
Hari sudah semakin gelap, malam ini diluar hujan turun dengan rintik... membuat hawa menjadi dingin.
Tapi tidak untuk sepasang suami istri ini, mereka sedang tertidur nyenyak setelah melakukan ritual intim mereka,, samara menggeliat di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
Wanita itu membuka matanya,, lalu memandang suaminya yang sedang tertidur lelap,, samara menarik selimut untuk menutupi tubuh polos suaminya, agar pria itu tidak merasa dingin.
Lalu samara bangkit,, dan mengambil piyama yang hendak dia pakai tadi sehabis mandi, wanita itu berdiri di depan cermin,, begitu banyak stempel kepemilikan yang di tinggalkan edric di tubuhnya.
Samara tersenyum, dia merasa senang melihat begitu banyak tanda merah tubuhnya,,,
*ed, aku telah memberikan segala yang aku miliki padamu,, aku harap kau tidak akan berfikir untuk meninggalkan ku sendiri, karena mulai detik ini kau adalah hidupku,, aku sangat mencintaimu* samara memandangi wajah edric dengan seksama.
Tak lama edric terbangun dari tidurnya,, pria itu merentangkan kedua tangannya.
"Hoaammm" edric mengerjapkan matanya
Edric melihat istrinya yang duduk sedang berdandan di depan cermin, terlihat samara sedikit mengoles lipstik di bibirnya.
Edric bangkit dari tempat tidur,, masih mengenakan celana pendek selutut, di hampiri istrinya.
"Beby" edric memegang bahu samara
"Ed" samara menatap edric melalui cermin
"Kenapa kau selalu terlihat cantik setiap hari beby? itu membuat ku ingin sekali menerkam mu" goda edric dengan senyuman
"Ed, kau sudah mendapatkan yang kau mau,, jangan lagi ya, aku masih lelah" samara terlihat lemas
"Baiklah beby, aku tidak akan memaksamu" edric tersenyum
"Sudah sana mandi,, kau bau keringat" samara berdiri menjauh
"Ahh, masa?" edric tidak percaya, sampai mencium tubuhnya sendiri
"Aku tidak bau beby" edric tidak terima
"Ya sudah mandi sana" samara mendorong edric ke dalam bathroom
Samara menyiapkan pakaian untuk edric,, tak lama edric selesai mandi, langsung memakai baju yang sudah di sediakan.
Samara teringat akan paper bag yang ada di dekat lacinya,,
"Ed, ini untukmu" samara menyerahkan paper bag pada edric
"What is this beby?" edric menatap paper bag itu
"Lihat saja sendiri,, itu hadiah untukmu, aku membelinya waktu kita ke pasar,, aku lupa menunjukkannya padamu" samara tersenyum
Edric langsung melihat isi paper bag tersebut,, terlihat sebuah dasi berwarna biru.
"Itu mungkin hadiah kecil, tapi aku memilih sendiri untukmu,, aku tidak tau, kau suka warnanya? atau tidak" samara tersenyum menatap edric
"I like beby" edric tersenyum
"Ini akan menjadi dasi faforit ku" lanjut edric, lalu menyimpan dasi itu di lemarinya
"Besok aku akan memakainya" ucap edric dengan lembut
"Aku senang, kau menyukai hadiah ku" samara memeluk edric
"Aku juga punya sesuatu untukmu beby" edric melepaskan pelukan samara
"Hah? apa itu?" samara penasaran
Edric mengambil paper bag yang ada di sofa,, dan memberikannya pada samara.
"Kau boleh melihatnya" edric tersenyum nakal
"Ini seperti baju" gumam samara saat mengintip paper bag itu
Lalu samara mengeluarkan isi paper bag itu,, dan matanya terbelalak melihat barang pemberian edric.
"Ed, ini untukku" samara menatap edric
"Ya beby,, aku membelinya khusus untukmu,, kau akan sangat cantik jika memakainya" edric mengedipkan sebelah matanya
Samara menatap edric dengan heran,,,
*apa bedanya pakai baju atau tidak? ini bahkan tidak layak di sebut baju,, tembus pandang begini, yang ada aku masuk angin* batin samara
"Makasih ya sayang" samara tersenyum kecut
Samara ingin menyimpan piyama seksi itu di lemarinya,,,
"Beby, kenapa kau tidak mencobanya" pinta edric
"Aku ingin melihatmu memakai itu" rayu edric
"Cih, akan berjam jam di dalam kamar ini ,, jika aku menurutimu" gumam samara pelan
"Tidak sayang,, aku lapar, aku mau makan" tolak samara
Samara langsung menyimpannya dalam lemari...
