
"Ahh, menyerahlah,, kau bahkan tidak sanggup untuk berdiri" andrian mencibir
Saat ini pria itu sudah meratakan anak buah sang preman, satu persatu telah terkapar di tanah,, ntah mati atau tidak, intinya mereka tidak bisa bangkit lagi.
"Hey, pria bodoh kau hanya akan mendatangi kematian mu sendiri" sang preman masih tidak kapok
"Hahaha, sepertinya kau memang tidak tau siapa aku" andrian tertawa, dan tawa itu sangat menyeramkan
"Kau bahkan berani menyakiti seorang wanita, kau tau? kau sangat membuatku kesal,, akan lebih baik jika kau tidak membuat ku marah" andrian menekan nada bicaranya
"Lepaskan wanita itu" bentak andrian
Andrian menatap gadis yang ada di belakang preman itu,, begitu juga dengan pretty yang menatap andrian, sesaat pandangan mereka bertemu.
"Awas" teriak pretty, saat melihat preman lain ingin menusuk andrian
Dengan cepat andrian berbalik, menahan pisau yang ingin menusuk matanya,, sampai tangannya penuh darah terluka akibat menahan pisau tersebut.
"Jadi kalian ingin bermain denganku?" suara andrian mulai serak karena menahan sakit
"Baiklah, aku akan meladeni kalian"
Andrian memutar balik pisau itu, dan dengan kuat mendorong preman itu sampai pisau menusuk perut si preman.
"Hahhhh" andrian berulang kali menusuk preman itu dengan marah
Sampai preman itu benar benar mati,, pretty yang melihat andrian, juga ikut memukul preman yang masih berdiri.
Pretty menendang dan memukul preman yang berusaha menyerang andrian,, pretty duduk di atas badan salah satu preman, dan memukul wajah preman itu.
"Ini balasan karena kau berani menyentuhku, dasar berandal" teriak pretty, lalu meninju tepat ke wajah preman itu
Sementara andrian masih berhadapan dengan ketua sang preman,, andrian menatap sang preman dengan tajam dan penuh amarah.
"Se osi sfidarmi, allora non ti perdonerò" (kau berani menantangku, maka kau tidak akan ku ampuni), ucap andrian mengepalkan tangannya
Sang preman memukul andrian dengan keras, namun andrian tetap kokoh tanpa rasa sakit sedikitpun,, meskipun lengannya sudah terluka karena tergores pisau akibat baku hantam dengan sang preman.
Sang preman memukulnya lagi, namun andrian masih tidak bergeming,, itu membuat sang preman heran, karena pukulannya lumayan kuat.
"Hahaha" andrian tertawa dengan jahat
Andrian langsung mencekik leher preman itu dengan kuat, mendorongnya jatuh ke tanah,, andrian masih mencekik leher preman itu, lalu andrian meninju wajah preman berkali kali sampai wajah itu penuh darah.
"Bangun, lawan aku, bangun" teriak andrian menggoyang tubuh preman yang sudah tidak bergerak
"Ahhh" andrian memukul wajah preman untuk terakhir kali
Pretty yang melihat semua itu, sedikit takut menatap andrian yang membunuh sang preman dengan tangannya sendiri.
Wajah tampannya saat ini sangat menyeramkan, di penuhi dengan amarah,, andrian menatap tangannya yang berlumuran darah.
Andrian berdiri, dan menatap pretty hendak menanyakan keadaannya,, namun pretty yang melihat andrian membunuh dengan kejam, merasa takut dan melangkah mundur menjauh.
"Apa kau takut padaku?" tanya andrian menatap pretty
Andrian mencoba mendekati pretty,, namun lagi lagi pretty mundur menjauh.
"Tetap di situ, ku mohon tetap di tempatmu" balas pretty, yang masih sedikit syok
"Kenapa? bukankah seharusnya kau berterimakasih padaku" ucap andrian, sedikit mengulas senyum,,
Namun senyum itu terasa menakutkan bagi pretty, pretty menelan salivanya sendiri,, dan tidak ada satupun orang di tempat itu, bisa saja pria itu juga membunuhnya, begitulah pikiran pretty saat ini.
"Gadis konyol" andrian menatap pretty dengan tajam
"Kau adalah gadis yang selalu membuatku sial,, dan sekarang aku sial karena menyelamatkan mu" ucap andrian, terkekeh
Itu membuat pretty semakin takut melihatnya,, pretty juga mengingat pria yang menabraknya di taman dan juga di dekat halte.
