
Derit pintu kamar mandi, mengusik ketenangan Freya yang hampir terlelap dalam lena. Matanya kembali terbuka dan menangkap sosok sang suami yang hanya memakai celana pendek. Dada bidangnya dibiarkan terpampang jelas, tanpa sehelai benang. Freya tersenyum lebar, tubuh yang sangat ideal, pikirnya.
"Melihat tubuhmu, aku mendadak insecure. Kamu jauh lebih sexi dari diriku," goda Freya.
Jordan menoleh dan menatap istrinya dengan tajam. Masih ada sekelumit rasa kesal yang mengganjal di hati. Setelah dirayu dan dibangkitkan hasratnya, ia dihempaskan jauh ke dasar lembah. Benar-benar menyebalkan.
Kendati demikian, Freya tetap tersenyum dan masa-bodoh dengan tatapan Jordan. Ia malah memainkan kelopak mawar yang berserak di sampingnya. Ia bertingkah seolah tak melakukan kesalahan sedikit pun.
"Jangan menggodaku," kata Jordan dengan mata yang memicing.
"Aku tidak menggoda, aku hanya bicara apa adanya. Kamu memang sexi, postur tubuhmu sangat sempurna, dan ... kulitmu juga bersih, sangat serasi dengan mata birumu yang indah. Hmmm benar-benar menawan." Freya berceloteh panjang sambil mengubah posisi. Kini, ia tengkurap dengan kepala yang terangkat.
"Teruskan." Jordan melipat tangannya di dada. Intonasi suaranya lebih tinggi dari sebelumnya.
"Pasti enak," jawab Freya.
"Jangan keterlaluan, Sayang." Jordan mendekat dan naik ke ranjang. Nada suaranya semakin tinggi, selaras dengan deru napasnya yang kian memburu.
"Apa kamu tidak suka pujian?" Freya bangkit dan duduk di hadapan Jordan.
"Jangan pura-pura bodoh, aku tahu kamu mengerti," kata Jordan dengan tegas.
"Iya, aku mengerti. Kamu tahan lama, 'kan?" Freya menyentuh dada Jordan dengan jemarinya.
"Jangan menantang batas kesabaranku, Freya." Jordan menggenggam erat tangan istrinya dan merengkuh pinggangnya.
__ADS_1
Keduanya saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat. Jordan merutuki dirinya yang menanggapi permainan Freya. Ujung-ujungnya hasrat itu kembali bangkit dan dia pasti berakhir di kamar mandi untuk kali kedua.
Akan tetapi, lain halnya dengan Freya, dia terus mengulas senyum. Ia sangat puas karena berhasil menggoda suaminya.
"Apa yang kamu inginkan?" bisik Freya. Hangat napasnya menyembur, menyapu wajah Jordan.
"Tidak ada," jawab Jordan, singkat dan tegas.
"Benarkah?" Freya mengusap lembut rahang Jordan. Lantas ia menarik ceruk lehernya dan berbisik di telinganya.
Wajah Jordan menegang, ia menatap Freya dengan sangat tajam. Seolah ia berharap lawannya mati dengan sorot netranya.
"Sesuatu akan terasa berharga, jika kita kesulitan mendapatkannya. Sedikit perjuangan, itu akan membuatmu mematri kenangan. Katanya, kamu akan membuatku tak pernah melupakan malam ini. Jadi ... tidak ada salahnya 'kan, jika aku juga melakukan hal yang sama," terang Freya, tanpa memudarkan senyuman.
"Aku tidak akan mengampunimu, Freya. Kupastikan kau akan kelelahan dan tidak bisa berpikir licik untuk yang kedua kali," geram Jordan.
Jordan tak lagi bicara. Ia mendorong tubuh Freya dan membuatnya terlentang di atas ranjang. Batas kesabarannya sudah habis, kali ini dia tidak akan melepaskan istrinya.
______
Silau sinar surya menyeruak masuk dan mengusik ketenangan Jordan. Lelaki yang masih betah berkelana di alam mimpi, terpaksa membalikkan badan guna menghalau cahaya yang menerpa netranya.
Tanpa melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya, Jordan kembali terlelap dalam lena. Rasa letih dan lelah, menahan manik birunya untuk terjaga.
"Sayang, sudah siang, ayo bangun." Freya menepuk pipi Jordan dengan pelan.
__ADS_1
Ia merasa gemas dengan tingkah suaminya yang tak kunjung bangun. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang, namun tak ada sedikit pun tanda-tanda ia akan membuka mata.
"Sayang, ayo bangun," kata Freya dengan intonasi yang lebih tinggi.
Namun, Jordan masih tetap terlelap. Ia hanya menggeliat pelan dan melanjutkan lenanya.
Tak punya pilihan lain, Freya menarik ujung selimut yang menutupi tubuh Jordan. Lantas ia mengusap dada bidang Jordan yang tak tertutup sehelai benang.
"Apa yang kau lakukan, aku masih ngantuk, Sayang." Jordan menggenggam tangan Freya dengan mata yang setengah terpejam.
Freya tersenyum lebar, kemudian ia mencondongkan tubuhnya dan membisikkan sebuah kalimat di telinga Jordan.
"Kamu kalah."
Sontak, Jordan langsung membuka matanya lebar-lebar, dan ia menangkap sosok sang istri yang sudah bugar.
Jordan berdecak kesal, namun ia tak bisa membantah. Apa yang dikatakan Freya memanglah sesuatu yang benar.
"Aku salah jika menyamakannya dengan Lyana. Dia jauh lebih segalanya, dan aku tidak salah memilihnya. Dia adalah wanita yang sangat tepat untuk menjadi pasanganku. Meskipun aku sudah mundur dari dunia mafia, tapi ... resiko itu pasti masih sama besar," ucap Jordan dalam hatinya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Freya, ketika melihat Jordan terdiam sambil menatap dirinya.
"Tentu saja kejadian semalam, memang apa lagi yang lebih menarik dari itu?" jawab Jordan.
"Cepat mandi, setelah itu sarapan. Andrew sudah mencarimu sedari tadi," kata Freya.
__ADS_1
"Baiklah, suruh menunggu sebentar." Jordan bangkit dan turun dari ranjang.
Bersambung....