
"Tidak salah aku mempercayakan misi ini padamu. Aku tahu, kau tidak akan mengecawakan aku Freya." kata Jordan sambil ikut berdiri.
"Kau tenang saja, Atana akan menjadi wanita yang sangat ditakuti. Aku berjanji, aku pasti akan membawakan mayat Mr.X kehadapanmu." ucap Freya sambil menatap Jordan.
"Aku selalu mendukungmu." jawab Jordan sambil merangkul Freya.
"Tapi ngomong-ngomong Jordan, aku tadi tidak bercanda. Aku benar-benar butuh uang tambahan, untuk biaya perawatanku. Aku perlu mempercantik diri, untuk memperlancar misi ini." kata Freya.
Alex terkekeh, dan kemudian ikut berdiri.
"Beli saja apa yang kau butuhkan. Berapapun biayanya, akan aku tanggung." ucap Alex sambil memberikan sebuah kartu kredit pada Freya.
"Wow, aku merasa lebih senang Lex." jawab Freya sambil menerima kartu itu.
"Aku harus pergi sekarang teman-teman, sampai jumpa besok." kata Alex sambil melangkah pergi.
"Hati-hati Lex." ucap Jordan, dan Andrew bersamaan.
"Kau harus baik-baik saja Lex." ucap Freya.
Alex menoleh, dan menatap ketiga temannya sambil tersenyum.
Lalu ia melangkah keluar ruangan, dan meninggalkan teman-temannya.
"Aku juga harus pergi, besok jadwalku cukup padat, aku perlu istirahat yang cukup." kata Freya pada Jordan, dan Andrew.
"Baiklah, kau juga hati-hati. Aku harap apa yang kau rencanakan, akan berjalan dengan lancar." ucap Jordan.
"Terima kasih, Ndrew aku pergi dulu ya." kata Freya sambil menatap Andrew.
"Iya, hati-hati Fre." jawab Andrew.
"Oke." ucap Freya sambil melangkah pergi. Ia cukup lelah hari ini, ia ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
Namun saat Freya sudah menapaki anak tangga yang terakhir, ia teringat akan sesuatu. Tadi ia datang kesini, selain melihat keadaan Jordan, ia juga akan mengambil sebotol racun hasil temuannya. Ahh mau tidak mau, Freya harus kembali ke lantai atas, dan mengambil racun yang berada di ruang senjata.
Freya mempercepat langkahnya saat menaiki tangga. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, ia sudah sampai di depan pintu ruangan. Dan langkah Freya terhenti, saat ia mendengar Jordan, dan Andrew sedang membicarakan dirinya.
"Benarkah kau tidak tertarik padanya Jordan? Freya cukup cantik, dan juga hebat. Kurang apa lagi?" tanya Andrew pada Jordan.
__ADS_1
"Dia memang cantik, dan juga hebat. Tapi itu tidak cukup untuk membuatku jatuh cinta. Kau tahu Ndrew, hanya ada nama Lyana dihatiku. Selamanya hanya dia, wanita yang kucintai, tidak akan ada yang lain." jawab Jordan dengan tegas. Dan itu cukup membuat hati Freya terluka.
"Tapi dia sudah tiada." kata Andrew.
"Lyana memang sudah mati, tapi perasaanku padanya akan tetap hidup. Cintaku pada Lyana akan tetap terjaga. Dia adalah wanita pertama, dan terakhirku." jawab Jordan.
"Ahh terserah kamu saja lah. Padahal aku sangat setuju, jika kau bersama dengan Freya. Dia wanita hebat, jadi dia tidak akan menjadi kelemahanmu." kata Andrew.
"Jika kau merasa begitu, kenapa tidak kau saja yang bersama dengannya? Kau selalu memujinya, jadi kurasa kau punya perasaan khusus padanya.'' jawab Jordan dengan santainya.
"Kau sudah gila." teriak Andrew dengan kesal.
Jordan hanya tertawa mendengar umpatan Andrew.
Setelah menata hatinya, kini Freya membuka pintu ruangan itu.
Andrew, dan Jordan menatapnya dengan sedikit kaget.
"Freya." gumam Andrew. Ia menjadi salah tingkah saat melihat kedatangan Freya. Tadi Freya mendengar pembicaraannya tidak ya?
"Maaf ada yang aku lupa. Aku ingin membawa botol racun, yang berhasil kuracik beberapa hari yang lalu." ucap Freya menyembunyikan kesedihannya.
