Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Masih Gagal


__ADS_3

Siang dan malam silih berganti, hari demi hari terus berlalu menjadi minggu. Selama itu, Freya dan Jordan disibukkan dengan persiapan pernikahan. Rencana yang sangat mendadak, membuat mereka harus bekerja ekstra. Fitting gaun, hanya mereka selesaikan dalam waktu satu hari, dan begitu halnya dengan foto prewedding.


Dekor, jamuan, dan undangan, mereka serahkan kepada bawahan. Yana dan Reman yang bertanggung jawab mengurusi hal ini. Semua rekan dan kawan mereka undang, tak terkecuali juga Andrew.


Awalnya Andrew sangat kaget mendengar kabar ini. Pasalnya, kepergian Jordan ke Indonesia untuk mempertanggung jawabkan tindakan Freya atas kematian Alex. Namun diluar dugaan, lelaki itu justru terjatuh pada kubang cinta, yang selama ini tak pernah ia anggap.


Kendati kaget dan tak percaya, namun Andrew mendukung hubungan mereka. Meskipun ia sempat marah karena perbuatan Freya yang berlebihan, namun Freya tetaplah rekannya. Berkaca dari kehidupan Jordan, memang hanya Freya yang paling layak bersanding di sisinya.


Andrew dan Alice datang lebih awal, mereka tiba di Indonesia, dua hari sebelum Freya dan Jordan naik ke pelaminan. Mereka tak hanya berdua, namun bersama anak kembarnya yang kini berusia 3 tahun, Vander dan Sander.


Pagi ini, rumah Jordan sudah disulap sempurna. Rangkaian bunga yang berwarna-warni, menghiasi setiap sudut ruangan. Karpet merah sudah digelar, lengkap dengan meja kecil yang akan menjadi tempat ijab kabul.


Tak jauh dari sana, ada meja makan panjang yang ditata rapi beserta kursi-kursinya. Semua dibalut kain renda warna putih, dan dilengkapi dengan hiasan lilin dan vas bunga. Usai ijab, mereka akan makan bersama. Dalam acara kali ini, hanya rekan terdekat yang hadir. Selebihnya, akan datang di pesta resepsi yang dilangsungkan nanti malam.


Di dalam ruangan yang elegan, Freya duduk di kursi, di depan cermin. Ia pasrah dan menuruti arahan MUA yang merias wajahnya. Entah itu memejamkan mata, mendongak, atau diam tanpa kedip.


Gaun putih nan panjang, sudah melekat di tubuhnya. Tampak berkilau dengan hiasan batu permata yang bertabur di sepanjang gaun. Sedari tadi jantung Freya berdetak cepat. Dalam hitungan menit, dia akan menyandang status istri. Jordan, rasanya masih seperti mimpi bisa menikah dengan lelaki itu.


Freya menarik ujung bibirnya, ketika MUA menata kerudung di kepalanya. Sebentar lagi dia akan turun ke lantai bawah, dan duduk di depan penghulu bersama Jordan.


"Semoga semuanya berjalan lancar," batin Freya dengan hati yang kian berdebar.


"Sudah, Mbak, tinggal pakai high hells-nya aja," ucap MUA, menyadarkan lamunan Freya.


"Terima kasih." Freya tersenyum sambil meraih high hells yang disodorkan padanya.


Usai memakai high hells, Freya menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Wajah ayu menawan, molek bak boneka berjalan. Freya nyaris tak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajahnya tidak berlebihan, namun menambah kadar kecantikan hingga berkali lipat. Postur tubuhnya bersembunyi di balik gaun putih yang memanjang hingga menyentuh lantai. Kepalanya dihiasi kerudung putih dan mahkota kecil yang bertahtakan permata biru safir. Hari ini, Freya benar-benar menjelma bak seorang ratu.


"Apakah sudah selesai, Freya?" tanya Alice dari luar ruangan.

__ADS_1


"Sudah!" teriak Freya.


Alice membuka pintu ruangan, dan ia terperangah kala menatap wajah ayu Freya yang sangat memesona. Dahulu, ia sempat takut dengan wanita itu. Namun sekarang, perasaan itu perlahan terkikis. Freya adalah wanita yang cukup ramah dan pandai dalam berkawan.


"Kamu sangat cantik, Fre!" Alice berlari ke arah Freya, dan kemudian memeluknya dengan erat. "Jordan sangat beruntung bisa menikah denganmu," sambungnya.


