
"Freya, apa kau mau berteman denganku?" Calvin mengulangi pertanyaannya, karena Freya hanya diam sambil menatapnya.
"Eh...ehm...tentu saja." jawab Freya dengan sedikit gugup.
"Terima kasih." ucap Calvin sambil tersenyum.
Dan Freya menanggapinya dengan sebuah anggukan.
"Aku kesini untuk membahas tentang proyek kita di puncak." ucap Calvin dengan serius.
Perusahaan Diamond, dan Emerald memang terlibat kerjasama dalam pembangunan sebuah villa di puncak.
"Apa ada masalah dengan proyeknya?" tanya Freya.
"Ada yang salah dengan material yang mereka gunakan, itu sebabnya aku ingin mengajakmu kesana. Kita lihat, dan kita periksa, itu akan menimbulkan masalah, atau tidak." jawab Calvin sambil menatap Freya.
Freya terdiam, pergi ke puncak bersama Calvin, apakah itu adalah hal yang baik?
"Kenapa harus aku, jadwalku cukup padat, sepertinya aku tidak bisa. Bagaimana kalau kau pergi bersama dengan Eddie saja?" kata Freya mengutarakan pendapatnya.
"Kau yang bertanggungjawab atas proyek ini, jadi mana bisa kau melibatkan yang lainnya." kata Calvin.
"Ahh sial, lelaki ini cerdik juga." gumam Freya dalam hati.
"Berapa lama kita kesana?" tanya Freya.
"Mungkin satu, atau dua hari saja. Ayolah, ini demi proyek kita. Kau tidak ingin kan, jika pembangunan ini gagal ditengah jalan." ucap Calvin sambil tetap menatap Freya.
Freya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Yang Calvin katakan memang ada benarnya. Sedikit saja ada kesalahan, terkadang bisa berakibat fatal. Mungkin lebih baik ia memang harus ikut ke puncak.
"Baiklah, lalu kapan kita kesana?" tanya Freya, yang akhirnya menyetujui ajakan Calvin.
"Lebih cepat lebih baik, bagaimana kalau besok?" jawab Calvin meminta pendapat Freya.
"Boleh." jawab Freya singkat.
"Baiklah kalau begitu, besok kita berangkat. Aku akan menjemputmu." ucap Calvin.
"Iya." jawab Freya.
"Kita sudah mencapai kesepakatan, kalau begitu aku permisi dulu." kata Calvin sambil beranjak dari duduknya.
"Silakan." jawab Freya.
"Semoga harimu menyenangkan Freya." ucap Calvin sambil mengusap rambut Freya.
Dan Freya hanya menanggapinya dengan senyuman.
Lalu Calvin melangkah keluar dari ruangan, ia meninggalkan Freya yang menatapnya dengan tajam.
"Sepertinya aku harus fokus dulu menjadi Freya." gumam Freya dengan pelan.
***
Disebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Seorang lelaki sedang duduk di kursi sambil menyesap sebotol vodka. Raut wajahnya datar, mungkin suasana hatinya sedang buruk.
Sesekali matanya melirik pintu ruangan yang masih tertutup rapat.
Sekitar lima menit kemudian, lelaki itu beranjak dari duduknya. Ia menyesap habis minumannya, dan kemudian melemparkan botolnya ke dinding, hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Dadanya tampak naik turun, menahan amarah. Dia adalah Mr.X, seorang mafia kelas atas yang identitasnya masih menjadi misteri.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Tampak seorang lelaki bertubuh kekar datang menghampirinya.
__ADS_1
"Kau masih ingat jalan menuju kesini?" sindir Mr.X.
"Maaf Tuan saya terlambat." jawab lelaki itu sambil menunduk.
"Duduk!" perintah Mr.X dengan nada yang tinggi.
"Baik Tuan." jawab lelaki itu sambil duduk di kursi.
