
Didalam mobil, Freya meringis kesakitan, sepertinya lukanya kembali terbuka.
"Ahh sial cengkeraman lelaki tadi cukup kuat, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, aku harus menemui David." gumam Freya sambil melirik lengannya yang mulai berdarah.
Freya mempercepat laju mobilnya, jarum jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, waktunya tidak banyak, ia harus segera mengobati lukanya, dan beristirahat, besok ia akan pergi ke puncak, harus punya cukup tenaga untuk melakukan itu.
Tak lama kemudian Freya sudah sampai di rumah Jordan, ia langsung memarkirkan mobilnya di garasi, dan berjalan masuk kedalam rumah. Suasana rumah sudah sepi, hanya ada denting jarum jam yang terdengar.
Lampunya juga terlihat temaram, tidak terang seperti biasanya, ini menandakan, jika penghuni rumah sudah mengarungi dunia mimpi.
Freya berjalan menaiki tangga, ketukan dari sepatunya terdengar cukup nyaring, memecah keheningan malam.
Freya berhenti di depan pintu kamar Jordan, ia mengetuk pintunya dengan perlahan, dan tak lama kemudian Jordan membuka pintu itu. Freya tersenyum geli menatap Jordan yang baru saja bangun dari tidurnya, rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat sangat kusam, kadar ketampanannya turun hingga 50%.
"Kamu Fre, ada apa?" tanya Jordan sambil mengucek matanya yang masih setengah terpejam.
"Bangunkan David dong." jawab Freya sambil tersenyum.
"Kamu bangunkan saja sendiri, aku ngantuk Fre." kata Jordan hendak membalikkan tubuhnya.
"Ayolah Jordan, tolong aku. Kamu tahu kan, betapa sulitnya membangunkan David, dia tidak akan bangun, jika aku hanya mengetuk pintunya. Masa iya aku harus masuk ke kamarnya, aku kan wanita. Kamu saja dong Jordan, kalian kan sama-sama lelaki, tidak ada masalah kan." jawab Freya menjelaskan maksudnya.
Membangunkan David memang bukanlah hal yang mudah, apalagi jika hanya memanggilnya, sampai kehabisan suara pun, David tidak akan bangun.
"Kenapa harus selarut ini sih Fre." gumam Jordan masih belum beranjak dari tempatnya.
"Lukaku sakit." jawab Freya sambil menunjukkan lengannya yang sedikit berdarah.
Jordan langsung melotot tajam, dan dengan cepat ia meraih tangan Freya. Raut lesu di wajahnya telah berganti dengan raut kekhawatiran.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Jordan sambil menatap Freya.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba berdarah." jawab Freya.
Jordan menatap Freya dari ujung kaki, hingga ke ujung kepala. Sepertinya wanita di hadapannya ini berbohong. Freya memakai celana panjang, dan blouse panjang, tidak mungkin jika tidur saja ia memakai pakaian seperti ini.
"Kau dari mana?" tanya Jordan masih tetap menatap Freya.
"Bangunkan dulu David, nanti aku akan bercerita banyak padamu." jawab Freya.
"Kau tidak boleh membahayakan keselamatanmu Freya." kata Jordan dengan tegas, lalu ia melangkah pergi meninggalkan Freya, ia pergi menuju kamarnya David.
Freya menatap kepergian Jordan sambil tersenyum, lalu ia melangkah menuju ruang pengobatan, ia menunggu David sambil duduk di sofa.
Tak lama kemudian David, dan Jordan masuk ke ruangan itu. David tak beda jauh dengan Jordan, ia juga terlihat kusam, dan berantakan. Ahh Freya kau sangat nakal, mengganggu dua lelaki yang sedang terlena dalam mimpi.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya David sambil memegang lengan Freya.
"Tadi ada yang memegangnya." jawab Freya.
"Siapa?" tanya Jordan.
"Marcel." jawab Freya.
"Marcel, maksudmu tangan kanannya Jonathan?" tanya Jordan sambil mengerutkan dahinya.
"Iya." jawab Freya sambil mengangguk.
"Berbaringlah, aku akan mengobati lukamu!" kata David sambil menyiapkan alat-alatnya.
"Dimana kau bertemu dengan Marcel?" tanya Jordan sambil duduk disamping Freya.
"Di club malam. Tadi Eddie menelfonku, dia berhasil melacak keberadaan Mr.X, dan lokasinya di club malam. Lalu aku kesana, dan aku bertemu dengan Marcel." jawab Freya menjelaskan.
"Marcel, apa jangan-jangan Mr.X itu dia." gumam Jordan sambil menatap Freya.
