Cinta CEO Yang Kejam

Cinta CEO Yang Kejam
Thalia dan Dokter Darren


__ADS_3

Edric masih memandangi wajah samara yang ada dihadapannya,, Samara hanya tersenyum malu setelah apa yang mereka lakukan.


"Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang salah diwajahku?" Tanya samara salah tingkah


"Tidak ada,, Aku hanya ingin melihatmu sejenak saja" Balas edric tenang


"Beby, Tetaplah disini dan jangan bergerak" Pinta edric


Samara pun tersenyum, Menuruti keinginan suaminya itu,, Wanita itu tidak bergerak sama sekali.


Dan edric masih terus memandanginya,, Lalu pria itu menaruh kepalanya dipaha samara,, Tangan samara tergerak dan langsung mengelus kepala edric.


"Beby, Aku tidak pernah merasakan kebahagian seperti ini sebelumnya,, Terimakasih beby, Kau selalu bersamaku" Edric menatap wajah samara yang menunduk


"Benarkah? Apa kau tidak akan meninggalkanku?" Samara juga menatap wajah edric


"Apa kau tidak percaya padaku, Beby?" Edric mendengus


"Tentu aku percaya padamu ed,, Tapi, Tetap saja aku cemburu jika melihatmu bersama wanita lain" Tutur samara dengan wajah lesu


"Aku tau, Banyak wanita yang mengejarku,, Tapi aku hanya memiliki satu wanita dihidupku,, Dan kau tau itu beby" Seru edric tersenyum


"Aku tau,, Tapi kau bahkan belum mengatakan hubunganmu dengan wanita itu? Aku takut dia masih mengejarmu" Cibir samara


"Hahaha, Beby, Kau cemburu dengan fiona?" Seketika edric tertawa


"Ihh, Edric" Samara mencubit edric dengan kesal


"Aduh, Beby, Sakit" Rintih edric


"Aku serius" Samara setengah berteriak


"Baiklah, Dengarkan aku beby" Edric duduk, Memegang bahu samara


"Mungkin aku tidak tau, Apa yang akan terjadi nanti,, Tapi, Aku ingin kau percaya jika aku hanya mencintaimu, Aku mencintaimu samara" Edric menatap mata samara


"Dan, Aku akan melindungimu,, Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama, Aku berjanji beby" Edric mencium tangan samara


"Aku juga mencintaimu ed" Samara menangis haru


"Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu, Tidak akan" Edric memeluk samara


Wanita itu menangis didalam dekapan suaminya,, Rasa bersyukur karena memiliki edric sebagai suaminya, Itu sangat membahagiakan bagi samara.


...........................


Dikantin, David dan lucy masih menikmati makanan mereka.


"Lucy" David melirik lucy


"Jangan ganggu aku, Aku tidak suka bicara jika sedang makan" Ucap lucy galak


"Ternyata kau sangat sensitif, Pantas saja kau masih menjomblo" Cibir david


"Kau bilang apa?" Lucy menatap tajam


"Aku hanya heran,, Kenapa kau begitu pemarah? Jika kau terus begitu, Pria manapun tidak akan berani mendekatimu" Pekik david


"Aku tau, Untuk apa kau terus membahas cowo" Lucy kesal


"Apa kau tidak ingin menikah?" Tanya david santai


"Bisanya kau menanyakan itu,, Meskipun kau tau kenapa aku masih ingin sendiri, Siapa yang tidak ingin menikah" Lucy mendadak murung


"Hei, Apa kau masih belum melupakannya?" Tanya david


"Bagaimana aku bisa melupakan orang yang..." Lucy terdiam sejenak


"Jangan katakan, Kau bahkan tidak perlu mengingatnya lagi" Ucap david kesal


"Aku sudah mencobanya,, Tapi tetap saja aku tidak bisa" Air mata mulai jatuh dari sudut mata gadis itu


"Cobala untuk terus membencinya, Kau pasti bisa" David menyerahkan tisu


"Berhentilah menangis, Aku benci melihat air mata" Pekik david


"Terimakasih" Lucy menerima tisu itu, Lalu menyeka air matanya


"Maaf" Ucap david menunduk


"Kenapa?" Lucy heran


"Sudah membuatmu menangis" Tutur david


"Hei, Berhentilah bersimpati,, Kau bahkan tidak punya salah padaku" Cibir lucy


"Tetap saja, Itu sudah bertahun lamanya,, Kau harus melupakan dia" Seru david


"Humm, Aku akan terus mencobanya" Lucy tersenyum, Menghela nafas berat


"Aku sudah selesai" Ucap lucy


Lucy bangkit dari duduknya, Hendak pergi.


