Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Masa Lalu Calvin


__ADS_3

Calvin mendekap erat tubuh Freya. Menghirup aroma parfum yang dipakainya, menikmati hangat napas yang menyembur di ceruk lehernya.


Setelah cukup lama larut dalam pelukan mesra, Calvin mencium kening Freya, lantas menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


"Ayo duduk," bisik Calvin tepat di telinga Freya.


Seakan ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya. Freya sedikit berjingkat saat bibir Calvin menyentuh daun telinganya. Freya mencengkeram lengan Calvin dengan erat, berusaha menghalau rasa panas yang kian menjalar di sekujur tubuhnya.


"Kau baik-baik saja, Baby?" tanya Calvin sembari menangkup dagu Freya, dan memaksa wanita itu untuk mendongak.


"Aku, aku tidak apa-apa," jawab Freya dengan gugup.


"Aku cukup tahu apa yang kau rasakan," bisik Calvin sambil menunduk, dan mengikis jarak di antara keduanya.


Freya memejamkan matanya, kala bibir keduanya mulai bersentuhan. Ia juga mengalungkan tangannya di leher Calvin, guna membalas rengkuhannya yang semakin erat.


Setelah beberapa menit berlalu, keduanya nyaris kehabisan napas. Calvin melepaskan ciumannya, ia mengusap ujung bibir Freya dengan jemarinya. Lelaki itu tersenyum, begitu halnya dengan Freya. Keduanya larut dalam tatapan mata yang begitu dalam, mereka saling menyiratkan perasaan tulus lewat netra.


"Ayo duduk," ajak Calvin sambil menggenggam jemari Freya, dan membimbingnya melangkah menuju sofa.


Jantung Freya masih berdetak cepat, ia masih tak percaya bisa memiliki cinta yang begitu indah. Sebagai seorang mafia, mendapatkan hal ini, rasanya seperti mimpi.


Calvin dan Freya duduk bersebelahan. Calvin merangkul tubuh Freya, dan menyandarkan kepalanya di bahu miliknya. Sebelah tangannya, masih menggenggam jemari Freya dengan erat.


"Dulu aku orang jahat Freya, aku pernah bekerja untuk mafia." Calvin memulai ceritanya.


"Mafia." Gumam Freya dengan pelan.


"Kau pernah berurusan dengan mafia, Vin. Tapi kenapa aku tidak mendapatkan informasi ini dalam identitasmu, mafia mana yang menjadi atasanmu." Batin Freya dalam hatinya.


"Iya, mencelakai orang, mengacaukan bisnis, dan bahkan juga membunuh. Semua itu pernah kulakukan Freya. Tapi sekarang, sejak aku yakin akan perasaanku, aku mundur. Aku tidak mau lagi berurusan dengan mafia. Mungkin itu berdampak buruk pada bisnisku sendiri, tapi aku rela. Aku ingin hidup baik-baik bersama kamu, aku ingin menghabiskan waktuku hanya bersama kamu. Aku tidak ingin kamu celaka, Freya!" ucap Calvin dengan panjang lebar, sembari menatap Freya lekat-lekat.

__ADS_1


"Maafkan aku Freya, mungkin ucapanku tidak sepenuhnya jujur. Tapi aku juga tidak bohong, aku memang ingin mundur. Aku akan meninggalkan dunia mafia, demi kamu. Aku akan mengakhiri perseteruanku dengan Jordan, aku akan menjalani kehidupan normal. Tanpa dendam, dan tanpa ambisi," batin Calvin sambil mengulas senyuman lebar.


Saat ini, Calvin merasa kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Setelah sekian lama hidup dalam belenggu dendam. Luka yang Shally torehkan, membekas cukup dalam. Hingga suluh cinta padam seketika.


Calvin hidup berselimut dendam dan amarah. Ia sangat membenci Jordan, lelaki itu yang membuat Shally berpaling darinya. Lantas ia terjerumus dalam dunia gelap, hanya demi menghancurkan Jordan.


Namun, Jordan adalah lelaki yang sangat tangguh. Segala cara yang ia lakukan, mampu ditepis dengan begitu mudahnya. Hingga suatu ketika, masa itu tiba.


Di kala hati telah diliputi rasa benci dan emosi. Calvin tak bisa lagi berpikir dengan logikanya. Ia teramat mencintai Shally, namun disisi lain ia juga sangat membencinya. Pengkhianatan yang Shally lakukan, benar-benar tak bisa dimaafkan. Akhirnya Calvin memilih jalan pintas, membunuh Shally demi kepuasan pribadi.


Dengan demikian, ia tak perlu lagi merasa cemburu, karena tidak ada seorang pun yang memiliki Shally. Dan kematian Shally, membuat Jordan terpuruk dalam kehancuran. Calvin merasa menang, ia sangat puas melihat Jordan tertatih dalam kedukaan. Saat itu juga, nama Calvin melambung tinggi. Sedangkan kekuasaan Jordan, perlahan mulai tumbang.


Ambisi, terlalu mendominasi akal dan hatinya. Kendati rivalnya sudah hancur, namun Calvin masih terus bergelut dalam dunia mafia. Ia melebarkan sayapnya, demi memuaskan dahaga akan kekuasaan.


