Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Untuk Freya Ollivierra.


Aku tidak tahu di mana keberadaanmu saat ini, tapi yang jelas aku selalu berdoa agar kau baik-baik saja. Aku berharap, suatu saat nanti, Jordan berhasil menemukanmu dan memberikan tulisan ini.


Pertemuan kita di pesta adalah pertemuan terakhir, karena setelah ini aku akan menghadap Sang Ilahi. Aku akan mendonorkan jantungku untuk Jordan. Dia adalah pahlawan dalam hidupku, tanpanya mungkin aku sudah tiada sejak lama.


Dan lagi, aku ingin kau bahagia. Meskipun Jordan belum bisa mencintaimu, tapi dia sangat menyayangimu. Dia ingin membahagiakan kamu. Freya, hadirmu memberikan warna lain dalam hidupku. Aku senang pernah mengenalmu, dan mencintaimu. Aku memang tidak bisa memenangkan hatimu, tapi aku tidak pernah menyesali perasaan ini. Dengan mendonorkan jantungku pada Jordan, satu organ tubuhku akan selalu menemanimu. Aku bahagia. Dan aku juga berharap kau bahagia bersama Jordan.


Alex.


Semakin erat Freya mencengkeram lembaran kertas, hatinya sangat sakit mendapati kenyataan tentang Alex. Tak pernah ia bayangkan, jika lelaki itu menaruh rasa padanya. Dan tak pernah ia duga, lelaki itu akan mengorbankan nyawa demi dirinya.


"Kenapa lelaki yang mencintaiku selalu berakhir tragis. Jonathan, Marcel, Calvin, dan sekarang Alex. Sekejam itukah diriku," ratap Freya dalam hati.


Freya memejamkan mata, menghalau rasa perih dan sakit yang mengiris-iris sanubari. Penyesalan yang tiada guna, mengubur dirinya dalam kubang nestapa. Kenangan masa lalu kembali melintas dalam ingatan, ia merindukan kehidupannya sebagai manusia normal.


"Maafkan aku Alex, maafkan aku," bisik Freya. Ia mendekap erat lembaran putih yang penuh dengan coretan tinta. Lelaki yang senantiasa ada untuknya, kini telah tiada karena dirinya.


"Kenapa kamu melakukan semua ini, Lex?" Freya menunduk pilu, hatinya benar-benar terpukul menyadari fakta pahit ini.


"Berhenti menangis! Air matamu tidak bisa mengembalikan Alex! Percuma kau terus mengucapkan kata maaf, Alex sudah tiada, dan dia tidak akan pernah kembali bersama kita!" hardik Jordan dengan tatapan tajam.


"Maafkan aku," lagi-lagi Freya hanya mengucapkan kata maaf.


"Diam! Kata maafmu sama sekali tidak berguna! Kau harus membayar perbuatanmu, Freya. Kau sudah membunuh orang yang kusayangi, ke depannya aku akan membuatmu hidup dalam kesengsaraaan." Jordan berjongkok di depan Freya, dan mengucapkan kalimat itu tepat di depan wajahnya.


"Jordan, aku tidak tahu jika dia menyimpan rasa untukku. Dan ... aku juga tidak mengira, dia akan melakukan semua ini. Aku benar-benar tidak sengaja, Jordan. Aku menyesal, aku tidak ingin kehilangan Alex." Freya menjawab sambil sesenggukan.


"Dan kamu lebih berharap aku yang mati, iya!" bentak Jordan.


"Jordan, aku___"


"Seharusnya malam itu aku tidak menolongmu, seharusnya kubiarkan saja kau mati di pinggir jalan. Aku menyesal telah melibatkan kamu dalam hidupku, Freya!" pungkas Jordan sebelum Freya sempat meneruskan kalimatnya.

__ADS_1


Freya tak menjawab, hanya air mata yang terus berderai semakin deras.


"Ikut aku." Jordan menarik tangan Freya dengan kasar. Memaksa wanita itu berdiri dan mengikuti langkahnya.


"Lepas Jordan!" teriak Freya. Ia berusaha menepis tangan Jordan yang mencengkeram lengannya.


"Ikut aku, dan pertanggung jawabkan perbuatanmu!" geram Jordan tanpa menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan cepat, sambil tetap menarik lengan Freya.


Freya mengusap sisa-sisa air mata, ia tak ingin karyawan melihatnya menangis. Dengan hati yang masih bergejolak, ia mengikuti langkah Jordan yang membawanya entah ke mana.