"Katakan tentang semua informasi yang telah kau dapatkan." ucap Mr.X sambil duduk di depan lelaki itu.
"Maaf Tuan, saya belum berhasil mendapatkan informasi." jawab lelaki itu.
"Kau belum tahu siapa Atana?" tanya Mr.X.
"Belum Tuan." jawab lelaki itu masih tetap menunduk.
"Kau belum tahu Atana berdiri dipihak mana?" tanya Mr.X dengan nada yang lebih tinggi.
"Belum Tuan, semua informasi tentangnya tertutup rapat. Saya kesulitan untuk mengoreknya Tuan." jawab lelaki itu.
Mr.X berdiri sambil menggebrak meja dengan keras, ia benar-benar marah.
"Kau sudah mengenalku dengan baik, kau pasti tahu apa akibatnya, jika tidak bisa ku andalkan." ucap Mr.X sambil tersenyum licik.
"Saya mengerti Tuan, saya akan berusaha mencari informasi tentangnya. Saya pasti berhasil Tuan, tolong beri saya kesempatan sekali lagi." jawab lelaki itu dengan gemetar.
"Baik, tapi jika kau kembali gagal. Aku akan mengirimmu ke neraka.'' kata Mr.X.
"Saya mengerti Tuan." ucap lelaki itu.
"Keluar!" bentak Mr.X.
"Baik Tuan." jawab lelaki itu sambil beranjak dari duduknya. Lalu ia pergi meninggalkan Mr.X sendirian.
"Siapa sebenarnya dia." gumam Mr.X sambil fikirannya menerawang jauh. Ia teringat akan pertemuannya dengan Atana di villa, pada malam itu.
Baru kali ini, hidupnya diusik oleh seorang wanita.
"Kau sudah mengganggu istirahatku, jadi jangan salahkan aku, jika nanti aku akan menghancurkan hidupmu." gumam Mr.X sambil menyeringai.
Lalu ia meraih sebuah foto yang terletak di atas meja, foto seorang wanita yang sedang tersenyum manis. Mr.X mengusap foto itu dengan lembut.
"Kau tahu, ada seorang wanita yang mencoba mengusikku. Aku akan segera mengirimnya untuk menemanimu. Sekarang kau sudah tahu betapa gilanya aku, karena mencintaimu. Aku lebih rela melihatmu mati, daripada bersanding dengan pria lain." ucap Mr.X sambil meletakkan kembali foto itu.
Kemudian Mr.X beranjak dari duduknya, dan keluar dari ruangannya.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Freya merebahkan tubuhnya di ranjang, dan mencoba memejamkan matanya. Namun hingga beberapa saat lamanya, matanya masih saja terjaga.
Freya mendengus kesal, saat bayangan tentang Calvin kembali melintas dalam ingatannya. Ada apa dengan dirinya?
Lalu Freya bangkit, dan duduk sambil memeluk bantal. Ingatan tentang Calvin benar-benar mengganggunya.
"Perasaan ini sama persis seperti pertama kalinya aku bertemu dengan Jordan. Mungkinkah semudah itu perasaanku berubah." gumam Freya sambil menenggelamkan wajahnya di bantal.
Tak lama kemudian, Freya kembali membaringkan tubuhnya, namun lagi-lagi bayangan Calvin berputar dalam otaknya. Dan hingga beberapa saat lamanya, Freya masih juga terjaga.
Disaat Freya sedang sibuk memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata yang menghubunginya adalah Eddie.
Freya meraih ponselnya dengan malas, untuk apa Eddie menghubunginya selarut ini.
__ADS_1
"Hallo." sapa Freya.
"Hallo Nona." jawab Eddie.
"Ada apa?" tanya Freya.
"Saya berhasil melacak keberadaan Mr.X. Dia ada disebuah club malam, yang tidak jauh dari tempat Anda Nona." kata Eddie.
"Cepat kirimkan alamatnya padaku." ucap Freya sambil meloncat dari tempat tidurnya.
