Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Tiga Bulan Kemudian


__ADS_3

Siang dan malam silih berganti, hari dan minggu terus berlalu.


Tiga bulan sudah Calvin pergi meninggalkan Freya dan segala hal yang ada di dunia.


Freya sudah menjalani kehidupannya dengan normal. Kendati hatinya masih rapuh dan retak, namun logika memaksanya beranjak. Berdiam diri dalam keterpurukan bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah.


Biarkan semua mengalir seperti air, biarkan waktu yang menjawab seperti apa masa depannya. Akankah hati tetap mati, ataukah kelak akan terobati.


Freya masih tetap bekerja di perusahaan Diamond, hanya saja kali ini tanpa kerjasama dengan Emerald. Sejak Calvin tiada, bisnisnya carut marut. Sekian banyak bawahan, semua kelimpungan, ibarat anak ayam yang kehilangan induk.


Dan Freya, ia tetap bungkam. Kematian Calvin masih menjadi rahasia.


Selain bekerja di Diamond, ia juga masih tetap aktif di dunia mafia. Jika ada tikus-tikus kecil yang mencoba mengusik, tak segan-segan Freya membuat mereka tak berkutik. Ia tetap menjadi iblis betina yang bersembunyi di balik paras bak bidadari.


Pagi ini, Freya terjaga dari mimpi, kala mentari sudah merangkak tinggi. Freya menguap sembari menggeliat. Matanya mengerjap ketika silau surya menerpa. Semalam dia lupa menutup tirai jendela, sehingga dengan mudahya kirana surya menerobos masuk ke kamar.


Mata Freya melebar, ia sedikit tersentak saat menatap sosok yang sedang duduk di kursi. Lelaki pemilik manik biru, yang akhir-akhir ini luar biasa perhatiannya.


"Jordan! Apa yang kamu lakukan di sini?" teriak Freya dari balik selimut tebal.


Bagaimana tidak kaget, saat ini Freya sedang tidur di apartemen, dan tiba-tiba Jordan sudah masuk ke kamarnya. Sejak kapan lelaki itu tiba di sini?


"Sepertinya kau melupakan sesuatu, Freya," ujar Jordan dengan santainya. Sembari membuka-buka buku bisnis yang berserak di atas meja.


"Apa?" tanya Freya tanpa mengubah posisinya.


"Kau berjanji akan menemaniku melihat kebun anggur yang baru kubeli. Kau tidak lupa, 'kan?" ucap Jordan seraya menaikkan kedua alisnya.


"Kau bilang kita berangkat jam sepuluh, tapi kau datang sepagi ini. Tunggu sebentar, aku akan melanjutkan mimpi yang tertunda!" kata Freya sembari meraih guling dan memeluknya dengan erat.


"Ini hampir tengah hari, dan kau bilang pagi, Fre! Kau sudah telat satu jam dari waktu yang kita janjikan!" sahut Jordan dengan cepat.


"Apa maksudmu, sekarang jam berapa?" tanya Freya sambil membalikkan badan.

__ADS_1


"Jam sebelas lewat dua belas menit," jawab Jordan sembari melirik jarum jam yang melingkar di tangannya. Lantas ia menatap Freya, ingin tahu bagaimana reaksinya.


"Bohong, tidak mungkin sesiang itu," gerutu Freya sambil bangkit, dan meraih ponselnya.


Sorot netra berubah sendu, kala beradu pandang dengan lukisan wajah lelaki di layar ponsel. Kini Freya ingat, semalam ia larut dalam nestapa. Kenangan indah bersama Calvin, menari-nari dalam ingatan. Membuat matanya tetap terjaga hingga dini hari, ralat tetap menangis.


Jordan menyadari perubahan sikapnya. Dia yang tadi berceloteh panjang, kini bergeming dengan mata terpaku pada layar tipis di genggaman.


Jordan menghela napas panjang, lantas beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Freya, dan duduk disebelahnya.


"Aku tahu ini berat, tapi aku yakin kau bisa!" kata Jordan sambil menepuk bahu Freya dengan pelan.


Freya terkesiap, ia tersadar dari lamunan. Lantas ia meletakkan kembil ponselnya, dan menatap Jordan sambil tersenyum.


"Tunggulah diluar, aku akan mandi dan bersiap sebentar," ucap Freya.


"Baiklah!" jawab Jordan. Lalu ia pergi meninggalkan Freya sendiri.


Dalam perjalanan ke kebun anggur, Jordan menghentikan mobilnya di restoran khas Rusia. Ia mengajak Freya singgah di sana, untuk menikmati makan siang.


Freya memilih meja di dekat jendela, dan Jordan tidak mempermasalahkan hal itu.