"Kau mau kemana?" David menahan tangan lucy


"Apa aku harus kembali keruangan tuan edric?" Lucy balik bertanya


"Tidak, Tidak untuk sekarang" Balas david


"Kalau begitu lepaskan tanganku,, Aku ingin berkeliling, Aku bosan menunggu" Lucy menghempaskan tangan david kasar


"Hubungi aku, Jika nona muda sudah selesai" Ucap lucy sebelum pergi


"Hei, Lucy" Teriak david


"Ada apa?" Lucy berbalik


"Aku ikut denganmu" Ucap david tenang


"Hah? Apa kau tidak waras?" Lucy kaget


"Terserah, Aku ikut denganmu" David berjalan menuju parkiran


"Hah, Dasar aneh" Lucy geleng kepala melihat david


"Masuklah" Pinta david, Sudah didalam mobil


Lucy pun ikut masuk kedalam mobil, Tidak membantah perkataan david,, Lalu menyederkan kepalanya.


"Kau mau kemana?" Tanya david


"Entahlah, Aku lelah,, Biarkan aku istirahat sebentar" Lirih lucy, Sambil memejamkan mata


"Baiklah" David tersenyum


Dia pasti sangat menderita, Apa selama ini dia merasakan sakit? Kenapa wanita baik sepertinya harus mengalami hal pahit, Terkadang aku tidak mengerti. Batin david


David menjalankan mobil kejalanan kota, Sementara lucy sedang tertidur disampingnya.


..........................


Disisi lain, Disebuah rumah sakit ternama di kota London,, Tepatnya di RS. ST Edon Hospital.


Thalia masuk setelah memakirkan mobilnya, Gadis itu membawa paper bag berisi makanan,, Thalia tersenyum sambil melangkah menyusuri koridor rumah sakit.


Dia masuk keruang rawat inap, Dimana kakaknya itu dirawat.


"Kakak" Panggil thalia saat membuka pintu


"Aku bawakan ma..." Sejenak thalia terhenti


Gadis itu mematung karena melihat isi ruangan kosong, Tak ada pasien diruangan tersebut.


"Kak david, Tidak ada" Gumam thalia


"Tidak, Tidak mungkin" Thalia mulai panik


Gadis itu berlari keluar,, Disaat seorang petugas rumah sakit melewatinya, Thalia langsung menahan petugas itu.


"Permisi, Dimana pasien yang berada diruang Rose 3?" Tanya thalia


"Barusan dipindahkan ke kamar mayat" Jawab petugas itu


"Apa? Kamar mayat?" Teriak thalia kaget


"Ya nona, Apa itu keluarga anda?" Tanya petugas itu


"Hiks hiks, Kak david" Thalia menangis histeris


"Kenapa kakak tinggalin aku kak" Thalia terduduk lemas dilantai


"Huhuhu" Gadis itu terus menangisi kakaknya


Terlihat dokter darren dari arah yang berlawanan, Melihat gadis pujaannya menangis,, Dokter darren datang menghampiri.


