Cinta CEO Yang Kejam

Cinta CEO Yang Kejam
Semuanya Bertemu Kembali


__ADS_3

Edric dan samara telah sampai dirumah sakit, terlihat dokter darren sudah menunggu untuk menyambut kedatangan pemilik rumah sakit tersebut.


"Selamat pagi ed, selamat pagi kakak ipar" sambut dokter darren


"Kakak ipar? sejak kapan aku jadi kakakmu" edric melotot ke arah dokter darren


Samara hanya tersenyum manis, itu membuat edric cemburu.


"Jangan lihat istriku terlalu lama,, atau ku congkel matamu" ancam edric


"Ba..baiklah" dokter darren merasa takut


"Cepatlah jangan buang waktuku" titah edric


"OK, follow me" dokter darren berjalan mendahului edric


Edric dan samara mengikuti dari belakang.


"Sayang, sebenarnya ada apa dengan david?" samara penasaran


"Tidak ada, aku hanya ingin melihat kondisinya saja" jawab edric dengan santai


"Benarkah" samara manggut manggut


Mereka akhirnya tiba di depan ruang rawat pasien, ruangan dimana david dirawat.


"Kami memindahkan pasien ke ruang perawatan, karena kondisinya sudah lebih baik" ucap dokter darren


"Silahkan, tapi tetap tenang dan jangan berisik" lanjut dokter darren


"Baik dokter" balas samara tersenyum


"Wah kakak ipar cantik sekali" goda dokter darren


"Sudah ku katakan dia bukan kakak iparmu,, berhenti memanggilnya kakak ipar" edric menatap dokter darren tajam


"Yaya tuan muda,, kalau begitu aku permisi dulu" dokter darren meninggalkan mereka


Edric dan samara masuk kedalam ruangan tersebut, terlihat david sedang tertidur.


"Awas saja kalau dia menipuku" ucap edric mendekati david


Edric memperhatikan wajah david dengan seksama,,


*apa benar david sudah sadar? atau jangan jangan si bodoh itu berbohong* pikir edric yang melihat david terpejam


"Ada apa tuan? kenapa anda menatap saya seperti itu"


David langsung bangkit duduk di ranjangnya,, dan edric terbelalak kaget.


"Kau...kau sudah sadar" edric masih tidak percaya


"Benar tuan" david sedikit tersenyum


Samara yang menyusul edric juga ikut senang.


"Hai nona" sapa david


"David,, akhirnya kau siuman" samara tersenyum senang


"Maafkan saya tuan,, karena saya terluka, anda harus melakukan semuanya sendirian" david menundukkan wajahnya


"Yaya, aku memang sedikit repot ,, tapi tidak masalah, aku kan bisa melakukan segalanya" dengan senyum bangga edric mengatakan


"Terimakasih tuan, untuk segalanya" david hanya tersenyum getir


*hei, tuan muda songong,, seumur hidupmu, kau bahkan tidak pernah melakukan apapun, semuanya hanya atas perintahmu dan anak buahmu yang melakukan, cih* samara memajukan bibirnya


"Bagaimana keadaan nona alishka tuan" dapat terlihat kerinduan di mata pria itu


Edric menatap david menyelidik,,


*apa benar yang dikatakan samara? kalau david memiliki perasaan pada alishka* batin edric


"Alishka baik baik saja ,, tapi kenapa kau menanyakan itu? bukankah seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri" tanya edric curiga


"Saya... saya hanya ingin memastikan, itu saja tuan" balas david berbohong


"Apa kau yakin? tidak ada alasan lain" edric ingin mendengar langsung dari mulut david


"Tidak tuan,, hanya itu saja" david menghela nafas


"Baiklah,, sebaiknya kau istirahat kembali agar kau cepat pulih" titah edric


"Baik tuan" david kembali berbaring


"David" edric mengeluarkan ponsel dari sakunya


"Kau bisa memilikinya kembali" menyerahkan ponsel kepada david


"Terimakasih tuan" david menerima ponselnya


"Aku sudah mengabari adikmu, mungkin sebentar lagi dia akan datang" seru edric


"Tuan mengabarinya?" david terlihat terkejut


"Kenapa? apa kau tidak senang? seharusnya kau bersyukur adikmu sangat khawatir dengan mu, dia menghubungimu sampai 100 kali" ucap edric


"100 kali? benarkah?" david masih tidak percaya


*bahkan biasanya dalam sehari dia tidak pernah menelfonku* pikir david


"Ya itu benar"


Edric dan samara duduk di sofa yang tersedia didalam ruangan.