Bertahun-tahun Calvin bertahan hidup dalam jeratan ambisi. Hingga ia tak lagi mengenali makna hidup yang sejati. Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan Freya. Seorang wanita yang mampu mengetuk pintu hatinya. Cahaya cinta yang sempat padam, kembali berpendar berkat kehadirannya.


Karena Freya dan cintanya, lambat laun Calvin bisa menerima kenyataan di masa lalu. Perlahan pula ia mampu mengikis dendamnya pada Jordan. Ia membenci Jordan karena Shally, dan sekarang ia telah menemukan penggantinya. Sudah tak ada lagi alasan baginya untuk membenci Jordan.


Saat itu Freya menatapnya dengan lekat. Namun dia hanya diam, tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.


"Itu sebabnya aku tidak mengatakan, jika sebenarnya aku lah mafianya. Aku takut kamu pergi Freya, maafkan aku yang egois, tapi aku benar-benar mencintaimu, aku benar-benar ingin hidup bersamamu." Batin Calvin dalam hatinya.


"Aku, aku menerimu Vin. Hanya saja, aku, aku sedikit kaget," jawab Freya dengan terbata.


Freya tak menyangka jika Calvin punya sisi lain yang tak jauh beda darinya. Dan lagi, dia rela meninggalkan dunianya, demi dirinya.


Kini Freya mulai mengerti, kenapa bisnis Calvin kacau. Ini pasti ulah mafia yang pernah diikutinya. Calvin berkorban sebesar itu demi dirinya. Pantaskah ia mendapatkan semua ini? Sedangkan dirinya saja tak bisa jujur tentang identitasnya.


"Aku tahu ini sangat mengejutkan, maafkan aku yang menyembunyikannya terlalu lama," kata Calvin sambil mengeratkan rangkulannya.


"Vin!" panggil Freya sambil mendongak, dan menatap wajah Calvin.

__ADS_1


"Hmmm."


"Kalau boleh tahu, siapa mafia yang kau ikuti. Apakah salah satu dari lelaki yang kita temui di kelab?" tanya Freya. Sungguh ia sangat penasaran, kepada siapa Calvin pernah bekerja.


"Seorang mafia misterius. Dia menyebut dirinya Mr.X." Jawab Calvin dengan tegas.


Freya tersentak kaget, sontak ia langsung menegakkan duduknya. Bahkan rangkulan Calvin lepas begitu saja, karena gerakannya yang terlalu cepat.


"Freya, ada apa?"


"Kau, kau pernah bekerja untuk Mr.X?" tanya Freya dengan jantung yang berdetak semakin cepat, seakan meloncat dari tempatnya.


"Iya. Kenapa kau kaget, kau tahu siapa Mr.X?" Calvin balik bertanya.


"Tidak. Aku hanya pernah mendengar namanya. Kata orang-orang dia sangat kuat, dan juga berbahaya. Vin, jika kau pernah bekerja dengannya, itu artinya kau tahu siapa dia. Bukan apa-apa, hanya saja kalau aku tahu siapa dia, aku bisa lebih waspada. Jujur ya, aku sangat takut padanya," kata Freya sambil menunduk.


"Sekarang semuanya masuk akal, kenapa hubungan Emerald dan Diamond sedikit aneh. Juga hubungan Calvin dan Julian. Ternyata Calvin pernah berada di pihak Mr.X. Ahh untung saja dia sudah mundur. Jika demikian, orang yang mengacaukan bisnisnya Calvin, itu pasti Mr.X." Batin Freya dalam hatinya.


"Berurusan dengan Mr.X bukanlah hal yang sederhana, sekarang Calvin berada dalam bahaya. Tapi kau tenang saja Vin, aku pasti menjagamu. Aku akan membantumu balas dendam, Mr.X akan menerima akibat dari perbuatannya. Cukup katakan siapa dia, dan aku akan mencabut nyawanya. Setelah Mr.X tiada, kau akan aman, dan tanggungjawabku pada Jordan juga sudah terlaksanakan. Kita bisa hidup bersama, menjalin cinta dalam kehidupan yang normal. Aku pula akan melupakan dendamku pada Ibu." Sambung Freya masih dalam hatinya.


"Kau tidak perlu takut Freya, ada aku di sampingmu. Mr.X tidak akan berani mencelakaimu," ucap Calvin sambil mengusap-usap rambut Freya.


"Bagaimana mungkin dia mencelakaimu, jika dia saja sangat mencintaimu. Maafkan aku yang pernah membuatmu takut, Baby," batin Calvin sambil tersenyum manis.


"Kamu akan menjagaku, tapi aku yang akan membunuhnya tanpa sepengetahuan kamu. Semoga kamu menerima diriku yang seorang mafia. Seperti aku yang menerima masa lalumu." Batin Freya.


"Tapi tidak ada salahnya kan Vin, kalau kamu memberitahuku siapa sebenarnya dia," kata Freya.


"Kamu benar-benar ingin tahu?" tanya Calvin.


"Iya."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2