
Samara pun akhirnya menyetujui pertemuan dengan Ray, tanpa dia sadari jika itu adalah perangkap Fiona untuk menghancurkannya.
Samara datang ke tempat sesuai dengan alamat yang di berikan Ray, Terlihat Ray sudah duduk menunggu kedatangannya.
Ray yang melihat Samara datang menghampirinya tersenyum dan langsung bangkit dari duduknya,, menarik kursi dan mempersilahkan Samara untuk duduk.
"Silahkan duduk dulu" Ray bersikap sangat lembut
Samara yang memang masih menyimpan perasaan pada Ray pun sedikit tersentuh dengan sikap Ray,, meskipun Samara sudah melupakan hubungannya dengan Ray.
Tapi bagaimana pun pria itu pernah mengisi ruang di hatinya,, yang sekarang hati itu hanya milik Edric seorang.
^Wah Samara kau bisa membuat amarah tuan muda memuncak😰^
Samara pun duduk di hadapan Ray.
"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?"
Samara langsung to the point malas untuk bertele-tele.
"Kau kan baru datang,, sebaiknya kita pesan minum saja dulu, Jangan terlalu buru buru, just relax"
Ray pergi untuk memesan minuman untuknya dan juga Samara.
"Tapi aku tidak punya banyak waktu" Samara menatap jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 4 sore
*sebentar lagi Edric pasti pulang, apa sih yang ingin dia bicarakan* Samara merasa perasaannya tidak enak.
Ray membawa minuman yang sudah dia pesan,, lalu memberinya satu kepada Samara,, Ray tersenyum penuh tanda tanya, sungguh senyumannya sangat aneh.
Samara menerima gelas minuman yang di berikan Ray,, namun masih menatap gelas itu tidak meminumnya.
"Calm down ,, jangan takut, aku tidak mencampur apapun di dalam gelas itu" Ray tersenyum penuh teka teki
Samara masih diam dan masih menatap gelas tersebut.
"Jika kau tidak percaya,, kau boleh menukarnya dengan punyaku" Ray menaruh gelas yang ada di tangannya ke meja
Setelah mendengar itu Samara pun tidak mencurigai Ray lagi,, lalu Samara meneguk minuman tersebut sampai habis,, Ray yang melihatnya hanya tersenyum.
"Lalu apa yang ingin kau bicarakan"
Samara tidak ingin terlalu lama berada di dekat Ray,, itu terlalu berbahaya pikirnya, apa lagi sebentar lagi waktunya Edric pulang.
"Sebenarnya aku hanya merindukan mu Sam,, apa kau sudah melupakan ku? setiap malam aku masih memikirkan mu,, aku menyesal karena nafsu sesaat aku sudah mengkhianati mu, aku ingin minta maaf" Ray memegang tangan Samara
Mendengar perkataan Ray, Samara merasa iba *sepertinya ucapan dia tulus*
__ADS_1
Tanpa di sadari Samara,, dari awal Samara datang sudah ada seseorang yang memotretnya bersama Ray.
"Baiklah aku sudah memaafkan kamu Ray" Samara tersenyum
"Lalu apa kau mau kembali padaku" Ray ingin mencium tangan Samara
Namun Samara melepaskan tangan Ray.
"Tidak, untuk itu aku tidak bisa,, Aku sudah memaafkan kesalahan mu,, tapi aku tidak bisa menerima mu kembali,, karena aku sudah mencintai pria lain, dan dia adalah suamiku"
"Kau hanya ingin minta maaf,, kalau begitu tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, aku permisi" Lanjut Samara
Ray hanya tersenyum sinis, dia tidak menjawab perkataan Samara.
Samara ingin melangkah pergi namun tiba-tiba matanya sangat mengantuk,, Ray yang melihat Samara mulai lemah, tertawa kecil tanpa suara, ternyata ini sudah ada dalam rencananya.
Samara mulai kehilangan keseimbangannya,, dia berusaha membuka mata dan berjalan, namun lagi-lagi dia mengantuk, Ray pun menghampirinya.
"Sepertinya kau sangat letih,, sebaiknya kau istirahat dulu" Ray merangkul punggung Samara
"Tidak, tidak perlu ,, aku hanya ingin pulang"
Samara berusaha menolak namun dia tidak kuasa,, perlahan matanya mulai tertutup,, Samara tertidur di dalam dekapan Ray.
