
"Andrew, apa yang dia lakukan di sini. Jangan bilang semua ini berhubungan dengan dia." Ucap Freya masih dalam hatinya.
"Lepaskan dia!" kata Andrew untuk yang kedua kalinya.
"Kau siapa, jangan ikut campur urusanku!" bentak Marcel sambil memicingkan matanya.
"Aku tidak suka melihat lelaki yang pemaksa. Lihatlah, dia keberatan kau genggam seperti itu! Jadi, lepaskan dia!" kata Andrew dengan tegas.
Marcel melirik Freya sekilas, wanita itu sedang meringis sakit. Genggamannya memang terlalu erat. Marcel sangat cemburu, saat melihat Freya hendak masuk ke dalam kelab. Dia sangat tertarik dengan Freya, dia tidak akan rela jika tubuh wanita itu dijamah oleh lelaki lain.
"Dia akan menjadi wanitaku!" ujar Marcel tanpa rasa bersalah.
"Apakah itu benar?" tanya Andrew sambil mengerutkan keningnya, ia menatap Freya, dan seakan meminta penjelasan lewat isyarat mata.
Freya menggeleng samar-samar, memberikan jawaban jika ucapan Marcel adalah salah.
"Aku, aku ingin menemui temanku. Tiba-tiba, tiba-tiba aku bertemu dengan dia," jawab Freya sembari menundukkan wajahnya. Seolah ia benar-benar ketakutan.
"Kau dengar apa jawabannya, jadi lepaskan dia!" bentak Andrew sambil melangkah mendekati Marcel.
"Kau tidak beda jauh dengan Jordan, suka mengusik urusan orang lain. Tapi kali ini tidak, sekeras apapun kamu berteriak, aku tidak akan melepaskan dia. Urus saja pekerjaanmu, jangan ikut campur urusanku! Jika kau menginginkan wanita, carilah wanita lain!" kata Marcel dengan nada yang sedikit tinggi. Napasnya tampak memburu, terlihat jelas jika ia sedang menahan amarah.
"Aku juga menginginkan dia, jadi ini juga merupakan urusanku." Sahut Andrew juga dengan nada tinggi. Lantas ia menggenggam tangan Freya, dan menatapnya dengan intens.
"Ayo ikut aku!" kata Andrew dengan tegas.
"Apakah dia teman yang akan kamu temui, apakah kamu memang wanita yang seperti itu, hah!" bentak Marcel sambil menatap Freya.
"Yang ingin kutemui teman wanita, dia tetanggaku. Dia memintaku mengantarkan barang, tadi dia meninggalkannya di apartemen," ucap Freya dengan pelan.
"Marcel tidak boleh menganggapku dekat dengan Andrew. Aku harus bisa mendekatinya, aku harus segera menyelesaikan misiku." Batin Freya dalam hatinya.
"Kita berdua sama-sama tidak ada hubungan dengan dia. Jadi, kita tidak punya hak untuk memaksanya. Biarkan dia sendiri yang memilih, dia ingin ikut dengan siapa," kata Andrew sambil menatap Marcel dan Freya secara bergantian.
"Freya, tidak baik seorang wanita datang ke kelab di tengah malam. Ayo kuantarkam pulang!" ucap Marcel seraya menarik tangan Freya.
"Aku, aku___"
"Kalau kamu keberatan pulang dengan dia, ayo biar kuantarkan!" kata Andrew sambil menatap Freya, sembari mengeratkan genggamannya.
__ADS_1
Belum sempat Freya menjawab ucapan Andrew, tiba-tiba seorang lelaki memanggil namanya. Dia berada di belakang Freya, entah dari mana datangnya.
"Freya!" panggil lelaki yang tak lain adalah Calvin.
Freya menoleh, dan ia mengernyitkan keningnya saat melihat sosok Calvin di sana. Apa yang dia lakukan di sini?
