
Jordan menggenggam jemari Freya yang masih menempel di wajahnya. Ia tatap manik hitam Freya dengan lekat. Banyak hal yang ingin sekali ia katakan, namun perasaannya terlalu kacau, hingga membuatnya diam tanpa suara.
"Apalagi yang kamu pikirkan? Tersenyumlah!" kata Freya dengan diiringi senyum menawan.
Jordan masih tak menjawab, dia hanya menanggapinya dengan genggaman yang kian mengerat. Freya mengerti bagaimana perasaan Jordan, lantas ia memeluk lelaki itu dan mendekap tubuhnya dengan erat.
"Kau tidak mempermasalahkan masa laluku?" bisik Jordan.
"Bagiku, itu sama sekali tidak penting," jawab Freya.
"Kau tidak keberatan, hidup berdampingan dengan anak haram?" tanya Jordan.
"Tidak. Aku hanya keberatan jika pasanganku terus meratapi masa lalunya," jawab Freya, yang lantas membuat Jordan tersenyum.
"Baiklah, cukup sekali ini aku meneteskan air mata karena masa lalu. Freya, bagaimana kalau besok saja kita menikah?"
"Kamu gila, Jordan!" teriak Freya. Ia kaget dan refleks melepaskan pelukannya. Ia menatap Jordan dengan tajam, namun yang dipandang hanya menanggapinya dengan senyum miring.
"Kita saling cinta, dan katanya kamu mau menerima masa laluku. Jadi ... apalagi yang perlu dipermasalahkan?" Jordan menaikkan kedua alisnya, seolah pernikahan hanyalah sebuah hal yang sederhana.
"Tentang kita memang tidak ada masalah, tapi persiapannya tidak cukup dengan satu malam saja, Jordan. Apa kamu semiskin itu, sampai tidak sanggup memberikan pesta besar untukku?" sahut Freya dengan cepat.
Freya menilik wajah Jordan yang jauh dari kata gelisah. Ia menghela napas panjang dan menggerutu dalam hati. Melihat Jordan saat ini, seakan ia tak percaya jika beberapa detik lalu Jordan menitikkan air mata.
"Uangku cukup banyak, tidak akan sulit mempersiapkan pesta dalam satu malam," jawab Jordan, seperti tanpa beban.
Freya membuang napas kasar, lantas beringsut menjauhi Jordan. Ia melipat tangannya di dada sembari mengangkat sebelah kakinya.
__ADS_1
"Jangan menyombongkan harta di depanku, karena milikku juga berlimpah." Freya melirik Jordan sekilas.
"Aku tidak sombong, aku hanya ingin menghalalkan kamu. Aku sanggup memberikan pesta besar untukmu, meskipun pernikahannya itu besok. Jadi ... apalagi yang jadi kendala?" Jordan menyondongkan tubuhnya ke meja. Ia menopang dagu sembari menatap Freya.
"Jangan gila, Jordan! Yang lain mungkin bisa kau urus dalam satu malam, tapi bagaimana dengan undangannya? Percuma saja menggelar pesta besar, jika tidak ada tamu yang hadir. Lagipula, kau WNA, kau harus mengurus surat-suratnya terlebih dahulu. Aku tidak mau jika pernikahan kita hanya sah secara agama," protes Freya dengan panjang lebar.
"Kata siapa aku WNA," ucap Jordan. "Aku asli warga Indonesia, Sayang," sambung Jordan. Ia mengeluarkan KTP dari dompetnya.
Freya meraihnya dengan cepat, ia meneliti KTP itu dan kemudian menatap Jordan dengan lekat.
"Asli?" Freya mengernyit heran. Ia sedikit kaget melihat KTP yang Jordan berikan.
Jordan memang kerap kali memalsukan identitas, namun kali ini tidak, Freya yakin jika kartu itu asli.
"Sejak aku bangun dari maut, aku tidak pernah memalsukan identitas seperti dulu," jawab Jordan.
"Entahlah, sejak aku mencarimu ke sini, aku memutuskan untuk pindah ke negara ini. Mungkin takdir yang menggerakkan hatiku untuk melakukan itu." Jordan mengedipkan sebelah matanya.
"Terserah apa katamu, tapi aku tidak mau jika pernikahannya besok." Freya memutar bola matanya.
"Kenapa___"
"Jordan, aku mau semua rekanku datang di hari bahagiaku, dan itu tidak akan bisa, jika hanya dipersiapkan dalam satu malam. Lagipula, aku tidak mau dipandang rendah. Pernikahan yang amat sangat mendadak, itu akan menimbulkan banyak gunjingan. Aku tidak mau tersebar gosip miring, terkait pernikahan kita," pungkas Freya dengan cepat.
"Aku tidak akan tinggal diam, jika ada yang menyebarkan gosip buruk tentangmu," kata Jordan.
"Apa yang akan kau lakukan? Kau akan kembali pada duniamu?" Freya menatap Jordan dengan tajam.
__ADS_1
"Tidak. Tapi aku 'kan punya uang, aku bisa menutup mulut mereka, tanpa membuatnya sengsara," jawab Jordan.
"Aku tidak mau." Freya masih tetap pada pendiriannya.
"Lalu?"
"Minggu depan."
"Sayang, minggu depan itu terlalu lama," sahut Jordan.
"Itu waktu yang paling pas, Jordan!"
"Tidak. Aku___"
"Pokoknya minggu depan," pungkas Freya dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Freya!" Jordan menggenggam jemari Freya.
"Jordan, pernikahan itu bukan sesuatu yang sederhana, tolong mengertilah!" Freya menatap manik biru Jordan. Nada bicaranya pelan dan lembut, namun cukup mampu meruntuhkan kerasnya hati Jordan.
"Baiklah, kita menikah minggu depan," ucap Jordan, mengalah.
"Hanya menunggu seminggu, aku tidak akan lari," ujar Freya dengan diiringi senyum manis.
Jordan mengeratkan genggamannya, ada perasaan hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya, kala menatap senyuman Freya.
Bersambung....
__ADS_1