Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Aku Menerima Lamaranmu


__ADS_3

Freya menghela napas panjang, menata hati dan merangkai kata yang tepat untuk menjawab Jordan.


"Aku masih belum paham dengan perasaanku. Aku merasa nyaman dekat dengan kamu, aku juga sering malu setiap kali kau rayu. Namun entahlah, aku belum yakin ini cinta atau bukan. Jordan, kalau boleh jujur ... pertama kali bertemu denganmu aku memang mencintaimu. Tapi perasaan itu kutepis, karena kau sudah menutup hatimu. Jordan, aku menerima lamaranmu. Aku akan berusaha membuat cinta itu kembali bersemi," ungkap Freya dengan pandangan mata yang teduh.


Jordan terkesiap kala mendengar pengakuan Freya. Dulu ia menyangkal pendapat Alex yang mengatakan Freya menyukainya. Tapi ternyata, pendapat Alex memanglah benar.


"Terima kasih Freya." Jordan tersenyum lebar sembari meraih tangan Freya.


Lantas ia menyematkan cincin permata di jari manisnya.


"Kebahagiaanmu adalah prioritasku, Freya." Jordan mencium cincin yang melingkar cantik di jemari Freya.


Freya tak mengucap sepatah kata, namun bibirnya mengulas senyuman lebar. Ia tetap menatap Jordan, kendati pipinya mulai merona.


"Semoga hubungan kita bisa seperti Andrew dan Alice." Jordan memeluk tubuh Freya dengan erat. Mendekapnya dengan lembut, dan hangat. Dalam hati ia berharap, semoga dirinya mampu membuktikan kalimat itu.


"Bersabarlah Jordan, aku yakin suatu saat nanti perasaanku padamu akan tumbuh. Terima kasih sudah memilihku," bisik Freya.


"Aku akan selalu menunggumu, sampai kapanpun itu," jawab Jordan.


"Karena aku juga masih dalam tahap belajar. Maafkan aku yang telah membohongimu Freya, tapi aku benar-benar ingin membuatmu bahagia. Aku yakin suatu saat nanti, perasaan ini berubah menjadi cinta, bukan sekedar perasaan bersalah," batin Jordan.


***


Satu bulan sudah berlalu, sejak Jordan dan Freya pulang dari villa. Jordan mengajak Freya tinggal di markas. Semua barang yang ada di apartemen, kembali dipindahkan. Jordan tak mengijinkan wanita yang resmi menjadi kekasihnya itu tinggal sendirian diluar sana.


Hari ini adalah hari ulang tahun Jordan yang ke-31. Usianya tujuh tahun lebih tua dari Freya. Dalam hari yang istimewa ini, Freya akan memberikan hadiah yang sangat indah untuk Jordan.


Sang surya mulai menghilang di kaki langit barat, sinar jingga menyemburat indah mewarnai mega-mega yang berarak di sekitarnya. Freya menata meja dan kursi di taman belakang, di dekat kolam renang. Beberapa bawahan tampak memasang lampu hias berbagai warna.


Freya tersenyum menatap persiapan yang hampir rampung. Ia berharap ini menjadi awal yang indah dalam hidupnya. Mencari secercah kebahagiaan lewat perasaan, bukan ambisi.


"Lakukan sesuai dengan yang kuarahkan! Aku ada urusan lain," kata Freya pada beberapa bawahan yang membantu pekerjaannya.

__ADS_1


"Baik, Nona," jawab mereka serempak, dengan sedikit membungkuk.


Lantas Freya masuk ke rumah. Ia menuju ke kamarnya, dan langsung masuk ke kamar mandi.


"Sebentar lagi Jordan dan yang lainnya akan pulang. Aku harus bersiap dari sekarang," gumam Freya.


Jordan dan Alex merancang siasat untuk menyelundupkan senjata ilegal di negara tetangga. Sebuah negara yang selama ini belum pernah terjamah. Sedangkan Andrew, dia sibuk mengembangkan perusahan Diamond. Setelah memutuskan untuk mundur dari dunia mafia, Andrew akan menekuni dunia bisnis.


Cukup lama Freya merendam dirinya dalam air hangat. Sampai senja sudah padam, ia baru keluar dari kamar mandi.


Freya membuka pintu almari miliknya, dan meraih satu gaun yang baru dibeli kemarin.


Gaun panjang tanpa lengan berwarna merah maroon, dengan hiasan manik-manik di bagian pinggang. Belahannya mencapai lutut, sehingga kaki jenjangnya terlihat jelas setiap kali melangkah. Gaun yang simple, namun sangat elegan. Terlebih lagi jika dipadukan dengan high hells.


