Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Akhir Hidup Sherin


__ADS_3

Sherin tersentak kaget, tubuh ibunya ambruk tepat di hadapannya. Darah segar merembas, dan dalam hitungan detik menggenang di lantai.


"Mama! Mama!" teriak Sherin. Ia berlari menghampiri ibunya. Ia goyangkan tubuh yang tak berdaya. Tidak ada reaksi, Bu Dewi sudah meregang nyawa.


"Mama! Mama! Bangun Ma!" teriak Sherin dengan air mata yang berderai. Ia letakkan kepala Bu Dewi di atas pangkuan. Berharap ada keajaiban yang menghidupkan ibunya.


"Sekarang dendamku sudah tuntas," ucap Freya. Ia berjalan mendekati Sherin sambil menimang-nimang pistolnya.


"Kak, kamu, kenapa kamu melakukan ini? Dari mana kamu mendapatkan senjata itu?" tanya Sherin dengan gugup. Melihat Freya yang sekarang, bulu kuduk serasa meremang.


Freya tak langsung menjawab. Ia duduk berjongkok sambil mengulas senyum miring.


Freya mengusap air mata Sherin dengan ujung pistol. Membuat sang empunya tercengang dalam ketakutan.


"Mama pantas mendapatkan semua ini. Asal kau tahu Sherin, setelah Mama mengusirku, aku terjebak dalam dunia kelam. Aku tinggal di Rusia ... dan menjadi ... mafia," ungkap Freya dengan tatapan mematikan.


"Ma...mafia." Sherin semakin gemetaran. Mendengar kata mafia, serta merasakan ujung pistol yang mengusap-usap pipinya. Aliran darah Sherin seakan berhenti saat itu juga.


"Iya, mafia. Sudah ada ribuan nyawa yang mati di tanganku. Sherin, kamu beruntung karena aku masih punya rasa belas kasihan. Tapi, jika kamu tidak terima dengan kematian Mama, aku juga akan membuatmu berakhir seperti dia. Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar mulut ini menangis atau meratapi kematiannya." Kali ini Freya menempelkan ujung pistol tepat di bibir Sherin.


"Tidak Kak, tolong jangan lakukan itu!" sahut Sherin. Rambut panjang mengombak-ombak, seirama kepala yang menggeleng.


"Kalau begitu diam dan jangan menangis. Tinggalkan dia, aku yang akan mengurus pemakamannya!" Kata Freya dengan intonasi tinggi.


Lantas Freya beranjak dari duduknya. Ia melenggang pergi menuju kamar.


Namun belum jauh ia berjalan, indera pendengarannya menangkap suara pelan nan mencurigakan.


Dengan cepat Freya menoleh ke belakang. Sherin berdiri tak jauh darinya, sambil memegangi vas bunga yang cukup besar.


Freya tersenyum miring, rupanya Sherin berniat jahat.


"Kamu sudah membunuh Mama, kamu harus merasakan hal yang sama!" Sudah terlanjur, Sherin tidak bisa lagi menutupi niatnya.


Apapun yang pernah dilakukan Ibunya, dia tidak rela jika Freya membuatnya celaka.


"Pukul saja, jika memang itu bisa membuatmu puas!" ujar Freya dengan santainya.

__ADS_1


Mata tajam menatap Sherin yang hendak melayangkan vas ke arahnya.


Detik selanjutnya, Sherin melemparkan vas itu dengan cepat. Dan dengan sedikit gerakan, Freya berhasil menghindar. Alhasil, vas itu membentur dinding dan jatuh di lantai.


Kini berganti Freya yang mengarahkan senjatanya, jemari telunjuk siap menarik pelatuk.


"Aku sudah bersedia membantumu, tapi rupanya hatimu tak beda jauh dengan Ibumu. Kau akan berakhir sama dengannya." Freya memicingkan mata, rasa kasihan sirna sudah, berganti rasa amarah.


Sherin tak menjawab, namun dengan cepat ia membalikkan badan, dan berlari kencang.


Tapi belum sempat kakinya menginjak ambang pintu, suara ledakan kembali terdengar. Sherin tak punya tenaga untuk melangkah, tumbuhnya ambruk tak berdaya.


Freya tersenyum, lantas kaki jenjangnya mengayun menghampiri Sherin. Ia duduk berjongkok di hadapannya.


"Bersyukurlah, karena aku langsung membunuhmu. Aku rela menepis keinginanku untuk mengulitimu hidup-hidup, kau berhutang ucapan terima kasih, Sherin." Freya menopang dagu Sherin dengan ujung pistol. Ia menikmati wajah Sherin yang penuh kebencian.