"Ayo kita turun,, aku lapar ed" samara memegang perutnya
"Ahh,baiklah,, ternyata kau lapar ya" edric bicara dengan memegang perut samara
Hal itu membuat samara tersipu malu,, pasalnya edric mengusap perut samara, seperti pria yang istrinya sedang hamil.
"Ed, sudah,, hentikan" samara memegang tangan edric
Mereka berdua keluar kamar dan menuruni anak tangga,, terlihat alvaro masih santai menonton televisi.
"Alvaro, dia disini" bisik samara
"Iya, dia datang bersamaku" balas edric
Edric dan samara menghampiri alvaro,,
"Hahaha, bodoh" alvaro tertawa karena adegan lucu yang ada di film
"He" edric menepuk pundak temannya itu
Sontak alvaro terkejut dan langsung menoleh,,
"Edric, kau mengejutkan ku" ucap alvaro
"Ku kira kau sudah pergi" balas edric
"Ku kira kau tidak akan turun sampai pagi" alvaro mencibir
Ucapan alvaro sontak membuat samara malu,, wajahnya merah merona.
"Sialan kau,, aku belum mengantuk" edric memukul lengan alvaro
"Aku tidak yakin, kau hanya tertidur dikamar" ucap alvaro hampir tertawa
Pretty yang sedang minum air, mendengar perkataan alvaro langsung menyemburkan minumannya.
"He, gadis kecil jangan menguping" teriak alvaro menatap pretty
Pretty hanya geleng kepala, dan menjawab melalui gerakan tangan,,, seperti mengatakan 'kau memang gila'
__ADS_1
"Enak saja,, kau yang gila" teriak alvaro
Pretty hanya memajukan bibirnya,, menatap tajam ke alvaro,
"Sudah, ayo kita makan malam" ajak samara
Mereka sudah berada di meja makan,, terdapat Edric, samara, alvaro dan pretty.
Hanya kurang dua orang, mamah rosa dan alishka,, keduanya tidak ada, pak hendy lalu menghidangkan makanan di meja.
"Aunty belum kembali?" tanya pretty
"Belum, besok baru kembali" balas edric
"Aunty rosa pergi kemana?" tanya alvaro
"Luar kota, mengunjungi teman" jawab edric
"Alishka juga ikut?" tanya alvaro lagi
"Aku tidak melihatnya dari tadi" lanjut alvaro
Edric langsung menghela nafas kasar,, mendengar alishka tidak ada dirumah.
"Sudahlah rich, jangan terlalu cemas,, mungkin saja dia dirumah sakit" ucap pretty acuh
"Kau bisa menghubungi asisten mu itu, jika kau ingin tau" lanjut pretty, lalu memasukan makanan kedalam mulutnya
Semua mata tertuju pada pretty,, itu membuat pretty heran.
"Apa yang kalian lihat?" tanya pretty
"Bagaimana kau tau kalau alishka dirumah sakit?" alvaro menyelidik
"Diakan setiap hari mengunjungi david" ucap pretty tanpa beban
"Apa? setiap hari?" teriak edric kaget
"Jadi kalian tidak tau? kalau david dan alishka..." pretty menggantung ucapannya
*tunggu, apa hubungan david dan alishka hanya mereka saja yang tau* pikir pretty
"David dan alishka kenapa? kenapa kau berhenti pretty,, katakan yang sebenarnya" bentak edric
"Umm, mereka itu dekat ya dekat,, david yang menyelamatkan alishka dari pembunuh berantai, tentu saja alishka berhutang budi dan mengunjunginya setiap hari ya begitu" ucap pretty berbohong
"Jadi alishka berhutang budi,, karena itu dia mengunjungi david setiap hari" samara menyimpulkan
Pretty hanya tersenyum kecut,,
*hufft, hampir aku mengatakan semuanya* pretty menghela nafas lega
*dia pasti menyembunyikan sesuatu,, sudah jelas dia tau hubungan david dan alishka* alvaro menatap pretty
"Mungkin saja yang di katakan pretty itu benar" ucap edric
Tak lama alishka muncul dari ruang tamu,, gadis itu baru pulang.
Alishka masuk tidak melihat kanan dan kiri,, langsung menuju tangga, namun suara edric menghentikan langkahnya.
"Alishka" panggil edric yang melihat adiknya pulang
"Kak edric" alishka menoleh
"Kemarilah, kita makan bersama" ajak edric
Alishka datang dan duduk, sesuai keinginan kakaknya,,
"Makanlah,, kau pasti lelah kan" edric sedikit perhatian pada adiknya
Alvaro yang di sampingnya hanya memperhatikan,, ntah kenapa porsi makan alishka sedikit, pikirnya.
