Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Fakta Tak Terduga


__ADS_3

Sang mentari mulai merangkak naik, sinarnya yang keemasan mewarnai jagat raya dengan indahnya.


Di bawah kirana surya yang mendekap alam, Jordan menghentikan mobilnya di teras rumah. Ia dan Freya baru saja pulang dari rumah sakit. Keadaan Kamila semakin membaik, dan pagi ini Reman yang menjaganya.


Freya melepas sabuk pengaman sembari menatap bangunan kokoh yang berdiri di hadapannya. Hari ini, dia kembali ke rumah Jordan, namun bukan sebagai tawanan seperti biasanya.


"Sedikit harapanku sudah terwujud, Jordan. Kau mau menghadap Tuhan dan kembali ke jalan yang benar. Semoga ini menjadi awal yang baik, semoga harapanku yang lain juga bisa menjadi kenyataan," batin Freya.


"Freya!" Jordan menggenggam lengan Freya, ketika wanita itu hendak turun dari ke mobil.


"Kenapa?" jawab Freya.


"Kau ... kau yakin kembali ke rumah ini?" tanya Jordan.


"Tentu saja," ucap Freya tanpa ragu.


"Kau tidak takut aku kembali mengurungmu?"


"Tidak, karena aku pasti bisa keluar," jawab Freya dengan tawa renyah.


Jordan terdiam, tidak ada senyuman di bibirnya, namun genggamannya di lengan Freya semakin erat.


"Kau kenapa?" tanya Freya.


"Kau bisa keluar dengan mudah, tapi kenapa kau selalu kembali ke sini. Apa yang membuatmu tetap tinggal di rumah ini, Freya?" tanya Jordan dengan tatapan intens.


"Aku ingin membawamu dalam kebaikan, Jordan. Aku peduli denganmu, karena bagiku kau berharga. Kemarin kau sudah menanyakan hal ini, 'kan?" jawab Freya.


"Tidak ada yang lain?" tanya Jordan.


"Yang lain?"


"Iya. Mungkin saja ... karena aku sudah menyentuhmu. Maafkan aku Freya, aku sudah merampas kehormatanmu, aku sudah menodaimu," ujar Jordan dengan serius.


Dalam hati, Freya tersenyum geli. Lelaki sekelas Jordan benar-benar percaya dengan trik liciknya, sepandai itukah dia?


"Lupakan saja masalah itu, aku tidak merasa dirugikan," sahut Freya.


"Tapi Freya, kau menjaganya sekian lama, dan aku mengambilnya dengan paksa. Calvin saja tidak kau percaya untuk mendapatkannya, padahal aku yakin saat itu kau sangat mencintainya," ucap Jordan dengan penuh sesal.


"Jordan, percayalah! Aku tidak apa-apa. Tidak ada satu hal pun yang kau ambil paksa dariku." Freya berkata sembari mengusap tangan Jordan, meyakinkan lelaki itu jika dirinya memang baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa maksudmu, apakah kau___"


"Apapun maksudku, yang jelas aku tidak merasa dirugikan. Sekarang ayo masuk, nanti sore aku akan kembali ke rumah sakit." Freya melepaskan tangan Jordan dan melangkah turun. Ia melenggang pergi, meninggalkan Jordan yang masih terpaku.


"Freya, tunggu Freya!" teriak Jordan. Namun suaranya hanya dianggap angin lalu oleh Freya.


Tak ada pilihan lain, Jordan membuka pintu mobil dan ikut turun. Ia melangkah menyusul Freya yang sudah memasuki pintu utama. Dengan terpaksa ia redam semua rasa penasaran yang belum berujung.


"Freya!" panggil Jordan ketika melintas di ruang tengah. Saat itu Freya sedang meneguk sebotol air mineral di sana.


"Aku masih haus," jawab Freya.


"Freya, sebenarnya apa yang___"


"Jordan, berhentilah membahas hal itu. Jika sudah tiba waktunya, kau pasti akan tahu," pungkas Freya dengan cepat.


"Tapi Fre," sahut Jordan.


"Segera buat sketsa wajah ibumu. Semakin cepat kita mulai mencari, semakin besar peluang untuk bersua." Freya membuang botol kosong ke tempat sampah, lantas ia menoleh dan menatap Jordan.