"Thalia" Panggil dokter darren

__ADS_1


"Dokter, Hiks hiks" Thalia semakin keras menangis, Saat melihat dokter darren


"Hei, Ada apa? Kenapa kau menangis?" Dokter darren sedikit berjongkok, Melihat wajah gadis itu


"Aku tidak punya siapapun selain kak david,, Dan sekarang kak david pergi meninggalkan ku selamanya, Hiks hiks" Tangisan thalia semakin pecah, Gadis itu memeluk dokter darren


"Hah?" Dokter darren kaget mendengar ucapan thalia


Apa maksudnya? Bukankah david masih hidup. Pikir dokter darren heran


"Thalia, Apa maksud perkataanmu? Bukankah david masih hidup" Seru dokter darren


"Kak david masih hidup?" Tanya thalia terkejut


"Ya, Benar,, Apa kau tidak tau?" Dokter darren semakin heran


"Aku datang untuk membawakan makanan,, Tapi saat aku masuk kak david sudah tidak ada,, Dan petugas itu bilang pasien yang ada diruangan itu dipindahkan ke kamar mayat" Thalia mulai menangis lagi


"Tidak thalia, Kakakmu masih hidup dia sudah pulang kemarin malam" Ucap dokter darren


"Benarkah? Tapi dia bahkan tidak menghubungiku" Thalia murung


"Sudah, Jangan menangis lagi,, Waktu itu dia sedikit cemas, Mungkin dia lagi ada masalah,, Atau kau mau aku menghubunginya?" Tanya dokter darren


"Tidak perlu dok,, Maaf merepotkan dokter" Balas thalia segan


"Tidak masalah, Lagi pula aku merasa senang jika selalu dekat denganmu" Dokter darren tersenyum, Mengedipkan sebelah matanya


"Hah" Thalia terpesona melihat senyuman dokter darren, Ditambah mendengar perkataan dokter darren yang to the point


Astaga, Aku tidak salah dengar kan,, Dia bilang senang jika bersamaku. Wajah thalia memerah


"Permisi dok" Thalia malu


Gadis itu ingin pergi, Namun dokter darren menahannya.


"Jangan pergi, Tetaplah disini" Pinta dokter darren


"Hah, Tapi" Thalia hendak bicara


"Tidak boleh pergi,, Ayo, Ikutlah denganku"


Dokter darren menarik tangan thalia, Agar mengikutinya,, Tanpa membantah thalia mengikuti langkah kaki dokter darren sampai diparkiran.


"Masuklah" Dokter darren membukakan pintu mobilnya


Setelah thalia masuk, Dokter darren juga masuk kedalam mobil,, Lalu melajukan mobil itu kejalan raya.


"Dokter, Apa yang dokter inginkan?" Tanya thalia


"Kenapa dokter memaksaku ikut dengan dokter?"


"Apa dokter akan membawaku menemui kak david?" Thalia tidak berhenti bertanya


"Tidak, Aku ingin membawamu kesesuatu tempat,, Tapi bukan bertemu david" Dokter darren tersenyum


"Hah?" Teriak thalia kaget


"Aku hanya ingin berdua denganmu, Thalia" Ucap dokter darren, Dan fokus mengemudi


Apa maksudnya? Kenapa jantungku tidak karuan begini,, Astaga, Apa dokter darren akan menyatakan perasaan padaku? Tidak, Tidak mungkin,, Thalia kau jangan terlalu berharap. Batin thalia.


........................


Ditempat lain, Tepatnya di sebuah mansion mewah,, Terlihat alvaro sedang bersantai dibawah teriknya matahari.


Pria itu memejamkan mata, Menikmati setiap pijatan di bahunya,, Bak seorang raja, Para pelayan dimansion itu mengurusnya dengan baik.


Senyuman terus mengembang dibibir pria itu,, Sepertinya alvaro sedang bahagia.


"Mister" Salah satu anak buahnya datang


"Ada apa?" Tanya alvaro masih terpejam


"Orang tua nona dominique sudah tiba dibandara mister" Lapor anak buah itu


"Bagus, Teruslah mengamati" Seru alvaro tersenyum lebar


"Baik mister" Anak buahnya itu pun pergi


"Sekarang sudah waktunya" Gumam alvaro, Menghela nafas


"Pergilah, Tugas kalian selesai" Ucap alvaro kepada pelayannya


Sebelum para pelayan pergi, Alvaro memberikan uang kepada pelayannya.


