
"Calvin, kau baik-baik saja?" tanya Freya sambil memegang bahu Calvin.
"Aku tidak apa-apa, baiklah sekarang aku akan bercerita!" jawab Calvin sambil tersenyum.
Lalu Calvin meraih tangan Freya, dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku pernah jatuh cinta sekali, aku sempat berpacaran dengannya, tapi akhirnya kandas disaat hubungan itu baru berjalan beberapa bulan." Kata Calvin memulai ceritanya.
"Kenapa kandas?" tanya Freya dengan pelan.
"Jadi hanya Shally, satu-satunya wanita yang pernah kau cintai," batin Freya sambil menilik wajah Calvin.
"Dia memilih lelaki lain. Dia meninggalkan aku, disaat aku masih sangat mencintainya. Aku tahu, lelaki itu sangat tampan, kaya raya, dan juga punya kekuasaan, dia berada jauh di atasku. Dan wanitaku, dia lebih memilih dia, tanpa memertimbangkan perasaanku yang jauh lebih besar darinya." Jawab Calvin dengan nada yang tertahan.
"Lalu sekarang di mana dia, dan bagaimana perasaanmu padanya?" tanya Freya.
"Dia sudah pergi jauh, sangat jauh. Di awal kepergiannya, aku sangat hancur, aku sempat terpuruk. Tapi setelah itu, aku sadar jika inilah yang terbaik, inilah takdir. Lambat laun aku mulai melupakan dia, aku menghapus semua perasaanku untuknya," jawab Calvin sambil tersenyum hambar, seraya menggenggam jemari Freya dengan lebih erat.
"Benarkah kamu sudah menghapus perasaanmu?" tanya Freya.
"Iya."
"Jika suatu saat nanti dia kembali, dan ingin mengulang hubungannya denganmu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Freya.
"Itu tidak mungkin Freya." Jawab Calvin dengan tegas.
"Kenapa? Apakah dia sudah menikah?" lagi-lagi Freya melontarkan pertanyaannya.
"Belum, tapi dia tidak mungkin kembali. Dia sudah tiada, dia pergi karena panggilan Ilahi," jawab Calvin sambil menoleh, dan menatap Freya.
__ADS_1
"Dia sudah tiada," gumam Freya dengan pelan.
"Jadi Shally sudah mati, kenapa dia meninggal di usia muda, dan kenapa informasi tentangnya ditutup total. Siapa sebenarnya dia?" batin Freya dalam hatinya.
"Iya, dia sudah tiada, sebelum sempat menikah dengan lelaki pilihannya." Jawab Calvin dengan pandangan datar, seolah menerawang jauh ke masa lalu.
"Kenapa dia meninggal begitu cepat, apakah dia sakit, atau kecelakaan?" tanya Freya benar-benar ingin tahu.
"Dia dibunuh," jawab Calvin sambil menunduk, terlihat jelas jika ia menyimpan kesedihan yang teramat dalam.
"Apa! Siapa yang melakukan itu?" tanya Freya dengan bola mata yang membulat lebar. Ia tak menyangka jika akhir hidup Shally setragis itu.
"Mungkin yang membunuh dia bukan orang sembarangan, itu sebabnya tak ada lagi informasi tentangnya." Batin Freya dalam hatinya.
"Seseorang yang tidak mengharapkan kehadirannya," jawab Calvin sambil menatap Freya.
"Freya, dulu aku memang mencintainya dalam waktu yang cukup lama. Akhir kisahku bersamanya, membuat hatiku mati, tidak ada lagi cinta dalam diri ini. Semuanya padam, hatiku menjadi beku dan kelam. Namun sejak aku bertemu denganmu, aku merasakan cahaya itu perlahan mulai berpendar. Cinta yang sempat padam, kembali bersemi sejak aku mengenalmu. Perasaan ini tulus untukmu Freya," sambung Calvin sebelum Freya membuka suara.
"Kenapa kamu bisa mencintaiku, padahal kamu belum tahu sifat dan kepribadianku. Aku tidak sebaik yang kamu kira Calvin," ucap Freya dengan pelan, dan sambil menunduk.