Setelah membalut tubuhnya dengan gaun, Freya duduk di depan meja rias. Ia mulai bertempur dengan alat-alat make up yang tersedia di sana.


Freya mengoleskan fondation dan bedak padat, sedikit lebih tebal daripada biasanya. Begitu halnya dengan lipstik, eye shadow, blush on, dan juga eye liner. Untuk alis, dia sengaja tidak menyentuhnya dengan make up. Karena bentuknya sudah mendekati sempurna.


Setelah selesai menata tampilan di wajah, Freya mulai menata rambutnya. Rambut hitam nan panjang, ia sanggul dengan rapi. Sedikit di bagian depan, ia biarkan menjuntai begitu saja. Meliuk-liuk anggun setiap kali ia menggerakkan kepala.


Sentuhan terakhir adalah parfum. Freya meraih botol kaca di hadapannya, dan menyemprotkan di seluruh tubuh. Freya tersenyum lebih lebar, kali ini penampilannya benar-benar mencapai batas maksimal.


"Tidak terlalu jelek untuk bersanding denganmu Jordan." Freya menyentuh bayangan dirinya yang ada di dalam cermin. Seorang wanita yang parasnya bak bidadari sedang ternyum manis di sana.


Kemudian Freya melangkah keluar dari kamarnya, ia berjalan menuruni tangga dengan pipi yang merona. Samar-samar telinganya menangkap suara Jordan yang sudah memasuki ruang tamu.


"Aku tepat waktu," gumam Freya dengan mata yang berbinar.


Ketukan high hells yang dikenakan Freya, terdengar menggema di ruang tengah. Jordan mengernyit heran. Dalam hati ia bertanya-tanya, mau ke mana kekasihnya. Karena tidak biasanya dia menggunakan high hells di rumah.


Detik selanjutnya, mata Jordan terpaku pada sosok wanita yang menjelma di depan mata. Senyum manis, dan semerbak wangi yang menguar dari tubuhnya, membuat Jordan enggan mengedipkan mata.


"Freya, kau, kau___"

__ADS_1


"Apa aku terlihat cantik?" pungkas Freya dengan manja.


Lantas ia melangkah mendekati Jordan, dan mengalungkan kedua tangannya di leher sang kekasih.


"Selamat ulang tahun Jordan, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu," ucap Freya tepat di depan Jordan.


"Terima kasih Baby. Tetaplah di sampingku, dan aku akan selalu bahagia," jawab Jordan tanpa mengalihkan pandangannya. Jujur ia sangat terpesona dengan penampilan Freya.


"Aku akan melakukan itu," ujar Freya.


"Benarkah, mmm apa ini maksudnya___"


"Nanti kau akan tahu apa maksudku." Freya menempelkan jari telunjuknya di bibir Jordan.


"Rupanya hanya aku yang akan tertinggal dalam kesendirian. Bulan depan Andrew sudah melepaskan masa lajang, dan dua rekan yang lain, mungkin juga tidak lama lagi," sindir Alex yang saat itu berdiri di belakang Jordan.


"Sayang aku tidak punya teman wanita Lex," sahut Freya dengan tawa yang renyah. Ia sudah melepaskan tangannya dari leher Jordan.


"Bukannya sekertarismu lumayan cantik, Lex." Jordan ikut menggoda.


"Aku nyari yang bos, bukan sekertaris," jawab Alex dengan santainya.


"Kebanyakan milih keburu tua, Lex," ujar Jordan.


"Jangan sombong, baru juga laku!" sahut Alex.


Sebuah jawaban yang memancing tawa Jordan dan Freya, yang kemudian Alex pula ikut tertawa.


"Aku bahagia kalian bisa bersama. Jordan, jaga dia baik-baik! Dia sudah mencairkan hatimu yang beku, jangan sia-siakan itu." Alex menepuk bahu Jordan dengan pelan.


Jordan bergeming, tak ada kata ataupun senyuman yang keluar dari mulutnya. Ia menerawang jauh, memahami setiap hal di dasar hati. Lantas ia menghela napas panjang, setelah sadar jika jawabannya masih sama.


"Dia tidak mencairkan hatiku Lex, tapi meruntuhkan egoku. Aku belum bisa melupakan Lyana, tapi aku ingin menebus kesalahanku. Aku akan membahagikan dia, meskipun tanpa rasa," batin Jordan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2