"Aku tidak lebih cantik darimu, Alice," jawab Freya, tanpa melepaskan pelukannya.


"Kau suka merendah, padahal kau sangat bersinar di ketinggian." Alice berkata sambil melepaskan pelukannya.


"Aku serius," jawab Freya diiringi tawa renyah. "Ngomong-ngomong, di mana anak-anak?" tanyanya.


"Kamila sudah menunuggumu di bawah, kalau Sander dan Vander, mereka masih bersama Bibi di kamar," jawab Alice.


"Oh." Freya mengangguk sambil memeriksa penampilannya, takut jikalau ada yang salah.


"Freya!" panggil Alice.


"Kamila itu ... siapa? Kulihat, dia sangat akrab dengan Jordan?" tanya Alice, dengan hati-hati.


"Dia anakku." Freya tersenyum tipis.


"Aku yakin dia bukan anak kandungmu. Kau meninggalkan Rusia baru 5 tahun, dan dia ... kurasa umurnya lebih dari itu," ujar Alice.


"Aku tidak memaksamu untuk percaya, tapi dia benar-benar anakku," jawab Freya. Dia tersenyum, namun nada suaranya terdengar tegas.


Perihal Kamila, dia tidak ingin berbagi kejujuran dengan siapapun, termasuk Alice dan Andrew. Cukup dirinya dan Jordan saja yang tahu tentang identitas Kamila.


"Baiklah, aku mengerti." Alice membalas senyuman Freya. "Ayo turun!" sambungnya.

__ADS_1


"Iya." Freya mengangguk dan mulai melangkah keluar kamar. MUA yang tadi merias, kini membantu memegangi ujung gaunnya.


Di lantai bawah, tepatnya di ruang tengah. Jordan duduk di atas karpet merah, di depan penghulu. Keringatnya mulai bercucuran, akibat rasa gugup yang terus menyeruak dalam benaknya. Ijab kabul ternyata jauh lebih menegangkan daripada mengobrak-abrik markas musuh.


"Aku pasti bisa. Aku mencintai Freya, jadi aku harus berhasil mengikatnya," batin Jordan menyemangati dirinya sendiri.


"Tegang banget kamu, sudah gak sabar untuk olahraga bareng dia, ya," goda Andrew.


"Diam!" Jordan melotot tajam ke arah Andrew, namun yang ditatap hanya menanggapinya dengan tawa renyah.


"Ternyata ... seorang Jordan Vinales, hilang wibawa kalau berhadapan dengan penghulu," cibir Andrew, tanpa menghentikan tawanya.


"Diam, Ndrew!" geram Jordan.


Tak lama kemudian, Freya dan Alice tiba sana. Jordan menatap ke arah mereka, dan ia terpukau dengan penampilan Freya. Wanita itu luar biasa cantiknya, Jordan sampai kesulitan mengedipkan mata karena pesonanya.


"Sekarang halalkan dulu, Jordan. Nanti malam, baru kamu bebas memakannya," bisik Andrew tepat di telinga Jordan.


Jordan langsung membuang pandangan, ia sedikit kesal karena bisikan Andrew membuat imajinasinya mendadak liar.


Freya melangkah semakin mendekat, dan Jordan semakin gugup dibuatnya. Detak jantung Jordan kian tak beraturan, kala Freya sudah duduk tepat di sebelahnya.


Pak Penghulu mulai menyapa mereka, mengajak berbincang sebentar guna mengurangi rasa grogi. Freya sudah tak memiliki saudara ataupun kerabat dekat, sehingga dia menikah dengan wali hakim.


Setelah semuanya siap, penghulu mengajak para saksi membaca basmallah dan doa. Lantas beliau menjabat tangan Jordan, dan mulai melaksanakan ijab kabul.


Namun belum sempat mereka menyelesaikannya, tiba-tiba seorang wanita berteriak dan menyela.


"Tunggu!"

__ADS_1


Semua yang ada di sana langsung menatapnya, tak terkecuali Jordan dan Pak Penghulu. Mereka menilik wanita itu, dan meminta penjelasan dari apa yang telah dia lakukan. Akan tetapi, wanita itu tak mengucapkan sepatah kata. Ia justru berjalan cepat ke arah Jordan dan Freya.


Bersambung...


__ADS_2