Dicintai lelaki sebaik Calvin, Freya merasa malu. Dia hanya seorang pembunuh, rasanya tidak pantas dicintai lelaki seperti Calvin.
"Cinta itu datang dengan sendirinya Freya, kita tidak bisa memilih kemana hati kita akan berlabuh. Tapi, siapa pun dirimu, aku mencintaimu, aku tidak menyesal dengan perasaan ini." Kata Calvin, seraya mengusap pipi Freya dengan lembut.
"Freya, tatap aku!" ucap Calvin dengan lembut.
Freya mendongak, menatap Calvin yang juga menatapnya.
"Aku akan jujur tentang diriku, karena sebenarnya aku juga tidak sebaik yang kamu kira. Tapi berjanjilah Freya, setelah aku bercerita, jawablah pertanyaanku. Aku tidak mau menunggu lagi," kata Calvin dengan serius.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu yang kemarin. Aku tidak akan membuatmu menunggu lebih lama." Jawab Freya.
Calvin melepaskan sentuhannya, kini ia menatap lurus ke depan.
"Aku punya kelainan, yang mungkin jarang diterima oleh orang lain. Kamu adalah orang pertama yang kuberitahu tentang ini, Freya." Kata Calvin dengan pelan.
"Shally, wanita yang pernah kucintai, wanita yang pernah menjadi kekasihku. Dia meninggal karena aku. Aku sangat mencintainya, aku tidak rela melihatnya menikah dengan orang lain. Itu sebabnya aku membunuhnya, aku sangat benci dikhianati. Jika aku tidak bisa memilikinya, orang lain juga tidak boleh. Aku membunuhnya, karena menurutku inilah yang paling adil bagi kami semua." Kata Calvin menjelaskan dengan panjang lebar.
Sebuah penjelasan yang membuat Freya tercengang. Ia tak menyangka, lelaki yang bersikap lembut seperti Calvin, ternyata mampu membunuh wanita yang dicintainya, karena pengkhianatan. Apakah ini bisa disebut cinta? Atau mungkin ini adalah obsesi?
"Sekarang kau sudah tahu semua tentangku Freya, sifat burukku, dan juga masa laluku. Aku menanti jawabanmu, aku tidak memaksamu untuk menerimaku, aku terima dengan lapang dada, andai saja kamu menolaknya." Ucap Calvin sebelum Freya melontarkan sepatah kata.
"Jika kamu menolak, jangan pernah menemuiku lagi. Karena itu akan membuatku kesulitan untuk menghapus perasaanku. Jika kamu menerima, berjanjilah untuk tidak pernah selingkuh. Aku menerima apapun kekuranganmu, dan apapun masa lalumu. Tapi jangan pernah berkhianat, karena bisa saja aku melakukan hal yang sama seperti pada Shally. Aku menunggu jawabanmu Freya!" sambung Calvin sambil menoleh, dan menatap Freya lekat-lekat.
Bersambung....
Hai kakak-kakak semua, terima kasih ya masih mendukung karya recehku sampai saat ini. Dukungan kalian adalah semangat bagiku, aku harap semoga kalian betah menemani Cinta Ini Membunuhku hingga episode akhir.
Besok kita sudah memasuki bulan Ramadhan (bagi yang beragama islam). Untuk itu, mari kita saling memaafkan, sebelum menyongsong bulan suci yang penuh berkah.
Maafkan aku ya kakak-kakak semua, atas semua salah dan khilaf, baik yang kusadari maupun yang tidak kusadari.
Marhabban ya Ramadhan, semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan untuk kita semua. Semoga Allah masih mengijinkan kita untuk bertemu dengan hari kemenangan.
Selain kata terima kasih dan kata maaf, aku juga ingin menulis sedikit pemberitahuan. Mulai hari ini sampai lebaran, di dunia nyata banyak sekali kesibukan. Jadi maaf ya, seandainya terlambat up atau terlambat membalas komentar. Aku harap kakak-kakak semua maklum, dan masih betah dengan cerita ini.
Selepas lebaran, aku usahakan up dan balas komentar seperti biasanya.
Sekali lagi terima kasih, dan mohon maaf lahir dan batin.
__ADS_1
Salam manis dari penulis
Gresya Salsabila