"Sayang, apa kau sudah tanyakan itu padanya" samara penasaran


"Sudah, tapi dia tidak mengakuinya,, dan jika memang dia menyukai alishka, aku ingin mendengar langsung darinya... jadi berhentilah bertanya" edric menekan suaranya


Dan itu berhasil membuat samara diam seribu bahasa,, tatapan edric yang tajam sangat menakutkan bagi samara.


Hanya beda 15 menit, tak lama alvaro tiba dirumah sakit,,


"Excuse me,, diruang manakah David Christhoper dirawat?" tanya alvaro kepada seorang suster


"David Christhoper, pasien ada diruangan Rose 3"


"Thank you"


Alvaro bergegas ke ruangan yang disebut oleh perawat,, setelah sampai di depan ruangan Rose 3, alvaro langsung masuk.


"Edric, kau sudah disini"


"Bagaimana keadaan david?" alvaro sedikit tegang


"Kau lihat saja sendiri" jawab edric acuh


Alvaro menoleh ke arah david, terlihat david berbaring sambil baca majalah.


"Kau sudah sadar" alvaro mengambil majalah dari tangan david


"Apa anda tidak punya mata? tentu saja saya sudah sadar" david menatap alvaro tidak suka


*untuk apa dia datang kesini,, ahh aku tidak ingin melihatnya, dasar pria brengsek* batin david


*baguslah, kesembuhan mu akan mempermudah jalanku untuk menggagalkan pertunangan ku dengan alishka,, aku akan membuatmu mengatakan yang sebenarnya* alvaro tersenyum puas


"Baiklah, itu bagus .. ini untukmu, cepatlah sembuh" alvaro memberikan bingkisan, menaruhnya di meja


"Anda tidak perlu melakukan ini tuan" david tersenyum smirk


"Anggap saja ini ucapan terimakasih ku karena kau sudah menyelamatkan calon istriku" alvaro tersenyum penuh makna


Alvaro beranjak ikut bergabung dengan edric,, david menatap alvaro dengan penuh kebencian, dia mengepalkan tangannya dengan kuat.


*bajingan, tidak akan ku biarkan kau mendapatkan alishka* seru david dalam hati


"Ed, apa kau sudah siap menjadi kakak iparku?" tanya alvaro tanpa beban


Edric yang sedang minum sontak menyemburkan minumnya,,


"Kau bilang apa? kakak ipar?" edric kaget dengan pertanyaan alvaro


"Ya kakak ipar,, jika aku menikah dengan alishka, tentu saja aku akan memanggilmu kakak ipar" alvaro menekan kalimat terakhirnya


"Apa kau serius? ingin menikahi alishka" edric sedikit ragu


"Jika kau berani mempermainkan adikku,, aku tidak akan segan untuk membunuhmu" ancam edric


"Calm down,, santai saja, itu tidak akan terburu buru ed" alvaro tersenyum namun matanya melihat ke david


*lihatlah? ku pastikan kau terbakar mendengar ini* ucap alvaro dalam hati


Dan david yang mendengar pembicaraan mereka, semakin merasa panas di telinganya,, nafasnya kian memburu, dan tangannya mengepal dengan kuat.


Sementara samara hanya menyimak pembicaraan kedua pria dihadapannya itu.


......................

__ADS_1


Masih diwaktu yang sama, dominique melajukan mobilnya dengan cepat.


"Sebenarnya apa yang terjadi lia?" tanya dominique bingung


"Ntahlah, aku juga tidak tau,, tapi aku harus memastikan" balas thalia khawatir


"Apa ini soal kakakmu" dominique masih menatap lurus ke jalan


"Yes dom,, lebih cepat lagi" pinta thalia


"ST 'Edon Hospital,, itu tempatnya" lanjut thalia


"OK" dominique menambah kecepatan,


Sungguh wanita ini hebat dalam menyetir meskipun banyak kendaraan di depannya,, dia bahkan bisa menyalip kendaraan lain.


Tak butuh waktu lama mereka tiba dirumah sakit,, dominique menghentikan mobilnya.


Thalia langsung berlari masuk kedalam rumah sakit,, dominique ikut menyusul thalia yang sudah ada didalam.


"Excuse me,, suster, apa ada pasien bernama David Christhoper?" tanya thalia yang sudah panik


"Jawab sus" bentak thalia


"Tenang dulu lia,, suster masih mengecek nama pasien" dominique menangkan thalia


"Yes, here,, pasien atas nama David Christhoper ada diruangan Rose 3" jawab suster tersebut


Thalia langsung berlari menuju ruangan tersebut...


