
Freya menguap sambil membuka matanya. Ia menggeliat perlahan, pinggangnya terasa sangat pegal. Jordan sudah tidak ada di sampingnya, mungkin dia ada di kamarnya. Freya tersenyum senang saat mengingat semalam. Ahh betapa perhatiannya Jordan padanya. Jordan menemaninya hingga ia tertidur, benar-benar sikap yang manis.
Freya mencoba menggerakkan tangannya, lukanya terasa lebih sakit dibandingkan tadi malam. Ternyata menjadi mafia itu tidak mudah, tapi ia bahagia. Ia akan berusaha keras untuk menjadi seperti Jordan, ahh betapa bahagianya dirinya nanti. Punya banyak harta, punya kekuasaan, dan orang-orang akan tunduk di bawah perintahnya. Tak akan ada lagi orang yang menindasnya, sungguh kehidupan yang luar biasa.
Freya beranjak bangun dari tidurnya. Tanpa mandi terlebih dahulu, ia langsung keluar dari kamarnya, perutnya terasa perih, dan melilit karena lapar. Ia langsung menuju meja makan, rupanya teman-temannya baru saja selesai makan siang.
Alex yang saat itu baru saja masuk dari pintu belakang, menatap Freya dengan heran. Bagaimana tidak, Freya masih memakai piyama, dan rambutnya juga masih acak-acakan. Namun ia makan dengan lahapnya, seperti orang yang sudah tiga hari tidak bertemu dengan nasi.
"Freya." Sapa Alex sambil duduk di depan Freya, ia menatapnya sambil tersenyum miring.
"Jangan memandangku seperti itu, aku lapar Lex," ucap Freya disela-sela kunyahannya.
"Salah sendiri kau tidak bangun lebih awal." Sindir Alex.
"Aku lelah." Jawab Freya dengan mulut yang penuh.
"Kau sudah berapa hari tidak makan?" goda Alex sambil terkekeh.
Freya tidak menjawab, dia hanya menatap Alex sambil melotot. Alex tertawa lebih keras saat melihat tingkah Freya.
Dan beberapa menit kemudian, Freya sudah menghabiskan makanannya.
"Andrew dan Jordan kemana?" tanya Freya sambil menggigit buah apel yang baru saja diambilnya.
"Andrew pergi ke kantor, kalau Jordan, dia ada di atas, David sudah mulai siuman." Jawab Alex.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya." Kata Freya sambil tersenyum.
"Ya, semoga saja David lekas membaik," gumam Alex.
Lalu ia melihat Freya beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Alex.
"Ke atas." Jawab Freya singkat, sambil meneruskan langkahnya.
Freya berjalan menaiki tangga sambil menguncir rambutnya dengan asal. Kebetulan ada pita rambut di saku piyamanya. Ia berhenti di depan ruang pengobatan.
Tampak di sana David sedang terbaring di ranjangnya, matanya sudah terbuka, tapi ia masih terlihat lemah. Di sampingnya tampak Jordan sedang duduk menemaninya.
Freya tersenyum saat melihat Jordan membantunya minum, ahh betapa lembutnya pria itu. Walaupun dia dikenal sebagai pembunuh yang kejam, namun ia sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
"Apa kau menyukainya Fre?" tanya Alex dengan tiba-tiba. Freya terlonjak kaget, entah sejak kapan Alex ada di belakangnya.
"Kau mengagetkanku Lex," ucap Freya kesal. Entah kesal karena kaget, atau karena pertanyaannya Alex.
__ADS_1
"Kau tidak menjawab pertanyaanku Fre," kata Alex sambil duduk di sofa yang tak jauh dari ruangan itu.
Karena Alex terus menatapnya, mau tidak mau Freya mengikutinya duduk di sofa.
"Apa kau menyukainya Fre?" Alex kembali bertanya.
Freya menghembuskan nafas panjang, "tidak." Jawabnya singkat.
Tidak mungkin ia jujur tentang perasaannya, iya kalau Jordan juga menyukainya, kalau tidak, ahh bisa malu dia, mau ditaruh dimana mukanya.
"Bagus kalau tidak." Ucap Alex sambil menyulut rokoknya.
"Kenapa begitu?" tanya Freya dengan heran.
"Karena jika menyukainya, kau akan kecewa." Jawab Alex.
"Kenapa?" tanya Freya semakin penasaran.
"Katanya kau tidak suka. Kenapa kau ingin tahu?" sindir Alex sambil memandang Freya.
"Sekedar penasaran, tapi kalau kamu keberatan memberitahuku, ya sudah diam saja, aku juga tidak memaksa." Ucap Freya dengan kesal. Tinggal menjawab saja, kenapa susah sekali.
