Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Membunuh Marcel


__ADS_3

Tubuh Freya menegang, hancur sudah riwayatnya. Bagaimana caranya dia melawan dengan kaki dan tangan yang terikat. Keringat dingin mulai mengucur, membasahi tubuhnya. Ia memutar otaknya dengan keras, mencari cara untuk menghadapi lelaki yang bersiap membunuhnya.


"Ucapkan kata-kata terakhirmu Freya, sebelum peluru ini melubangi jantungmu!" kata Marcel sambil memicingkan matanya.


"Kau tidak akan bisa membunuhku!" bentak Freya dengan tatapan yang tajam.


Freya mencoba mengulur waktu, sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya. Namun Freya sedikit kesulitan, karena Marcel mengikatnya dengan erat.


"Kau sudah di ambang kematian, jangan sombong Freya!" teriak Marcel dengan dada yang terlihat naik turun. Tampak jelas jika ia sangat emosi.


"Jika aku sudah di ambang kematian, kenapa kau harus marah. Seharusnya kau bahagia, kan? Tapi kenapa kau sangat emosi, apa itu artinya___" Freya sengaja menggantungkan kalimatnya, seraya mengukir senyuman remeh di bibirnya.


"Apa maksudmu?" teriak Marcel dengan berapi-api. Jemari telunjuknya sudah siap menarik pelatuk pistol.


"Apa itu artinya kau tidak yakin dengan kemampuanmu, hemm? Aku memang cukup kuat, wajar jika kau merasa ragu. Membunuhku tentu saja bukan hal yang mudah," ucap Freya dengan santainya.


"Kesombonganmu yang memercepat kematianmu, Freya!" bentak Marcel sambil menarik pelatuk pistol yang digenggamnya.


Bunyi ledakan terdengar menggema memenuhi ruangan. Bersamaan dengan itu, Freya berhasil melepaskan ikatan di tangannya. Dengan cepat ia beringsut menghindari serangan Marcel, namun sayang ia masih sedikit terlambat. Peluru panas itu kini bersarang di bahu kirinya.


Freya mengabaikan rasa sakit di bahunya, ia bergegas melepas ikatan di kakinya. Sedangkan Marcel, ia tak tinggal diam. Ia kembali menarik pelatuk senjatanya, dan menyerang Freya dengan membabi buta.


Setelah ikatan di kakinya lepas, Freya berdiri sambil tertawa menyeringai. Ia menatap Marcel dengan tajam, tanpa peduli dengan darah yang mulai merembas dari bahunya.


"Tembak saja sesukamu, tapi kau tidak akan bisa melukaiku untuk yang kedua kalinya!" kata Freya sambil melangkah mendekati hiasan bunga yang ada di sudut ruangan.


Marcel menggeram kesal, ia membuang senjata milik Freya dengan kasar. Ia tahu senjata itu sudah kosong, Freya sengaja mengisinya dengan satu peluru.


Lantas Marcel mengambil senjata miliknya sendiri, yang ia selipkan di balik jas hitamnya. Marcel melangkah mendekati Freya, sambil menggenggam senjatanya dengan erat.


"Kau pikir aku tidak bisa membunuhmu? Aku tidak akan menjatuhkan harga diriku, dengan dikalahkan oleh wanita sepertimu. Detik ini juga, kau akan binasa Freya!" ujar Marcel dengan tegas. Aura dingin terpancar jelas dari wajahnya.


"Coba saja jika kau bisa," jawab Freya dengan santainya. Ia berusaha meraih sesuatu dengan tangan kanannya.


Namun belum sempat Freya berhasil meraih benda itu, Marcel sudah lebih dulu menyerangnya. Marcel menendang kaki Freya, hingga wanita itu tersungkur di lantai.


Freya meringis sakit, ia merasakan tenaganya semakin berkurang. Rupanya racun mulai menyebar dalam darahnya. Freya berusaha keras untuk bangkit, ia harus bisa mengambil penawar di dalam kamarnya. Ia tidak boleh mati sia-sia.


"Aku harus bisa, demi Jordan, demi Calvin. Aku tidak boleh mati, aku harus bertahan, aku harus melawan racun ini." Batin Freya dalam hatinya. Ia meringis, menahan sakit dan sesak yang menghimpit dalam dadanya. Dan ia gagal untuk bangkit.

__ADS_1


Marcel mendekati Freya, dan membalikkan tubuhnya. Ia meraih dagu Freya, dan memaksa wanita itu untuk mendongak.


"Bagaimana rasa racunmu, sangat nikmat, bukan?" ejek Marcel sambil tertawa. Ia tahu Freya sedang kesakitan.


"Sayang sekali, wajah cantikmu harus ternodai keringat yang begitu banyak," ucap Marcel sambil mengusap kening Freya dengan ujung pistolnya.


"Sedikit saja aku menarik pelatuknya, peluru ini akan menembus otakmu. Tapi tidak, aku lebih suka melihatmu yang tersiksa seperti ini. Kau mati dengan perlahan, kau mati dengan senjatamu sendiri. Sangat menarik!" sambung Marcel sambil tertawa.


Freya memejamkan matanya, mencoba menepis rasa sakit yang terus mendera. Semakin lama, tenaganya semakin terkuras habis. Freya hanya bisa diam, sambil berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk melancarkan serangan terakhir.


"Hanya ini harapanku, semoga saja tidak gagal," batin Freya sembari membuka mata. Ia melirik rangkaian bunga yang berada tepat di sebelahnya.