"Terimakasih ya sus" balas dominique lalu mengejar thalia


Disaat thalia berlari tak sengaja bertabrakan dengan seorang dokter,,


"Ahh"


Thalia hampir terjatuh namun dengan cepat dokter itu menampungnya.


"Maaf aku tidak sengaja" ucap dokter darren


Thalia bangkit dari pelukan dokter darren,


"Apa kau baik baik saja" dokter darren menatap thalia


"Saya baik baik saja,, maaf dokter, saya tidak melihat anda" thalia meminta maaf


"Baiklah tidak masalah" dokter darren masih memandang wajah gadis itu


*gadis yang manis* ucap dokter darren dalam hati


"Thalia, ada apa" tanya dominique yang menyusul dari belakang


"Aku tidak sengaja menabrak dokter ini"


"Dokter saya permisi dulu" thalia undur diri, langsung berlari lagi


"Lia tunggu,, ahh, dia cepat sekali" gerutu dominique


Dokter darren memandang thalia yang mulai menjauh,,


*apa aku akan bertemu dengannya lagi* dokter darren senyum senyum sendiri.


......................


Thalia membaca nama ruangan, dia tepat berada di depan Rose 3.


Thalia langsung mendobrak pintu lalu masuk,, edric, samara dan alvaro terkejut karena mendengar pintu di dobrak dengan keras.


Thalia tanpa memperdulikan keberadaan mereka berlari ke ranjang david,, mereka bertiga berdiri menatap thalia dengan heran.


"Siapa gadis itu?" tanya samara yang kaget


"Kakak" teriak thalia menghambur memeluk david yang berbaring


"Kakak apa yang terjadi denganmu kak, huhuhu" thalia menjerit sambil menangis terseduh


"Kakak jangan tinggalkan aku,, kau tidak boleh mati"


*astaga, anak ini benar benar ingin melihatku mati,, awas kau ya* ucap david pura pura tidak dengar


"Kakak bangun kak" mengguncang tubuh david dengan kuat.


*hei, tubuh ku masih sakit,, apa kau ingin membunuhku? kau tidak pernah bersikap lembut dengan kakakmu ya* david masih belum buka mata


"Thalia" dominique muncul


Dominique terkejut melihat alvaro yang juga ada diruangan ini bersama edric dan samara,, begitu juga dengan edric, samara dan juga alvaro yang sama terkejutnya dengan dominique.


"Thalia tenanglah" dominique menepuk pundak thalia


"Hah, kakak cepat bangun,, aku hanya memiliki mu saja kak, aku tidak punya siapapun selain dirimu" thalia masih memeluk kakaknya


*benarkah? ternyata kau masih perduli padaku* david tersenyum tipis


"Kau jangan mati dulu, siapa yang akan memberiku uang bulanan" thalia memegang tangan david


*sungguh? jadi kau hanya perduli dengan uangku saja,, dasar* gerutu david dalam hati


"Kau memang tidak pernah berubah ya"


David membuka matanya menatap thalia dengan kesal.


"Hah" thalia kaget melihat david yang tiba tiba bicara


"Ternyata kakak belum mati?" thalia tercengang


"Hei, tidak semudah itu untuk membunuhku" david melotot ke arah thalia


"Apa kau sangat ingin aku tiada?" tanya david marah


"Tentu saja tidak,, kakak satu satunya keluarga yang aku miliki di dunia" wajah thalia berubah sendu


"Hmm, benarkah? aku sangat terharu" david meledek


"Aku serius,, kakak membuatku hampir gila tau,, aku terus menghubungi kakak tapi kakak tidak ada kabar, aku bahkan mencari kakak ke apartment, dan kakak juga tidak ada, kakak seperti menghilang di telan bumi" thalia mulai menangis lagi


"Aku fikir kakak sudah tidak ingat lagi padaku" lanjut thalia


"Kau sudah gila ya" david menatap thalia


"Mana mungkin aku melupakanmu, ya kau memang gadis nakal yang tidak pernah menuruti perkataan ku,, tapi bagaimanapun kau adalah adikku, yang tetap harus ku jaga" david tersenyum


"Jadi berhentilah berfikir kalau aku tidak ingat padamu, kau mengerti" lanjut david


"Baiklah" thalia menangis haru


"Tapi dari mana kau tau? aku dirumah sakit?" tanya david


"Apa itu penting? tentu saja aku tau dari bos kakak, dia mengirim pesan padaku, mengatakan bahwa kakak dirumah sakit" jawab thalia


