
Dewi Kurniawati, gadis asal Indonesia yang bekerja di Rusia. Ia bekerja di perusahaan Emerald, menjabat sebagai sekertaris pribadi direktur muda-Zacko Zaiden.
Lima bulan bekerja, hubungan keduanya semakin dekat. Banyak yang melihat kebersamaan mereka diluar kantor, ada beberapa yang menyebut mereka sepasang kekasih.
Tak membutuhkan waktu lama, berita itu sampai di telinga orang tua Zacko. Mereka sangat murka, karena saat itu, Zacko sudah bertunangan dengan Cassandra, gadis cantik dan kaya yang sederajat dengan mereka.
Zacko tak menolak, kala orang tuanya mempercepat hari pernikahan. Ia mengabaikan Dewi yang saat itu sedang mengandung anaknya.
Dewi frustrasi, dia berhenti bekerja dan pergi dari kontrakannya. Empat bulan kemudian, anak yang dikandungnya lahir dengan selamat. Bayi lelaki yang tampan dan memiliki mata biru seperti ayahnya. Dewi tak mau merawatnya, kebenciannya pada Zacko berlanjut pada bayinya. Kendati di dalam sana juga mengalir darahnya, namun ia sama sekali tak mau mengakui. Lantas dia memutuskan untuk menitipkan bayi itu di panti asuhan.
Setelah itu, Dewi kembali ke Indonesia. Ia kembali melanjutkan hari-harinya seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa dengannya. 12 tahun kemudian, Dewi menikah dengan seorang duda beranak satu, Ryan Anggara-ayah Freya Ollivierra.
Jordan dan Freya tercengang tatkala membaca kata demi kata yang terangkai di sana. Jordan mengepalkan tangannya, ia sangat terpukul dengan kenyataan yang seolah-olah mempermainkannya. Calvin, lelaki yang bertahun-tahun menjadi rivalnya, ternyata memiliki darah yang sama dengannya.
"Jordan!" Freya menghambur dan memeluk Jordan dengan erat. Dia tahu betapa rapuhnya hati Jordan kala itu.
__ADS_1
Mata Freya berkaca-kaca, ia menyesali semua yang telah terjadi. Calvin, dia mati di tangannya. Mengapa? Mengapa harus dirinya yang membunuh keluarga Jordan?
"Freya!" gumam Jordan dengan suara yang tertahan. Jemarinya yang menegang, mendekap erat kepala Freya.
"Maafkan aku, Jordan. Maafkan aku," bisik Freya dengan terbata. Setetes air matanya lolos membasahi ceruk leher Jordan.
Cukup lama Jordan diam tanpa kata. Ia hanya mendongak sembari mengeratkan dekapannya. Jordan berusaha keras menahan buliran bening yang sudah menggenang di matanya. Bukan Freya yang menyebabkan Calvin tiada, melainkan dirinya sendiri. Dia yang menyuruh Freya membunuh adiknya. Dia yang salah!
Selain kehilangan Calvin, Jordan juga terpukul dengan satu hal, yakni statusnya yang terlahir sebagai anak haram. Dengan keadaannya yang seperti itu, pantaskah ia menikahi Freya?
Jordan tersadar dari lamunannya, dan kini ia merasakan air mata Freya mulai membasahi dadanya. Lantas Jordan melepaskan rangkulannya, ia menatap Freya yang masih menunduk.
"Bukan salah kamu, Freya. Aku yang menyuruhmu melakukan itu." Jordan menangkup pipi Freya dan mengusap air matanya.
"Tapi Jordan___"
__ADS_1
"Jika aku tidak menyuruhmu, kamu tidak akan membunuhnya. Dia pernah menjadi cahaya dalam hidupmu, dan aku yang membuat cahaya itu padam. Maafkan aku yang membawamu ke jalan yang salah, maafkan aku yang banyak membuatmu menangis. Dan ... maafkan Ibu-ku yang telah membuatmu sengsara," pungkas Jordan.
"Bukan salah Ibu, Jordan. Aku sendiri yang memilih jalan ini. Justru aku yang menyengsarakan Ibu, aku telah merampas nyawanya," sesal Freya. Air matanya kembali menetes.
"Jika waktu itu aku menolongmu dengan cara baik, bukan menjadikanmu umpan ... semua ini tidak akan terjadi, Freya. Aku___"
"Jangan terus menyalahkan diri sendiri, Jordan." Freya menempelkan jari telunjuknya di bibir Jordan. "Itu akan membuatmu terluka," sambungnya.
"Aku sudah terluka, Freya. Kau tahu apa yang aku rasakan sekarang? Bukan sekedar sakit karena kehilangan, tapi juga sakit karena terhina. Aku hanyalah anak haram, aku ada karena nafsu belaka. Tadi aku masih bermimpi untuk mengikatmu dalam tali pernikahan, tapi sekarang ... apa aku masih bisa melakukan itu? Apa aku pantas memilikimu, Freya? Aku manusia pendosa, aku manusia yang tidak diinginkan. Sementara dirimu, kamu wanita yang mulia. Kamu ada karena cinta yang suci, kamu sempurna, Freya," ucap Jordan dengan panjang lebar.
Setetes air bening jatuh dari sudut mata Jordan, dia tak bisa lagi menahannya. Semua ini terlalu menyakitkan baginya.
Untuk pertama kalinya, Freya melihat Jordan menangis. Manik biru itu memburam, menutupi segala kemelut yang masih bersarang di dalam sana.
"Kita tidak bisa memilih jalan mana yang membuat kita ada, semua sudah diatur dalam garis takdir. Siapa pun dirimu, aku telah memilihmu, Jordan. Kamu bilang aku sempurna, dari segi mana kamu memandangnya? Aku juga pendosa, aku juga pembunuh. Kita sama-sama pendosa yang berusaha kembali mengenal Tuhan, Jordan." Freya mengulurkan tangannya dan mengusap air mata Jordan.
__ADS_1
Bersambung....