Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Berhasil Menguak Informasi


__ADS_3

Sang surya kian beranjak, sinar jingganya yang memesona perlahan berubah keemasan. Mega-mega di sekitarnya pun berarak pergi, seolah enggan menutupi keperkasaannya.


"Pa, mataharinya ada dua!" teriak gadis kecil dengan tawa riangnya.


Dia adalah Kamila, bocah kecil yang sangat lugu. Ia tak tahu apa yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya.


Wanita paruh baya yang biasa dipanggil 'Nenek', perempuan muda yang biasa dipanggil 'Tante', mereka sudah tiada ditangan wanita yang sekarang ia panggil 'Mama'.


Kamila percaya dengan ucapan Freya, yang mengatakan bahwa dia-lah ibu kandungnya. Tak ada sedikit pun kecurigaan dalam dirinya.


Waktu itu Mama merantau, mencari uang untuk biaya masa depan, karena Ayah-mu sudah tiada. Mama menitipkanmu pada Bu Dewi dan Sherin. Tapi Mama terjebak, Sayang, Mama tidak bisa pulang. Itu sebabnya mereka mengatakan Mama sudah tiada, karena Mama tak pernah memberi kabar. Sekarang Mama kembali, Mama tidak akan meninggalkan kamu lagi. Kita akan hidup bersama, Sayang.


Penjelasan Freya, ketika Sherin baru saja mengembuskan napas terakhirnya.


"Mana, Sayang?" tanya Jordan pada keponakannya.


Mereka berdua sedang duduk bersama di tepi kolam. Sejak dua hari yang lalu, Kamila keluar dari rumah sakit. Namun, ia tidak pulang ke rumahnya, melainkan tinggal di rumah Jordan. Freya yang mengajaknya ke sana, ia mengenalkan Jordan sebagai calon ayahnya. Kamila sangat senang mendengar hal itu, karena selama ini, ia sangat merindukan sosok seorang ayah.


"Itu, Pa." Kamila menunjuk ke ujung kolam, tanpa menghentikan tawanya. Ia merasa bahagia karena berhasil menggoda Jordan.


Jordan mengikuti arahan Kamila, ia menatap pantulan matahari yang jatuh di air kolam. Jordan tersenyum, kendati ia tak punya kesempatan menatap ibu kandung dan kedua adiknya, namun Jordan bersyukur, setidaknya Tuhan masih mengijinkan Kamila hadir dalam kesehariannya.


"Nakal ya sekarang." Jordan menggelitiki pinggang Kamila.

__ADS_1


Bocah itu tertawa keras, ia berusaha lari, namun Jordan malah menangkap tubuh kecilnya dan mendekapnya dengan erat.


Awalnya, Kamila berteriak dan minta dilepaskan, ia takut Jordan akan kembali menggelelitikinya. Namun akhirnya ia diam, setelah Jordan mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


Jordan menatap Kamila lekat-lekat, hatinya teriris sakit melihat tulang leher yang sangat menonjol. Terlalu kurus, batin Jordan kala itu.


"Mila!" panggil Jordan.


"Iya, Pa."


"Kalau Mila ingin sesuatu, bilang saja ya sama Mama atau Papa. Tidak usah malu, tidak usah takut. Mama dan Papa akan senang kalau Mila bahagia," ujar Jordan dengan serius. "Kamu harus gemuk, Kamila. Hati Papa sedih melihatmu kurus seperti ini," sambungnya dalam hati.


"Iya, Pa. Tapi aku nggak ingin yang macam-macam kok, cukup punya Mama aja aku udah senang. Asal Mama nggak pergi lagi, aku udah bahagia, Pa," jawab Kamila.


"Papa, bolehkah aku bertanya?" tanya Kamila.


"Tentu, Sayang. Tanyakan saja apa yang ingin kamu tahu," jawab Jordan.


"Apakah Papa benar-benar menyayangiku?" tanya Kamila.


"Kenapa kamu menanyakan itu, Mila?" Jordan balik bertanya.


"Papa 'kan bukan ayah kandungku," jawab Kamila dengan kepala yang tertunduk.

__ADS_1


"Sayang, tidak ada bedanya kandung atau bukan. Meskipun kamu bukan darah daging Papa, tapi Papa benar-benar menyayangi kamu. Papa tulus, Mila. Papa sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Jadi ... jangan meragukan kasih sayang Papa lagi, ya." Jordan mengusap pipi Kamila dengan lembut.


"Dari dulu aku tak pernah punya ayah. Aku hanya takut, Pa, takut jika nanti Papa pergi," ucap Kamila dengan gemetaran.


"Papa tidak akan pergi, Mila." Jordan mengeratkan dekapannya.


"Janji ya, Pa. Aku tidak akan nakal, tidak akan minta macam-macam, aku akan berusaha jadi anak yang baik dan pintar. Tapi Papa jangan pergi, aku sayang Papa, aku nggak mau kehilangan Papa." Tangan kecilnya, merangkul tubuh kekar Jordan.


Jordan menelan saliva, hatinya terluka mendengar kata-kata Kamila. Mana mungkin ia akan pergi, sedangkan Kamila adalah satu-satunya keluarga yang ia punya. Di dalam tubuh mereka, mengalir darah yang sama. Sayangnya, Jordan tak bisa menjelaskan siapa dirinya. Biarlah kisah kelam itu menjadi rahasia yang terpendam. Hati Kamila terlalu suci untuk mengetahui sisi kejam dalam dunianya.


"Tidak perlu berusaha yang macam-macam, Mila. Pintar atau tidak, Papa akan tetap menyayangimu. Jangan memaksakan diri, yang Papa butuhkan hanyalah kebahagiaan kamu," kata Jordan dengan pelan dan tegas.


Tak lama kemudian, Freya memanggil mereka untuk sarapan bersama. Jordan melangkah ke meja makan sambil tersenyum. Menatap Freya dan Kamila, rasanya ia benar-benar memiliki keluarga.


"Setelah informasi tentang Ayah sudah berhasil kudapatkan, aku akan segera menikahimu. Kita akan hidup bersama dalam ikatan cinta, ahh rasanya aku sudah tidak sabar, Freya," batin Jordan.


Lantas mereka duduk di kursi masing-masing, menyantap makanan yang telah disediakan. Kendati rasanya berbeda jauh dengan makanan diluar sana, namun mereka menikmatinya. Bukan hal yang mudah bagi Freya untuk membuat masakan lezat, karena kebiasaanya hanyalah berkutat dengan racun dan pistol.


Usai sarapan, Kamila bermain di kamar bersama bibi pengasuh. Sedangkan Jordan dan Freya, mereka masuk ke ruang kerja. Jordan baru saja menerima pesan dari orang suruhannya, mereka berhasil menggali informasi tentang Bu Dewi.


Jordan membuka pintu ruangan dengan tergesa, ia sudah tak sabar untuk mengetahui masa lalunya. Jordan mendaratkan tubuhnya di kursi, di depan komputer. Dengan cepat ia memeriksa dokumen yang baru saja diterimanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2