
"Kau begitu terpesona ya, sampai menatapnya tanpa kedip. Kalau gitu bareng saja sama Andrew," cibir Alex. Tangannya menepuk bahu Jordan cukup keras, hingga membuyarkan lamunan.
"Apa sih Lex," elak Jordan dengan ekspresi datar.
Freya tersenyum geli melihat tingkah kedua rekannya, ralat rekan dan kekasih. Disaat Alex masih menertawai Jordan, tiba-tiba Andrew datang dan bergabung dengan mereka.
"Aku tidak salah lihat Fre, kau berdandan seperti ini." Andrew menatap Freya lekat-lekat, sambil tangannya menunjuk ke arah Freya.
"Hari istimewa Ndrew, kekasihnya ulang tahun," timpal Alex masih dengan tawanya.
"Benar-benar so sweet, ehh tapi aku diundang juga, 'kan?" canda Andrew.
"Jangan banyak bicara dan cepat ke taman belakang! Aku tidak suka basa-basi!" kata Freya dengan pelototan tajam.
"Jiwa sadisnya keluar Ndrew," celetuk Alex. Dan Andrew hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.
"Aku salut dengan kalian berdua. Berawal dari keterpurukan, kalian bisa menjalin cinta yang indah. Aku doakan hubungan kalian lancar sampai pelaminan. Mungkin dengan ini, kita bisa bersama-sama mundur dari dunia mafia. Menjalani kehidupan yang lebih bermakna, daripada kehidupan di masa lalu," ujar Andrew dengan pandangan mata yang menilik Jordan dan Freya.
"Aku juga berharap demikian." Jordan menatap Andrew sambil tersenyum kaku.
"Ndrew, kau tidak memikirkan perasaanku. Aku belum ada pasangan," sahut Alex dengan cepat.
"Alasan mundur bukan hanya pasangan dan pernikahan Lex, kau jangan salah paham!" jawab Andrew.
"Buktinya kau dan Jordan mundur karena dua hal itu," sahut Alex dengan cepat.
"Hanya kebetulan." Kali ini Jordan yang menjawab, lengkap dengan tatapan tajamnya.
"Kalau begitu aku mundurnya juga menunggu kebetulan," ujar Alex dengan santainya.
"Tidak usah mundur Lex, aku juga tidak mundur kok," sela Freya tanpa rasa bersalah.
"Baby, apa maksudmu?" tanya Jordan dengan cepat.
"Mundur atau tidak, itu bukan masalah. Asalkan aku tetap bersamamu, benar kan?" goda Freya.
"Sebagai lelaki yang bertanggung jawab atas hidupmu, aku ingin membawamu dalam kebaikan. Dengan cinta, aku pasti menyingkirkan ambisi dalam dirimu," ujar Jordan dengan serius.
"Aku merasa geli, dulu kau yang berusaha keras menanamkan ambisi itu. Dan sekarang, kau juga yang berniat menghapusnya," ucap Freya.
__ADS_1
"Hidup penuh perubahan Freya, tidak ada yang abadi di dunia ini. Seperti siang dan malam, begitu halnya dengan sikap dan hati, keduanya mudah berbolak-balik. Namun semua hal telah ditulis dalam garis takdirnya masing-masing. Mungkin ini alasannya, kenapa malam itu aku yang menemukanmu. Karena takdir kita, berada dalam satu titik," terang Jordan.
"Dan aku berharap perasaan ini juga cepat berubah. Logikaku tak lagi menginginkan Lyana, namun hatiku masih saja menyimpan nama itu," sambung Jordan dalam hatinya.
"Sejak kapan kamu sebijak itu, mana sisi gelapmu?" goda Andrew.
"Jangan salah, kau juga berubah Ndrew. Kau meninggalkan sisi gelap karena cinta," timpal Alex.
"Sudah-sudah, sekarang cepat letakkan tas kalian! Aku tunggu di taman belakang." Freya melenggang pergi meninggalkan ketiga rekannya.
Jordan, Alex, dan Andrew, mereka pergi ke kamar masing-masing. Meletakkan tas kerja, dan mengganti baju dengan pakaian santai.
Jordan turun lebih dulu, ia penasaran dengan kejutan yang Freya siapkan. Terkahir kali ia merayakan ulang tahun, ketika Lyana masih berada di sampingnya.
Jordan tersenyum sembari melangkah menghampiri Freya. Wanita berparas anggun itu sedang menyalakan lilin-lilin kecil di atas meja. Lampu hias berpendar berwarna-warni, memberikan warna temaram pada jernihnya air kolam.
"Kau yang menyiapkan ini, Baby?" tanya Jordan kala ia sudah berdiri di hadapan Freya. Mata birunya menatap kue ulang tahun berbentuk hati yang cukup besar.
"Tidak sendiri, ada beberapa orang yang membantuku. Dan untuk kuenya, itu juga bukan buatanku," jawab Freya dengan senyuman lebar.