"Tapi, katakan padaku bagaimana kakak bisa berada rumah sakit? apa kakak terluka?" thalia mulai cemas


"Aku baik baik saja,, aku hanya terluka sedikit" david tersenyum


"Sungguh?" thalia menekan dibagian perut


"Ahh, sial,, hey, kau menekan lukaku" david merasa sakit


"Apa kau ingin membunuhku? luka ini belum sepenuhnya pulih" seru david memegang perutnya


"Hah? benarkah? astaga, kakak maafkan aku" thalia menarik tangannya refleks


"Sakit sekali?" thalia merasa bersalah


"Ya sakit,, bisakah? kau membantuku untuk duduk" pinta david dengan wajah kesakitan


"Baiklah"


Thalia membantu david perlahan bangkit dan duduk di ranjangnya.


"Kakak" thalia menatap david menyelidik


"Jangan berbohong padaku,, bukankah luka ini pasti ada penyebabnya? katakan dengan jujur" pinta thalia


David masih diam belum menjawab.


"Kakakmu telah menyelamatkan adikku dari penculikan,, karena itu dia terluka" edric memberi jawaban


"Tuan edric? kau ada disini" thalia baru menyadari keberadaan edric


"Ya, aku yang membawa kakakmu kerumah sakit"


"Oh terimakasih banyak tuan" thalia menunduk hormat


"Tidak, justru aku yang harus berterimakasih,, karena david telah menolong adikku" edric tersenyum


"Baiklah,, tapi kenapa kakak bisa mengenal adiknya?" thalia heran


"Tentu saja, gadis itu adalah adik bos ku" david tersenyum

__ADS_1


"Oh bos kakak" thalia manggut manggut


"Bos? tuan edric..bos kakak?" thalia menutup mulutnya tak percaya


"Sungguh?" thalia menatap edric dan david bergantian


"Ya, david adalah asisten ku" edric membenarkan perkataan david


"Hah? tapi" thalia masih sedikit kaget, mengatur nafasnya


Dominique yang di belakangnya juga ikut kaget dan terkejut, karena dominique pernah melihat david saat di butik samara,,


*jadi asisten tuan edric itu kakaknya thalia* batin dominique


*begitu banyak kejutan yang tak terduga,, tidak pernah ku sangka, david dan thalia? mereka sungguh berbalik* pikir alvaro menatap david dan thalia, dia geleng kepala.


"Bagaimana bisa? kakak bahkan tidak pernah mengatakan jika tuan edric itu bos kakak" thalia cemberut


"Kenapa kau tidak bertanya? ya kau tidak perduli dengan yang ku lakukan, kau hanya tau minta uang saja kan" david sedikit tertawa


"Ihh, kakak" thalia mencubit lengan david geram


"Sudah, kemarilah sudah lama aku tidak memelukmu" david merentangkan tangannya


Thalia langsung menghambur ke pelukan david, gadis itu sangat manja dengan kakaknya


"Jangan pernah menghilang lagi ya" ucap thalia


"Baiklah tuan putri" david mengusap rambut adiknya


"Janji?" thalia memberikan jari kelingkingnya


"Janji" david mengkaitkan jari kelingking mereka


Kakak adik itu terlihat tersenyum dan sedikit tertawa.


"Wah, aku baru tau kalau kalian kakak beradik" seru alvaro dengan senyuman manis


David menatap malas ke alvaro, sementara thalia sedikit terkejut.


"Al, kau?" thalia meminta jawaban


"Aku hanya menjenguk seorang teman, itu saja" balas alvaro


"Jadi teman yang sedang sakit itu, kakaknya thalia?" dominique menatap alvaro


"Ya itu benar" alvaro menganggukkan kepala


David melirik dominique,


*wanita ini? dia kekasihnya lelaki bajingan itukan, kenapa dia bisa disini, apa lelaki itu membawanya kesini* pikir david


Thalia hanya manggut manggut,,


"Jadi kakak dan alvaro saling mengenal?" thalia penasaran


"Ya, tuan alvaro sudah lebih dulu datang kesini,, dia bahkan memberikan bingkisan untukku,, dia sangat baikkan?" david sedikit menekan nada bicaranya


"Oh begitu" thalia mengerti


"Oh ya kak, kenalin dominique dia sahabatku" thalia menarik tangan dominique mendekat ke david


Dominique tersenyum menatap david.