"Terimakasih mister, Terimakasih" Ucap para pelayan


Alvaro hanya tersenyum, Dan itu membuatnya semakin tampan saja,, Terlihat beberapa pelayan berbisik sambil berjalan pergi.


"Mister kenapa ya? Hari ini baik banget" Ucap salah satu pelayan


"Heh, Mister kan memang orang baik,, Mister tidak pernah sombong" Pelayan lain menimpali


"Tapikan belum waktunya kita gajian,, Mister sudah kasih upah, Mala banyak banget lagi" Ucap pelayan itu


"Mungkin saja mister lagi senang,, Kan sebentar lagi mister akan bertunangan dengan kekasihnya" Seru salah satu dari mereka


"Hah? Tunangan? Yang benar kamu? Kamu tau dari mana?" Terlihat yang lainnya kaget


"Aku kan sering dengar percakapan mister dan tuan besar,, Katanya nanti tuan besar akan melamar kekasih mister" Pekik pelayan itu


"Kenapa tuan besar yang melamar? Kenapa bukan mister yang melamar kekasihnya?" Pelayan lain bingung


"Bodoh kamu ya,, Tuan besar melamar gadis itu ya untuk dinikahkan sama mister" Temannya memukul kepala pelayan itu


"Ya sudah, Jangan berisik,, Kita tunggu saja kabar baiknya"


Para pelayan itu menghentikan obrolan mereka,, Lalu mereka kembali melakukan tugas masing masing.


Sementara yang mereka bicarakan sedang menuju ruangan tuan besar.


"Papah" Alvaro mengetuk pintu


"Masuk saja" Tuan hugo menyahut


"Apa yang membuatmu kesini?" Tuan hugo menoleh


"Apa papah punya waktu?" Tanya alvaro


"Kenapa bertanya soal waktu? Apa kau ingin papah bertemu dengan kekasihmu?" Tuan hugo menatap mata putranya


"Bagaimana papah bisa tau? Aku bahkan belum mengatakannya" Alvaro mendengus


"Papah mengurusmu sejak kecil,, Hanya dengan melihat matamu, Itu sudah memperjelas semuanya" Pekik tuan hugo


"Aku tau,, Papah selalu bisa membaca pikiranku" Alvaro tersenyum datar


"Lalu kapan kau ingin papah menemuinya?" Tanya tuan hugo


"Terserah, Domi bisa kapan saja,, Orangtuanya juga sudah kembali ke London" Ucap alvaro tersenyum


"Domi? Apa itu namanya?" Tuan hugo mengerutkan dahinya


"Humm, Dominique" Alvaro mengangguk


"Dominique? Nama yang sangat bagus,, Sepertinya dia gadis yang tangguh" Tuan hugo tersenyum


"Papah akan tau jika melihatnya" Seru alvaro


"Baiklah, Hubungi keluarganya,, Katakan kita akan datang besok malam, Untuk menetapkan tanggal pernikahan" Pekik tuan hugo


"Wedding? Really?" Alvaro kaget mendengar itu


"Ya, Papah akan langsung menikahkanmu,, Dan jangan mendebat, Jika dia tidak setuju untuk menikah maka tinggalkan saja gadis itu" Ancam tuan hugo


"Baik pah" Alvaro tersenyum puas


"Humm, Papah akan menghubungi adikmu,, Dia harus hadir dipernikahan kakaknya" Ucap tuan hugo


"Kenapa dia harus datang? Biarkan saja dia di Belgia" Gumam alvaro, Dan dapat didengar tuan hugo


"Jika adikmu tidak datang,, Pernikahanmu tidak akan dilanjutkan, Adikmu sudah membantu mengurus perusahaan mu di Belgia,, Jika tidak mungkin saat ini kau masih ada di Belgia" Tuan hugo setengah berteriak


"Yaya, Baiklah,, Aku sendiri yang akan menyuruhnya datang" Ucap alvaro


"Apa kau yakin? Bukankah kalian sedang bertengkar?" Tanya tuan hugo


"Tenang saja, Aku pasti akan membuatnya datang,, Aku tidak akan menunda pernikahanku hanya karena dia" Pekik alvaro kesal


Alvaro melangkah pergi meninggalkan papahnya,, Tuan hugo hanya tersenyum, Geleng kepala saat mengingat sikap kedua putranya itu,, Alvaro dan Alvian sungguh jauh berbeda.


