
Tok ! Tok !
"Lucy" Seseorang mengetuk pintu kamar
Lucy yang menyadari langsung menghapus air matanya dan mengatur nafas agar tidak ada yang tau dia habis menangis.
"Lucy" Lagi-lagi pintu kamar di ketuk
"Ya" Lucy langsung membuka pintu kamar
"Kamu kok lama banget buka pintu, Lucy?" Tanya senior pelayan
"Iya, Maaf kak" Lucy tersenyum
"Ada apa kak?" Lucy menatap pelayan itu
"Hari ini kita di bebas tugaskan" Ucap sang pelayan wanita itu
"Di bebas tugaskan?" Lucy bingung
"Iya, Tadi kata Pak Hendy,, Tuan muda memberi kita libur hari ini, Seluruh pelayan bebas dari tugasnya" Tutur pelayan tersebut
"Oh begitu ya kak" Lucy manggut-manggut
"Pekerjaan kita kan sudah selesai tidak ada yang perlu di hias lagi,,, Aku sama teman yang lain mau keluar malam ini, Kamu ikut tidak?" Ajak pelayan itu
"Humm, Memang boleh kalau keluar dari rumah utama?" Lucy ragu
"Ya boleh dong,, Kan tuan muda sudah kasih izin, Lucy" Kakak pelayan itu tersenyum
"Lagian nanti di rumah utama tuan muda adain pesta,, Tapi yang datang juga orang kalangan atas semua" Pekik kakak pelayan
"Jadi kita tidak di butuhkan disini ,, Mereka pasti sudah menyewa para pelayan hotel kelas atas" Timpal kakak pelayan itu
"Oh" Lucy hanya mengangguk
Mungkin dia benar, Dan aku juga bukan orang kelas atas mana mungkin aku di butuhkan disini,, Lagi pula David juga pasti bersenang senang dengan Nona Alishka, Mereka juga akan menikah. Lucy menghela nafas
"Lucy" Kakak pelayan itu memegang pundaknya
"Hah?" Lucy kaget
"Ya, Mala melamun"
"Mau ikut jalan jalan tidak?" Tanya kakak pelayan itu
"Mumpung bisa libur tugas loh,, Biasanya kan susah buat keluar" Bujuk kakak pelayan itu
"Humm, Iya kak"
"Aku ikut" Lucy tersenyum
"Ya uda, Kalau gitu nanti malam aku jemput ya,, Sekalian rayakan tahun baru" Kakak itu tersenyum
"Iya kak" Lucy mengangguk
Setelah kakak pelayan itu pergi,, Lucy kembali masuk ke kamarnya.
Gadis itu duduk di tepi kasur sedikit mendengus,, Lucy melihat ke jam dinding tepat pukul 4 sore.
"Sebentar lagi malam hari" Gumam Lucy
"Aku harus pakai apa ya? Buat keluar nanti malam" Lucy bingung
Gadis itu membuka lemari pakaian,, Lucy menggaruk kepalanya karena melihat isi lemari yang bajunya tidak terlihat banyak.
Dan semua baju itu sudah pernah dia pakai,, Lucy memang tidak memiliki baju yang cukup bagus untuk pergi jalan jalan, Karena Lucy sendiri biasanya tidak pernah keluar.
Jika di pikirkan dahulu saat Lucy bekerja menjual coffe, Dari pada membeli baju baru Lucy lebih memilih menyimpan uangnya untuk keperluan lain.
"Humm, Menjadi nona muda pasti enak ya,, Kalau mau pergi tinggal milih baju manapun yang dia suka, Tidak membingungkan seperti ini" Lucy mendengus kasar
"Kalau saja jodohku seperti Tuan Edric,, Walaupun posesif tapi bahagia" Lucy tersenyum, Namun lekas datar kembali
"Hei ! Lucy" Lucy menggetok kepalanya
"Mimpi kok ketinggian,, Dasar bodoh, Mana ada pemuda seperti Tuan Edric yang mau denganmu, Lucy"
"Apa lagi dengan wanita yang sudah... Ahh, Pria manapun pasti tidak mau menikah denganku" Lucy menjadi murung
Tanpa Lucy sadari air mata menetes dari matanya yang indah.
