Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Kebohongan Yang Fatal


__ADS_3

Semburat sinar surya menerobos di antara dahan dan dedaunan. Semilir angin berembus sepoi-sepoi menyejukkan. Langit biru nan indah berhias mega putih yang berarak. Lukisan pagi yang berseri, alam bernyanyi bak harmoni dalam melodi.


Alunan hari yang bertolak belakang dengan suasana hati. Kendati alam menunjukkan keanggunan, namun Freya tak sedikitpun mengukir senyuman. Ia terduduk lesu di depan gundukan tanah yang masih basah. Bulir-bulir air mata, terus berjatuhan membasahi pangkuan.


Freya terisak sambil tangannya mencengkeram ujung baju yang dikenakan. Seseorang yang amat dicintai, kini pergi dan tak mungkin kembali. Dia telah damai dalam pembaringan terakhir. Freya terus memohon, berharap semua ini sekadar bagian dari mimpi buruk.


"Kenapa harus seperti ini, akhir kisah kita Vin?" bisik Freya sembari menjatuhkan tubuhnya di atas gundukan tanah, di lahan belakang markas.


"Kenapa takdir harus sekejam ini," bisik Freya disela-sela isakan.


Tak lama kemudian, tangan hangat menggenggam bahunya dengan erat.


"Fre, ayo kita masuk! Sudah cukup lama kamu menangis di sini," ajak Jordan seraya menghapus air mata Freya. "Aku ikut sedih melihatmu seperti ini," sambungnya.


Jika saja Jordan mengucapkan kalimat itu di awal bertemu, Freya pasti bahagia. Tapi tidak untuk sekarang, rasa cinta pada Jordan telah terkikis habis seiring kehadiran Calvin. Uluran cinta lelaki itu laksana lentera dalam hidup Freya.


Freya menatap Jordan dengan mata yang masih berkaca-kaca, "kenapa aku selalu kehilangan?"


Jordan menghela napas panjang, mendengar ratapan Freya, ada rasa nyeri di ulu hati. Ah andai saja dirinya mampu memutar waktu, ia akan kembali ke masa lalu. Dia akan menolong Freya, tanpa menyeretnya dalam dunia mafia.


Setegar apapun dia, Freya tetaplah seorang wanita. Hatinya selembut sutera, sekali saja perasaan itu tergores, butuh waktu yang lama untuk memulihkan.


"Karena Tuhan tahu kau wanita yang kuat, percayalah Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih indah," ucap Jordan dengan pelan.


Freya terkesiap, untuk pertama kalinya ia mendengar kata 'Tuhan' dari mulut Jordan. Selama ini, lelaki itu hidup bagaikan insan yang tak berkeyakinan. Hanya mengandalkan diri sendiri dalam melewati kerasnya dunia.


"Ayo masuk!" ajak Jordan untuk yang kedua kalinya.


Freya tak menjawab, namun ia beranjak dari duduknya. Sebelum melangkah, ia menatap gundukan tanah itu dengan sendu.

__ADS_1


"Hadirmu yang begitu singkat, menorehkan luka yang teramat berat. Calvin, seperti apapun masa depanku nanti. Nama kamu, cinta kamu, dan kenangan bersamamu, tetap terpatri erat dalam ingatanku. Maafkan aku, Calvin," batin Freya.


Lantas ia melangkah pergi, meninggalkan tempat terakhir Calvin. Jordan, mengikutinya di belakang.


Freya terus berjalan menuju kamarnya, ia duduk di sofa sambil mengikat rambut panjang yang berantakan. Jordan masih tetap mengikutinya.


"Kenapa kamu ikut ke sini?" tanya Freya ketika Jordan hendak duduk di sebelahnya.


"Aku tahu suasana hatimu sedang tidak baik. Walaupun aku tidak tahu bagaimana cara membuatmu tertawa, tapi setidaknya kamu tak menitikkan air mata," jawab Jordan sambil tersenyum. Manik biru nan jernih, menatap Freya dengan lembut.


"Apa kau tidak ada pekerjaan?" tanya Freya.


"Rekan lebih penting, daripada pekerjaan. Freya, jujur aku ikut sakit melihatmu menangis. Aku yang telah membawamu ke sini, mengajakmu bergelut dengan kehidupan yang abnormal. Secara tidak langsung, aku telah mengantarmu dalam luka. Katakan apa yang bisa kulakukan, agar rasa sedihmu berkurang," ucap Jordan dengan panjang lebar.


Freya menghela napas panjang, dan mengembuskan dengan pelan, "aku akan mengatakan, jika kau berjanji mau melakukan. Jika tidak, percuma saja 'kan aku bicara," ujarnya.


"Jangan membenci Mr.X! Bukan karena dia adalah Calvin, tapi karena alasan lain. Jordan, ada satu hal yang kau lewatkan dari masa lalu," ucap Freya sambil menatap Jordan.


