
Freya melangkahkan kakinya memasuki pelataran markas, dua pistol masih tergenggam erat ditangannya. Sambil matanya terus menatap waspada. Freya tahu, jika markas ini pasti didesain dengan perlindungan yang sangat memadai.
Freya terus melangkahkan kakinya mendekati pintu utama, namun tidak terjadi apa-apa. Freya merasa janggal, ia melirik kesana kemari dengan curiga.
Mungkinkah mereka belum menyadari kehadirannya?
Tapi sepertinya itu mustahil, yang namanya markas, pasti dilengakapi dengan cctv, jadi tidak mungkin mereka tidak tahu.
Freya menatap pintu yang berdiri kokoh di hadapannya.
"Aku tahu seperti apa strategi kalian. Kita lihat saja, siapa yang lebih cerdas, aku atau kalian?" gumam Freya dalam hatinya.
Lalu Freya mengetuk pintunya, layaknya seorang tamu biasa. Dua pistolnya sudah ia sembunyikan di saku jubahnya.
Dan tak lama kemudian pintu terbuka, apa yang diduga Freya memang benar adanya.
Beberapa pria sudah berjaga di depan pintu, dan semua pistol yang mereka pegang tertuju ke arah Freya. Freya mencoba setenang mungkin, ia yakin, jika mereka tidak akan menembaknya begitu saja.
Kedatangannya penuh keberanian, dan identitasnya masih samar, mereka pasti penasaran padanya.
"Aku datang untuk menemui Larry." ucap Freya dengan santainya, ia tak menghiraukan banyaknya pistol yang siap melubangi dadanya.
"Kami tidak bodoh. Kau pasti penyusup, kau telah membunuh dua teman kami." bentak salah satu pria yang berdiri paling dekat dengan Freya.
"Aku tidak sengaja. Mereka tidak mengizinkan aku masuk, jadi aku tidak punya pilihan lain." jawab Freya.
"Lalu kenapa kau memaksa untuk masuk?" tanya pria itu masih dengan nada tinggi.
"Sudah kubilang aku ingin menemui Larry. Aku ingin mengajaknya bekerjasama." jawab Freya masih santai.
"Buka maskermu, dan tunjukkan wajahmu. Baru kau bisa bertemu dengan Tuan Larry." bentak pria itu.
"Atasanku yang melarangku untuk memperlihatkan wajah, jadi aku tidak bisa menentangnya. Tapi aku punya sesuatu, yang mungkin bisa membuat kalian percaya." ucap Freya sambil menunjukkan dua botol racun, yang baru ia ambil dari saku jubahnya.
Para pria di sana saling melemparkan pandangan. Mereka semua tahu tentang racun itu, sangat sulit untuk mendapatkannya. Dan kini tiba-tiba ada yang datang menawarkannya, tentu saja mereka dalam dilema.
"Kau pergilah ke atas, dan beritahu Bos tentang ini!" perintah pria itu pada temannya, dan yang diperintah langsung melangkah pergi dengan cepat.
"Dan kamu tunggu disini." kata pria itu pada Freya.
"Baik." jawab Freya tanpa keraguan.
"Aku penasaran, sampai kapan Mr.X akan bersembunyi. Dia belum tahu betapa cerdasnya aku." gumam Freya didalam hatinya.
Tak lama kemudian seorang lelaki tampan, dan bertubuh kekar, datang menghampiri Freya.
"Ternyata dia yang namanya Larry Leonardo. Terlihat lebih tampan daripada difoto." batin Freya.
"Kau yang ingin menemuiku?" tanya pria itu dengan suara yang serak.
__ADS_1
Freya menatap tangannya sekilas, rupanya ia menggenggam pistol. Ahh semua mafia itu memang selalu waspada ya.
"Benar, aku ingin bekerjasama denganmu." jawab Freya sambil menunjukkan botol racunnya.
"Kau siapa, dan kerjasama seperti apa yang kau inginkan?" tanya Larry sambil menatap Freya dengan tajam.
"Aku bisa menjawab semua pertanyaanmu, tapi apakah dengan berdiri seperti ini?" sindir Freya.
"Masuklah!" perintah Larry.
Freya tersenyum dibalik maskernya, sejauh ini rencananya masih berjalan dengan mulus.
Dengan dikawal dua pria, Freya mengikuti Larry naik ke lantai dua. Larry mengajaknya masuk ke dalam ruangan yang tertutup.
"Persis seperti yang aku harapkan." gumam Freya didalam hatinya.
Larry duduk disebuah kursi, dan Freya juga ikut duduk di hadapannya. Sialnya dua pengawal itu masih berjaga di sebelah Freya, jadi ia tidak bisa bergerak dengan leluasa.
"Katakan siapa namamu?" tanya Larry.
"Atana." jawab Freya singkat.
"Kau bekerja untuk siapa?" tanya Larry.
"Aku rasa kau bisa menebak. Atasanku hampir sama sepertiku, tidak pernah menunjukkan dirinya." jawab Freya.
"Mr.X." gumam Larry dengan pelan. Raut wajahnya terlihat sangat kaget.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Larry.
"Tinggalkan Jonathan. Dua botol ini akan menjadi milikmu." jawab Freya sambil meletakkan dua botol racun itu keatas meja.