........................


David menepikan mobilnya dipinggir jalan, Tepat berada di alun alun London Eye.


Tak lama lucy terbangun dari tidurnya,, Gadis itu menggeliat membuka mata.

__ADS_1


"Humm" Mengerjapkan matanya


"Dimana kita? Apa kita jauh dari kantor?" Tanya lucy panik


"Kenapa? Bukankah kau bilang ingin berkeliling" Cibir david


"Kau belum menjawab pertanyaanku? Kau membawaku kemana?" Tanya lucy kesal


"Tempat dimana orang menghabiskan waktu bersama keluarganya" Jawab david santai


"London Eye?" Lucy melihat keluar jendela


"Untuk apa kita kesini? Haiss, Mereka semua berpasangan,, Apa yang harus dilakukan disini?" Lucy geram sendiri


"Tentu saja melakukan yang mereka lakukan" Ucap david santai


"Hei, Mereka itu adalah pasangan..." Lucy menghentikan kalimatnya


"Apa maksudmu? Kita seperti mereka? Apa kau sudah gila?" Bentak lucy kesal


"Hari ini aku akan menjadi kekasihmu dalam sehari,, Ayo" David keluar dari mobil


"Kekasih dalam sehari? Apa dia tidak waras" Gumam lucy


"Ayo, Sebelum kita kehabisan waktu" David menarik tangan lucy agar mengikutinya


"Hei, Kau mau kemana? Lepaskan tanganku, David" Lucy setengah berteriak


"Berhentilah mengeluh,, Kau harus bersikap baik pada kekasihmu" Seru david


"Genggam tanganku dengan baik, Dan jangan membantah,, Atau orang lain akan menertawaimu" Ucap david


Dengan terpaksa lucy mengikuti kemauan david,, Gadis itu menggenggam tangan david, Perasaan tenang terbesit didalam hatinya.


Pria aneh, Dari dulu kau selalu berusaha menghiburku,, Dan kau tidak bosan mendengar keluhanku, Seharusnya dulu aku mendengarkan perkataanmu mungkin aku tidak akan terluka. Batin lucy memandang wajah david.


"Makanlah, Ini cake terbaik yang ada di London,, Kau akan menyesal jika menolaknya" Seru david memberikan cake


"Terimakasih" Lucy tersenyum datar


Mereka duduk dibangku yang tersedia,, Sambil memakan cake.


"Kenapa?" Lucy membuka suara


"Hah? Kenapa?" David bingung


"Kenapa kau selalu menghiburku? Padahal aku tidak pernah mendengarkanmu" Lucy menunduk


"Karena kau gadis yang baik" Jawab david jujur


"Benarkah?" Lucy tertegun


"Ya, Meskipun kau pemarah dan sedikit bodoh" Ledek david


"Kau benar" Lucy tertawa kecil


"Aku memang bodoh,, Seharusnya aku tidak perlu percaya dengannya" Lucy mulai merenung


"Hentikan" David menoleh


"Jangan merusak suasana, Untuk apa membicarakan pria brengsek itu,, Dia mencampakkan mu setelah apa yang kau berikan? Hah, Aku ingin sekali membunuhnya" David mengepalkan tangannya kesal


"Kau pria yang baik, David" Lucy menatap david


"Aku tau" Balas david smirk


"Apa kau sungguh punya kekasih?" Tanya lucy


"Jika aku mengatakannya, Apa kau akan percaya?" David menoleh


"Jika itu kenyataannya, Bagaimanapun aku pasti harus percaya" Jawab lucy tersenyum manis


"Namanya alishka, Adik tuan muda" Lirih david tersenyum


"Adik tuan muda? Adiknya Tuan edric?" Lucy terkejut


"Humm, Dia gadis yang lucu" David mengangguk


"Apa tuan edric mengetahuinya? Bagaimana dengan keluarganya?" Lucy antusias


"Ya, Tuan muda sudah mengetahuinya,, Kami akan bertunangan ditahun depan" David curhat


"Wah, Dia pasti gadis yang beruntung,, Mendapatkan pria sepertimu" Lucy tersenyum datar


"Hei, Kau pasti juga akan menemukan pasangan hidupmu,, Dan kau akan melupakan masa lalumu" David memegang tangan lucy


"Semoga saja kau benar" Lucy tersenyum


.......................


