
Dengan langkah cepat Jordan menuju pintu utama. Dan saat ia hendak membukanya, tiba-tiba Freya sudah membukanya terlebih dahulu. Mereka berlima memang memiliki kunci sendiri-sendiri, jadi kapan saja bisa keluar masuk dengan mudah.
Jordan melihat Freya yang sedang memakai jubah hitam, rambut palsu, dan juga lensa mata. Kini ia tahu, jika Freya baru saja melakukan sesuatu. Jordan menatap tangan Freya, dan dugaannya memang benar, wanita itu sedang terluka, banyak darah yang merembas membasahi lengan jubahnya.
"Kau kenapa Fre, apa yang terjadi?" tanya Jordan sambil tetap menatap Freya.
"Hanya luka kecil, aku perlu menemui David." jawab Freya sambil melangkahkan kakinya mendekati anak tangga.
Jordan mengikutinya, ia berjalan di belakang Freya sampai ke lantai dua.
"Kau dari mana Fre?" tanya Jordan penasaran.
"Hanya jalan-jalan." jawab Freya dengan asal.
"Dengan pakaian seperti ini?" sindir Jordan.
"Sejak kapan kau peduli dengan penampilan?" tanya Freya menggoda Jordan.
Freya berjalan menuju ruang pengobatan, ia membuka pintunya, namun tidak menemukan keberadaan David disana.
"Dimana David?" tanya Freya sambil menoleh menatap Jordan.
"Tentu saja di kamarnya, memang kau pernah, melihatnya bangun pagi?" Jordan balik bertanya.
Freya hanya tersenyum nyengir, apa yang diucapkan Jordan memang benar, David tidak pernah bangun pagi, ia tak pernah melihat betapa indahnya matahari yang baru terbit.
"Ya sudahlah, aku tunggu di sini saja." ucap Freya sambil berjalan mendekati sofa, dan berbaring di sana, tubuhnya terasa sangat lelah.
"Aku akan membangunkannya." kata Jordan sambil melangkah menuju kamar David.
Freya memejamkan matanya, rasa panas dilukanya, mulai menjalar hingga ke bahu. Tubuhnya pun rasanya lemas, seperti tidak ada tenaga sama sekali. Ada apa dengan dirinya?
Dulu juga pernah terluka, tapi tidak seperti ini rasanya?
Apa karena terlalu banyak mengeluarkan darah, atau jangan-jangan ada yang tidak beres dengan pelurunya.
Saat Freya masih menerka beberapa kemungkinan yang terjadi, tiba-tiba David, dan Jordan sudah datang menghampirinya.
"Apa yang terjadi Fre?" tanya David sambil menyentuh lengan Freya.
Freya membuka matanya, dan tersenyum menatap David.
"Dav, sebelum mengobatiku, pergilah dulu kedekat jendela." ucap Freya.
"Untuk apa
?" tanya David keheranan.
"Melihat matahari terbit, kau belum pernah melihatnya kan, memangnya kau tidak penasaran?
__ADS_1
Kau tahu, sinar jingganya sangat indah, dan menawan, seindah hati yang sedang dilanda cinta." kata Freya sambil tersenyum lebar.
"Kau tidak lucu Fre." jawab David dengan kesal, ia menatap Freya sambil melotot. Bisa-bisanya dia bercanda, disaat tangannya sedang terluka.
"Cepat ikut ke ruanganku." sambung David sambil membantu Freya berdiri.
"Kau yakin tidak ingin melihat matahari terbit?" tanya Freya masih dengan senyumannya.
"Freya!" bentak David.
Freya tertawa dengan keras mendengar bentakan David. Jordan juga ikut tertawa, tidak salah dia memilih Freya, sebagai rekan dalam misinya. Wanita itu punya keberanian, dan kecerdasan yang tinggi. Dan dia juga bukan wanita yang lemah, yang akan menangis kesakitan saat sedang terluka.
Kemudian mereka bertiga masuk ke ruang pengobatan. Freya langsung berbaring di ranjang, dan David mulai menyiapkan perlatannya, sedangkan Jordan ia duduk di samping Freya.
"Lepaskan saja jubahmu Fre!" perintah David.
Freya tidak menjawab, namun ia menuruti perintah David, ia melepaskan jubahnya, dan kini hanya tersisa celana panjangnya, dan kaos pendek warna hitam.
David mendekatinya, dan mulai memeriksa lukanya.
"Apa kau merasa ada yang aneh dengan tubuhmu?" tanya David sambil membersihkan luka Freya.
"Hanya lemas, aku seperti kehilangan banyak tenaga." jawab Freya.
"Yang melukaimu bukan peluru biasa, ini peluru beracun." kata David.
