
Dengan mata yang masih sayu, Freya beranjak dari tempat tidurnya. Ia membuka tirai jendelanya, dan membiarkan sinar mentari menyeruak kedalam kamarnya.
Kemudian Freya bergegas masuk ke kamar mandi, ia harus bersiap-siap untuk masuk kerja. Ahh jadi ingat masa lalu, saat ia masih di Indonesia, ia membantu Ayahnya bekerja. Kenapa pula takdir begitu cepat menjemput Ayahnya. Jadinya Freya harus terdampar di sini kan. Tapi tak apalah, ia jadi bertemu dengan cintanya. Tapi kesampaian tidak ya? Entahlah biar waktu saja yang menjawab.
Pukul 07.30 Freya sudah berangkat. Ia memilih jalan kaki, karena jarak kantornya tidaklah jauh. Sekaligus jalan-jalan, siapa tahu mendapatkan informasi, yang berhubungan dengan misinya.
Sekitar lima belas menit perjalanan, akhirnya Freya sampai juga di kantornya. Semua karyawan menundukkan kepala, dan bersikap sangat hormat padanya. Wow luar biasa. Bahkan di kantornya dulu saja, Freya tidak diperlakukan seperti ini.
Freya menatap mereka sekilas, kemudian ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Namun belum sempat ia membuka pintu, tiba-tiba seorang lelaki paruh baya datang menghampirinya.
"Selamat pagi Nona Freya." sapa lelaki itu.
"Pagi." jawab Freya singkat. Meskipun ia menyamar menjadi karyawan, namun ia tetaplah mafia. Ia harus menjaga kewibawaannya. Semua orang harus punya kesan takut padanya. Apa lagi bawahannya, Freya harus bisa membuat mereka bergidik ngeri, hanya dengan pandangan mata saja.
"Saya Eddie, saya adalah orang yang diperintahkan Tuan Jordan, untuk membantu pekerjaan Anda disini. Jika perlu sesuatu silakan..." kata Eddie sambil menunduk.
"Sekarang aku belum membutuhkanmu." ucap Freya dengan cepat. Bahkan ia tidak memberikan waktu pada Eddie, untuk meneruskan kalimatnya.
"Baik Nona, kalau begitu saya permisi undur diri." jawab Eddie.
"Ya." ucap Freya dengan cepat. Kemudian ia masuk kedalam ruangannya. Meninggalkan Eddie yang masih berdiri di tempatnya.
Freya duduk di kursi kerjanya, dan melihat jadwalnya hari ini. Ternyata ada pertemuan dengan perusahaan Emerald, salah satu perusahaan yang sudah cukup lama, menjalin kerjasama dengan perusahaan Diamond. Emerald bukanlah perusahaan besar, tingakatannya setara dengan perusahaan Diamond.
Kemudian Freya membaca beberapa berkas, ia harus meyiapkan bahan untuk pertemuannya nanti.
Tepat pukul 10.00 Freya keluar dari ruangannya, ia memesan taxi, dan pergi menuju salah satu restoran yang menjadi tempat pertemuannya dengan perusahaan Emerald.
Restoran itu tidak terlalu jauh dari kantornya, sehingga ia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai kesana. Freya turun dari taxi, dan melenggang masuk. Ia duduk di meja nomor lima. Ternyata orang dari Emerald belum datang, terpaksa ia harus menunggu.
Freya memesan minuman terlebih dahulu, rasanya sangat membosankan, jika dia menunggu dengan berdiam saja. Sepuluh menit sudah berlalu dari jadwal yang dijanjikan, dan Freya mulai kesal. Ia sangat benci dengan orang yang tidak bisa tepat waktu.
Freya sudah menghabiskan minumannya, namun orang yang ditunggunya belum juga datang. Freya melirik jam tangannya, sudah hampir setengah jam ia duduk disana, ahh benar-benar membuang waktu.
Ditengah kekesalannya, perut Freya terasa sakit, mau tidak mau, dia harus pergi ke toilet. Freya menitipkan pesan pada pelayan, jika nanti ada yang mencarinya, mohon untuk menunggunya sebentar.
Freya melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Namun baru saja ia mendekati pintunya, ada seorang pria yang menabraknya.
Freya sempat terhuyung, namun tidak sampai terjatuh. Pria itu menatapnya, dan Freya juga membalas tatapannya, mata hitam yang sangat tajam.
"Maaf." ucap pria itu sambil memasukkan sesuatu kedalam saku jaketnya. Freya meliriknya sekilas, sekali tatap saja ia bisa mengenali benda itu, pistol.
__ADS_1
Siapa pria ini?
Freya tersenyum, "Aku tidak apa-apa." jawab Freya.