Jordan mengernyit heran, "apa maksudmu?"


"Shally Ana Kyle, itu 'kan nama panjangnya Lyana?" tanya Freya.


"Iya."


"Calvin memanggilnya Shally, dia adalah wanita yang sangat dicintainya. Mereka sempat menjalin hubungan, namun kandas karena Shally lebih memilihmu," ungkap Freya tanpa mengalihkan pandangan.


"Apa!" Jordan tersentak. Selama ini dia tak pernah tahu masa lalu Lyana. Dia percaya saat wanita itu mengatakan, dia lah lelaki pertamanya.


"Awalnya aku mengorek masa lalunya untuk diriku sendiri, tapi sekarang aku paham, masa lalu itu berhubungan dengan dirimu. Dia amat mencintai Shally, tapi kala itu dia hanyalah pembisnis biasa. Masa depannya tidak secerah dirimu, Jordan. Setelah Shally pergi, dia terpuruk. Dia cemburu dan sangat membencimu, dia ingin menghancurkan kamu." Freya menjelaskan kebenaran.

__ADS_1


"Ambisi dan rasa benci, membuatnya terjatuh dalam dunia mafia. Dia lebih rela melihat Shally terbujur kaku, daripada setiap saat menahan cemburu. Ibarat peribahasa, sekali tepuk dua lalat mati. Itulah yang dia lakukan. Dia membunuh Shally untuk meredam rasa cemburu, juga untuk menghancurkanmu. Namun pengaruh Shally begitu besar. Karena cinta dan luka yang ia tinggalkan, hati Calvin mati, tak ada lagi cinta dalam dirinya. Ia hidup dalam belenggu dendam dan ambisi." Sambung Freya.


"Jadi seperti itu, kenapa aku tidak pernah menyadari hal ini," gumam Jordan dengan pelan.


"Calvin menutup masa lalu Shally, agar kau tetap mencintainya. Dengan begitu, saat dia tiada, kau akan sangat terpuruk," ucap Freya.


Jordan terdiam, ia larut dalam pikirannya sendiri. Meskipun ia tahu, bahwa Lyana pernah menutupi hal besar dengan sebuah kebohongan. Namun kenyataan, hatinya masih berlabuh pada wanita itu. Rasa cinta untuknya, tetap utuh seperti sedia kala.


Hingga beberapa detik kemudian, suara Freya membuyarkan lamunan.


"Lambat laun, Calvin menemukan kembali pelita. Cinta yang sempat mati perlahan bersemi, karena kehadiranku. Aku dan dia berjanji akan hidup bersama, menjalin hubungan dalam sebuah ikatan. Tapi ternyata, takdir mempermainkan kami. Aku bukan hanya membunuh hatinya, tapi aku benar-benar merampas nyawanya." Kata Freya dengan gemetaran. Air mata kembali menitik membasahi pipi.


"Freya, tenanglah! Bersabarlah! Aku tahu kau bisa melewati semua ini, aku akan selalu menemanimu Freya," ucap Jordan sembari menarik tubuh Freya dan membawanya dalam pelukan. Meminjamkan dada sebagai sandaran.


"Dia datang ke tempat itu, setelah aku mengancam akan mencelakai wanitanya. Dia mengabaikan keselamatan sendiri demi aku, tapi dengan bodohnya aku malah membuatnya mati," ujar Freya disela-sela isakannya.


Jordan tak mampu mengucapkan sepatah kata, ia hanya mengusap puncak kepalanya, dan mendekapnya lebih erat. Freya semakin menangis, kehilangan membuat hatinya remuk dan sakit. Entah kapan ia bisa terlepas dari rasa sesal yang tak berujung.


***


Manik biru milik seorang lelaki bertubuh tegap, menatap nanar pada sebingkai poto wanita yang sedang tersenyum.


Lelaki yang tak lain adalah Jordan, dia memandangi wajah kekasih yang terlukis dalam selembar kertas. Kebenaran membuatnya sangat kecewa, namun entah kenapa rasa cinta masih tetap berkuasa.


"Jujur aku sangat kecewa Lyana, kebohongan yang kau lakukan menimbulkan kesalah pahaman yang fatal. Kau tahu, seorang wanita terpuruk dalam pilu, akibat dustamu," ucap Jordan dengan tegas, seolah poto itu adalah wujud yang nyata.


"Sekarang jangan salahkan aku, jika aku ingkar janji. Aku tidak akan menjadikan kamu satu-satunya, karena setelah ini aku akan menjaga wanita itu. Menyembuhkan lukanya, dan membuatnya bahagia. Tapi, yahh kau yang menang. Rasa kecewa ini tak mampu meruntuhkan rasa cinta yang sedari dulu bertahta!" kata Jordan sembari beranjak dari duduknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2