"Hai, I'm David" david mengulurkan tangannya


"Hai, I'm Domi" dominique menerima uluran tangan david


"Kak, domi ini pengen banget kenalan sama kakak,, makanya aku bawa dia kesini" thalia senyum


"Thalia" dominique mencubit pinggang thalia karena malu


"Begitukah? senang bertemu denganmu domi" david tersenyum membuat dirinya semakin tampan


"Hehe, iya aku juga senang bertemu denganmu" dominique tersenyum kikuk


"Bagaimana kalau kita bertukar nomor? agar kita lebih dekat" david senyum dengan manis


"Hah? nomor?" dominique kaget


"Wah, domi sepertinya kak david tertarik padamu" thalia tertawa girang


"Berikan ponselmu, aku akan mencatat nomorku" pinta david


"Baiklah" dominique memberikan ponselnya meskipun takut takut melirik alvaro


David mengetik nomornya lalu menelfon ke ponselnya,, dan ponsel david berdering.


"Sudah, kau bisa menyimpannya" ucap david sambil memberikan ponsel dominique


*sekarang bagaimana? sepertinya kau terlihat kesal* david melirik alvaro.


Dapat terlihat wajah alvaro yang sudah merah menahan kesal dan cemburu, atas apa yang dilakukan david,, lelaki itu mengepalkan tangannya.


Edric dan samara saling pandang sedikit heran,,


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi?" bisik samara


"Tidak tau, aku juga sedikit bingung beby" edric mengerutkan keningnya


"Tapi domi kan kekasihnya alvaro, david bahkan juga tau itu" ucap samara


"Alvaro akan menikahi alishka,, biarkan saja beby"


"Tapi.."


"Diam beby,, itu tidak penting, biarkan mereka sendiri yang menyelesaikannya" tegas edric


Samara akhirnya kembali diam.


"Kakak mulai sekarang aku akan setiap hari kesini untuk merawat mu, okay" thalia antusias


"Apa kau tidak punya kesibukan" david tersenyum


"Tidak,, aku akan cuti dari pemotretan sampai kakak sembuh"


"Baiklah, aku cukup senang mendengarnya" david tersenyum lebar


"Aduh perutku" thalia memegang perutnya


"Kenapa? sakit?" david khawatir


Bsshhh


"Ternyata aku mulas kak,, aku ke toilet dulu" thalia berlari menuju bathroom


"Sial, ternyata kau kentut ya" david menutup hidungnya


Terlihat dominique menghampiri samara,,


"Hai" dominique melambaikan tangannya


"Sini duduk" samara sangat senang melihat dominique


"Kau apa kabar dom?" tanya samara


"I'm fine,, akhirnya kita ketemu lagi" balas dominique


Kedua wanita itu terus bercerita tentang keluh kesah mereka,, sementara edric yang merasa bosan, bermain Mobile Legend di ponselnya.


Dan alvaro mendekati david sendirian.


"Katakan yang sebenarnya? apa tujuan mu mendekati domi?" alvaro menatap david tajam


"Apa anda marah? kenapa? bukankah anda akan menikah?" tanya david santai


"David, aku tidak suka banyak cerita,, katakan apa mau mu?"


"Anda kenapa? saya berhak melakukan apapun yang saya inginkan, kenapa anda sangat marah?" david masih santai


"Aku tidak suka jika ada yang mengusik wanitaku,, dan kau jangan coba coba membuatku marah, aku ingatkan dirimu david,, jangan pernah mendekati wanitaku" tegas alvaro


"Wanita? saya semakin heran, jika anda mencintai wanita itu? kenapa anda ingin menikahi wanita lain? bukankah anda itu brengsek" david tersenyum smirk


"Jika anda mempermainkan nona alishka,, saya tidak akan diam saja" ancam david


"Hahaha" alvaro tertawa kecil


"Kau memiliki perasaan kepada adik bos mu sendiri,, bukankah itu benar?" ucap alvaro


"Dengar, jika kau tidak mengatakan yang sebenarnya.. maka akan ada empat kehidupan yang akan hancur, hidup alishka, dominique, aku dan juga hidupmu" lanjut alvaro


"Jika kau bertanya? siapa wanita yang kucintai? aku hanya mencintai domi,, kedatangan ku ke London karena aku ingin melamarnya, tapi aku tidak pernah menyangka jika rencana ku akan berantakan,, aku tidak bisa menolak permintaan aunty, aku mohon padamu lakukan sesuatu,, dan gagalkan pertunangan itu" alvaro menundukkan wajahnya, lelaki itu hampir menangis.


"Semua tergantung padamu david" ucap alvaro pasrah


Kemudian alvaro kembali bergabung dengan edric dan yang lainnya....


David hanya termenung mengingat perkataan alvaro.

__ADS_1


Bersambung....


Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻


__ADS_2