Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Aku Tidak Memaksamu


__ADS_3

Asap mengepul memenuhi ruangan dapur. Freya terbatuk-batuk, sambil melangkah menjauh. Aroma hangus yang khas tercium menyengat, memancing Jordan keluar dari kamarnya.


"Freya, ada apa?"


Jordan melangkah mendekati Freya yang berdiri di dekat meja makan. Lantas mengusap peluh yang membasahi wajahya.


"Kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Jordan.


"Aku tidak apa-apa, tapi dapurmu hampir meledak," jawab Freya.


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Jordan diiringi dengan senyuman lebar.


"Hangus," jawab Freya dengan kesal.


Satu hal yang tidak bisa ia lakukan adalah memasak. Dulu saat di Indonesia, dia punya banyak pelayan. Dapur adalah ruangan yang paling jarang ia kunjungi. Dan setelah bertemu Jordan, ia juga tak pernah memasak. Begitu halnya saat ia tinggal di apartemen, ia lebih suka makan diluar. Kala di puncak, juga selalu Calvin yang memasak, bukan dirinya.


Ini adalah hari kelima mereka menginap di villa. Tinggal bersama dalam satu atap, melakukan segala hal berdua, kecuali tidur. Jordan adalah lelaki yang cukup menghargai wanita. Selain pelukan dan ciuman di kening, tak ada lagi hal yang ia lakukan pada Freya.


Sejak pertama kali menginap, mereka selalu membeli makanan siap saji. Dan hari ini adalah pertama kalinya Freya mencoba untuk memasak.


Niat hati ingin memasak barbeque, namun harapan kandas, karena daging sudah hangus sebelum matang.


"Ya sudah sekarang mandi sana, biar aku yang masak," kata Jordan.


Kala itu, penampilan Freya memang jauh dari kata anggun. Ikatan di rambutnya berantakan, dan wajah penuh dengan keringat.


"Kamu bisa?" tanya Freya dengan mata yang membelalak lebar.


"Banyak hal yang bisa aku lakukan, Fre. Termasuk juga memenangkan hatimu." Jordan mengedipkan mata sambil mengusap puncak kepala Freya.


Lantas ia melangkah menuju dapur, sembari mengibaskan lap kecil untuk menghalau asap tipis yang belum hilang. Jordan membereskan kekacauan yang Freya buat. Kemudian mengambil celemek, dan siap memasak.


Namun, Jordan sedikit terkejut saat menoleh ke belakang. Di sana tampak Freya sedang duduk di atas kursi plastik, melipat tangan di dada dengan mata yang menilik setiap gerak-geriknya. Persis seperti ibu tiri mengawasi anaknya yang sedang dihukum.


Jordan mengulas senyuman yang sangat sedap dipandang mata. Lantas ia melangkah mendekati Freya, yang masih terus menatapnya.


"Kenapa, hmm?" tanya Jordan dengan pelan. Suaranya mengalun merdu di telinga Freya.


"Melihatmu," jawab Freya.


"Terus?"


"Apanya?"


"Kenapa melihatku?"


"Kenapa malah memasak?"

__ADS_1


"Terus?"


"Sudahlah aku mau mandi. Aku tahu kamu tidak peka!" Freya beranjak dari duduknya, dan pergi meninggalkan Jordan.


"Ternyata lapar bisa mengubah kepribadian seseorang ya," sindir Jordan kala Freya belum jauh meninggalkannya.


"Apa maksudmu!" teriak Freya dengan kesal.


"Aku sudah memesan pelmeni kesukaanmu, sebentar lagi pasti sampai," jawab Jordan masih dengan senyumannya.


Freya tak menjawab, namun dengan cepat ia pergi berlalu, sembari menyembunyikan wajahnya yang merona.


Di dalam kamar, Freya menatap pantulan dirinya di cermin. Semudah itukah hatinya berubah?


Dulu, saat ia kecewa dengan Jordan, dengan mudahnya ia membuka hati untuk Calvin.


Dan sekarang, baru tiga bulan Calvin pergi, hatinya mulai luluh dengan sikap Jordan.


Apa aku yang plinplan, atau memang cinta itu mudah berubah haluan?


Satu pertanyaan yang selalu mengusik dalam benaknya.


Freya mengembuskan napas kasar, harus bagaimana ia bersikap?


"Menghadapi rival ternyata jauh lebih mudah, daripada menghadapi perasaan. Aku lebih mampu memahami dunia mafia, daripada memahami masalah asmara." Freya menyambar handuk, dan bergegas menuju kamar mandi.


Sekitar lima belas menit kemudian, Freya keluar dari kamar. Rambutnya yang basah digulung asal menggunakan handuk kecil. Sedang tubuhnya yang sintal, tampak anggun dalam balutan dress biru muda.