__ADS_1
...----------------...
Di tempat lain tepatnya di sebuah mansion, Tuan Hugo sedang memeriksa daftar tamu yang akan di undang di pesta pernikahan putranya.
Setelah pertemuan dengan keluarga Dominique,, Pak Hugo langsung menentukan tanggal pernikahan saat itu juga.
"Papa" Alvaro datang menghampiri
"Varo" Panggil Tuan Hugo
"Ya pa?" Alvaro heran
"Menurutmu siapa lagi yang belum di tuliskan di daftar para tamu undangan?" Tanya tuan Hugo
"Apa ada yang papa lewatkan?" Tuan Hugo menoleh ke putranya
"Coba kau lihat dulu" Menyerahkan daftar tamu ke tangan Alvaro
Alvaro menerima buku tamu itu dan melihat nama-nama yang tertera dalam daftar undangan,, Dan tentu saja mereka adalah orang-orang penting dan pastinya berasal dari keluarga terpandang.
"Ini sudah semua,, Tidak ada yang tertinggal" Alvaro menghela nafas
"Sungguh?" Tuan Hugo menatap putranya itu
"Ya" Alvaro mengangguk
"Baiklah, Kapan kalian akan fiting baju pengantin? Kau sudah bicara dengan Domi?" Tuan Hugo terlihat antusias
"Kenapa papa terlalu bersemangat? Setiap hari papa selalu membahas pernikahan" Alvaro jengkel
"Ada apa denganmu Varo? Tentu saja papa bersemangat" Balas tuan Hugo
"Putra pertama papa akan menikah? Apa papa tidak boleh bahagia?" Pekik tuan Hugo
"Bukan begitu pa,, Tapi pernikahan ku masih sebulan lagi, Jangan terlalu di besarkan" Pinta Alvaro
"Kenapa? Apa kau takut semua mantan mu tau?" Tanya tuan Hugo asal
"Apa yang papa katakan? Aku bahkan tidak pernah pacaran" Alvaro semakin kesal
"Lalu? Apa ada wanita lain? Selain domi?" Goda tuan Hugo
Pertanyaan tuan Hugo berhasil membuat Alvaro jengkel setengah mati.
Alvaro langsung pergi meninggalkan ruangan papanya,, Namun bunyi ponsel membuatnya berhenti.
**Alvaro langsung menjawab telfon
"Ya, Edric?" Ternyata telfon dari Edric
"Party?" Alvaro mengerutkan dahi
"Malam ini?" Alvaro melihat jam tangannya
"Ahh, Baiklah" Alvaro mematikan telfonnya.**
Setelah menerima telfon dari Edric, Alvaro langsung kembali keruangan papanya untuk memberitau pesan Edric.
...----------------...
Beralih ke kediaman keluarga Michael, Di kamar utama Edric sedang fokus dengan ponselnya.
Samara yang baru bangun dari tidurnya memperhatikan sang suami.
Ada apa dengannya? Kenapa dari tadi dia terus menelfon? Siapa saja yang dia telfon?. Pikir Samara
Edric duduk di sofa, Dan Samara yang penasaran berusaha menguping,, Dia sedikit mencondongkan telinganya.
Edric sedang bicara dengan seseorang lewat telfon.