Alex menghisap rokoknya dalam-dalam. Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu.
"Lalu?" tanya Freya. Ia penasaran dengan masa lalu Jordan.
"Hubungan mereka kandas, dan pernikahannya gagal. Jordan sempat terpuruk karena hal itu. Dan akhirnya ia bisa kembali bangkit, namun kepribadiannya sedikit berubah. Ia menjadi lebih dingin dan kejam, seperti sekarang." Jawab Alex.
"Kenapa hubungannya kandas? Apa kekasihnya selingkuh? Lalu di mana wanita itu sekarang?" tanya Freya dengan semangat. Ia ingin tahu seperti apa wanita itu.
"Dia tidak selingkuh. Seminggu sebelum hari pernikahan, Lyana menghembuskan nafas terakhirnya, itulah yang menyebabkan hubungan mereka kandas." Kata Alex.
Freya kaget mendengar perkataan Alex, ia tidak menyangka jika maut yang memisahkan mereka.
"Apa dia kecelakaan, atau sakit?" tanya Freya.
Alex menggeleng, "dia dibunuh." Jawabnya dengan pelan.
Dan Freya semakin terkejut, ternyata sepahit itu masa lalunya Jordan.
"Siapa yang membunuhnya, dia juga harus membayarnya dengan nyawa," kata Freya dengan tegas.
"Kau benar, dia memang harus mati. Tapi masalahnya, tidak mudah untuk membunuhnya." Jawab Alex.
"Kenapa, memangnya siapa dia?" tanya Freya sambil menatap Alex.
__ADS_1
"Kita tidak tahu identitasnya, kita hanya mengenalnya sebagai Mr.X, Jordan menaruh harapannya padamu Fre," jawab Alex sambil membalas tatapan Freya.
"Sejak dulu kita dan Mr.X memang terlibat persaingan dalam dunia mafia, tapi aku tidak menyangka, jika dia akan menggunakan cara licik. Dia membunuh Lyana untuk menghancurkan Jordan, karena dia tahu Lyana adalah kelemahan terbesarnya Jordan." Sambung Alex.
"Aku tidak menyangka masa lalu Jordan sekelam itu, aku berjanji, aku pasti akan membalaskan dendamnya," kata Freya dengan bersungguh-sungguh.
"Aku percaya kau bisa melakukannya Fre," jawab Alex sambil menepuk bahu Freya.
"Sejak saat itu Jordan tidak mau lagi berhubungan dengan wanita. Entah karena cintanya hanya untuk Lyana, atau karena dia takut kembali gagal dalam menjaga wanitanya. Aku tidak tahu alasan pastinya seperti apa, yang aku tahu hanyalah dia tidak mau jatuh cinta lagi." Sambung Alex.
Freya mengangguk paham. Ia jadi teringat akan kata-kata Jordan waktu itu, "aku tidak tertarik dengan wanita" itulah kalimat yang diucapkan Jordan padanya. Ahh jadi seperti ini kenyataannya.
Pupus sudah harapan Freya untuk bersama dengan Jordan. Lelaki itu sudah tak punya cinta, lelaki itu sudah tak butuh wanita.
Hatinya sedikit sakit mengetahui kenyataan ini. Ahh mudah-mudahan saja, ia bisa menghapuskan perasaannya untuk Jordan.
"Fre," panggil Alex.
"Ehh, iya." Jawab Freya gugup.
"Kau diam saja, kenapa?" tanya Alex.
"Tidak apa-apa." Jawab Freya sambil menggeleng.
Kemudian mereka melihat Jordan keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan David?" tanya Alex.
"Sudah membaik, dia baru saja minum obat, nanti Leon akan kesini melihatnya." Jawab Jordan sambil duduk di sebelah Freya.
"Bagaimana lukamu?" tanya Jordan sambil menyentuh lengan Freya.
Hati Freya kembali berdebar saat mendapat sentuhan, dan perhatian dari Jordan. Ahh sayang sekali, perasaan yang indah ini harus ia kubur dalam-dalam.
"Fre," panggil Jordan, karena Freya hanya diam sambil menatapnya.
"Ehhmm, sedikit sakit, tapi sudah lebih baik." Jawab Freya dengan gugup.
Alex tersenyum geli saat menyadari kegugupan Freya.
"Dari matamu sudah terlihat jelas Fre, jika kau mencintainya.
Untuk itu aku memberitahumu lebih awal, agar kau tidak kecewa terlalu dalam," batin Alex dalam hatinya.
Bersambung.......
__ADS_1