"Jika pelurunya segera dikeluarkan, aku rasa dia akan baik-baik saja." jawab David.
"Tapi kau bilang pelurunya beracun, itu berbahaya Dav." ucap Jordan dengan serius.
"Aku sering meracik racun, dan membuat penemuan baru. Dan selain itu, aku juga menciptakan banyak penawarnya, aku tidak akan apa-apa Jordan." sahut Freya. Dalam hatinya, ia merasa sangat senang melihat Jordan khawatir padanya.
"Freya benar. Andai saja dia tidak punya penawarnya, mungkin nyawanya sudah terenggut dalam hitungan menit." kata David menjelaskan.
Memang selain pintar dalam meracik racun berbahaya, Freya juga sangat ahli dalam menciptakan penawarnya. Kecerdasannya memang tidak tanggung-tanggung.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan, darimana kau mendapatkan luka itu?" tanya Jordan sedikit kesal. Bisa-bisanya ia membahayakan dirinya sendiri, tanpa memberinya kabar sedikitpun.
"Jordan kau keluarlah dulu, aku akan mengoperasi lengannya." bukan Freya yang menjawab, melainkan David.
Jordan tidak punya pilihan lain, akhirnya ia melangkahkan kakinya keluar ruangan, dan meninggalkan Freya, dan David di dalam.
Jordan duduk di sofa sendirian, sesekali ia melirik pintu kamar Andrew. Belum ada tanda-tanda bahwa lelaki itu sudah bangun. Dan sesekali ia melirik pintu ruang pengobatan, baru beberapa detik yang lalu, ia meninggalkan tempat itu, tapi rasanya sudah sangat lama.
Ahh semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Freya.
Jordan beranjak dari duduknya, ia bermaksud mengambil minuman di kamarnya, namun baru saja ia melangkahkan kakinya, ia sudah dikejutkan oleh kehadiran seseorang.
"Jordan!" panggil Alex sambil terburu-buru mendekati Jordan.
__ADS_1
Jordan menatap Alex dengan heran, ada apa dengannya?
Sepertinya raut wajahnya sedang panik?
"Ada apa?" tanya Jordan saat Alex sudah berdiri di hadapannya.
"Aku punya kabar buruk." jawab Alex.
"Kabar buruk apa?" tanya Jordan terkejut.
"Mr.X sudah mengetahui rencana kita." jawab Alex dengan memalingkan wajahnya. Terlihat jelas, jika ia sangat membenci kabar ini.
"Apa?" teriak Jordan dengan kaget, kenapa sesulit itu mengalahkannya? Dari dulu selalu saja gagal, benar-benar tidak adil.
"Informanku mendapatkan kabar, bahwa Mr.X sudah menyuruh seseorang untuk menyamar sebagai Atana, dan dia membuat kekacauan di markasnya Larry." ucap Alex menjelaskan.
"Atana." gumam Jordan dengan pelan, nyaris tidak terdengar.
"Iya, sepertinya Mr.X sudah tahu tentang Freya, kita harus secepatnya merubah rencana Jordan." kata Alex dengan tegas.
"Tapi aku merasa ragu dengan kabar yang kau bawa Lex. Kau tahu, tadi Freya datang kesini, sebagai Atana, dan lengannya terluka." kata Jordan.
"Maksudmu?" tanya Alex masih tidak mengerti.
"Jangan-jangan yang membuat kekacauan di markasnya Larry, itu memang Freya." jawab Jordan.
Alex menatap Jordan dengan tajam, "lalu kenapa Larry bilang, jika itu orangnya Mr.X?" tanyanya.
"Entahlah, aku juga kurang mengerti. Kita tanyakan saja padanya nanti." ucap Jordan sambil kembali duduk di sofa.
"Jika memang benar Freya yang melakukannya, dia sangat berani, tindakannya ini terlalu beresiko." kata Alex sambil ikut duduk di sebelahnya Jordan.
"Apa kira-kira ini adalah cara yang dia maksud, untuk memancing Mr.X keluar." ucap Jordan.
"Mungkin saja." jawab Alex.
"Dia wanita yang licik. Apa kau juga berfikir seperti itu Lex?" tanya Jordan sambil menatap Alex.
"Licik adalah bagian dari kecerdasan." ucap Alex sambil tersenyum miring.
"Rupanya kau sependapat dengannya." sindir Jordan. Ia tahu kata-kata yang diucapkan Alex, adalah sebuah kalimat yang pernah Freya ucapkan.
"Sesama rekan memang harus sependapat. Bukankah seperti itu Jordan?" tanya Alex.
"Yahh mungkin kau memang benar." jawab Jordan dengan asal.
Dan Alex menanggapinya dengan kekehan.
Bersambung.......
__ADS_1