"Tidak masalah, yang penting niatnya. Terima kasih Baby." Jordan meraih pinggang Freya, dan mengecup keningnya sekilas.
"Kamu niat nyindir mereka, atau nyindir aku, Ndrew?" ujar Alex.
"Sekali tepuk dua lalat mati, itu yang kuharapkan." Andrew tertawa lepas setelah melontarkan jawaban.
"Jangan pada ribut, ayo sini!" teriak Freya.
"Sulit dipercaya kau bisa seromantis ini, Fre." Alex menilik setiap hal yang ada di taman. Mulai dari lampu hias, rangkaian bunga, hingga lilin-lilin kecil yang menyala.
"Masih tidak lupa 'kan bagaimana cara pegang pistol?" goda Andrew.
"Cukup mampu jika hanya menembak keningmu, Ndrew," jawab Freya dengan cepat.
"Wihh sadis," ujar Andrew.
"Diam Ndrew!" kata Jordan dengan tegas.
"Hmm tidak heran sih, sama-sama mafia. Ngomong-ngomong nanti kalau bertengkar apa tembak-tembakan gitu ya. Aduh harus punya nyawa cadangan tuh," ujar Andrew dengan santainya.
__ADS_1
Lantas ia duduk di kursi, di sebelah Alex.
"Kamu ngomong lagi, aku benar-benar marah Ndrew," ucap Freya dengan cepat. Namun sayang, ucapannya hanya ditanggapi dengan tawa.
"Jordan tunggu!" kata Freya ketika melihat Jordan hendak duduk.
"Ada apa?" tanya Jordan.
"Tetaplah berdiri, dan tiup lilinnya!" Freya menyalakan lilin yang berada di atas kue.
"Aku bukan anak kecil, Baby. Masa aku harus tiup lilin?"
"Tiup saja, katamu kebahagiaanku adalah prioritasmu," canda Freya.
"Ya ya baiklah." Jordan tersenyum sekilas, kemudian meniup lilin kecil yang baru saja Freya nyalakan.
Alex dan Andrew menatapnya dengan geli. Dua rekan yang terkenal sadis, kini menjalin cinta bak anak remaja. Pemandangan yang sangat langka. Seorang Jordan yang terkenal dingin, dan tak punya hati, kini luluh dengan wanita dan seolah menjadi budak cinta.
Sedangkan Freya, dia terkenal dengan sebutan Iblis Betina. Entah berapa banyak nyawa yang melayang di tangannya. Namun malam ini, ia menjelma bak dewi yang teramat anggun. Sikapnya begitu manis, seolah dia adalah wanita berkepribadian sempurna.
Usai menyantap kue dan hidangan lain yang tersedia di sana, Andrew dan Alex masuk ke rumah. Mereka membawa beberapa botol vodka yang masih tersisa. Sedangkan Jordan dan Freya, mereka duduk berdua di tepi kolam. Separuh kakinya direndam dalam dinginnya air. Sedangkan jemarinya saling bertautan, menyalurkan rasa hangat dalam diri masing-masing.
"Jordan!" panggil Freya.
"Ada apa, hemm?"
"Sebenarnya pesta tadi bukan hadiah, karena aku punya sesuatu yang lebih berharga dari itu." Freya menoleh, dan menatap wajah Jordan dalam keremangan.
"Oh ya, apa itu?" tanya Jordan. Gerakan bibirnya tampak begitu sexi di mata Freya.
"Perasaan. Satu bulan menjalin hubungan denganmu, kini aku sudah menemukan jawaban. Yang ada di dalam sini memanglah cinta, Jordan. Sekarang aku siap menikah denganmu, dan menghabiskan sisa umurku bersamamu. Jordan, aku adalah milikmu. Dan begitu pula sebaliknya, kau adalah milikku. Kita berdua saling memiliki, aku siap meninggalkan dunia mafia, jika memang itu yang kamu kehendaki," ungkap Freya. Ia mengakui perasaannya pada Jordan.
Jordan berusaha tersenyum, meskipun hatinya diliputi rasa resah dan gelisah. Jika dulu ia merasa bersalah atas kematian Calvin, dan berusaha membuatnya bahagia dengan cinta, yang ia yakini suatu saat akan datang. Namun kini, rasa bersalah itu semakin besar. Setelah tahu jika hati tak bisa dipaksakan. Kehadiran Freya, belum mampu menggantikan posisi Lyana.
"Kenapa secepat itu kau mencintaiku Freya, sementara aku saja belum bisa mengubah perasaanku. Lyana, entah wanita apa dia. Kenapa sulit sekali keluar dari belenggu cintanya," batin Jordan.
"Jordan, kenapa kamu diam? Kamu tidak suka mendengar pengakuanku?" tanya Freya. Beberapa detik lamanya, ia menatap Jordan terpaku. Pandangan matanya datar, seakan memikirkan sesuatu yang teramat berat.
Bersambung...
__ADS_1