Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Menuntaskan Dendam


__ADS_3

Freya memicingkan matanya, meyakinkan diri jika ia tak keliru mengenali seseorang itu.


"Sherin," gumam Freya.


"Kak, Kak Freya. Kau, kau kenapa ada di sini?" Sherin melangkah mendekati Freya.


Jantungnya berdetak cepat, wanita yang pernah ia musuhi, kini berdiri tepat di hadapannya.


"Seharusnya aku yang melayangkan pertanyaan itu, kau kenapa ingin bertemu denganku!" kata Freya dengan tatapan tajam.


"Bu Olivia, apakah itu___"


"Iya, itu aku. Kenapa, kau kaget?" Freya tersenyum miring.


Sherin tidak menjawab, dia hanya menunduk sambil meremas ujung kemeja yang dikenakan. Bibirnya bergerak-gerak, seakan hendak bicara, namun sulit mengeluarkan suara.


"Ikut aku!" bentak Freya dengan tatapan tajam. Ia tidak ingin berlama-lama berbincang di sana, dan menjadi tontonan para karyawan.


Freya melangkah menuju ruangannya, dan Sherin mengikutinya di belakang. Ia tak punya pilihan lain, sudah kepalang tanggung untuk kabur.


Tak lama kemudian, Freya tiba di ruangan. Dia duduk di atas kursi kerja, sambil menaikkan sebelah kakinya.


"Duduk!" bentak Freya, karena saat itu Sherin masih berdiri terpaku.


Dengan ragu-ragu Sherin mendaratkan tubuhnya di atas kursi. Ia terus menunduk, tak berani menatap Freya.


"Kenapa kamu ingin bekerja sebagai cleaning service?" tanya Freya tanpa nada ramah.


"Aku tidak punya uang, Kak." Sherin semakin menunduk.


"Tidak punya uang, lalu kemana uang peninggalan Papa? Aset milik Papa tidak akan habis walau dimakan tujuh turunan. Apa yang kalian lakukan pada hartaku?" tanya Freya masih dengan nada tinggi.


"Maaf Kak, semua itu sudah habis. Kami bangkrut," jawab Sherin dengan pelan, nyaris seperti bisikan.


Freya bangkit sambil menggebrak meja, dadanya naik turun menahan emosi. Mata hitamnya menatap tajam ke arah Sherin, seakan ia ingin melahapnya hidup-hidup.


Sherin semakin gemetaran, Freya yang sekarang, jauh berbeda dengan Freya tujuh tahun silam.


"Maafkan kami Kak, maafkan kami," bisik Sherin. Air matanya berjatuhan membasahi lengan dan pangkuan.


"Kenapa kalian bisa sebodoh itu, jelaskan kenapa bisa bangkrut!" bentak Freya dengan berapi-api.


Kali ini, Freya melangkah menghampiri Sherin. Ia berdiri tepat di depan adiknya, sambil mencengkeram kerah kemejanya. Dengan penuh rasa takut, Sherin mendongak dan menatap kakaknya.


"Jelaskan Sherin!" geram Freya.


"Maaf Kak, gara-gara aib, semua relasi memutuskan kerjasama secara sepihak. Para investor, menarik paksa investasi yang telah ditanamkan. Untuk menutupi semua kekurangan, Mama mencari pinjaman di bank. Tapi, semakin hari, perusahaan mengalami kemunduran. Sedangkan pinjaman di bank terus membengkak, dan ... akhirnya kami berakhir seperti ini," terang Sherin disela-sela tangisnya.


"Aib, aib apa maksudmu?"


"Kak Sera hamil, dan pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Kak Sera punya anak diluar nikah," jawab Sherin.


"Oh jadi seperti itu anak kebanggaan Mama, sangatlah bermoral," sindir Freya tanpa melepaskan cengkeramannya.


"Maafkan aku yang sudah jahat sama Kakak. Sekarang aku dalam kesulitan, aku tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa. Kudengar Bu Oliv orang yang sangat baik dan dermawan, aku tidak menyangka jika itu ... adalah Kak Freya," ujar Sherin.


"Dimana Mama, ajak aku bertemu dengannya, dan aku akan memberimu uang," kata Freya.


Sherin menghela napas panjang, "Mama ada di rumah sakit jiwa. Sejak perusahaan bangkrut, Mama mengajakku pindah ke ibukota. Berharap hidup kami membaik di sini, namun ternyata malah semakin memburuk, dan mental Mama terganggu. Lama-lama aku tidak bisa lagi menahannya di rumah. Keberadaan Mama membahayakan keselamatan tetangga," ungkap Sherin dengan suara tertahan.


"Mama gila, wow luar biasa. Karma tidak pernah salah alamat." Freya melepaskan cengkeramannya sambil tertawa.


"Kak Sera sudah tiada, dia meninggal saat melahirkan. Sekarang hanya ada aku dan Kamila, dia anaknya Kak Sera, umurnya sudah enam tahun." Sherin kembali menunduk, ia sangat berharap Freya mau membantunya.


"Sera mati, dan kamu yang menghidupi anaknya?"