"Hempaskan emosimu, kau sudah sekarat, Sherin! Bahkan untuk bicara saja, kau sudah tidak mampu, 'kan?" Freya tertawa menyeringai.


"Kau biadab, kau wanita gila!" geram Sherin dengan terbata-bata. Tangannya memegangi dada yang sakit dan sesak.


Freya mengangkat tangan kirinya, ia menopang dagu Sherin dengan kedua jemari. Lantas ia memainkan pistolnya tepat di depan wajah Sherin.


"Kau berengsek!" geram Sherin dengan napas yang tersengal-sengal.


Freya tak menjawab, namun ia langsung mengarahkan pistolnya ke dalam mulut Sherin. Tanpa segan-segan ia menarik pelatuk, membiarkan peluru panas melubangi tenggorokan.


"Mulutmu terlalu menyebalkan, aku tidak suka itu." Freya beranjak dari duduknya. Tubuh Sherin sudah tergolek di lantai tanpa nyawa.


"Kalau bukan karena sedikit rasa kasihan, aku pasti merobek mulutmu, bukan menembaknya!" kata Freya tanpa rasa bersalah.


Kemudian ia menghubungi seseorang, dan menyuruhnya membereskan mayat Ibu dan adik tirinya


***


Suara berisik memenuhi ruangan kantor, memecah keheningan yang sedari tadi melingkupi.


Setelah masuk jam makan siang, semua staff mulai membuka suara. Melontarkan unek-unek yang tadi hanya tersimpan dalam hati.

__ADS_1


"Erwin ngajak aku makan siang di luar," ucap Siska, salah seorang karyawan yang sudah cukup lama bekerja di kantor Freya.


"Kayaknya bentar lagi ada yang jadian nih," sindir Andin dengan tawa renyah.


"Asyik, makan-makan," sahut Tamara dengan senyum riang.


"Kalian apaan sih, baru juga ngajak makan siang." Siska menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.


"Pepet terus Sis, mumpung masih muda, masih manis-manis legit. Jangan sampai deh ya kayak Bu Oliv, masih jomblo di usia yang hampir tua, pasti rasanya udah hambar." Tamara tertawa keras. Sudah menjadi kebiasaan mereka, membicarakan Freya di belakang.


"Kok bisa ya Bu Oliv itu nggak laku-laku, padahal wajahnya cantik, harta juga berlimpah. Dia itu termasuk body perfecy, tapi ... kok gak ada yang meminang ya," sahut Siska. Ekor matanya melirik Tamara dan Andin.


"Kabarnya sih ada yang pengen nikahin, tapi dia aja yang nggak mau. Sok jual mahal, nggak ngaca usia udah tua, masih ngarep daun muda," ucap Andin dengan entengnya.


"Hus, jangan kenceng-kenceng. Tiba-tiba dia nongol, mampus kita." Tamara melotot ke arah Andin.


"Hari ini, itu orang nggak masuk, kata Bu Yana ada urusan penting," sahut Andin.


"Urusan apa, cari jodoh?" Siska kembali tertawa.


"Mungkin, ngenes juga kalau sendiri terus. Tapi, kasihan pasangannya nanti," ujar Andin.


"Kasihan kenapa?" tanya Tamara.


"Ibarat makanan, Bu Oliv itu udah hampir kadaluarsa. Pasti udah nggak ada manis-manisnya, yang ada___" Belum sempat Andin meneruskan kalimatnya, tiba-tiba high hells melayang, dan jatuh tepat di atas meja, di hadapan mereka.


Sontak mereka bertiga menoleh, dan semua langsung pucat pasi, kala melihat sosok Freya yang berdiri di belakang. Entah sejak kapan Freya datang, diantara mereka tak ada yang tahu.


"Selamat siang, Bu Oliv." Mereka menyapa sambil membungkuk, berharap semoga Freya tidak mendengar pembicaraannya.


"Kemasi barang-barang kalian, dan pergi dari sini! Kalian dipecat tanpa pesangon!" bentak Freya dengan tatapan tajam.


"Tapi Bu___"


"Dan bukan itu saja, nama kalian bertiga akan kutulis di daftar hitam. Aku pastikan tidak ada satupun kantor yang mau merekrut kalian!" tegas Freya.


Freya mengepalkan tangannya dengan erat, emosi membuncah melihat orang lain mengusik privasi. Mau tidak mau, ingatannya kembali melintas ke masa silam. Jordan, satu nama yang tetap bertahta, walau sekarang ia tak tahu bagaimana kabarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2