"Hello my lady" Edric sedikit menggoda
[Rich, Apa kau kehabisan obat?] Pretty bicara di seberang telfon
"Hei ! Apa kau pikir aku gila?" Edric meninggakan suaranya
[Kau tidak ada akan menelfon ku jika tidak ada kepentingan? Katakan ada apa? Jangan buang waktuku Rich] Pretty kesal
"Datanglah kerumah ku malam ini" Edric to the point
[Kerumah? Kenapa? Apa ada masalah?] Pretty bingung
__ADS_1
"Tidak ada, Aku hanya merindukanmu" Edric tersenyum
[Rindu padaku? Hahaha] Pretty terkekeh
[Sungguh? Kau rindu padaku? Karena tidak ada yang membuat mu susah kan] Pretty tertawa
"Ya, Tidak ada yang lebih memahamiku selain dirimu" Edric sedikit tertawa
[Tentu saja,, Beruntunglah kau punya sepupu seperti aku] Pretty tersenyum bangga
"Alright, Thanks my lady"
"Kau dimana? Bisa kita bertemu?" Edric menyilangkan kakinya
[Aku sedang di kantor ku,, Kau ingin kesini?]
"Tunggu disana, Aku akan datang 10 menit lagi"
[Baiklah, Ku tunggu] Pretty mematikan sambungan.
Edric menutup telfonnya dan melihat ke arah jarum jam,, Sudah pukul 5 sore.
Samara yang mendengar pembicaraan Edric pun menjadi curiga,, Pikirannya sangat kacau.
My lady? Bukankah itu artinya dia wanita,, Tapi siapa wanita itu? Kenapa Edric sangat perhatian padanya? Dia bahkan menyuruh wanita itu datang kerumah ini? Dia juga ingin menemuinya. Samara merasa panas
Disaat Edric berdiri dan menoleh ke tempat tidur,, Samara pura-pura masih terlelap.
"Dia tidur lama sekali? Mungkin dia kelelahan" Gumam Edric
Edric berjalan ke arah Samara,, Samara mengetahui itu karena pura-pura tidur.
"Kau bahkan sangat terlihat cantik ketika sedang tertidur" Edric memperhatikan wajah Samara
Lalu Edric mengelus kepala Samara dan mengecup keningnya dengan sayang.
"Tetaplah disini,, Aku akan pergi sebentar" Bisik Edric di telinga Samara
Kau barusan memujiku? Setelah itu kau meninggalkan ku begitu saja? Apa sangat penting wanita itu? Sampai kau harus pergi sendiri. Batin Samara
Edric mengambil stelan jas dan memakainya,, Setelah itu dia menelfon David untuk mengantarnya.
Edric kembali menoleh ke arah Samara, Namun Samara belum bergerak,, Edric pun hendak melangkah keluar kamar.
"Hoammm" Suara Samara menghentikan langkahnya
"Kau sudah bangun?" Edric menoleh
"Humm" Samara membuka mata
"Kau rapi sekali? Mau kemana?" Samara pura-pura tidak tau
"Beby, Aku ada sedikit urusan diluar" Ucap Edric
"Jadi aku harus pergi sekarang,, Aku akan pulang sebelum malam" Edric tersenyum, Mengecup kening Samara
"Kau istirahat saja jika masih lelah" Edric membelai wajah Samara
Saat Edric ingin pergi, Samara menahannya.
"Ed" Samara menarik tangan Edric
"Apa aku boleh ikut denganmu?" Samara memasang wajah imut
"Aku bosan kalau harus menunggu dirumah,, Apa lagi kau tidak ada" Samara beralasan
Jika aku mengajaknya, Itu artinya semua akan berantakan,, Tidak, Aku tidak akan membiarkannya. Pikir Edric
"Beby" Edric memegang tangan samara
"Sebenarnya aku bukan tidak ingin mengajakmu,, Tapi aku harus pergi sendiri beby" Lirih Edric
"Kenapa?" Samara heran
"Jika kau bosan, Alishka akan menemani mu disini" Edric tersenyum
"Maaf beby" Edric mengecup bibir istrinya itu
Setelah itu Edric langsung pergi meninggalkan Samara yang masih mematung.
Dia benar-benar tidak ingin aku ikut? Apa dia akan menemui selingkuhannya? Hahhh. Samara merengek.
__ADS_1
Bersambung....
...Mohon dukungannya ya guys 🌹...