"Iya Kak, aku tidak tega menempatkannya di panti. Itu sebabnya, aku berusaha keras mencari uang demi memenuhi kebutuhannya. Hanya dia, satu-satunya keluarga yang kupunya," jawab Sherin menerangkan berbagai kisah yang telah ia alami.


"Aku akan membantumu, tapi sebelum itu, ajak aku menemui Mama!" kata Freya.

__ADS_1


Sherin bangkit dari duduknya, dan berlutut di bawah kaki Freya. Dia memeluk lutut Freya sambil mengucapkan terima kasih.


Freya sedikit kaget mendapat perlakuan yang demikian, mungkinkah keadaan Sherin memang sesulit itu?


***


Keesokan harinya, Freya menitipkan urusan kantor pada Yana, karena ia ada urusan penting yang tidak bisa ditunda. Sejak pagi-pagi sekali, Freya sudah tiba di kontrakan Sherin. Hatinya terketuk melihat keadaan adik tiri dan keponakan.


Mereka tinggal di rumah yang sudah tak layak huni, kecil, kumuh, dan semua perabotan sudah usang. Kamila Nagita Putri, gadis kecil yang baru duduk di bangku kelas 1 SD. Tubuhnya kurus, rambutnya panjang kemerahan. Kendati wajahnya ayu nan manis, namun ia terlihat seperti anak yang menderita gizi buruk.


Freya mengambil napas dalam-dalam, mencoba menepis kenangan masa silam yang menyakitkan. Kala itu, Sherin masih remaja, dia tidak terlalu paham dengan urusan orang dewasa. Ibunya memang menorehkan luka terdalam terhadap Freya, namun pantaskah ia membalas dendam itu pada Sherin?


Kendati Freya adalah mafia yang memiliki jiwa pembunuh. Namun, ia juga memiliki sanubari. Melihat Kamila dan Sherin yang hidup dalam kesengsaraan, sedangkan dirinya berlimpah harta, Freya tak bisa diam saja. Entah ikhlas atau terpaksa, dia akan membantu Sherin dan Kamila.


"Minum dulu, Kak." Sherin meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.


Lamunan Freya buyar seketika, lantas ia menatap secangkir teh yang dibuat untuknya.


Lagi-lagi hatinya teriris, kala melihat Kamila yang baru saja mandi.


Dengan berbalut handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Kamila terlihat sangat kurus, beberapa tulang menonjol, seakan merobek kulitnya yang masih lunak.


"Setelah ini pindah dari sini! Urus dia dengan baik, dan tidak usah bekerja!" kata Freya dengan tegas.


"Tapi Kak, kalau aku___"


"Aku yang membiayai kebutuhan kalian," potong Freya dengan cepat.


"Tapi Kak___"


"Atau aku tidak usah membantu sama sekali. Pilih saja salah satu!" Lagi-lagi Freya memotong ucapan Sherin.


"Baik Kak." Sherin mengangguk, lantas ia membawa Kamila ke kamar.


Setelah selesai mendandani Kamila, Sherin keluar dan kembali menemui Freya. Mereka berencana pergi ke rumah sakit jiwa. Namun sebelum itu, mereka akan mengantarkan Kamila terlebih dahulu. Kebetulan letak sekolahnya searah dengan rumah sakit jiwa.


"Ayo Kak!" ajak Sherin.


"Dulu Kak Freya tinggal di mana? Maafkan Mama yang sudah menyulitkan Kakak," ucap Sherin ketika mobil mulai melaju.


"Suatu tempat," jawab Freya singkat.


"Maafkan Mama ya, Kak," ujar Sherin.


"Aku tidak bisa memaafkannya! Sherin, apapun yang kulakukan, kuharap kau terima. Kamu tahu bertapa sakitnya jadi aku, diusir tanpa membawa uang sedikitpun. Mama merampas apa yang seharusnya menjadi milikku, Mama telah mengantarkan aku dalam dunia kelam. Semua itu tidak bisa ditebus dengan kata maaf," kata Freya datar.


Sherin bergidik ngeri, seolah kalimat yang Freya lontarkan menyiratkam sesuatu yang mengerikan.


"Apa yang akan Kakak lakukan?" tanya Sherin memberanikan diri.


"Lihat saja nanti," jawab Freya.


Tak lama kemudian, Freya menghentikan mobilnya. Sherin turun dan mengantarkan Kamila ke sekolah. Lantas mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Sekitar setengah jam berselang, mereka tiba di halaman rumah sakit jiwa.


Muka Sherin terlihat pilu, setiap kali bertandang ke tempat ini, luka dihati semakin menganga. Seorang wanita yang telah mengandung dan melahirkannya, kini terkurung dengan hina di dalam sana. Kenyataan yang benar-benar memukul jiwa.


"Ayo Kak!" Sherin melangkah menghampiri suster yang berjaga di sana.


"Mbak Sherin, 'kan?" Suster itu tersenyum, dia mengenali Sherin yang memang sering berkunjung ke sana.


"Iya Sus, boleh 'kan bertemu dengan Mama?"