"Kita pernah mencurigai Jonathan, dan ternyata itu salah. Aku jadi curiga, jika sebenarnya yang menjadi Mr.X itu tangan kanannya, dan bukan Jonathan sendiri. Itu sebabnya waktu itu kita tidak menemukan bukti apapun darinya." sahut David sambil mengobati luka Freya.
__ADS_1
"Aku sependapat dengan David." ucap Freya.
"Kita harus menyelidikinya lebih jauh." kata Jordan sambil memandang kedua temannya.
"Oh ya, besok aku akan pergi ke puncak." ucap Freya tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanya Jordan dengan heran.
"Ada sedikit masalah dengan pembangunan villa di sana. Itu sebabnya Calvin mengajakku untuk memeriksanya." jawab Freya.
"Siapa Calvin?" tanya Jordan.
"Dia adalah orang dari perusahaan Emerald. Proyek itu adalah kerjasamanya Diamond, dan Emerald. Itu sebabnya aku harus pergi." jawab Freya.
"Tapi keadaanmu belum sehat Fre, tidak bisakah orang lain saja yang pergi, Eddie misalnya." sahut David.
"Tidak Dav, dulu kerjasama itu ditangani oleh Julian sendiri, aku yakin ada yang istimewa dengan proyek itu. Lagipula sejak Julian tiada, aku yang meneruskan kerjasama itu, mana mungkin aku bisa digantikan oleh orang lain." jawab Freya.
"Kalau begitu ditunda saja, fikirkan dulu kesehatan kamu Fre." ucap Jordan.
"Aku tidak apa-apa Jordan, percayalah." kata Freya sambil tersenyum.
Jordan hanya bisa mendengus kesal, wanita ini memang sangat keras kepala.
Sekitar satu jam kemudian, David sudah selesai mengobati lukanya. Freya bangkit, dan hendak beranjak dari ranjangnya. Jordan meraih tangannya dengan pelan.
"Kau mau kemana?" tanya Jordan dengan heran.
"Aku harus pulang Jordan." jawab Freya.
"Ini sudah dini hari, tidurlah di sini." ucap Jordan.
"Aku tidak bisa, besok Calvin akan menjemputku, aku harus berada di apartemen." jawab Freya.
"Aku akan mengantarmu." kata Jordan dengan tegas.
"Aku antarkan, atau tidur di sini. Tidak ada pilihan lain." kata Jordan sambil menatap Freya dengan tajam.
"Baiklah, kalau begitu antarkan aku." jawab Freya mengalah.
Kemudian mereka berdua keluar dari ruangan, dan berjalan bersama menuju garasi. Mereka menaiki mobil Eddie, dan melaju menuju apartemen Freya.
Sesekali Freya menatap Jordan yang sedang fokus mengemudi, lelaki itu sangat perhatian padanya, Jordan juga terlihat khawatir saat ia terluka, mungkinkah Jordan menganggapnya berbeda.
"Jordan." panggil Freya.
"Hemmm." gumam Jordan.
"Sebagai seorang lelaki kamu cukup sempurna, kenapa tidak mencari kekasih?" tanya Freya.
"Aku tidak tertarik." jawab Jordan dengan singkat.
"Kenapa?" tanya Freya.
"Aku seorang mafia, memangnya ada wanita yang mau menjadi kekasihku. Semua wanita pasti menginginkan lelaki yang baik untuk menjadi suaminya, bukan lelaki pembunuh sepertiku." jawab Jordan sambil menatap Freya.
"Semua orang punya kekurangan, dan kelebihannya sendiri-sendiri Jordan. Carilah wanita yang bisa menerimamu, yang kepribadiannya tidak jauh beda dari kamu." ucap Freya.
"Maksud kamu?" tanya Jordan.
"Kau seorang pembunuh, jadi carilah wanita yang seorang pembunuh. Nanti kalian akan saling menerima, dan kalian akan menjadi pasangan yang bahagia." kata Freya sambil tersenyum.
"Semoga kau mengerti dengan maksudku Jordan." gumam Freya dalam hatinya.
"Aku tidak mungkin bisa bahagia." gumam Jordan.
"Kenapa?" tanya Freya.
__ADS_1
"Karena aku tidak mungkin mencintainya." jawab Jordan.
"Kenapa begitu?" tanya Freya. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Hatiku sudah ada yang memiliki Freya. Aku tidak bisa melupakannya, meskipun ia telah tiada, tetapi aku masih mencintainya. Dan cinta ini akan selalu aku jaga, tidak akan pernah aku nodai." jawab Jordan.