"Sayang, apa yang kamu lakukan di sini, dan siapa mereka?" tanya Calvin sambil melangkah mendekati Freya.
Mendengar kata sayang dari mulut Calvin, Andrew dan Marcel langsung melepaskan genggamannya.
"Tetanggaku minta tolong untuk mengantarkan sesuatu. Tiba-tiba, aku bertemu dengan mereka." Jawab Freya. Ia merapatkan tubuhnya pada Calvin, seolah meminta perlindungan dari lelaki itu.
"Calvin bukan mafia. Marcel tidak akan curiga, meskipun dia tahu aku menjalin hubungannya. Dan Andrew, dia tidak tahu siapa Calvin. Semoga dia juga tidak tahu tentang hubungan Emerald dan Diamond." Batin Freya dalam hatinya.
"Dia adalah kekasihku, dia adalah wanitaku. Jangan pernah mengganggunya, apalagi menyentuhnya! Aku tidak akan memaafkan kalian, jika kejadian ini terulang untuk yang kedua kali!" kata Calvin dengan tegas. Tatapannya sangat tajam, mata birunya seakan menelan mereka hidup-hidup.
"Ayo pulang!" ajak Calvin seraya merangkul tubuh Freya dan membawanya pergi meninggalkan Andrew dan Marcel.
Andrew menatap kepergian Freya dengan heran, "siapa lelaki itu, benarkah kekasihnya Freya? Sejak kapan mereka menjalin hubungan?" batin Andrew dalam hatinya.
"Kau, kenapa Freya bisa menjadi kekasihmu? Tidak, aku tidak boleh membiarkan hal ini terus berlanjut. Aku akan merebut Freya darimu. Heh, sekarang aku tahu apa kelemahanmu. Kehilangan Freya, aku yakin kekuasaanmu akan tumbang. Kau akan terpuruk dalam kesedihan. Jika dulu kau melakukan hal itu pada Jordan, sekarang aku yang akan melakukannya padamu," batin Marcel sambil tersenyum licik.
Tepat pukul 01.00 dini hari, Calvin menghentikan mobilnya di halaman apartemen, tempat Freya tinggal. Sepanjang perjalanan dia hanya diam, meskipun Freya berkali-kali mencoba memanggilnya, namun dia sama sekali tak mengucapkan sepatah kata.
Freya dapat melihat jelas, aura cemburu yang begitu besar, terpancar jelas dari raut wajahnya. Dan akhirnya Freya ikut diam, membiarkan keheningan yang menemani perjalan mereka.
"Terima kasih ya Vin," ucap Freya sambil menggenggam lengan Calvin.
"Ayo kuantar!" kata Calvin dengan tegas.
"Mmm tapi Vin, ini sudah malam. Aku___"
"Aku tidak menerima penolakan!" sahut Calvin dengan cepat. Lantas ia keluar dari mobil, dan melangkah pergi.
Freya memanfaatkan situasi ini untuk menghubungi anak buahnya. Mengabari bahwa ia sudah tiba di apartemen. Setelah itu, Freya bergegas mengikuti langkah Calvin yang sudah jauh meninggalkannya.
Tak lama kemudian, keduanya tiba di apartemen Freya. Calvin ikut masuk ke ruang tamu, ia menarik tangan Freya dan mendorong tubuhnya hingga merapat di dinding. Lantas ia mengunci pergerakannya di sana.
"Kenapa kau ada di sana, kau sudah berjanji untuk tidak selingkuh Freya!" bentak Calvin dengan kilatan mata yang sangat tajam.
__ADS_1
"Maafkan aku Vin, aku pergi ke sana tanpa memberitahumu. Tapi tolong jangan salah paham, aku hanya menolong teman yang butuh bantuan," jawab Freya dengan mimik wajah yang mengiba.
"Sedekat apa hubunganmu dengannya, sampai-sampai kamu rela mengabaikan keselamatanmu demi dia!"
