Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Kacau


__ADS_3

Satu jam yang lalu.


Bibi pelayan kembali menemui Freya sambil membawa barang yang dimintanya, yakni mukenah. Bibi menyerahkan kain putih itu kepada Freya. Lantas melirik nampan yang sama sekali belum disentuh.


"Non, kenapa belum dimakan?" tanya Bibi.


"Nanti dulu, Bi." Freya tersenyum tipis.


"Nanti Tuan Jordan marah, Non," gumam Bibi.


"Saya akan memakannya Bi, tapi sebentar ya, saya akan shalat dulu," ucap Freya.


"Shalat?" Bibi memicingkan mata, merasa heran mendengar jawaban Freya.


Dari keterangan Jordan, Freya adalah mafia sadis dan kejam. Bahkan tuannya itu pernah dibunuh hanya karena pura-pura mencintai. Benarkah sekarang dia akan shalat?


"Kenapa, Bi?" tanya Freya.


"Ehh ehmm, tidak apa-apa Non. Kalau begitu saya keluar dulu." Bibi menunduk sambil melangkah keluar, meninggalkan Freya yang masih terpaku.


Freya menggenggam erat mukenah dengan kedua tangannya. Di masa lalu, ia adalah wanita yang yang senantiasa menggunakan benda itu. Namun sejak ayahnya tiada, tak sekalipun ia menyentuhnya. Begitu lama dia tersesat, dan melupakan Tuhan-nya.


"Semoga masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri," gumam Freya.


Kemudian Freya memakai mukenah itu, dan berdiri menghadap kiblat. Kendati sudah banyak doa yang ia lupakan, namun Freya benar-benar berniat mengakhiri semuanya. Dia bertaubat, dan berjanji akan memperbaiki diri.


Beberapa menit kemudian, Freya mengakhiri shalat-nya dengan salam. Lantas dia bersimpuh sembari menengadahkan tangan. Menyesali dosa dan maksiat yang mengisi beberapa waktu dalam hidupnya. Bibir Freya bergerak, memohon ampunan kepada Tuhan. Air mata meleleh, membasahi wajah dan mukenah.


"Ya Allah, ampunilah hamba yang telah menyimpang jauh dari jalan-Mu. Begitu banyak dosa yang telah hamba lakukan, tolong berikan petunjuk untuk memperbaiki semuanya. Tuntun hamba agar tetap berada di jalan yang benar." Freya mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Beberapa menit berlalu, namun Freya belum juga beranjak dari duduknya. Ia tetap bersimpuh sambil menunduk, menyesali waktu yang telah lalu. Air mata, menjadi saksi betapa hancurnya dia saat ini.


Hampir satu jam, Freya mematung di tempatnya. Merenungi semua dosa yang telah dilakukan. Terlalu dalam ia terhanyut dalam pikiran, hingga derit pintu sama sekali tak tertangkap dalam pendengaran.


Di ambang pintu yang terbuka lebar, seorang pria bermata biru tajam menatap Freya dengan nanar.


Jemarinya mencengkeram erat gagang pintu, menghalau rasa perih yang tiba-tiba menyayat hati. Apa yang dilakukan Freya, membuatnya terhempas pada kenangan masa silam. Masa dimana ia masih mengenal Tuhan-nya.


Dalam masa lampau, Jordan termasuk anak yang taat beribadah. Ia selalu bangun pagi dan melaksanakan shalat shubuh, bahkan sebelum ibu panti membangunkannya. Di antara kawan-kawan yang lain, Jordan termasuk anak yang paling teladan.

__ADS_1


Namun semua berakhir, ketika peristiwa nahas terjadi di malam itu. Sejak kehilangan orang-orang di sekelilingnya, iman mulai goyah. Hidup sengsara di jalanan, membuat Jordan mulai ragu dengan keberadaan Tuhan. Lantas iman dan keyakinan itu nyaris sirna, ketika ia berhasil membunuh mafia yang menghabisi teman-temannya.


Sejak malam itu, Jordan hanya percaya pada diri sendiri. Baginya, hidup dan mati ada dalam genggamannya sendiri, bukan pada Ilahi. Ia terus tumbuh menjadi orang bebas, tak memiliki pedoman ataupun pegangan.


Namun malam ini, ketika menatap Freya bersimpuh dan menghadap kiblat, hatinya seketika bergetar. Ada secercah niat yang mendorong jiwanya untuk melakukan hal yang sama. Namun akal masih menolak, pahitnya kehidupan menempanya menjadi sosok angkuh yang enggan mengakui kebesaran Tuhan.


"Jordan!"


Suara Freya membuyarkan lamunan Jordan. Lelaki itu langsung terkesiap. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, tak ingin Freya menyadari setitik air yang membasahi sudut matanya.


"Jordan, kamu___"


Freya gagal melanjutkan kalimatnya, karena Jordan berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia meninggalkan Freya yang masih mengernyit heran.


"Ada apa dengannya?" gumam Freya setelah tubuh Jordan menghilang dari pandangan.


Sementara itu, Jordan mempercepat langkah, dan kembali masuk ke kamarnya. Dia menghempaskan diri di atas sofa, sembari mengacak rambutnya dengan kasar.


"Arrgghhhh!!" geram Jordan.


"Dia yang membuat Alex mati, dan aku ingin menuntut balas. Tapi kenapa malah aku yang kacau. Belum sempat aku menjadikannya mainan, tapi dia lebih dulu membuatku resah. Ahhhrrggg sial!" Jordan memukul meja yang ada di hadapannya. Napas semakin memburu, seiring emosi yang kian tersulut.