Freya menggigit bibirnya, jika dulu ia mendengar semua ini dari Alex, rasanya tidak terlalu sakit. Tetapi kini Jordan sendiri yang mengatakannya, hati Freya seakan terkoyak, benar-benar perih rasanya.
"Sepertinya aku memang tidak punya harapan lagi untuk bersama denganmu Jordan, kau tidak akan pernah bisa mencintaiku. Baiklah, kalau begitu aku juga akan berusaha menghapus perasaan ini." ucap Freya didalam hati.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 pagi, alarm diponsel Freya berdering dengan nyaring. Freya menggeliat dengan pelan, rasa kantuk masih menguasai dirinya, maklum ia tidur sudah dini hari.
Namun meskipun ia masih mengantuk, dan badannya sedikit lelah, ia segera beranjak dari ranjangnya, dan menuju ke kamar mandi. Calvin akan menjemputnya pukul setengah delapan, ia tidak punya banyak waktu.
Freya merendam tubuhnya sebentar dengan air hangat, ia mencoba melupakan tentang semalam. Perkataan Jordan masih menyisakan rasa ngilu dihatinya. Setelah beberapa menit berlalu, Freya keluar dari kamar mandi, dan bergegas memakai bajunya.
Freya memakai celana jeans panjang, yang dipadukan dengan kemeja panjang warna putih. Untuk beberapa hari ini, ia harus memakai baju dengan lengan panjang, ia tidak mau ada orang lain yang melihat lukanya. Freya menguncir rambutnya, hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Mengoleskan make up tipis-tipis, hingga wajahnya terlihat cantik, dan natural.
Setelah semuanya sudah siap, Freya keluar dari kamarnya, dan tak lama kemudian Calvin datang menjemputnya.
"Maaf aku terlambat." ucap Calvin saat Freya membukakan pintu untuknya.
"Tidak, aku juga baru selesai kok." jawab Freya sambil tersenyum.
"Oh. Kalau begitu ayo berangkat!" ajak Calvin.
"Kau tidak ingin mampir dulu?" tanya Freya.
"Lain kali saja." jawab Calvin.
"Baiklah." ucap Freya.
***
Calvin, dan Freya sudah melaju cukup jauh. Mereka sudah melakukan perjalanan hampir dua jam lamanya. Mereka kini sudah berada di daerah perbukitan, sekitar satu jam lagi mereka akan tiba di tempat tujuan.
"Di depan nanti pemandangannya sangat indah, kau mau berhenti sebentar?" tanya Calvin sambil menatap Freya.
"Boleh." jawab Freya.
Dan tak lama kemudian, Calvin menghentikan mobilnya. Freya turun dari mobil, dan menatap pemandangan disekitarnya, memang sangat indah. Bukit itu dipenuhi dengan aneka macam bunga yang berwarna-warni, semua bermekaran dengan sangat cantik. Dan saat menatap kebawah, matanya disuguhi hamparan rumput hijau yang menyatu dengan sungai yang mengalir jernih. Sinar mentari menyorot dengan indahnya, menerobos lewat celah-celah dedaunan dari pepohonan yang rindang.
Freya terpukau melihat pemandangan di hadapannya. Selama ini ia belum pernah melihat alam yang begitu indah. Freya tersenyum, suasana sejuk ini membuat hatinya terasa lebih nyaman.
"Apa kau suka Freya?" tanya Calvin sambil berdiri di sebelah Freya.
"Iya, ini sangat indah." jawab Freya sambil mengangguk.
"Kau pernah pergi ke tempat yang semacam ini?" tanya Calvin.
"Belum." jawab Freya sambil menggeleng.
"Apa kekasihmu tidak pernah mengajakmu liburan?" tanya Calvin sambil menatap Freya.
"Aku tidak punya kekasih." jawab Freya sambil tersenyum, dan menoleh menatap Calvin.
"Benarkah." gumam Calvin sambil menggenggam tangan Freya.
"Iya." ucap Freya sambil mencoba melepaskan tangannya.
Namun Calvin tak mau melepasnya, ia malah menggenggamnya lebih erat. Freya sempat menahan nafasnya, saat Calvin meraih pinggangnya, dan semakin mendekatkan wajahnya. Apa yang akan dia lakukan?
"Calvin, apa yang kau lakukan?" tanya Freya sambil menahan detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Kau tidak punya kekasih, dan aku juga tidak punya kekasih. Kenapa kita tidak menjadi sepasang kekasih saja." kata Calvin tepat di depan wajah Freya. Jarak mereka cukup dekat, hingga Freya bisa merasakan hangatnya nafas Calvin. Freya mencoba melepaskan diri, namun terlambat, calvin sudah bergerak lebih cepat.
__ADS_1
Bersambung.......