*dia, pria bodoh itu? dia bukan hanya bodoh, dia ternyata psikopat* pretty semakin merinding
"Apa kau tidak mengingatku? kita bertemu lagi gadis konyol" andrian mendekati pretty, selangkah demi selangkah
"Please stop" bentak pretty, saat andrian tepat di hadapannya
"Apa yang kau inginkan?" tanya pretty dengan mata yang tak berani memandang andrian
"Tidak ada" jawab andrian, sedikit tersenyum
Pretty sedikit heran mendengar jawaban andrian,, lalu terlihat andrian mengambil ponsel di saku celananya.
Andrian menelfon asistennya,,
"Ken, cepat kesini,, aku sudah menghabisi banyak orang" ucap andrian melihat ke para preman yang sudah tidak bergerak
Setelah mengatakan itu, andrian langsung mematikan ponselnya,,
Tidak butuh waktu lama, ken sudah datang menghampiri bosnya,,
"Signore" (Tuan), ken menatap andrian
"Pulisci e sbarazzati di questo, non ne rimane più" (Bersihkan dan singkirkan ini, jangan ada satupun yang tertingggal), titah andrian
"Si signore" (Baik tuan)
Ken langsung memerintahkan anak buahnya, untuk menyingkirkan tubuh para preman tersebut,, pretty yang tidak memahami bahasa italia, hanya mengerutkan kening.
Namun disaat andrian kembali menatapnya,, pretty langsung waspada kembali.
"Kau, pergilah" ucap andrian
Pretty seketika heran mendengar andrian menyuruhnya pergi,, padahal sudah jelas dia melihat semua yang andrian lakukan, apakah pria itu tidak takut dia melaporkan pembunuhan? pretty bertanya tanya.
"Apa yang kau tunggu? cepat pergi, dan jangan pernah memperlihatkan wajahmu di hadapanku" andrian menatap tajam ke pretty
"Jika aku masih melihatmu, maka aku tidak akan melepaskanmu" ancam andrian
"Pergi" bentak andrian
Pretty yang terkejut langsung berlari ingin pergi, namun dia berhenti dan berbalik badan.
"Tunggu" teriak pretty
Andrian menoleh,
"Terimakasih" ucap pretty, lalu pergi meninggalkan andrian
Andrian hanya menatap kepergian pretty,, tak lama ken datang menghampiri
"Signore" (Tuan), panggil ken
"Apa semua sudah beres?" tanya andrian
"Ya tuan, sesuai keinginan anda" ucap ken
"Tapi tuan, kenapa anda melepaskan gadis itu? bukankah itu berbahaya tuan" tanya ken heran
"Tidak, aku hanya memberinya sedikit waktu untuk hidup" ucap andrian
"Cepat kau cari tau semua tentang gadis itu" titah andrian
"Baik tuan" ken langsung melaksanakan perintah bosnya.
...----------------...
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, dirumah utama sudah berkumpul anggota keluarga, mamah rosa sudah rapi sambil menyiapkan hidangan yang di bantu oleh pelayan.
Samara dan edric duduk di sofa, menunggu kedatangan tamu penting.
Sementara alishka belum terlihat,, gadis itu masih berada di dalam kamarnya, sudah terlihat cantik di depan cermin.
"Apa aku harus menerima kenyataan ini" gumam alishka, air mata menetes perlahan melalui pelupuk matanya
"David, apa yang harus ku lakukan?" alishka menangis, mengingat david
Tok..Tok..Tok
Suara ketukan pintu mengagetkan alishka,,
"Nona muda, nyonya besar menyuruh anda untuk segera turun" ucap sang pelayan
"Iya, sebentar" sahut alishka dari dalam
Lalu alishka dengan berat hati, keluar menuruni anak tangga,, menghampiri anggota keluarganya yang sudah menunggu.
Dibawah sudah ada jack yang baru datang, pria paruh baya itu duduk di samping mamah rosa,,
"Wah, edric, kau selalu terlihat menawan sejak kecil ya" puji jack
"Haha uncle, bisa saja" edric tertawa
"Dimana alishka? aku ingin melihatnya" tanya jack
"Itu, dia sudah terlihat cantik" mamah rosa tersenyum
"Tentu saja, putri robert pasti sangat cantik" jack tersenyum menatap alishka
"Sudah lama uncle tidak melihatmu alishka" lanjut jack
"Hello uncle" sapa alishka juga tersenyum
Mereka duduk bersama sambil mengobrol.
...----------------...
Dirumah sakit, david masih berdiam diri menatap jendela,, pria itu berdiri memandang kota London melalui kaca.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, dokter darren masuk hendak memeriksa.