"Baik Nona." jawab Eddie.
Freya langsung mengganti piyamanya dengan celana jeans, dan blouse panjang. Ia harus sampai di tempat itu secepatnya. Setelah melihat alamat yang dikirimkan Eddie padanya, Freya langsung berlari keluar dari apartemennya. Ia menuju parkiran, dan menaiki mobil milik Eddie. Ia melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Sekitar lima belas menit kemudian, Freya sudah tiba dilokasi. Ia memarkirkan mobilnya, lalu turun, dan bergegas masuk ke dalam ruangan.
Hingar bingar musik, terdengar cukup memekakkan telinga saat ia sudah melangkah masuk, dan berhambur dengan banyak orang yang sedang berjoget.
Freya mengedarkan pandangannya kesana kemari, mencari sesosok orang yang terlihat mencurigakan. Namun hingga waktu sudah berjalan cukup lama, Freya belum juga menemukan sosok itu. Semua orang di sana terlihat biasa saja, tidak ada yang bertingkah aneh.
"Mungkinkah Mr.X kesini hanya untuk minum, atau sekedar mencari teman kencan. Jika memang seperti itu, aku pasti akan kesulitan mencarinya." batin Freya didalam hatinya.
Setelah hampir dua jam Freya celingukan tanpa ada hasilnya, akhirnya ia memilih untuk pulang. Mencari sesosok orang ditengah ratusan manusia, bukanlah hal yang mudah. Mungkin malam ini, keberuntungan memang tak berpihak padanya.
Freya berjalan menuju parkiran dengan langkah cepat, besok ia harus pergi ke puncak, jadi ada baiknya, jika ia bisa secepatnya beristirahat.
Saat Freya sudah mendekati mobilnya, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menabraknya.
"Aww.." jerit Freya saat dirinya terjerembab di lantai.
"Kau lagi." ucap lelaki yang menabraknya sambil menatap Freya dengan tajam.
Jantung Freya berdetak dengan cepat, lelaki di hadapannya ini adalah lelaki yang pernah menabraknya di depan toilet waktu itu. Mungkinkah Mr.X itu memang dia?
Lalu lelaki itu mengulurkan tangannya, dan membantu Freya berdiri. Freya sedikit tertatih, sepertinya kakinya terkilir.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya lelaki itu.
"Aku tidak apa-apa. Aku harus pergi sekarang." jawab Freya sambil membalikkan tubuhnya.
Namun baru saja ia melangkah, lelaki itu menarik lengan kirinya. Freya meringis kesakitan, lelaki itu memegang tepat dilukanya.
"Kenapa?" tanya Freya sambil membalikkan tubuhnya. Keringatnya mulai mengucur, ia mati-matian menahan rasa sakit di lengannya.
"Aku Marcel." ucap lelaki itu sambil melepaskan cekalannya, dan mengulurkan tangannya.
"Freya." jawab Freya sambil menyalami Marcel, ia bernafas lega, karena Marcel tak lagi memegang lukanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Marcel.
"Bertemu teman." jawab Freya.
"Apa kau adalah wanita yang seperti itu." ucap Marcel sambil menaikkan alisnya.
"Teman yang kutemui adalah wanita. Aku kesini hanya untuk mengantarkan barang." jawab Freya. Dia harus bisa menjaga citranya, sebagai wanita yang anggun, dan baik.
"Apa itu pengaman, atau obat...." Marcel belum sempat meneruskan kalimatnya, Freya sudah menyahut.
"Cukup, jangan banyak bicara. Aku harus pergi." ucap Freya dengan cepat. Lalu ia berlari menuju mobilnya. Ia tak mempedulikan kakinya yang sedikit ngilu.
Marcel menatapnya sambil tersenyum. Ia belum mengalihkan pandangannya, bahkan sampai Freya sudah melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Wanita yang menarik." gumam Marcel dengan pelan.
Bersambung......