Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Meruntuhkan Keangkuhanmu


__ADS_3

Deru angin yang berembus ke sana ke mari, tak sedetik pun mengalihkan perhatian Jordan. Lelaki bermanik biru itu tetap terpaku dengan tatapan kosong. Keduanya tangannya bertumpu pada teralis balkon, entah sudah berapa lama ia dalam posisi seperti itu. Kedua kakinya sudah pegal dan nyeri, namun Jordan sama sekali tak peduli.


Jangankan orang lain, dirinya sendiri pun tak terlalu paham dengan apa yang terjadi. Ia sangat kecewa dan nyaris hilang kendali, ketika Freya menyangkal perkataannya. Ia sangat berharap yang datang semalam adalah Freya.


Lantas kenapa ia sangat berharap?


Berkali-kali Jordan melontarkan pertanyaan itu pada hatinya, namun hingga detik waktu terus berlalu, ia sama sekali tak menemukan jawabannya.


Mungkinkah karena semalam ia melihat Freya shalat?


Entahlah, yang jelas saat ini dia sedang kacau, dan semua itu disebabkan olehnya.


"Argghhh sial! Sial! Sial!" geram Jordan. Ia mengepalkan tangan dan memukuli teralis balkon. Terlalu emosi menghadapi perasaannya yang semakin tak terkendali.


Setelah berhasil mengontrol emosi, Jordan kembali ke kamar. Ia menyambar handuk, dan masuk ke kamar mandi. Dia berharap, bebannya yang tak jelas akan mengalir bersama dinginnya air.


______


Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa sudah dua minggu Freya tinggal satu atap dengan Jordan. Wanita itu masih dikurung di dalam kamar, tak sekali pun ia diijinkan keluar. Hanya pelayan yang senantiasa melayani semua kebutuhannya.


Dua hari sejak tinggal di sana, Jordan merampas ponselnya. Namun, tidak ada perlawanan sama sekali dari Freya. Seolah wanita itu benar-benar pasrah dan menyerah pada Jordan. Dan hal inilah yang membuat Jordan semakin penasaran. Menyerah dan mengakui kekalahan, bukanlah sifat Freya. Apakah karena ia sudah bertaubat? Ataukah sebenarnya dia sedang menyembunyikan sesuatu?


Malam ini, Jordan duduk di kursi, di dalam kamarnya. Untuk kesekian kali, dia tenggelam dalam ponsel milik Freya. Namun lagi-lagi nihil, Jordan sama sekali tak mendapatkan informasi apapun dari sana. Isi ponsel itu hanyalah seputar pekerjaan, tidak ada yang menyangkut privasinya.


"Sial, lama-lama aku yang merasa dipermainkan. Aku harus bicara dengannya!" Jordan meletakkan ponsel dengan kasar, dan beranjak dari duduknya.


Ia bersiap menemui wanita yang akhir-akhir ini sering mengganggu lelap tidurnya.


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Freya duduk di sofa sambil menikmati irisan buah apel. Tidak ada sedikit pun gurat kesedihan di wajahnya. Ia malah terlihat riang, seakan-akan ia menikmati hidupnya yang terpenjara.


Tak lama berselang, ketenangannya diusik bunyi derit pintu. Freya hanya mengulas senyum tipis. Tanpa menoleh pun ia yakin yang datang pasti Jordan. Pelayan tak pernah masuk ke kamarnya setelah mengantarkan makan malam.


Freya masih tetap bertahan pada posisi semula, kendati aroma mint semakin menguar mendekatinya. Ekor matanya hanya melirik sekilas, dan menjadi sosok lelaki tegap, dalam balutan celana kasual dan kaus tanpa kerah.


"Aku ingin bicara!" kata Jordan dengan tegas. Lantas ia mendaratkan tubuhnya dengan kasar di sofa, di sebelah Freya.

__ADS_1


"Bicara saja," jawab Freya di sela-sela kunyahannya.


Dalam hati, Jordan menggeram kesal. Ia sangat tidak suka dengan sikap Freya yang seolah tak peduli padanya.


"Berhenti!" Jordan menyekal tangan Freya yang hendak menyomot irisan apel.


"Ini adalah makanan yang dibawakan Bibi, bukankah ini memang untukku?" tanya Freya dengan ekspresi polos.


"Aku ingin bicara, Freya. Jadi berhenti makan, dan dengarkan aku!" bentak Freya.


"Telingaku masih berfungsi dengan baik, meskipun mulutku sedang mengunyah makanan," sahut Freya.


"Aku ingin kau menghargaiku!" bentak Jordan dengan intonasi yang lebih tinggi.


Freya menghela napas, "baiklah, kalau begitu aku akan mengubah posisi dudukku. Sekarang bicaralah, aku sudah menatap wajahmu!" Freya duduk menghadap Jordan dan menatap wajahnya dengan lekat.


Jordan terkesiap. Perasaannya kembali tak karuan, ketika matanya beradu dengan sepasang manik hitam yang bening, namun juga penuh kemelut. Sepasang mata yang seakan menyeretnya untuk menyelam ke dasar sana. Mencari kebenaran dari hati sang empunya.


"Katanya mau bicara," ucap Freya setelah hening untuk beberapa saat lamanya.


"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Jordan sembari membelakangi Freya.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya makan, mandi, dan tidur di sini. Aku tidak bisa melakukan hal yang lain, bahkan mengurus pekerjaan atau perawatan diri pun, kau tidak memberikan kesempatan," jawab Freya.