Alishka mulai menyendok dan makan dengan tenang,, tanpa banyak bicara, edric dan sama juga terlihat heran.
"Little, kenapa kau makan sedikit sekali,, itu tidak akan membuat mu kenyang" ucap alvaro menatap alishka
"Oppa" alishka menoleh
"Tambah lagi ya,, makan yang banyak" alvaro tersenyum,
Pria itu menambahkan lauk di piring alishka,, sudah lama dia menjauh dari alishka, itu membuatnya rindu dengan gadis kecilnya.
"Nah, lanjutkan makan" ucap alvaro, setelah menambahkan lauk
Alishka hanya mengangguk dan tersenyum menatap alvaro,, gadis itu mulai melanjutkan makan, namun dapat terlihat tidak ada semangat didalam dirinya.
Pretty yang melihat alishka,, juga merasa sedih, karena teringat dengan david,, pretty yang tak tahan langsung masuk kedalam kamarnya.
"Kenapa kak pretty pergi setelah aku datang" gumam alishka
Yang lain hanya bertanya tanya, ada apa dengan pretty? begitu,,
"Aku sudah kenyang" ucap alishka, dia hendak bangkit dan pergi
"Hey, little" alvaro menatap alishka
"Apa kau tidak merindukan oppa?" tanya alvaro
"Oppa" suara alishka mulai serak
Gadis itu mulai meneteskan air mata,, alishka langsung berbalik memeluk alvaro.
"Oppa" teriak alishka menghambur ke alvaro
"Hiks hiks" gadis itu terisak di dalam dekapan alvaro
"Maafkan oppa" alvaro memeluk alishka, dan mengusap rambut gadis itu dengan sayang.
"Oppa, aku tidak mau jauh dari oppa,, aku uda anggap oppa sama kayak kak edric, hiks hiks" alishka bicara sambil terisak
"Oppa tau itu" alvaro mengusap air mata alishka
"Kenapa mamah tidak pernah mengerti perasaan ku? kenapa oppa" alishka masih menangis
"Mamah sayang sama alishka,, katakan yang alishka mau, oppa yakin mamah pasti setuju" alvaro berusaha meyakinkan alishka
"Al, apa yang kau katakan?" edric bingung
"Alishka mencintai pria lain ed" alvaro terus terang
"Dia tidak mencintaiku,, bagaimana dia bisa bahagia bersamaku ed?" lanjut alvaro
"Apa benar alishka? kau mencintai seorang pria? siapa pria itu" tanya edric
"Jawab aku alishka" bentak edric,
Alishka masih menangis,, edric memegang bahu alishka.
"Alishka jawab aku" dengan lembut edric bertanya
"Iya kakak, aku mencintai seorang pria,, dia asisten mu, david" ucap alishka ragu ragu
Edric sangat kaget mendengar nama david dari mulut alishka,, samara juga menutup mulutnya sedikit terkejut, semua yang dia duga itu benar.
__ADS_1
"Kakak aku mencintainya,, aku sangat mencintainya" alishka terus bicara sambil menangis
"Aku mohon kak, jangan marah padanya,, jangan hukum dia karena aku kak, aku tidak ingin dia terluka lagi kak" alishka memohon
"Pergi ke kamarmu" ucap edric setengah berteriak
"Cepat, pergi ke kamarmu" bentak edric,
Edric mengepalkan tangannya,, dan memalingkan wajahnya, dia masih belum percaya dengan yang dikatakan alishka.
"Kakak.." alishka memandang kakaknya
Gadis itu langsung berlari menuju kamarnya,, pretty dapat melihat kesedihan dimata alishka, gadis itu hendak masuk ke kamar alishka,, namun dia mengurungkan niatnya, karena hatinya masih sakit setelah cintanya bertepuk sebelah tangan.
Pretty pun kembali ke kamarnya,, dan hanya alvaro yang masih bersama edric.
"Ed" alvaro memegang pundak edric
"Tidak al, kau juga pulanglah" edric hendak meninggalkan alvaro
"Tunggu ed, mungkin kau merasa david mengkhianati mu,, karena telah mencintai adikmu sendiri" ucap alvaro
"Tapi ketahuilah satu hal, dia sudah mengorbankan nyawanya demi adikmu,, dan tidak ada sumpah pernikahan yang melebihi pengorbanan itu" alvaro menepuk bahu edric
Setelah itu alvaro pergi meninggalkan edric,, edric juga memikirkan semua perkataan alvaro.
Dia menjambak rambutnya sendiri, disatu sisi dia sangat menghormati ibunya, disisi lain dia ingin melihat adiknya bahagia.