"Kami tidak terlalu dekat, tapi dia wanita yang kaya raya. Dia memberiku upah yang lumayan besar, itu sebabnya aku mau membantunya," jawab Freya. Kali ini sambil menatap Calvin lekat-lekat.
"Uang? Jika kamu butuh uang, bilang saja padaku! Aku kekasihmu Fre, katakan kau butuh berapa, aku pasti memberikannya padamu!" kata Calvin masih dengan nada tinggi.
"Aku malu jika terlalu bergantung padamu Vin, kita belum lama menjalin hubungan." Jawab Freya dengan pelan.
"Jika kamu memang mencintaiku, buang rasa malu itu. Aku akan semakin senang, jika kamu mau mengandalkan aku. Dengar Freya, yang kamu temui tadi adalah orang-orang yang berbahaya. Kamu tahu betapa khawatirnya aku, berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi!" kata Calvin sambil menangkup pipi Freya.
"Berbahaya? Apakah mereka pria hidung belang, begitu?" tanya Freya. Ia ingin tahu apa yang Calvin ketahui tentang mereka.
"Lebih dari itu, mereka adalah mafia." Jawab Calvin.
"Ma...mafia, ka...kamu serius?" tanya Freya pura-pura gugup.
"Dari mana Calvin tahu jika mereka adalah mafia. Bukankah Calvin tidak pernah berurusan dengan dunia gelap?" batin Freya dengan heran.
"Iya, mereka adalah mafia yang berbahaya. Keduanya punya peran penting dalam dunia gelap. Bukan hanya di Rusia saja, tapi jaringan mereka sudah menjarah di Amerika, Eropa, dan juga Asia. Sekarang kau tahu kan, betapa bahayanya mereka?" kata Calvin dengan serius.
Freya menelan salivanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan darahnya sekan berhenti mengalir. Calvin paham benar dengan posisi Marcel dan Andrew, siapa dia? Kenapa dia mengetahui semua ini?
"Percaya atau tidak percaya, itulah kenyataannya Freya. Maka dari itu, berjanjilah untuk menjaga dirimu baik-baik! Aku tidak ingin kehilangan kamu, Freya!" sambung Calvin sebelum Freya membuka suara.
"Kau, kau tahu dari mana?" tanya Freya.
"Kau benar-benar ingin tahu apa jawabannya?" Calvin balik bertanya.
"Iya."
"Duduklah, aku akan menceritakan siapa diriku. Tapi Freya, berjanjilah untuk menerima apapun kekuranganku. Mungkin aku kejam, aku jahat. Tapi percayalah, aku akan selalu menyayangimu. Cinta ini tulus, aku tidak akan menyakitimu barang sedikitpun. Kehadiranmu, ibarat lentera yang menerangi langkahku Freya. Kamu adalah satu-satunya alasanku untuk tersenyum," kata Calvin sambil mengusap-usap pipi Freya dengan lembut.
Laksana gurun tandus yang diguyur hujan, Freya merasakan kesejukan di relung hatinya. Seindah inikah cinta? Kini Freya yakin, perasaannya untuk Calvin benar-benar cinta yang sebenarnya.
Freya memejamkan matanya, menikmati alunan cinta yang mendekap hangat dalam sukma. Biarlah ia menjadi bodoh sekejap saja, tentang rasa ia tak kuasa menolaknya.
"Aku juga mafia, jadi aku tak peduli apa statusmu. Entah kau casanova, atau mungkin juga mafia. Aku akan menerimamu Calvin. Seiring berjalannya waktu, aku dan kamu bersama-sama memerbaiki diri, menyongsong masa depan yang hakiki. Suatu saat nanti, aku juga akan jujur siapa diriku. Setelah aku menyelesaikan misi, tak akan ada lagi hal yang kututupi darimu," batin Freya sambil menjatuhkan dirinya dalam pelukan Calvin.
__ADS_1
Bersambung...