"Tapi kau melakukan sesuatu, Freya!" bentak Jordan. "Aku kenal betul seperti apa dirimu. Kau tidak akan menyerah begitu saja, kau pasti menyusun rencana diluar pengawasanku." Jordan membalikkan badan, dan menatap Freya yang masih duduk dengan tenang.


"Apa maksudmu?"


"Kau sama sekali tidak melawan, bahkan kau seolah-olah menikmati hidupmu yang sekarang. Kau pasti punya rencana 'kan, Freya! Katakan, atau aku akan membunuhmu sekarang juga!" geram Jordan.


"Jordan___"


"Perusahaanmu berjalan dengan lancar, tidak ada kendala sama sekali, meski kau sudah absen dua minggu. Kau pasti punya jaringan untuk mengontrol mereka, 'kan?


Dan ... di wajah ini, aku sama sekali tidak melihat raut kesedihan. Itu pasti karena kau sudah memikirkan kemenangan, iya 'kan?" Jordan meraih dagu Freya dan mendongakkannya.

__ADS_1


Freya melepaskan tangan Jordan dengan pelan. Lantas ia beranjak dari duduknya, dan berdiri tepat di depan Jordan.


"Apa kepercayaan dirimu sudah pudar, Jordan. Kau mengurungku di sini, kau mengunci pintu keluar dan juga pintu ke balkon.


Dan bahkan ruangan ini juga didesain sedemikian ketat, tidak ada signal ataupun jaringan yang menjangkau ke sini. Menurutmu cara apa yang bisa kulakukan?" terang Freya.


"Jika kau ingin tahu kenapa bisnisku masih berjalan lancar, itu karena aku hanya merekrut orang-orang yang bisa dipercaya. Mereka akan mengurus pekerjaan dengan baik, sekalipun aku tidak ada di sana.


Dan untuk kesedihan ... aku tahu bagaimana perasaanmu. Kau pasti sangat kehilangan, itu sebabnya aku diam, aku berusaha memahami kesulitanmu, Jordan," sambung Freya.


"Jadi kau memang menikmati hidupmu di sini?" Jordan merengkuh pinggang Freya dengan erat, hingga tak ada lagi jarak di antara keduanya.


"Menikmati atau tidak, yang jelas aku tetap menerima. Aku tahu, apa yang kualami sekarang, tidak sebanding dengan apa yang kau alami dulu. Aku berusaha menebus kesalahanku padamu ... dan juga pada Alex," ucap Freya masih dalam keadaan tenang.


"Bagus kalau kamu mau menerima, dan mau menyadari kesalahanmu. Untuk menebus semua itu, serahkan tubuhmu dan lahirkan anakku!" Jordan berucap tepat di wajah Freya. Dalam jarak yang begitu dekat, Freya dapat merasakan hangat napas Jordan menyapu kulitnya.


"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tapi aku tahu cara untuk mengikatmu. Entah apa alasannya, yang jelas aku sangat tidak mau kehilanganmu," batin Jordan.


"Jika memang itu yang kau inginkan, aku tidak akan melawan. Lakukan saja, Jordan." Freya tersenyum manis sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Jordan.


Melihat senyuman, merasakan sentuhan, dan juga mendengarkan perkataannya, membuat Jordan tak bisa mengendalikan diri. Hasratnya kian terpancing. Sekujur tubuh dijalar rasa panas yang membuat akal sehatnya semakin tak berfungsi.


Jordan meraih tengkuk Freya dan semakin mendekatkan wajahnya. Tanpa aba-aba dia langsung menempelkan bibirnya. Memainkan benda ranum nan merekah yang mampu mengalihkan kebenciannya.


Namun, belum lama Jordan mereguk rasa manis dari diri Freya. Tiba-tiba pandangannya mulai kabur. Spontan saja rasa pening menyerang kepala tanpa permisi. Untuk beberapa detik, Jordan masih sanggup bertahan. Dia memejamkan mata tanpa melepaskan tubuh Freya. Akan tetapi, hal itu tak berlangsung lama. Belum genap satu menit jarum jam berputar, Jordan sudah menjatuhkan tubuhnya di pelukan Freya.


Freya tersenyum. Lantas ia memapah tubuh Jordan, dan membaringkannya di ranjang. Freya duduk di sebelahnya, sambil menatap mata Jordan yang tertutup rapat.


"Aku pasti akan memberikannya padamu, Jordan. Tapi nanti, setelah aku dan kamu bersatu dalam ikatan halal. Aku akan membuatmu mencintaiku, aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Alex. Boleh saja kau merampas hidupku, tapi jangan mengeluh jika aku merampas hatimu. Aku yakin, suatu saat nanti aku pasti bisa meruntuhkan keangkuhanmu. Aku menunggu saat dimana kau mengharapkan aku kembali, Jordan. Saat itu tiba, aku akan membawamu ke dalam kebaikan. Kita bersama-sama mendekatkan diri kepada Tuhan, dan menjalani kehidupan layaknya manusia normal," ucap Freya.


"Dulu aku berjanji, akan memaafkanmu, jika kau berhasil melewati maut. Entah apa yang kau punya, kenapa sangat andal membuatku selalu mengingatmu. Lima tahun kita tak bersua, namun aku sama sekali tak bisa membuka pintu hati untuk pria lain. Kau sangat menyebalkan, Jordan!" Freya menutupi tubuh Jordan dengan selimut tebal, lantas melangkah pergi menuju pintu.


Freya mengeluarkan sesuatu dari saku celana, "Lelaplah dalam tidurmu, Jordan. Aku hanya ingin menemui Kamila, aku akan kembali sebelum fajar menyingsing."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2