"Ternyata kau masih sanggup membuka matamu. Hmmm, rupanya aku memang harus bertindak! Aku akan segera mengantarmu ke alam baka, Freya!" kata Marcel sambil mengarahkan senjatanya ke dada Freya.


Namun belum sempat Marcel menarik pelatuknya, Freya menendang kakinya dengan cukup keras. Marcel sedikit tersentak, dan Freya memanfaatkan kesempatan ini untuk memukul senjata yang sedang digenggamnya.


Pistol Marcel terpental jauh. Dan ketika perhatian lelaki itu teralihkan pada pistolnya, Freya meraih pisau yang disembunyikan di dalam rangkaian bunga. Dengan cepat Freya menghujam punggung Marcel dengan pisau itu.


Marcel mengerang sakit, ia berusaha meraih pistolnya sambil menginjak kaki Freya. Menahan wanita itu agar tidak pergi menjauh. Freya yang sudah kehilangan banyak tenaga, mengalami kesulitan saat melawan Marcel.


Marcel berhasil meraih pistolnya. Lantas ia mencengkeram lengan Freya yang masih terlentang di bawahnya. Tanpa banyak kata, Marcel mengarahkan pistolnya, dan menarik pelatuknya.


Dengan sisa-sisa tenaganya, Freya menendang kaki Marcel, hingga lelaki itu jatuh tersungkur. Lantas Freya bangkit dengan susah payah. Kemudian ia kembali menghujamkan pisaunya di punggung Marcel, kali ini ia menancapkannya lebih dalam.


Marcel mengerang sakit, namun Freya tak peduli. Dengan langkah yang tertatih, ia berjalan menuju ke kamarnya.


Setelah tiba di sana, Freya mengambil botol kecil dari dalam laci. Ia meneguknya dengan cepat, lantas menyandarkan tubunya di tepi sofa.


Beberapa menit kemudian, rasa sakit dan sesak di dadanya semakin berkurang. Lalu Freya mengambil dress miliknya, menyobeknya, dan kemudian membalutkannya di bahu. Ia menutup lukanya, agar darahnya berhenti merembas.


Setelah rasa sakit kian terkikis, Freya beranjak dari duduknya. Tak lupa ia meraih pisau yang lebih besar. Lantas ia melangkah keluar kamar, dan kembali menemui Marcel.


Marcel sudah tak berdaya, darah bersimbah menggenangi tubuhnya. Freya berjalan mendekatinya, dan kemudian berjongkok di depannya.


"Heh, ternyata harga dirimu jatuh juga Marcel. Kau dikalahkan oleh seorang wanita!" kata Freya sambil tertawa menyeringai.


"Kau, berikan aku penawar itu!" ucap Marcel dengan napas yang terengah-engah.


"Menolong musuh bukanlah kebiasaanku, Marcel! Aku akan membunuhmu, dan membawa mayatmu ke hadapan Jordan!" kata Freya dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Jordan, apa kau orangnya Jordan?" tanya Marcel.


"Menurutmu?"


"Kupikir dia orangnya Mr.X, ternyata bukan." Batin Marcel dalam hatinya.


"Lalu kenapa kau membunuhku, aku tidak pernah mengusik Jordan!" jawab Marcel sambil memegangi dadanya yang kian sakit.


"Benarkah tidak pernah? Kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu, Mr.X?" ejek Freya.


"Mr.X, aku bukan Mr.X!" bentak Marcel.


"Kau pikir aku percaya, tidak Marcel." Kata Freya sambil menggelangkan kepala.


"Kau salah besar menganggapku Mr.X. Kau akan menyesal telah membunuhku! Aku pernah mencintaimu, tapi apa balasanmu. Kau membunuhku karena kesalahan yang tidak pernah kulakukan. Aku bersumpah Freya, suatu saat nanti kamu akan merasakan hal yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Ingat baik-baik perkataanku!" ucap Marcel dengan terbata-bata.


"Apa maksudmu?" tanya Freya dengan pelan. Ia mulai ragu dengan identitas Marcel. Apakah dia bukan Mr.X?


"Mr.X adalah rekanmu sendiri, Freya!" bisik Marcel dengan pelan, nyaris tak terdengar.


Tubuh Freya seakan membeku seketika. Mendengar kata rekan, ia langsung teringat pada Andrew. Mungkinkah ini benar-benar dia?


Freya terlalu larut dalam pikirannya sendiri, hingga ia tak sadar jika Marcel sudah mengembuskan napas terakhirnya.


***


Sang surya mulai condong ke arah barat, sinarnya meredup menyisakan rasa hangat.


Freya sedang berada di dalam mobil milik Eddie, ia melajukannya menuju markas. Sesekali ia berdesis pelan, sambil memegangi luka di bahunya yang semakin sakit.


Sekitar satu jam perjalanan, Freya tiba di markas. Ia bergegas turun dan melangkah masuk menuju ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa di sana, dan Freya bermaksud menuju ruang pengobatan. Ia akan meminta David untuk mengeluarkan peluru yang masih bersarang di bahunya.


Namun tiba-tiba langkah Freya terhenti, sebelum ia menapaki anak tangga yang pertama. Ada sosok lelaki yang sedang turun dari lantai atas, sosok yang mampu membangkitkan emosinya.


"Andrew," batin Freya sambil mengepalkan tangan. Matanya memicing, dan menatap tajam ke arah Andrew.


"Freya!" panggil seseorang dari belakangnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2