"Hahaha,, dasar bodoh" Ray tertawa dengan keras
Ray pun membopong tubuh Samara,, lalu meletakkan Samara ke dalam mobilnya.
"Hey, lihat,, dia kan wanita yang sama yang ada di butik itu, dia Samara Caroline istri dari Edric Michael Edon" Thalia memecahkan konsentrasi Dominique yang sedang menyetir.
Dominique pun menepikan mobilnya,, lalu melihat ke arah yang di tunjukkan Thalia.
"Kau benar Thalia" Dominique masih memperhatikan Ray dari jauh
"Tapi kenapa dia bisa bersama seorang pria,, apa dia sedang selingkuh" Thalia pun sedikit heran
"Tidak, aku rasa tidak,, sepertinya dia pingsan, Ayo kita ikuti pria itu,, mungkin saja dia di jebak" Dominique pun melajukan mobilnya membuntuti mobil Ray
...****************...
Di gedung Alliance Michael tepatnya di ruangan presdir Alliance Michael, Edric sedang mengecek ponselnya.
"Dav, kenapa tadi pagi kau kembali ke kantor? Bukankah aku menyuruh mu untuk menemani Alishka" Edric melirik David yang sedang termenung.
"Maaf tuan muda,, Sepertinya Nona Alishka sedang tidak ingin di ganggu" David menjawab tanpa melihat Edric
*hey apa maksudnya itu,, aku tidak mengerti dengan ucapan mu* Edric memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Ya sudahlah ,, ayo kita pulang, aku sangat merindukan istriku" Edric bergegas ingin pulang kerumah
Namun tiba-tiba, matanya terbelalak mendapat kiriman foto dari Fiona,, Tiba-tiba emosi Edric meluap, dia membanting ponselnya sampai pecah.
David pun terkejut dengan kemarahan tuan mudanya yang sangat mendadak.
Tangan Edric bergetar, wajahnya penuh dengan kemarahan, dia mengepalkan tangannya,, sungguh singa jantan ini sangat mengerihkan jika sedang mengamuk.
David yang melihat perubahan raut wajah tuan mudanya yang sangat tajam dan penuh amarah pun menjadi takut dan khawatir.
*apa yang sedang terjadi, kenapa tuan muda tiba tiba seperti ini* David sedikit kelabakan dan bingung tidak tau harus berbuat apa.
"Ada apa tuan muda,, kenapa anda terlihat emosi" David berusaha mencari tau
"Cepat cari keberadaan Samara,, cepat cari dia" Bentak Edric
Emosi Edric semakin menjadi,, dia menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.
"Aahh" Edric memukul mejanya dengan kasar,, sampai tangannya sedikit lecet.
"Cepat temukan dia David" Edric berteriak sangat keras
"B..baik tuan" David langsung menuju komputernya, untuk melacak keberadaan Samara
*apa yang sudah kau lakukan nona,, kenapa kau membuat tuan muda sangat marah, ini sungguh merepotkan,, ku harap kau tidak terlewat batas nona*
Namun harapan David sepertinya tidak mujur, dengan bantuan alat yang canggih dengan mudah David menemukan Samara,, tapi dia ragu ragu mengatakannya pada Edric.
"T..tuan .. No..na Samara ada di Hotel Viagra" David sedikit bergetar mengatakannya
Mendengar nama hotel, Edric langsung ambruk terduduk namun kemarahannya belum mereda.
"Cepat kau antar aku kesana,, aku ingin tau apa yang di lakukan wanita itu bersama mantannya, hahaha"
Edric tertawa seperti orang kehilangan akal sehatnya,, David sangat merinding mendengar gelak tawa tuan mudanya.
*ini tidak akan bagus,, ini bencana*
David sudah gemetar melihat tuan mudanya tertawa.
*jadi ini alasanmu ,, kenapa kau belum siap ? karena kau ingin melakukannya dengan mantan mu itu,, dasar pembohong*
Edric mengepalkan tangannya,, lagi-lagi meninju meja yang ada di hadapannya.
"David" Bentak Edric
Edric berjalan keluar dengan amarah yang berkoar-koar,, David pun langsung mengikutinya.
__ADS_1
Bersambung....
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