
"Freya!"
Tubuh Freya membeku di tempatnya, ia hapal benar dengan sang pemilik suara.
"Kamu, kamu___"
"Kenapa kau ada di sini?" tanya lelaki yang tak lain adalah Jordan. Ia menatap Freya dengan tajam.
"Aku sedang___"
"Ikut aku!" pungkas Jordan dengan tegas. Lantas ia menarik tangan Freya, dan menariknya dengan kasar.
Jordan membawa Freya ke tempat parkir, lalu ia memasukkannya ke mobil. Jordan masih tak melepaskan cengkeramannya, ia malah menghimpit tubuh Freya, sembari menatapnya dengan lebih tajam.
"Apa yang kau lakuakan di belakangku, Freya!" geram Jordan dengan napas yang memburu.
Kecewa, itulah satu hal yang Jordan rasakan saat ini. Ia tak menyangka Freya bisa keluar dari pengawasannya. Semudah itukah dirinya dibodohi?
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya menemani keponakanku. Dia sakit, dan sampai saat ini belum siuman. Hanya aku satu-satunya keluarga yang tersisa," jawab Freya dengan tenang.
"Aku tidak bisa menutupinya lagi, Jordan sudah tahu kalau aku bisa keluar masuk ke rumahnya. Semoga aku masih punya cara untuk membuatnya mengenal Tuhan, dan juga ... membuatnya mencintaiku," batin Freya.
"Keponakan?" Jordan mengernyitkan keningnya.
"Iya, dia anaknya Sera-adik tiriku. Sera meninggal saat melahirkan, lantas Sherin yang mengasuh anaknya. Tapi ... beberapa waktu lalu, aku telah melenyapkannya." Bibir Freya bergetar. Dia memejamkan mata, menyesali dosa-dosa yang telah lalu-yang kini terus menghantuinya.
"Kau lenyapkan?"
"Iya. Dia berusaha mencelakaiku, dia tidak terima saat aku membunuh ibunya. Aku kesal, dan akhirnya aku melenyapkannya," terang Freya tanpa berbohong.
Jordan menghela napas panjang, merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Begitu banyak hal dalam diri Freya, yang luput dari pengetahuannya. Selemah itukah dia? Kenapa begitu mudahnya dikalahkan seorang wanita?
"Aku sangat kecewa dengan ibu tiriku, dia sudah membuangku, lantas menghabiskan harta peninggalan Papa. Aku tidak terima itu! Aku ingat, betapa kerasnya perjuangan Papa dan Mama dalam merintis bisnisnya. Aku merasa marah dengan diriku sendiri, karena terlalu lemah, dan gagal menjaga amanat mereka. Hal itulah yang membuatku tega membunuh Ibu," sambung Freya sebelum Jordan membuka suara.
Nada suaranya tertahan, terdengar jelas jika ia sedang menahan tangis.
"Lantas apa yang membuatmu menangis?" tanya Jordan, ketika melihat mata Freya berkaca-kaca.
"Aku berlumur dosa," bisik Freya.
"Kau menyesal?" tanya Jordan.
__ADS_1
"Aku___"
"Salahkan saja diriku! Karena aku, kamu jadi seperti ini, kan!" geram Jordan semakin mengeratkan cengkeramannya.
"Kamu tidak salah, ini pilihanku sendiri, Jordan. Aku ingat, berkali-kali kau mengingatkan aku. Tapi ... aku tetap bersikeras untuk melakukannya," ujar Freya.
"Pergilah! Bertaubatlah, dan kembalilah pada Tuhan-mu! Aku tidak memberikan dampak baik untuk hidupmu, untuk itu jangan lagi dekat-dekat denganku!" Jordan menghentakkan tangan Freya dengan kasar.
Lelaki itu beringsut, sedikit menjauhi Freya. Dia memegangi pelipisnya, sambil menahan napas yang kian memburu. Melihat ekspresi Freya yang sangat menyesali masa lalunya, dia sangat kecewa. Entah apa alasannya, tapi saat ini dia sangat berharap, kehadirannya dianggap istimewa dalam hidup Freya.
"Aku tidak akan pergi." Freya berucap sembari menggenggam lengan Jordan.
Jordan tetap bergeming, ia masih berusaha mengontrol perasaannya yang seakan hilang kendali.
"Aku akan kembali pada Tuhan-ku ... bersamamu. Kau sudah mengajarkan banyak hal dalam hidupku, Jordan. Dan sekarang, aku ingin mengajarkan satu hal padamu. Aku tidak peduli seperti apa hubungan kita sekarang, inginku hanya satu, mengenalkanmu pada hakikat hidup yang sebenarnya," sambung Freya.
