnya aku tidak memasak untukmu" Samara masih menangis
"Mamah" Samara mendekati ibu mertuanya
"Mamah boleh menghukumku dengan cara apapun,, Tapi ku mohon jangan menjauhiku mah, Mamah sudah seperti ibu kandung bagiku" Samara masih terisak
"Sudah, Berhentilah menangis" Ucap mamah rosa menoleh
"Kau bukan hanya menantuku, Tapi kau sudah seperti putri bagiku,, Aku tidak mungkin bisa menjauhi putriku lebih lama lagi" Tutur mamah rosa
"Maafin mamah ya,, Jika mamah terlalu egois, Karena mamah merasa sejak kecil edric milik mamah,, Sekarang mamah sadar, Jika edric sudah memiliki istri yang sempurna seperti dirimu" Mamah rosa membelai rambut samara
"Humm" Samara mengangguk
"Kemarilah, Apa kau tidak ingin memeluk mamah?" Mamah rosa merentangkan tangannya
Samara langsung menghambur kepelukan ibu mertuanya itu,, Edric hanya tersenyum melihat keluarganya damai kembali.
Bersambung.....
__ADS_1