Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Detik-Detik Pertemuan


__ADS_3

Freya menoleh, ternyata Jordan yang memanggil. Freya mengulas senyuman kaku, bertemu dengan Andrew membuat perasaannya sedikit kacau.


"Fre, sejak kapan kau datang?" tanya Jordan sambil menghampiri Freya.


"Baru saja, aku mau menemui David." Jawab Freya dengan datar.


"David ada di ruangannya," sahut Andrew sembari melangkah turun.


"Kau mau ke mana?" tanya Freya kala melihat Andrew melangkah pergi.


"Aku ada urusan, aku harus pergi sekarang," jawab Andrew.


"Tunggu!" Teriak Freya.


"Ada apa?"


"Aku ingin bicara denganmu, penting!" jawab Freya sambil menatap tajam ke arah Andrew.


"Besok saja Fre, saat ini aku tidak bisa. Aku ada urusan yang sangat penting. Maaf, aku harus pergi sekarang!" kata Andrew sambil melangkah pergi meninggalkan Freya dan Jordan.


"Andrew tunggu!" teriak Freya.


"Sampai jumpa besok Fre, waktuku sudah mepet," sahut Andrew tanpa mau berhenti.


"Jordan, kenapa kau tidak menahannya?" tanya Freya, saat Andrew sudah keluar rumah.


"Dia ada urusan penting Fre, dia___"


"Dan aku juga ingin bicara penting dengannya, ini mengenai Mr.X!" sahut Freya dengan suara yang tinggi.


"Jika tentang Mr.X, kenapa harus bicara dengan Andrew, kenapa tidak denganku?" tanya Jordan sambil mengernyit heran.


"Kau tidak mengerti, Jordan!" kata Freya dengan cepat. Lantas ia melangkah meninggalkan Jordan.


Jordan mengikuti langkah Freya, ia tidak mengerti dengan sikapnya. Apa yang sebenarnya terjadi?


Freya masuk ke ruangan David, dan langsung duduk di tepi ranjang.


Saat itu, David sedang meracik obat di dalam botol. Melihat Freya datang, ia langsung menghampirinya.


"Ada apa Fre?" tanya David.


"Obati lukaku!" jawab Freya dengan singkat, sembari membuka jaketnya.


David membelalak lebar, ia terkejut melihat bahu Freya yang terluka. Kain putih yang membalutnya, kini sudah berubah merah. Darah segar terus merembas dari lukanya.


"Fre kau kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Jordan dengan cepat. Ia tersentak kaget melihat keadaan Freya.


"Tidak apa-apa." Jawab Freya. Jujur ia sangat kesal dengan Jordan. Ia berharap Jordan mau menahan Andrew, tapi ternyata ia tidak melakukannya.

__ADS_1


"Berbaringlah!" kata David. Meskipun penasaran, namun ia tak banyak bertanya. Ia tahu suasana hati Freya sedang buruk.


"Fre, katakan apa yang terjadi Fre! Siapa yang melakukan ini?" tanya Jordan.


"Marcel."


"Marcel, tangan kanannya Jonathan?" tanya Jordan.


"Iya, dia melawan saat aku mencoba membunuhnya. Namun ternyata aku salah, Mr.X bukan dia. Tapi ada sedikit keberuntungan, dengan membunuh dia, sekarang aku tahu siapa Mr.X sebenarnya," jawab Freya sambil meringis sakit. Rasa perih kembali mendera, kala David membersihkan lukanya.


"Siapa Mr.X?" tanya Jordan dengan serius.


"Kamu ingin tahu, lalu kenapa tadi tidak menahan Andrew?" bentak Freya dengan tatapan tajamnya.


"Dia ada urusan Fre. Tapi, kenapa harus ada dia?" tanya Jordan.


"Asal kamu tahu Jordan, dia telah berkhianat. Dia adalah Mr.X yang kita cari selama ini!" jawab Freya dengan tegas.


Jordan dan David tersentak kaget, mereka tak menyangka Freya akan menduga demikian. Mereka yakin, Andrew tidak akan melakukan hal itu.


"Itu tidak mungkin Fre, dia___"


"Mungkin Jordan! Kamu tahu, kenapa dia merekomendasikan Diamond, agar dia bisa mengawasi gerak-gerik kita. Semalam aku bertemu dengan dia di kelab, dan itu adalah lokasi terakhir Mr.X. Dan Marcel, dia juga mengatakannya demikian," sahut Freya sebelum Jordan sempat melanjutkan kalimatnya.


"Dia pergi ke kelab karena wanitanya, yang kebetulan bekerja sebagai bartender di sana. Akhir-akhir ini dia sering menghilang, karena jatuh cinta. Dia punya kekasih, dan dia berniat mundur dari dunia mafia. Itu sebabnya, kenapa belakangan ini sikapnya aneh," ucap Jordan menjelaskan masalah Andrew.