"Tentu saja, mari Mbak saya antar!"


Lantas mereka melangkah menuju ruangan Bu Dewi.


Freya tersenyum miring, kala menatap sosok wanita paruh baya yang meringkuk di pojokan. Dia tertidur di atas tumpukan uang mainan.

__ADS_1


"Nasibmu memang malang Ma, tapi aku belum puas. Dendam ini akan padam, setelah kau tiada," batin Freya.


"Dia sedang tidur," ucap Suster.


"Bolehkah kami mengajaknya pulang, Suster?" tanya Freya. Sebuah pertanyaan yang mengagetkan suster dan Sherin.


"Maaf Mbak, dengan kondisi yang yang seperti ini, akan bahaya jika membawanya pulang. Mbak bisa mengunjunginya kapanpun, tapi mohon jangan membawanya," jawab Suster.


"Saya Freya Ollivierra, saya yakin Suster mengenali saya. Dia adalah ibu tiri saya, saya tidak tega melihatnya tinggal di sini. Saya akan bertanggungjawab penuh, saya yakin keputusan ini tidak membahayakan pihak manapun." Freya menyodorkan kartu nama miliknya.


Suster membaca kartu nama itu dengan seksama.


"Bagaimana?" tanya Freya.


"Saya akan mendiskusikan hal ini dengan atasan, mohon tunggu sebentar." Suster melenggang pergi meninggalkan Sherin dan Freya.


"Kak, kau akan membawa Mama pulang?" tanya Sherin.


"Iya."


"Apa tidak merepotkan?" tanya Sherin.


"Tidak."


"Kak, aku___"


"Aku akan menanggung biaya hidupmu dan Kamila. Sebagai gantinya, kau tidak boleh ikut campur urusan Mama. Jadi, tutup mulutmu dan jangan banyak bicara!" bentak Freya dengan pelototan tajam.


"Iya Kak," jawab Sherin dengan pelan.


Setelah cukup lama menunggu, seorang lelaki datang menghampiri mereka. Dia yang bertanggung jawab di rumah sakit itu. Ia dan Freya saling berbincang dan berdiskusi. Hasil akhir, Freya diperbolehkan membawa pulang Bu Dewi, dengan catatan segala resiko harus ia tanggung sendiri. Freya tak keberatan, dengan senang hati dia menanda tangani surat pernyataan.


Dengan bantuan beberapa suster, Bu Dewi berhasil dibawa masuk ke mobil. Freya benar-benar puas, dendamnya sebentar lagi akan tuntas.


Freya mulai melajukan mobilnya, ia tak peduli dengan Bu Dewi yang terus tertawa sambil menatapi uang mainan yang berjumlah ratusan.


"Kita akan ke mana, Kak?" tanya Sherin.


"Rumahku. Aku sudah menyuruh orang untuk menjemput Kamila, dia akan mengantarkannya ke tempat baru. Kau dan Kamila akan tinggal di sana," jawab Freya.


"Terima kasih banyak untuk semua bantuannya, Kak," kata Sherin. Ia mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kalinya.


"Jangan terlalu berterima kasih, takutnya kau akan menyesal." Freya tersenyum miring.


"Apa maksudmu Kak?"


Freya tak menjawab, dia hanya menoleh sekilas, sembari memberikan tatapan aneh.


Sekitar satu jam kemudian, Freya menghentikan mobilnya di depan rumah megah berlantai tiga. Freya turun dari mobilnya, dan menuntun Bu Dewi.


"Mama masih ingat 'kan dengan rumah kita, sekarang kita kembali ke sini Ma," ucap Freya dengan lembut.


"Ini rumahku, benarkah?" ucap Bu Dewi. Tawa riang terukir di bibirnya yang menghitam.


"Benar, ayo masuk Ma!" Freya menuntun Bu Dewi dan membimbingnya memasuki pintu utama.


"Uangku, uangku masih di sana!" teriak Bu Dewi.


"Ma, di dalam sana ada lebih banyak, ada perhiasan juga. Mama tidak tetarik?" Freya menatap Bu Dewi dengan senyuman lebar.


"Benarkah, aku akan mengambilnya sekarang! Uang, perhiasan, aku datang!" teriak Bu Dewi masih dengan tawa keras. Dia berlari memasuki rumah, mengagumi setiap pernak-pernik yang tertata rapi.


"Apakah ini emas, atau intan permata, wahh sangat berkilau." Bu Dewi terpesona dengan setiap benda yang ada di rumah Freya.


"Temani dia!" perintah Freya pada Sherin.


"Iya Kak." Sherin melangkahkan kaki, dan menghampiri ibunya.


Freya masih tetap berdiri di tempatnya. Ia merogoh pistol glock meyer yang disimpan dalam tas. Freya mengarahkan pistol itu ke punggung Bu Dewi, lantas tanpa basa-basi ia menarik pelatuknya.

__ADS_1


"Berterima kasihlah, karena aku tidak menyiksamu!" ucap Freya, bersamaan dengan bunyi tembakan yang menggema memenuhi ruangan.


Bersambung...


__ADS_2