Lantas keduanya memesan makanan dan juga minuman. Freya memesan pelmeni. Makanan khas Rusia yang sejenis dumpling. Terbuat dari adonan tepung, yang diisi dengan campuran daging cincang, ikan, dan jamur. Selain pelmeni, Freya juga memesan kisel. Minuman khas Rusia yang terbuat dari oat. Sangat nikmat jika disajikan dalam keadaan dingin, apalagi saat musim panas seperti sekarang.


Sedangkan Jordan, dia memesan beef stroganoff. Makanan khas Rusia yang terbuat dari daging sapi. Ditumis dengan saus stemana, paprika, bawang bombay, dan bubuk oregano. Paduan rasa asin, pedas, dan asam, benar-benar memanjakan lidah. Selain itu, Jordan juga memesan modovukha. Selain menjadi minuman khas, modovukha juga merupakan alkohol tertua di Rusia. Minuman ini didapatkan dari Zolotoe Koltso.


"Diluar sangat panas Jordan, dan kau malah memesan minuman itu. Apa kau tidak tertarik dengan minuman dingin seperti ini?" tanya Freya sambil menyesap minumannya, membiarkan rasa dingin membasahi tenggorokan.


"Aku sudah terbiasa," jawab Jordan dengan santainya.


"Kebiasaan yang aneh," ujar Freya sambil tertawa renyah.


"Aneh tapi enak, jadi kenapa tidak," jawab Jordan sembari menarik ujung bibirnya hingga membentuk senyuman.

__ADS_1


"Ya ... terserah kamu," kata Freya seraya menyuap satu pelmeni ke dalam mulut.


Usai menyantap semua hidangan, Jordan dan Freya beranjak dari duduknya. Lantas Jordan membayar tagihan, dan ia juga membungkus beberapa porsi blini. Camilan khas Rusia sebangsa panekuk, namun bentuknya sangat tipis menyerupai crepes.


"Untuk apa?" tanya Freya kala melihat Jordan membeli blini cukup banyak.


"Makan." Jawab Jordan singkat.


"Kau belum kenyang?" tanya Freya sembari melangkah menuju mobil.


"Siapa tahu nanti lapar lagi," jawab Jordan dengan cepat.


Sebenarnya blini itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk Freya. Dia memang wanita yang cerdas, tegar, sadis, dan kejam. Tapi dia tidak bisa menahan lapar. Dan Jordan, dia sudah hapal betul dengan hal itu. Meskipun Freya jarang sekali mengakui.


Keduanya sudah masuk ke mobil, dan perlahan Jordan mulai melajukannya. Di bawah terik surya, ia membelah jalanan kota yang sangat padat. Sesekali Jordan melirik Freya, dan ia bernapas lega karena senyuman kerap kali terukir di bibir ranumnya.


Sekitar tiga jam perjalanan, mereka sudah tiba di dataran tinggi, di pinggir kota. Jordan masih melajukan mobilnya beberapa saat. Kemudian ia berhenti di depan villa megah dengan corak khas Eropa.


Keduanya turun dari mobil dan disambut dengan panorama alam yang sangat indah. Pepohonan yang tumbuh rindang, berpadu dengan aneka bunga yang tumbuh di sepanjang jalan. Belum lagi suasana kota yang ditatap dari ketinggian, sangat menakjubkan.


Semilir angin bertiup sepoi-sepoi, sejuk dan menenangkan. Namun hal itu malah menimbulkan kegundahan dalam hati Freya. Dia menunduk lesu, membiarkan angin menerpa rambutnya hingga berantakan.


"Suasana ini, mengingatkanku pada masa lalu. Masa indah yang tak akan pernah kembali," batin Freya dengan mata yang berkaca-kaca. Mengingat tentang Calvin, selalu saja meluruhkan air mata.


"Saat kita berjalan ditengah kegelapan, dan hanya ada pemantik api sebagai lentera. Lantas angin datang berembus dan memadamkan nyalanya, padahal tujuan kita masih jauh. Apa yang akan kau lakukan, Freya?" tanya Jordan sambil berdiri tepat di sebelah Freya.


Freya menoleh, dan menatap Jordan. Merasa heran mendengar pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang anak SD pun pasti bisa menjawab.


"Tentu saja kunyalakan lagi, lalu aku kembali berjalan. Jika angin kembali menerpa, aku kembali membuatnya menyala. Aku akan melakukan hal itu sampai tiba di tempat tujuan," jawab Freya dengan cepat.


"Aku harap kau bisa melakukannya ... untuk hidupmu," ujar Jordan sambil merangkul bahu Freya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2