"Omong kosong!" bentak Jordan.
"Jika aku mau, mudah saja bagiku melarikan diri darimu. Tapi tidak, aku tidak melakukan itu. Kau yang membawaku dalam kesuksesan, dan sekarang ... aku ingin membawamu dalam kebaikan," kata Freya tanpa emosi.
"Apa yang dikatakannya memang tidak salah," batin Jordan.
Cukup lama datang ke Indonesia, namun Jordan sama sekali tak megetahui tentang keluarga Freya, ia juga tak tahu, jika Freya dapat keluar dari rumahnya. Rupanya, selama ini dia yang terlalu naif, menganggap Freya menyerah dengan belenggunya. Satu fakta yang benar-benar menjatuhkan harga diri.
"Karena bagiku, kau berharga," jawab Freya.
"Berharga?" Jordan menoleh dan menatap Freya.
"Iya. Kita sudah melalui banyak hal bersama, apakah aneh jika aku menganggapmu berharga?" Freya balik bertanya.
"Tidak," sahut Jordan dengan cepat.
"Karena aku juga menganggapmu berharga, Freya," sambung Jordan dalam hatinya.
Lantas keduanya saling diam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing, dan membiarkan keheningan yang mendominasi.
"Freya!"
Suara Jordan kembali terdengar, setelah beberapa menit diselimuti kesunyian.
"Hmmm," gumam Freya.
__ADS_1
"Apakah perasaanmu yang dulu masih ada?" Jordan mendekap jemari Freya yang menggenggam lengannya.
Kedua pasang mata saling beradu, saling menatap pantulan diri masing-masing di dalam netra.
"Kau ingin tahu jawabannya?" Lagi-lagi Freya balik bertanya.
"Iya," jawab Jordan.
"Tanyakan saja pada hatimu, kau akan mendapatkan jawabannya di sana." Freya mengangkat tangannya dan menyentuh dada Jordan.
"Tapi___"
"Aku akan menemui Kamila, mungkin sekarang dia sudah siuaman." Freya melepaskan genggaman Jordan, dan bersiap keluar. Ia tak memberikan kesempatan pada Jordan untuk meneruskan kalimatnya.
"Freya, tunggu! Aku belum selesai bicara!" teriak Jordan, kala Freya sudah menapakkan kakinya di paving.
"Jika kau masih menghendaki, aku bisa pulang ke rumahmu. Jadi ada banyak waktu 'kan, untuk kita bicara?" Freya menutup pintu mobil, dan melenggang pergi meninggalkan tempat parkir.
Jordan menatap kepergian Freya dengan hati yang tak menentu. Apakah dia masih cinta? Apakah dia masih mau kembali bersama? Berbagai pertanyaan tentang Freya, membuatnya terjebak dalam kabut asmara.
"Bagaimana bisa aku mencari jawaban tentang perasaannya, sedangkan tentang perasaanku saja ... aku tidak tahu," gumam Jordan.
_______
Jarum jam menunjukkan angka 10.00 malam, Freya dan Jordan masih terjaga di rumah sakit. Jordan bersikeras menemani Freya, kendati wanita itu sudah menyuruhnya pulang. Alhasil, malah Reman yang pulang, dan Jordan yang ikut menjaga Kamila.
Kamila sudah sadar sejak tadi siang, hanya saja kali ini dia sedang tidur. Setelah makan bubur dan minum obat, kesehatannya berangsur-angsur pulih. Dalam hati, Freya sangat bersyukur. Pertemuan tak terduga dengan Jordan, memberikan dampak baik bagi hubungan mereka. Sehingga dia bisa menjaga Kamila setiap saat, tanpa sembunyi-sembunyi.
"Jordan, apa yang membuatmu datang ke rumah sakit?" tanya Freya, ketika keduanya duduk berdua di kursi tunggu.
"Aku membawa ibu-ibu yang tadi. Dia jatuh dari motor dan kakinya bersimbah darah," jawab Jordan.
Belum lama, mereka melihat wanita paruh baya sedang dibawa ke ruang operasi. Menurut keterangan dokter, beliau mengalami kecelakaan dan patah tulang.
Freya mengulum senyum. Entah ikhlas atau sekedar membangun image, tapi setidaknya Jordan sudah menolong orang. Freya sangat senang menyadari hal itu.
"Tidurlah, jika kau lelah!" Jordan meraih kepala Freya dan menyandarkan di bahunya.
Aroma mint yang menguar dari tubuh Jordan, kian menyeruak dalam hidung Freya. Lantas ia memejamkan mata, menikmati hangat tangan Jordan yang mengusap-usap lengannya.
Ada apa dengan Jordan?
__ADS_1
Bersambung...