Ahh lelaki ini, begitu santainya seperti tidak punya beban. Apa kau tidak tahu, betapa terlukanya hati Freya.
Lalu Freya melangkah mendekati lemari kaca disudut ruangan. Ia mengambil dua botol kecil, yang berisi cairan berwarna merah pekat. Freya menggenggamnya, dan membawanya pergi.
"Aku sudah mendapatkannya, aku pergi dulu." kata Freya sambil berlalu pergi.
"Kira-kira dia mendengarkan pembicaraan kita, atau tidak." ucap Andrew.
"Mungkin tidak, dia baru datang kok." jawab Jordan.
"Kau yakin?" tanya Andrew sambil menatap Jordan.
"Tentu saja. Tapi kalaupun dia mendengarnya juga kenapa? Kita tidak membicarakan keburukannya, aku hanya mengatakan tentang perasaanku saja." jawab Jordan.
"Terserah kau saja." gerutu Andrew dengan kesal. Jordan itu lelaki cerdas. Masa ia tidak bisa memahami sikap Freya. Bukankah terlihat jelas, jika wanita itu tertarik padanya. Masa begitu saja tidak mengerti. Bodoh, atau memang pura-pura bodoh.
***
__ADS_1
Freya merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Hatinya masih ngilu mengingat kata-kata Jordan.
Benarkah tidak ada lagi kesempatan untuknya?
Jujur ia sangat mencintai Jordan, lelaki itu adalah cinta pertamanya. Tapi kenapa seperti tidak ada lagi jalan, untuk mendapatkan cintanya.
Seperti apa sebenarnya sosok Lyana itu, sesempurna apa dia, sampai Jordan tidak bisa menghapus perasaannya.
Freya menatap langit-langit kamarnya, akankah suatu saat nanti ia bisa punya cinta?
Entah itu dari Jordan, atau dari cinta yang lainnya?
Lalu Freya beranjak dari tidurnya, dan melangkah menuju jendala kamarnya. Ia menatap ribuan bintang yang bertaburan di langit luas.
"Aku bukan lagi Freya yang dulu. Freya yang lemah, dan selalu mengalah. Aku sudah menjadi wanita kuat, aku tidak akan lemah hanya karena cinta. Tak peduli aku akan punya cinta, atau tidak. Tapi yang pasti, aku akan menjadi wanita yang berkuasa, wanita yang sangat ditakuti, dan aku akan membuat dunia mafia gempar dengan kehadiranku. Aku menikmati hidupku yang sekarang, jadi untuk apa aku harus memusingkan masalah cinta." ucap Freya pada dirinya sendiri.
Kemudian ia melangkah menjauhi jendela, ia meraih pistol yang berada di lacinya.
"Tidak peduli bagaimana perasaan Jordan padaku. Yang penting kau selalu bersamaku, dan kita akan mengukir cerita bersama-sama." ucap Freya sambil mencium pistolnya. Lalu ia kembali meletakkan pistol itu dengan senyum yang menyeringai.
***
Keesokan harinya Freya tidak pergi ke kantor. Ia sibuk mencari data, tentang beberapa mafia yang tersebar diseluruh Rusia. Freya sudah mencatat sebuah nama yang perlu ia datangi malam ini. Freya mempersiapkan beberapa senjata yang ia butuhkan, tiga pistol Glock meyer lengkap dengan pelurunya, dan dua botol racun yang mematikan. Freya akan memulai rencana barunya malam ini juga.
Tepat pukul 11.00 malam, Freya sudah bersiap memulai aksinya. Lensa mata, rambut palsu, masker, dan jubah hitam sudah melekat ditubuhnya. Semua senjata sudah dia bawa, tujuannya adalah markas Larry Leonardo, yang terletak dipinggiran kota. Larry adalah seorang mafia kelas biasa. Namun dari data yang Freya dapat, dia punya hubungan baik dengan Jonathan. Jika Freya berhasil mengobrak-abrik markas itu, pasti Jonathan tidak akan tinggal diam. Dan banyak orang yang akan penasaran dengan sosok Atana.
Freya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sana.
Freya memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari markas itu. Ia menuju pintu gerbangnya dengan jalan kaki, dan setelah tiba di sana, ia langsung disambut oleh dua penjaga.
"Kau siapa?" tanya penjaga itu waspada.
Dooorrr!
Dooorrr!
Freya tidak menjawab, namun pistolnya yang berbicara. Kini dua penjaga itu sudah tergeletak tanpa nyawa.
Bersambung..
__ADS_1