Freya sedikit menunduk. Ada desiran aneh dalam hati saat menatap Jordan yang begitu andal dalam memasak.


"Tunggulah di meja makan, pelmeni sudah aku sajikan di sana!" jawab Jordan tanpa menoleh. Ia sibuk dengan masakan yang masih berasap di atas kompor.


Freya langsung menuju meja makan, ia mengambil semangkok pelmeni yang lengkap dengan kuah pedasnya. Lantas ia kembali ke dapur, dan berdiri tepat di sebelah Jordan.


"Cobalah!" Freya menyodorkan satu suapan untuk Jordan.


Jordan menoleh sambil tersenyum miring, "jangan menggodaku, Freya."


"Aku hanya kasihan, kamu sudah membeli ini, sudah memasak. Masa aku habiskan sendiri," gumam Freya tanpa menarik tangannya.


"Baiklah." Jordan menerima suapan Freya. Mengunyah tanpa mengalihkan tatapannya.


"Ada apa?" tanya Freya.


"Makanlah, aku membeli itu untukmu," ucap Jordan.


Lantas Freya menarik kursi plastik di sudut ruangan, dan menjadikannya sebagai tumpuan. Ia menilik gerak-gerik Jordan, sambil menyuap satu persatu pelmeni.

__ADS_1


"Jordan, kapan kita pulang?" tanya Freya setelah hening beberapa saat.


"Kenapa, kau tidak betah di sini?" Jordan balik bertanya.


"Kita sudah lima hari, pekerjaan kita di kota pasti terbengkalai. Kasihan, kalau hanya Andrew dan Alex yang mengurus," ujar Freya.


"Mereka pasti bisa. Anggap saja ini kenang-kenangan untuk Andrew. Dua bulan lagi 'kan dia menikah, dia resmi mundur dari dunia mafia. Jadi tidak ada salahnya 'kan, kalau sekarang bekerja sedikit keras," terang Jordan.


"Jordan!" panggil Freya, setelah hening beberapa saat.


"Hmmm." Jordan menolah dan menatap Freya sekilas.


"Apa kau juga punya keinginan untuk mundur?" tanya Freya.


Jordan mematikan kompor sambil menghela napas panjang. Lantas ia menatap Freya lekat-lekat.


"Niatan itu pasti ada Fre, karena aku juga tahu, kalau yang aku lakukan ini salah. Tapi, aku harus berdamai dengan keadaan sebelum mengambil tindakan. Freya, aku harap suatu saat nanti ... aku bisa mundur bersamamu." Jordan berjongkok di depan Freya, kemudian menggenggam jemarinya yang masih memegang garpu.


"Jordan, aku___"


"Kau tahu apa yang membuatku berlama-lama di sini?" tanya Jordan.


"Apa?"


"Kamu. Aku ingin membuatmu terbiasa dengan kehadiranku. Aku ingin mengenalkan indahnya dunia, yang jauh dari kekejaman. Aku ingin secepatnya memenangkan hatimu, Freya," ungkap Jordan dengan panjang lebar.


Freya semakin salah tingkah, ia tak tahu harus menjawab apa. Jordan Vinales, mafia yang dikenal dingin dan kejam. Kini berjongkok sambil menyatakan cinta. Seistimewa itukah dirinya?


"Freya, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu," ucap Jordan karena Freya belum juga membuka suara.


"Apa?" bisik Freya.


"Kau ingin aku menunjukkan sekarang, atau kita makan lebih dulu?" tanya Jordan.


"Aku belum lapar, pelmeni ini cukup mengganjal perutku," jawab Freya.


"Baiklah, kalau begitu ayo ikut aku!" Jordan beranjak dan mengajak Freya berdiri. Tak lupa ia letakkan garpu dan mangkok di atas meja dapur.


Jordan menuntun tangan Freya, dan membimbingnya masuk ke kamar. Jordan membiarkan pintunya terbuka begitu saja. Lantas ia mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebuah kotak kecil berwarna cokelat muda, dengan hiasan bunga-bunga kecil di atasnya.


"Aku tidak menyuruhmu melepaskan cincin dari Calvin. Tapi aku berharap kau bersedia mengulurkan tanganmu, saat aku ingin menyematkan cincin ini." Jordan membuka kotak itu tepat di hadapan Freya. Cincin manis dengan permata yang berkilauan, sangat menawan.


"Jordan, kamu ... kamu serius?"


"Tentu saja." Jordan mengulas senyuman lebar.


"Aku___"

__ADS_1


"Katakan saja apa yang ada di dalam hatimu, Freya. Meskipun aku berharap kau menerima lamaranku, tapi jika kau belum bisa, aku juga tidak memaksa. Aku akan berjuang lebih keras, untuk meluluhkan hatimu," ujar Jordan.


Bersambung...


__ADS_2