"Jaga matamu. Jangan sembarangan memandangku!" bentak pria itu saat menyadari Freya memandang tangannya.
Freya menatap pria itu dengan tajam. Siapa dia? Berani sekali membentaknya. Ingin sekali Freya menghajarnya sampai tak berdaya, kalau perlu dikubur di dalam tanah detik itu juga. Tapi Freya ingat, ia kini sedang menyamar, ia tidak boleh sembarangan memperlihatkan kemampuannya.
"Maaf." ucap Freya sinis, sambil melangkah pergi.
Pria itu memandang Freya dengan heran, siapa wanita itu, berani sekali berkata sinis padanya. Jika tahu dengan siapa dia berbicara, pasti dia langsung meminta maaf, dan bertekuk lutut di hadapannya.
"Kau beruntung, karena aku sedang terburu-buru. Jika tidak, aku pastikan kau akan membayar kelancanganmu." ucap pria itu sambil pergi berlalu.
Lima menit kemudian, Freya keluar dari toilet. Ia bergegas kembali ke tempat duduknya.
"Jika sekarang dia belum juga datang. Aku akan pulang, tidak ada lagi kerjasama dengan Emerald." gerutu Freya dengan kesal.
Ia mempercepat langkahnya, dan ia melihat meja nomor lima masih kosong. Baiklah Freya akan pergi sekarang juga, tidak ada lagi kata menunggu, untuk seseorang yang tidak bisa menghargai waktu.
"Maaf saya terlambat." ucap seseorang yang tiba-tiba datang. Nafasnya terengah-engah, sepertinya habis berlari.
Freya menoleh, menatap lelaki yang berdiri di hadapannya.
Gambaran yang sangat sempurna.
Freya sedikit terpesona saat lelaki itu menatapnya sambil tersenyum.
Ahh benar-benar manis, batin Freya kala itu.
"Maafkan saya Nona, saya membuat Anda menunggu lama." ucap pria itu mengulangi kata maafnya, karena Freya masih diam tanpa kata.
"Iya tidak apa-apa, saya juga belum lama datang." jawab Freya dengan tersenyum, dan kembali duduk. Meski dalam hatinya sedikit kesal, ia tidak boleh memperlihatkannya, ia harus bisa mendalami perannya.
"Dimana Tuan Julian? Kenapa bukan beliau yang datang?" tanya pria itu.
"Pak Julian sedang keluar kota, beliau mempercayakan urusan ini pada saya. Saya adalah sekertaris barunya." jawab Freya sambil tersenyum ramah.
Pria itu mengangguk, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini kontrak kerjasamanya, silahkan Nona periksa terlebih dahulu." kata pria itu sambil menyodorkan sebuah berkas pada Freya.
__ADS_1
Freya menerimanya, dan membacanya. Isinya sesuai dengan yang ia harapkan.
"Saya setuju." kata Freya.
"Kalau begitu silakan ditanda tangani." jawab pria itu sambil menyodorkan penanya.
"Baik." jawab Freya sambil meraih penanya, dan menanda tangani surat kontraknya.
Pria itu menatap Freya sambil tersenyum.
"Boleh kita berkenalan?" kata pria itu.
Freya tersenyum, "tentu saja. Saya Freya." jawab Freya sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Calvin." ucap pria itu sambil menjabat tangan Freya.
"Senang bekerjasama dengan Anda." kata Freya.
"Terima kasih, kalau boleh tahu, sejak kapan Nona bekerja dengan Pak Julian?" tanya Calvin.
"Belum lama, sekitar satu bulan. Dulu saya bekerja di kantor milik temannya Pak Julian. Tapi karena sekertarisnya Pak Julian mengundurkan diri, jadi beliau meminta saya untuk bekerja dengannya." ucap Freya menjelaskan.
Calvin mengangguk, "Jadi sudah lama ya saling mengenal." gumam Calvin.
"Iya." jawab Freya singkat.
"Sebentar lagi sudah jam makan siang, bisakah kita makan dulu?" tanya Calvin sambil menatap Freya.
"Baiklah." jawab Freya.
Setelah selesai makan siang, mereka keluar bersama.
"Saya bawa mobil, bolehkah saya mengantarkan Anda?" tanya Calvin saat mereka sudah sampai diluar cafe.
"Saya bisa sendiri. Kantor saya tidak terlalu jauh dari sini." jawab Freya.
"Saya permisi dulu." sambung Freya sambil berlalu pergi.
Calvin menatap Freya yang berjalan menjauh. Bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Gadis yang menarik, kenapa dulu aku tidak pernah bertemu dengannya." gumam Calvin sambil naik kedalam mobilnya.
__ADS_1
Bersambung.......