"Apa aku sudah bisa pergi?" david to the point
"Apa ada masalah?" dokter darren menatap david
"Jawab saja pertanyaanku" david menoleh
"Biarkan aku memeriksa mu dulu" ucap dokter darren
David membiarkan dokter darren memeriksa keadaannya,, dan dokter darren tersenyum
"Aku rasa lukamu sudah sembuh,, kau boleh pergi" ucap dokter darren
David langsung mencabut selang infus yang ada di tangannya, meskipun sedikit tergores dia tidak perduli,, dan langsung pergi meninggalkan dokter darren.
"Hey, david kau.." dokter darren tidak melanjutkan ucapannya
"Apa yang membuatnya sangat gelisah" gumam dokter darren, geleng kepala
Sementara david, begitu keluar dari rumah sakit,, langsung memanggil taksi, pergi menuju kerumah tuan mudanya.
Sepertinya saat ini dia sedang sangat gelisah dan tidak tenang.
...----------------...
Disisi lain, pretty sudah sampai di rumah utama,, sebelum masuk dia membetulkan penampilannya, agar tidak terlihat kacau.
"Daddy" panggil pretty
Semua mata langsung menoleh ke pretty
"Pretty, my daughter" jack langsung berdiri, merentangkan tangannya
"Daddy" teriak pretty, langsung berlari kepelukan daddynya
Jack memeluk pretty dengan sayang, mencium pucuk kepala putrinya itu.
"Aku rindu daddy" ucap pretty menatap wajah jack
"Daddy juga sangat rindu kamu" jack tersenyum menatap putrinya
"Kenapa daddy tidak menghubungi ku" pretty cemberut
"Daddy bukan tidak menghubungi mu,, tapi daddy ingin memberi kejutan untukmu sayang" ucap jack membujuk putrinya
"Sungguh?" pretty terlihat senang
"Apa ada hadiah untukku?" pretty antusias
"Ini untukmu sayang" jack memberikan sebuah small bag kepada pretty
"Apa ini daddy?" tanya pretty penasaran
"Kau bisa melihatnya" jack tersenyum
"Daddy, camera" pretty tertegun menatap daddynya
"Ya, daddy tau kau sangat menginginkan camera itu" ucap jack mengusap rambut pretty
"Terimakasih daddy" pretty memeluk daddynya
Alishka yang melihat kedekatan pretty dan daddynya, sedikit terbesit rasa iri.
*kak pretty beruntung banget bisa punya papah kayak uncle jack,, andai papah masih hidup* batin alishka.
"Daddy datang untuk menjemputku?" tanya pretty
"Ya, mulai sekarang kau tidak perlu tinggal bersama aunty,, kau bisa tinggal dirumah kita, daddy tidak akan meninggalkan mu lagi" ucap jack
"Benarkah? kalau begitu kita bisa pulang sekarang?" pinta pretty
"Umm, sekarang? tapi aunty rosa meminta kita untuk tinggal sebentar, setidaknya menunggu sampai tuan hugo datang sayang" jack menatap putrinya
"Iya pretty, tunggu sebentar lagi ya,, kita makan malam bersama" bujuk mamah rosa
"OK" pretty akhirnya setuju untuk menunggu
"Ganti pakaianmu, sekalian berkemas untuk pulang" seru jack
"Baiklah dad" pretty langsung menuju kamarnya
Tak lama pretty sudah berganti pakaian,, sudah terlihat rapi dan cantik.
"Sepertinya tuan hugo kena macet, dia belum sampai" ucap jack
"Apa kakak ipar sudah membuat janji dengannya?" tanya jack
"Sudah, aku sudah bicara dengannya mungkin sebentar lagi dia datang" mamah rosa menatap jam dinding, sudah pukul 7.10 malam
"Hah, apa alvaro menolak untuk datang" gerutu edric yang jenuh,
"Sabar sayang" samara membujuk
__ADS_1
Disaat mereka sedang menunggu kedatangan tuan hugo,, terdengar langkah seseorang berlari dari pintu utama.
"Alishka" teriak david, memanggil alishka
Semua orang menatap heran melihat david, dengan keadaan masih mengenakan pakaian pasien.
"David" ucap alishka dan pretty berbarengan
David dapat melihat kedua gadis itu menatapnya,, begitu juga dengan mamah rosa yang menatapnya.
"Kakak ipar, ada apa ini?" tanya jack yang tidak tau
"David" bentak edric
"Apa yang membuat mu datang kemari?" tanya edric berdiri
"Jawab david" bentak edric
"Saya ingin bertemu dengan alishka" david menjawab dengan lantang
"Kenapa kau ingin bertemu dengan putriku?" tanya mamah rosa dengan tatapan tajam
"Saya mencintai putri anda nyonya, maafkan saya nyonya,, tapi saya sangat mencintai alishka" ucap david jujur
Plak
Satu tamparan mendarat di pipih david, edric memberikan tatapan membunuh.