"Ayo," ajak Freya dengan tegas.


Jordan menghela napas panjang, " baiklah!"


"Tunggu sebentar, aku akan mengambil kertas dan pensil," ucap Jordan, yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Freya.


Jordan masuk ke kamarnya, dan tak berapa lama ia keluar sambil membawa sebatang pensil dan selembar kertas. Lalu ia mengajak Freya ke ruangan terbuka yang tak jauh dari kamarnya.


"Tempat yang indah," gumam Freya dengan senyum lebar.


Ekor matanya menatap kemilau pasir putih yang berpadu dengan birunya air laut. Letak rumah Jordan tidak terlalu jauh dari area pantai, dan ruangan terbuka itu tepat menghadap ke arah sana.


"Apa kau belum pernah melihatnya?" Jordan bertanya sambil mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Belum." Freya menggeleng.


"Kau sering keluar dari kamarmu," kata Jordan.


"Aku keluar hanya untuk menjenguk Kamila dan mengurus pekerjaan, bukan mengamati rumahmu, Jordan," sahut Freya tanpa mengalihkan pandangan.


Jordan tertawa keras saat mendengar jawaban Freya.

__ADS_1


"Selesaikan sketsamu, dan aku akan berbincang dengan Yana." Freya mengeluarkan ponsel dari saku celana.


"Fre!" Jordan menilik gerak-gerik Freya. "Kau masih punya ponsel yang lain?" sambungnya.


"Menurutmu?" Freya menoleh sambil menaikkan kedua alisnya.


"Aku benar-benar dipermainkan olehnya. Ini pertama kalinya aku dikalahkan seorang perempuan," gerutu Jordan dalam hati.


"Apa kau bisa menggunakannya di dalam kamar?" tanya Jordan penasaran.


"Tentu saja. Aku sudah lama menjadi rekanmu, aku hapal betul bagaimana cara kerjamu," jawab Freya dengan santai.


"Apa jangan-jangan malam itu ... kau melakukan sesuatu padaku. Aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun, apa itu karena ulahmu?" tuduh Jordan.


"Menurutmu?"


"Kau benar-benar licik, Freya!" geram Jordan.


"Ralat ucapanmu, Jordan. Aku cerdik, bukan licik," kata Freya dengan tawa renyah.


"Terserah!" kata Jordan. Kendati ia memasang wajah kesal, namun dalam hati ia memuji. Wanita itu benar-benar hebat dalam mengelabuhi lawan.


Detik berikutnya, mereka larut dalam pekerjaan masing-masing. Freya sibuk membahas bisnis dengan Yana via telepon, sedangkan Jordan, ia sibuk menggoreskan pensil dan melukis wajah sang ibu di atas kertas putih.


Sekitar setengah jam kemudian, Freya mengakhiri sambungan teleponnya. Ia menghampiri Jordan dan melihat hasil lukisannya.


"Seingatku seperti ini, rambutnya panjang dan sedikit bergelombang, lantas ada tahi lalat di atas bibir dan juga di pelipis kiri," terang Jordan.


Freya tak mengindahkan ucapan Jordan, sedari tadi matanya terpaku pada sketsa wajah yang terpampang di atas meja. Tanpa memberikan jawaban, Freya langsung meraih lembaran itu.


Tangan Freya gemetaran, kala lukisan itu sudah berada dalam genggaman. Wajah dalam gambar itu mengingatkannya pada sosok wanita yang tak asing dalam hidupnya.


"Fre, ada apa Fre!" Jordan beranjak dari duduknya, ketika melihat Freya terpaku pada hasil lukisannya.


Freya masih tetap bergeming, suara Jordan dianggap deru angin yang tak membutuhkan jawaban. Pikiran Freya terbelenggu pada satu kenyataan yang tak pernah ia duga. Sesempit itukah dunia?


"Freya, ada apa Fre! Jawab aku Fre!" Jordan berteriak sembari mengguncang bahu Freya.


"Benarkah ini ibumu?" tanya Freya dengan terbata.


"Iya, seingatku wajahnya memang seperti ini. Fre, apa kau ... mengenalnya?" tanya Jordan.

__ADS_1


"Tidak, ini tidak mungkin!" Freya menggeleng berkali-kali, fakta ini terlalu sulit untuk ia pahami.


Bersambung...


__ADS_2