"Ahhh" edric merintih sakit
kepalanya terasa sangat berat,, samara yang melihat itu langsung menghampiri suaminya.
"Ed, lebih baik kau istirahat"
"Ya beby" edric juga menyetujui
Samara membantu edric menuju kamar,, lalu membaringkan tubuh edric di kasur.
Samara memijit kepalanya edric,, agar pria itu bisa tertidur,, sejenak edric tertidur.
Samara mengecup kening suaminya,, membelai wajah tampan itu.
"Kau sudah terlalu banyak memikirkan sesuatu,, istirahatlah sebentar" samara tersenyum
Samara mengelus rambut edric dengan sayang,,
"Beby, apa david juga mencintai alishka?" edric membuka suara
"Aku rasa dia mencintai alishka" ucap samara
"Apa yang harus ku lakukan beby?" tanya edric
"Mungkin david layak mendapat kesempatan,, aku yakin dia pria yang baik" samara tersenyum
"Kau benar,, dia memang sangat baik" edric juga tersenyum
"Beby, maafkan aku" tiba tiba itu terucap dari bibir edric
"Kenapa kau minta maaf ed?" samara heran
"Aku sudah mencium seorang gadis beby" edric teringat akan kejadian dikantornya
"Maaf beby" edric menunduk menyesal
"Apa maksudmu ed? apa kau selingkuh dengan gadis lain?" samara mulai berkaca kaca ingin menangis
"Jawab aku ed" bentak samara, mulai menjauh
"Beby, tidak seperti itu,, dengarkan aku beby" pinta edric, mendekat
Namun samara mundur, menjauh
"Aku selalu mempercayaimu ed,, dan kau bersama gadis lain" samara mulai menangis
"Beby, jangan menangis ,, semua terjadi secara tiba tiba beby" edric menjelaskan
"Tiba tiba? dan kau tidak bisa menolaknya begitu? jadi kau menciumnya atau kau melakukan hal yang lebih dari itu" samara memukul dada edric
"Ya aku tidak bisa menolaknya,, stella terus merayuku beby" edric masih menjelaskan
"Aku ini pria normal beby,, aku sudah mencoba untuk bertahan,,dan dia justru sangat menggoda, tapi aku tidak melakukan apapun,, sumpah beby" edric berusaha membujuk samara
"Kau berbohong, kau pasti sudah melakukannya kan,, aku membencimu ed" samara terus memukul edric
"Beby, aku tidak pernah melakukan itu,, aku melakukan itu hanya denganmu saja, hanya denganmu" bentak edric, memegang bahu samara
"Kau sungguh tidak melakukannya" samara mulai melunak
"Aku tidak pernah membohongimu beby" edric menatap mata samara
"Lalu kenapa kau mengatakan itu? kau mencium gadis lain" samara heran
"Aku memang berciuman dengan stella,, karena stella dalam pengaruh obat" edric bicara jujur
"Pengaruh obat?" samara bingung
"Ya beby,, dia tidak sadar, ada orang yang ingin menjebak ku,, orang itu mencampurkan obat didalam minumanku" edric menceritakan yang terjadi
"Hah? siapa orang itu" samara terkejut
"Orang itu adalah fiona,, dan dia juga yang sudah menjebakmu" ucap edric dengan benci
"Hah" samara menutup mulutnya kaget
"Fiona, dia yang menjebakku" samara masih tidak percaya
"Ya beby, aku mendengarnya sendiri,, wanita sialan itu bekerja sama dengan bajingan itu untuk menjebak mu" edric terlihat marah
"Beby, mereka akan menanggung akibatnya,, aku tidak akan mengampuni mereka" edric menatap samara
"Kenapa kau mengatakan semua ini ed?" tanya samara
"Karena aku hanya ingin mengatakan kejujuran padamu beby,, aku tidak ingin ada kebohongan, karena aku benci kebohongan" edric tersenyum
"Aku tidak akan menutupi apapun darimu beby,, Aku mencintaimu beby" edric mengecup tangan samara
"Aku juga mencintaimu ed" samara tersenyum
"Kau tidak marah lagi?"
"Tidak, tapi lain kali jangan katakan jika kau mencium gadis lain" samara tertawa
Lalu samara memegang bibir edric,,,
"Bibir ini hanya milikku,, gadis lain tidak boleh merasakannya" ucap samara menatap edric
Cup
Dengan berani samara mengecup bibir itu,, edric tersenyum mendapat sentuhan bibir.
"Aku ingin yang lebih beby" bisik edric
Dan akhirnya mereka kembali saling berciuman, sampai berujung di ranjang,, malam semakin larut,namun rintihan kenikmatan memenuhi seisi kamar utama...
__ADS_1
Bersambung...
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