
Guyuran hujan yang enggan reda sejak tengah malam, menghadirkan hawa dingin yang menusuk tulang. Di dekat jendela yang tirainya disingkap lebar, seorang wanita duduk di atas kursi roda.
Wajahnya menyiratkan luka yang teramat dalam, terbukti dari deraian air mata yang membasahi kedua pipi.
Sesekali wanita itu menatap keluar, memandang alam yang ikut melukiskan perasaannya. Kelam, suram, seperti itulah gambaran hidup yang tampak dalam netranya.
Di ambang pintu, di ruangan yang sama. Seorang lelaki sedang berdiri sambil mengepalkan tangan. Sorot matanya menyiratkan kepiluan, sungguh sakit hatinya melihat sang istri terpuruk dalam lara.
Mereka adalah Jordan dan Freya. Sejak keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu, Freya tak pernah tersenyum. Kesehariannya hanya murung dan menangis, ia jarang bicara dan kerap kali telat makan. Hal itu mempengaruhi kesehatannya, ia tak kunjung pulih seperti sedia kala.
Jordan melangkah mendekati istrinya. Ia berjongkok di hadapannya dan merapikan rambutnya. Lantas, Jordan menyeka air mata yang setiap waktu selalu ada.
"Sayang, jangan seperti ini, pikirkan kondisi kamu," ucap Jordan dengan pelan.
"Aku udah nggak punya rahim, aku nggak akan bisa melahirkan anak kamu. Aku nggak sempurna, aku nggak bisa jadi istri yang baik." Freya menunduk dan semakin terisak.
Jordan mendekap tubuh Freya dengan erat. Dia tahu betapa terpukulnya hati Freya. Istrinya itu sangat terpuruk dengan kenyataan yang menimpanya.
"Kamu istri yang terbaik, kamu adalah satu-satunya wanita yang paling aku cintai. Bagiku kamu sangat berharga dan istimewa, Sayang. Jangan lagi katakan kalimat itu, ya.
Dengarkan aku, kita sudah punya Kamila. Kamu menyayangi dia, 'kan? Dia anak kita, ada darah yang sama yang mengalir di tubuh dia. Dia bukan orang lain, Sayang. Bukankah itu sudah lebih dari cukup?" terang Jordan dengan kalimat panjang. Ia berusaha menenangkan Freya dan menghibur hatinya.
"Tapi beda, dia bukan buah cinta kita. Aku kecewa dengan diriku sendiri, aku nggak bisa ngasih hal yang paling berharga dalam pernikahan. Aku kecewa, Sayang, aku sangat kecewa," sahut Freya, tanpa menghentikan tangisnya.
"Sayang, setiap waktu yang kuhabiskan bersamamu itu berharga. Hadirmu, cintamu, dan semua tentangmu, itu sangat berharga. Percayalah, aku tulus mengatakan ini. Sayang, kamu yang sudah membawaku ke jalan yang benar, jadi sekarang jangan goyah. Jangan mengeluh dengan takdir yang telah digariskam untuk kita, Allah yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Sayang, kamu berhasil menenangkan aku, yang sempat merasa tak pantas karena statusku yang berbeda denganmu. Sekarang, jangan biarkan aku merasa bodoh karena tak berhasil menenangkanmu." Jordan berkata sambil menangkup pipi Freya.
"Jor ... dan," gumam Freya dengan pelan. Matanya menatap lekat ke arah Jordan. Perlahan bebannya luluh berkat ungkapan cinta yang Jordan ulurkan.
"Aku sangat mencintaimu, aku menerima apapun yang ada dalam dirimu. Entah itu kelebihan, entah itu kekurangan. Jadi tolong, Sayang, jangan terpuruk seperti ini, aku terluka melihatnya. Kita memang tak diberi kesempatan untuk memiliki buah cinta, tapi kita masih diberi kesempatan untuk bersama. Hari-hari kita tetap indah, penuh cinta, penuh warna, bukankah itu suatu kenikmatan yang wajib kita syukuri, Sayang?" Jordan mengusap-usap pipi Freya dengan jemarinya.
__ADS_1
"Kamu ... kamu benar tidak mempermasalahkan hal ini? Kamu yakin tetap bertahan meski aku tak bisa memberimu keturunan?" tanya Freya dengan harap-harap cemas.
"Sudah banyak waktu yang kita lewati bersama, masihkah pertanyaan itu membutuhkan jawaban?" Jordan balik bertanya.
"Aku ... aku takut kehilangan kamu, aku mencintaimu," jawab Freya.
"Aku juga mencintaimu dan ini cinta tulus yang tidak sekedar memandang fisik. Percayalah padaku, Sayang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu adalah cahaya hidupku, mana sanggup aku berpisah denganmu. Aku berjanji, akan menemanimu sampai batas umurku. Selain maut, tak akan ada hal lain yang membuatku pergi dari sisimu," kata Jordan.
Freya tak menjawab, namun ia langsung menghambur dalam pelukan Jordan. Ia menangis dan mencari kenyamanan dalam dekapan suaminya.
"Buang jauh-jauh rasa cemasmu, karena hal itu tidak akan pernah kulakukan. Aku hanya milikmu, dan kamu pun milikku. Kita saling memiliki, apapun yang terjadi," bisik Jordan sembari mencium puncak kepala Freya.