Diwaktu yang sama dan ditempat yang sama pula, Dokter darren berhenti diarea London Eye.


"Ayo, Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" Ajak dokter darren


Thalia keluar dari mobil, Mengikuti langkah kaki dokter darren,, Saat ini dokter darren telah melepas jas dinasnya.


"Dokter, Kita mau kemana?" Tanya thalia heran


"Kau akan segera tau" Balas dokter darren


Thalia tanpa membantah, Mengikuti dokter darren dibelakang,, Tibalah mereka disebuah cafe, Dan terlihat satu meja yang memang sudah disiapkan oleh dokter darren.


"Duduklah" Pinta dokter darren


Thalia duduk, Melihat kesekitar sungguh tempat yang indah,, Meja itu sudah dihias dengan bunga bunga.


"Dokter, Kenapa dokter membawa saya kesini?" Thalia heran


"Karena ada yang ingin ku katakan padamu,, Dan aku tidak ingin menundanya lagi" Ucap dokter darren tersenyum


Lalu dokter darren mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, Dan jongkok menunduk dihadapan thalia.


"Apa ini dokter? Kenapa kau menunduk? Berdirilah, Orang lain terus menatap kearah kita" Thalia bingung


"Ssttt, Biarkan saja orang lain melihatnya,, Karena mereka akan menjadi saksi hari ini" Seru dokter darren


"Apa maksudmu?" Thalia menatap dokter darren


Dokter darren memegang tangan thalia.


"Aku tau mungkin ini terlalu cepat,, Tapi aku tidak bisa menundanya lagi, Dan aku tidak ingin pria lain mendahului aku" Dokter darren menatap mata thalia


"Hah" Thalia sedikit tercengang


"Aku menyukaimu, Thalia" Ucap dokter darren mantap


"Aku ingin kau menjadi pendamping hidupku, Aku tidak perduli kau menerimanya atau tidak,, Aku mencintaimu, Thalia"


"Will you marry me?" Dokter darren membuka kotak yang berisi cincin


Thalia terkejut dan menutup mulutnya,, Perasaan sedih, bahagia, dan terharu bercampur menjadi satu dibenak thalia.


"Apa kau bercanda?" Thalia menangis, Memukul bahu dokter darren


"Aku serius, Aku mencintaimu thalia" Dokter darren tidak bergeming


"Jadi ini sungguhan?" Thalia masih tidak percaya


"Apa aku harus mengatakannya berulang kali, Jika aku mencintaimu, Thalia" Dokter darren menekan suaranya


"Hiks, Hiks" Thalia justru semakin menangis, Mendengar penuturan dokter darren


Lalu gadis itu menyerahkan tangannya.


"Kau harus memasangkannya sendiri" Ucap thalia tersenyum


"Apa itu artinya? Lamaranku diterima?" Mata dokter darren berbinar


"Ya, Kau diterima" Thalia menangis bahagia


"Yes" Teriak dokter darren girang


Dokter darren langsung memasangkan cincin kejari thalia yang mungil.


"Terimakasih, Sudah menerimaku menjadi pasanganmu" Dokter darren memeluk thalia


"Aku juga berterimakasih, Kau sudah mencintaiku, Dokter" Balas thalia


"Jangan panggil aku dokter,, Panggil aku sayang" Bisik dokter darren


"Baiklah, Sayang" Thalia tersenyum malu


Thalia kembali memeluk dokter yang telah menjadi kekasihnya itu,, Senyuman terus terpancar dari kedua insan yang tengah bahagia itu.


Bersambung.......


Semoga kalian suka, Dan jangan lupa tinggalkan jempolnya ya đŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2