"Kau berani dengan lancang mencintai adikku" bentak edric
"Hah" pretty menutup mulutnya terkejut mendengar keberanian david, sejujurnya hatinya terasa perih.
"Lakukan apapun yang anda inginkan tuan, tapi saya tidak akan menyerah" david menatap ke mata edric
Plak
Lagi lagi edric menampar david dengan keras,,
"Kau berani menantangku, david" bentak edric
Edric ingin memukul david, namun alishka menghalangi..
"Kakak cukup" alishka berlari menahan tangan edric
"Apa yang kau lakukan alishka?" tanya edric menatap adiknya heran
"Aku tidak akan membiarkan kakak menyakitinya lagi,, karena aku juga mencintainya" alishka dengan berani menatap mata edric
"Apa kau sudah kehilangan akal? menyingkir dari hadapanku alishka" bentak edric
"Sebelum kakak berhenti memukulnya,, aku akan tetap disini" alishka kokoh berdiri di depan david
"Alishka" mamah rosa menatap putrinya
Plak
Dengan tangannya dia menampar putrinya,, alishka langsung memegang pipihnya yang memerah.
"Nyonya" david marah melihat kekasihnya di tampar oleh ibunya sendiri
"Jika anda ingin, anda bisa menampar saya,, tapi jangan pernah menyakiti alishka nyonya" bentak david
"Mamah, aku mohon sekali saja mah" alishka menangis memohon pada mamahnya
"Apa yang kau inginkan alishka?" tanya mamah rosa
"Izinkan aku bersama david mah, aku mencintainya" alishka memeluk mamahnya, namun tangannya menggenggam tangan david
"Jika mamah tidak mengizinkan, apa kau akan meninggalkan pria itu?" tanya mamah rosa dengan datar
Alishka yang mendengar pertanyaan mamahnya, langsung bisa menebak jawaban mamahnya,, jika mereka tidak di restui.
Alishka bingung menatap david,
"Tidak alishka" david geleng kepala, tidak ingin menyerah
"Mamah telah hadir lebih dulu di dalam hidupku david, maafkan aku" alishka melepas tangan david
"Alishka.." david tidak percaya alishka menyerah secepat itu
"Mamah" alishka memeluk mamahnya lagi
David yang merasa kedatangannya sia sia, ingin pergi meninggalkan rumah.
"Tunggu" cegah mamah rosa
"Apa kau tidak ingin meminta restu dariku?" tanya mamah rosa
Mendengar itu david langsung menoleh, mengerutkan dahi heran,, begitu juga dengan alishka.
"Maksud mamah?" tanya alishka
"Ya sayang, mamah sudah tau segalanya" mamah rosa tersenyum
"Mamah melihat semuanya" mamah rosa teringat dia sempat melihat alishka, menangis dirumah sakit
"Tidak ada pria yang lebih darinya, yang bisa membahagiakan mu alishka" mamah rosa menatap david
"Kau telah mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan putriku, kau berani melawan atasanmu demi putriku" melirik edric
"Tidak ada janji yang melebihi pengorbanan itu,, dan aku merestui hubungan kalian" lanjut mamah rosa tersenyum
"Nyonya" david masih ragu
"Aku akan menikahkan kalian" ucap mamah rosa meyakinkan
"Terimakasih mah" alishka bahagia dan memeluk mamahnya
"David" alishka menatap david, gadis itu menangis haru
Lalu memeluk david dengan erat, melepas kerinduan,, begitu juga dengan david mengelus rambut alishka dengan sayang.
"Tuan" david menatap tuan mudanya
"Sejenak aku terlalu egois, maaf aku sudah memukul mu" edric menepuk bahu david
"Tidak masalah tuan, anda berhak memukul saya" ucap david
"Kalau begitu aku akan memukul mu lagi" balas edric
Edric memukul lengan david dengan kuat,, namun david tidak bergeming hanya menahan sakit.
"Itu balasan karena kau sudah merebut kasih sayang adikku" edric juga menangis haru
"Kemarilah" edric langsung memeluk david
"Kau jaga adikku dengan baik,, jika dia terluka, aku sendiri yang membunuhmu" bisik edric
"Perintah mu adalah tugasku tuan" david tersenyum
"Kau pria yang berani, aku bangga padamu nak" jack juga memeluk david
"Terimakasih tuan jack" david menunduk hormat
"Jangan tuan, panggil aku uncle" jack tersenyum
Semua orang menangis haru,, hanya pretty yang menahan sesak di dadanya.
__ADS_1
Bersambung....
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