"Kamu salah Jordan, kamu telah ditipu olehnya. Dia adalah Mr.X!" kata Freya masih tetap pada pendiriannya.


"Mungkin saja saat itu dia menyuruh bawahannya untuk menjadi Mr.X. Dia sangat cerdik, melakukan hal seperti ini tidak mustahil, Jordan!" kata Freya.


"Tapi aku yakin ini tidak mungkin."


"Kau tidak percaya?"


"Freya, aku dan Andrew berjuang dari nol. Tidak mungkin dia mengkhianatiku!" jawab Jordan.


"Baiklah, terserah kamu!" kata Freya sambil mendengus kesal.


"Boleh saja kau tidak percaya Jordan. Tapi malam ini, aku akan membuktikan kebenarannya! Aku akan membawa mayat Andrew ke hadapanmu!" batin Freya dengan penuh amarah.


***


Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 malam. David baru saja mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu Freya. Kini wanita itu sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Ia sangat serius, entah apa yang ia lakukan.


David dan Jordan sesekali meliriknya, namun mereka tak ada yang mengeluarkan sepatah kata. Mereka tahu Freya dalam keadaan marah, dan diam adalah pilihan yang terbaik.


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Seorang lelaki sedang duduk di kursi kerjanya. Bukan menyelesaikan tugas, melainkan menatap foto wanita yang sedang tersenyum manis.


"Terima kasih Freya, berkat kamu aku menemukan kembali jati diriku. Sekarang aku tahu makna hidup yang sejati, aku tak lagi terbelenggu dalam ambisi. Sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia gelap, lantas aku akan hidup bersamamu. Dengan kamu, aku akan menjalani kehidupan normal seperti yang lainnya," ucap Calvin sambil mengusap-usap foto Freya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pintu diketuk dari luar. Ternyata tangan kanannya yang datang. Dia menghadap Calvin dengan gugup, entah apa yang terjadi.


"Tuan, maaf ada pesan dari Atana." Ucap lelaki itu.


"Apa katanya?" tanya Calvin.


"Dia meminta Tuan datang menemuinya tengah malam nanti. Dia sudah mengirimkan lokasinya, dia bilang ingin bicara serius dengan Tuan. Dia ingin menjalin kerjasama."


"Kerjasama, wanita licik seperti dia, aku tidak akan percaya. Abaikan saja pesan itu, aku tidak akan menemuinya. Lagipula aku akan mundur dari dunia mafia, semua ini sudah tidak penting!" kata Calvin sambil menghela napas panjang.


"Tapi Tuan, dia juga mengirimkan ancaman."


"Apa ancamannya?" tanya Calvin.


"Katanya dia sudah tahu identitas Tuan. Dia akan mencelakai wanita yang Tuan cintai. Dia berjanji akan membuat Tuan menyesal, jika Tuan tidak mau menemuinya."


"Sial, dasar wanita licik!" Geram Calvin.


"Lalu bagimana Tuan?"


"Baik, katakan padanya aku akan datang," jawab Calvin.


"Aku tidak akan menempatkan Freya dalam bahaya. Hah, ternyata Atana sangat licik. Tapi baiklah, akan kutunjukkan siapa diriku. Mungkin ini kenang-kenangan terakhir sebelum aku meninggalkan dunia mafia." Batin Calvin.


"Maafkan aku Freya, malam ini aku kembali membunuh. Tapi aku janji, ini terakhir kalinya. Atana berani mengusikmu, aku tidak akan memaafkannya," batin Calvin sambil beranjak dari duduknya.


"Pergilah!" kata Calvin pada bawahannya.


"Tunggu Tuan, untuk nanti malam, apa yang harus saya persiapkan?"


"Ajak lima temanmu untuk mengikutiku. Tapi kalian harus sembunyi, jangan sampai Atana mengetahuinya!" ucap Calvin.


"Baik Tuan."


Lantas lelaki itu pergi keluar.


Calvin melangkah mendekati meja, ia membuka lacinya dan mengambil kotak kecil dari dalam sana.


"Malam ini adalah malam terakhirku di dunia mafia. Setelah ini, aku akan segera melamarmu Freya," ucap Calvin sambil menatap cincin permata di hadapannya.


Kemudian, Calvin kembali meletakkan cincin itu. Lalu menyiapkan pistol yang akan ia bawa.


***


Di tengah malam yang lengang, Freya berjalan menembus dinginnya angin yang menusuk tulang. Dengan jubah hitam yang berkibar, ia terus melangkahkan kakinya. Freya menuju rumah kosong yang sudah ada di depan mata.


Luka di bahunya tak lagi ia rasa. Satu hal yang ia pikirkan hanyalah membunuh Mr.X.


David dan Jordan melarangnya pergi, karena kondisinya belum pulih total. Namun Freya tak mendengarkan mereka, pikirannya sudah dikuasai oleh ambisi. Dengan satu rencana yang telah ia susun rapi, Freya berharap misinya akan berhasil malam ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2