"Aku tidak bisa. Aku menolak tawaranmu." kata Larry sambil menatap Freya.
"Oh jadi benar, hubungan kalian memang terjalin dengan baik. Tapi aku tidak akan menyerah, bukan Freya namanya, jika tidak pandai bicara." gumam Freya dalam hatinya.
Lalu Freya beranjak dari duduknya, dan mendekati Larry.
"Apa keuntungannya menjalin hubungan dengan Jonathan. Dari dulu kau tetap saja seperti ini, tidak ada kemajuan sama sekali. Apa kau tidak punya keinginan, untuk menjadi mafia yang cukup ditakuti." kata Freya sambil berdiri di sebelah Larry.
"Aku tidak percaya denganmu, aku lebih percaya pada Jonathan." kata Larry sambil menatap Freya.
"Memangnya ada apa denganku, kenapa kau tidak bisa percaya?" tanya Freya melangkahkan kakinya, hingga kini ia berdiri di belakang Larry.
"Karena kamu...ahh!" teriak Larry saat merasakan ada sesuatu yang menusuk punggungnya. Dua pengawal yang berdiri di hadapannya langsung menodongkan pistolnya, hendak menembak Freya.
Namun ternyata mereka kalah cepat, Freya yang lebih dulu menembaknya, hingga mereka terkapar tak berdaya.
Larry merasakan tubuhnya membeku, tangan dan kakinya sulit untuk digerakkan, bahkan pistol yang ia genggam sudah jatuh ke lantai. Entah cairan apa yang telah disuntikkan pada tubuhnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya Larry dengan nafas yang terengah-engah, keringat dinginnya mulai mengucur. Rasa sakit semakin menjalar diseluruh tubuhnya.
"Kau lebih memilih Jonathan, daripada atasanku. Tentu saja aku jengkel. Tapi kau tenang saja, racun itu tidak akan mencabut nyawamu, masih ada harapan untuk sembuh." jawab Freya sambil melangkahkan kakinya mendekati pintu. Dua botol racun yang diatas meja, sudah kembali ia kantongi.
"Tunggu aku!" teriak Larry dengan kesakitan.
"Selamat tinggal Larry Leonardo." ucap Freya sambil membuka pintu, dan keluar dari ruangan itu.
Freya mulai berjalan menuruni tangga, dan tak lama kemudian ada seorang pria yang menghadangnya.
"Dimana Tuan Larry?" tanya pria itu.
Freya tidak menjawab, namun dengan cepat tangannya sudah menarik pelatuk pistolnya, dan dalam beberapa detik, pria yang menghadangnya sudah terjatuh tak bernyawa.
Freya meninggalkan pria itu, dan kembali melangkah menuju pintu utama, di sana banyak pria yang memandangnya dengan tatapan curiga.
"Dimana Tuan Larry?" tanya salah satu pria pada Freya.
"Ada di atas." jawab Freya singkat.
"Lalu dimana pengawal yang mengantarmu?" pria itu kembali bertanya.
"Kalian terlalu cerewet." teriak Freya sambil menembakkan pistolnya.
Sontak mereka semua langsung menyerang Freya, dan Freya juga meladeninya dengan lincah. Suara tembakan terdengar memenuhi ruangan itu, namun diantara mereka belum ada yang tumbang.
Hingga beberapa menit berlalu, tiga orang lawannya, sudah terkapar tak berdaya di lantai, dan Freya juga sudah mendapatkan luka di lengannya. Namun ia tidak menyerah, ia tetap memainkan pistolnya, dan mencoba membunuh mereka semua.
"Apa kalian tidak ingin melihat Bos kalian, aku tidak yakin dia akan tetap bernyawa, jika kalian terlambat menolongnya." kata Freya dengan suara yang cukup keras.
Dan mendengar ucapan Freya, spontan mereka langsung berlari ke lantai atas. Freya memanfaatkan kesempatan ini, ia juga berlari keluar pintu, dan segera menuju mobilnya.
"Awal yang bagus, cukup memuaskan." gumam Freya sambil mengemudikan mobilnya.
Lalu ia menambah kecepatannya, luka di tangannya mulai terasa panas, ia harus segera menemui David.
***
Hari sudah hampir pagi, sang fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Jordan sudah terjaga dari tidurnya, dan kini ia berdiri di balkon kamarnya. Menikmati semilir angin pagi, yang masih menguarkan aroma basah.
Jordan menatap lurus kedepan, menikmati pemandangan kota yang dipadati gedung-gedung tinggi. Fikirannya menerawang jauh, dulu ia pernah hidup di jalanan, berlari kesana kemari di antara gedung-gedung yang bertingkat, hanya demi sesuap makanan. Apa sekarang juga masih ada, anak-anak yang mengalami nasib sama sepertinya?
Belum puas Jordan malamunkan masa lalunya, tiba-tiba matanya dikejutkan dengan kedatangan mobil hitam di pelataran rumahnya. Sepertinya itu bukan mobil Alex, lalu siapa?
Jordan mengamatinya dari atas, dan ia melihat seorang wanita keluar dari mobil itu.
"Freya." gumam Jordan.
Lalu ia melihat Freya berjalan memegangi lengannya, dan Jordan langsung bergegas turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Sepertinya Freya terluka, apa yang terjadi padanya?
Bersambung......