***


Jordan menghentikan mobilnya di depan rumah megah berlantai tiga, lantas ia menarik Freya keluar, setelah satpam membuka pintu gerbang.


"Parkirkan dengan benar!" perintah Jordan pada satpam.


Dengan air mata yang masih berderai, Freya mengikuti Jordan memasuki bangunan kokoh itu. Kakinya terus terayun, mengimbangi langkah lelaki di hadapannya.


"Mulai saat ini, kamu tidak akan memiliki kebebasan. Hidupmu, ada dalam genggamanku!" geram Jordan dengan napas yang memburu.


Freya tak menjawab, dia hanya melirik Jordan sekilas. Sebenarnya, melawan Jordan bukanlah hal sulit, namun karena kenyataan pahit yang memukul mental, dia tak punya daya untuk melakukan semuanya.


"Diam di sini, dan jangan pernah berpikir untuk kabur!" geram Jordan. Lantas ia pergi meninggalkan Freya sendiri, tak lupa ia menutup pintu dan menguncinya dari luar.


Setelah Jordan menghilang dari pandangan, lagi-lagi Freya menitikkan air mata. Teman yang sudah dianggap saudara, ternyata menyimpan perasaan untuknya. Dan kini, secara tidak langsung Freya jualah yang merampas nyawanya.


"Kenapa aku bisa sekejam ini, Clavin, Alex, mereka mati demi aku. Sesungguhnya aku sangat tidak pantas mendapatkan semua itu," ucap Freya di sela-sela isakan.


Freya menjatuhkan tubuhnya di lantai. Menyatu dengan dinginnya marmer yang tak sedingin hidupnya saat ini. Setiap kali ia mendapatkan secercah cahaya, selalu saja kenyataan membuatnya padam, sebelum sempat berpendar.


Freya memeluk lututnya, dan membenamkan wajah di sana. Ia tumpahkan tangisnya dalam kesendirian. Mengubah masa lalu, itu adalah hal yang mustahil. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk meringankan beban, hanyalah menghabiskan sisa-sisa air mata.


Cukup lama Freya tenggelam dalam lara, hingga ia tak sadar dengan detik waktu yang terus berputar. Entah sudah berapa lama dia berada dalam ruangan itu, tiba-tiba saja bibi pelayan membuka pintu, dan mengantarkan makanan untuknya.

__ADS_1


"Non, ini makan malamnya sudah saya siapkan." Bibi pelayan melangkah masuk, dan meletakkan nampan di atas meja.


"Saya tidak lapar," jawab Freya tanpa menoleh.


"Tapi ini perintah dari Tuan Jordan, Non. Jika Non Freya tidak makan, nanti saya yang dimarahi."


Freya menghela napas panjang, lalu beranjak dari duduknya. Dengan mata yang masih sembap, Freya menatap bibi lekat-lekat.


"Baiklah, saya akan makan. Tapi ... Bibi juga harus membantu saya," ucap Freya.


"Apa yang bisa saya bantu, Non?"


Freya tersenyum tipis, lantas ia menyondongkan tubuhnya, dan berbisik di telinga pelayan. Wanita paruh baya itu terkesiap, sedikit kaget mendengar permintaan Freya.


"Non Freya___"


"Jangan membuatku menunggu, Bi," pungkas Freya.


"Baik Non, baik ... akan saya ambilkan," jawab Bibi pelayan.


***


Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 malam, Jordan baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang berkaitan dengan bisnis di Rusia.


Pria pemilik mata biru itu meyulut sebatang rokok, dan menyesapnya kuat-kuat. Ia berharap bebannya sedikit berkurang, terbawa asap yang ia kepulkan.


Kemudian Jordan beranjak dari duduknya, kaki kekar membawanya menuju ruangan dimana Freya berada. Dalam hati, Jordan menerka-nerka, seperti apa kira-kira hubungan mereka setelah ini. Wanita yang dulu pernah menjadi rekan, juga pernah menjadi kekasih. Kini Jordan berniat menjadikannya sebagai mainan. Namun dalam sanubari, ia merasa ragu. Benarkah ia sanggup melakukan itu?


Beberapa saat kemudian, Jordan tiba di ambang pintu. Tanpa menunggu lama ia memutar kunci, dan bersiap masuk ke ruangan.


Akan tetapi, tubuh Jordan mematung seketika. Kakinya seakan melekat di lantai, dan tak bisa digerakkan. Bahkan rokok yang terselip di antara jemari, jatuh tanpa ia sadari. Apa yang dilakukan Freya membuat sekujur raga beku tanpa daya. Dunia Jordan seakan berhenti saat itu juga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2