Kemudian Jordan beranjak dari duduknya. Ia membuka lemari kaca dan mengambil beberapa botol vodka yang dibawa dari Rusia. Lantas Jordan melangkah menuju balkon kamar. Ia duduk di atas kursi sembari meneguk vodka dalam keremangan. Ia ingin sejenak melupakan beban hidupnya.


Antara sadar dan tidak, Jordan merasakan sentuhan hangat di lengannya. Sebuah rasa yang sangat kontras dengan dinginnya angin malam. Mata birunya memicing, menilik sosok yang tak jelas seperti apa wujudnya. Siapa dia, darimana datangnya?


"Ayo kubantu."


Jordan mendengar suara merdu mengalun lembut di telinganya. Suara yang membuatnya terhipnotis, hingga ia tak kuasa menolak saat sosok itu memapahnya ke ranjang. Dalam rengkuhannya, Jordan menghirup aroma wangi yang menenangkan, menguar dari tubuhnya. Tanpa dipinta, senyuman manis terulas begitu saja. Menghiasi bibirnya yang penuh dengan bau alkohol.


"Tidurlah, istirahatkan raga dan jiwamu yang lelah! Jika kenyataan tak sesuai dengan harapan, maka wujudkan keinginan itu dalam mimpi. Aku menunggu senyummu esok pagi," bisik suara itu tepat di telinga Jordan.


"Kau siapa?" tanya Jordan di antara jaga dan lena.


"Aku wanita yang peduli denganmu." Wanita itu menjawab sambil menutupi tubuh Jordan dengan selimut tebal.


"Jangan tinggalkan aku!" ujar Jordan ketika wanita itu hendak pergi meninggalkannya. Ia menggenggam erat lengan yang tadi memapahnya.


"Aku tidak akan pergi, jika kau memintanya dalam keadaan sadar. Tidurlah, agar kau siap menyambut hari esok." Wanita itu melepaskan genggaman Jordan dengan pelan. Lantas ia pergi meninggalkannya.

__ADS_1


____


Sinar surya yang menyeruak masuk ke kamar, membuat Jordan terjaga dari mimpinya. Ia mengerjap pelan, kala cahaya itu menerpa tepat di wajahnya. Jordan bangkit dan memegangi kepalanya yang pening dan berat.


Jordan mengingat-ingat kejadian semalam, dari saat melihat Freya mengenakan mukenah, sampai menghabiskan beberapa botol vodka di balkon kamar.


"Siapa yang semalam membawaku ke mari, mungkinkah Freya," gumam Jordan.


Tanpa pikir panjang, ia langsung turun dan melangkah keluar kamar. Ia bergegas pergi menuju kamar Freya. Jantungnya berdetak lebih cepat, ketika tiba di ambang pintu. Lantas ia meraih kunci yang diletakkan di atas meja. Lalu membuka pintu itu dengan perasaan yang tak menentu.


Detik berikutnya, pintu terbuka lebar. Satu obyek yang pertama kali tertangkap kornea adalah sosok wanita yang sedang menyisir rambut di depan cermin.


"Jordan!" Wanita yang tak lain adalah Freya, dia lebih dulu menyapa sebelum Jordan sempat membuka suara.


Freya mengernyitkan kening, sembari menatap Jordan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pakaiannya berantakan, dan rambutnya acak-acakan. Wajah kusut, dan mata sayu. Terlihat jelas jika ia baru saja terjaga.


"Ada hal penting?" Freya kembali membuka suara, karena Jordan belum juga bicara.


"Apa yang kau lakukan semalam?" tanya Jordan tanpa senyuman.


"Makan, lalu tidur," jawab Freya.


"Kau jangan bohong Freya, semalam kau pergi ke kamarku, 'kan?" Jordan melangkah menghampiri Freya. Menatap lekat bola matanya, dan mencari kejujuran di sana.


"Ke kamarmu? Kamu jangan aneh-aneh Jordan, kamu mengunciku di sini. Aku tidak bisa keluar, dan aku juga tidak tahu di mana letak kamarmu. Apa maksudmu mengatakan itu," kata Freya dengan tegas.


"Kau semalam shalat, 'kan?"


"Iya. Kau datang sekilas, lantas pergi dan kembali mengunciku di sini," ucap Freya.


"Tapi kau semalam ke kamarku, Freya!" kata Jordan dengan intonasi tinggi


"Tidak Jordan! Aku tidur setelah kau pergi. Mana bisa aku keluar, sementara pintunya kau kunci dari luar," sahut Freya.


Jordan berpikir keras. Ucapan Freya sangat masuk akal, dia sudah mengurungnya, tidak mungkin wanita itu bisa keluar. Tapi jika demikian, lantas siapa yang datang tadi malam? Mungkinkah semua itu hanya ilusi?


"Jordan!" panggil Freya.


Jordan tidak menjawab, dia malah pergi dan kembali meninggalkan Freya sendiri. Menemui Freya tak membuat hatinya lebih tenang, namun malah membuatnya semakin kacau dan berantakan.

__ADS_1


Bersambung...


Terima kasih buat Kakak-Kakak yang masih setia dengan novel Cinta Ini Membunuhku. Maaf beberapa hari kemarin tidak bisa up, ada sedikit kendala di RL. Aku usahakan mulai hari ini up rutin lagi. Terima kasih.


__ADS_2