Belum sempat Freya menjawab ucapan Jordan, tiba-tiba Kamila datang dan berteriak memanggil Jordan.
"Papa! Papa!" panggil Kamila.
Jordan melepaskan pelukan Freya, "ada apa, Sayang?" Ia bertanya sambil menatap Kamila.
Sejak Freya keluar dari rumah sakit, Kamila tak berani mendekat. Ia tahu suasana hati Freya sedang buruk, dan ia takut jika kehadirannya malah membuat Freya semakin terluka.
Jordan mengulas senyuman lebar. Lantas ia mengusap pipi Freya sambil berbisik pelan.
"Dia sangat peduli padamu, kamu tidak ingin mengecewakan dia 'kan, Sayang?" bisik Jordan.
Freya tersenyum, lantas ia menoleh dan menatap Kamila. Ada rasa hangat yang mulai menyeruak dalam benaknya, kala menatap bocah kecil yang sedang berdiri sembari memandangnya.
"Sini, Sayang, Mama kangen," panggil Freya dengan air mata yang kembali berlinang.
"Mama, Mama manggil aku?" tanya Kamila, sedikit takut.
__ADS_1
"Iya." Freya mengangguk.
Kamila berlari menghampiri Freya dan menghambur dalam pelukannya. Freya semakin menangis, ia merasa bersalah telah menyakiti gadis itu.
"Maafkan Mama ya, Sayang. Beberapa hari ini Mama mengabaikan kamu. Ke depannya, Mama nggak akan mengulanginya lagi. Mama sangat sayang sama Mila," kata Freya. Ia dekap kepala Kamila dengan erat, kemudian ia usap-usap rambutnya dengan penuh kasih.
"Aku juga sayang sama Mama, jangan sedih lagi ya, Ma. Aku kangen canda sama Mama," sahut Kamila.
"Iya, Sayang. Maafin Mama, ya," jawab Kamila.
Detik berikutnya, Jordan beranjak dan memeluk kedua wanita yang amat ia sayangi. Ia bersyukur, diberi kesempatan hidup dalam naungan kasih dan cinta. Mengingat masa lalunya yang sangat buruk, tidak memiliki keturunan bukanlah hukuman yang setimpal. Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tak pantas rasanya mengeluh atas kenikmatan yang telah Dia berikan.
"Terima kasih, Ya Allah, atas waktu dan kesempatan yang telah Engkau berikan. Bimbing hamba dalam menempuh jalan-Mu, berilah petunjuk agar hamba tidak salah dalam menuntun keluarga. Takdir-Mu yang Maha Indah, hanya kepada-Mu hamba berserah. Terima kasih, Ya Allah," ucap Jordan dalam hatinya.
Di sisi lain, Freya memejamkan mata, menikmati kehangatan yang beberapa waktu lalu tak ia rasakan. Kendati ia sangat terluka atas kenyataan yang menimpanya, namun perlahan Freya mulai bersyukur. Tuhan mengirimkan lelaki sesempurna Jordan sebagai suami, Tuhan juga mengirimkan gadis sebaik Kamila dalam asuhannya. Kenikmatan yang teramat besar jika dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang pembunuh.
Di masa lalu, ia menyebabkan banyak luka dan kesedihan karena kejahatannya. Ia mempercepat kematian, tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang ditinggalkan. Tidak memiliki keturanan, hanyalah hukuman kecil. Kurang benar rasanya jika ia terlalu mengeluh.
"Ampuni hamba yang sempat menolak takdir-Mu, Ya Allah. Hamba lupa dengan masa lalu yang sangat jauh dari ajaran-Mu. Ya Allah, terima kasih Engkau masih mengijinkan hamba hidup di dunia. Terima kasih hamba masih Engkau beri kesempatan menikmati hangat kasih dan cinta. Peliharalah hati hamba agar tetap tegar di jalan-Mu, Ya Allah. Kepada-Mu hamba berserah diri, hamba percaya Engkau yang Maha Mengerti atas takdir yang terbaik untuk hidup ini," ucap Freya dalam hatinya.
Ia tersenyum lebar, bahagia rasanya memiliki keluarga seperti Jordan dan Kamila. Apalagi saat mengingat janji yang baru saja Jordan ucapkan, rasanya tak ada lagi beban yang mengganjal.
Dalam posisi yang masih berdekapan, mereka saling tersenyum dan menyiratkan binar-binar kebahagiaan. Dalam hati masing-masing, mereka berjanji, saling menjaga dan saling memiliki. Mereka akan menguntai asa untuk menyongsong masa depan.
Sepenggal kisah suram yang mereka lalui, akan menjadi tali untuk meraih mimpi. Kesalahan, mereka jadikan pelajaran untuk meraih harapan.
Disaksikan alam yang mulai benderang, mereka saling menghapus air mata dan mengulas tawa dalam ikatan cinta.
Luka dan kecewa, terbungkus rapi dalam tumpukan memori. Biarlah kepiluan menjadi kenangan. Cukup kasih dan cinta yang menemani langkah mereka. Hari ini, esok, dan selamanya.
__ADS_1
TAMAT