
Freya terkesiap, dia menatap mata biru milik Jordan dengan lekat. Mencoba menyelam ke dasar sana, dan mencari makna dibalik ucapannya.
"Apa maksudmu?" tanya Freya, ia tak berhasil menemukan jawaban dari sorot netra.
"Aku berharap kau bisa menyalakan kembali pemantik apimu. Aku tahu sekarang cahamu padam, dan kau terombang-ambing dalam kegelapan," jawab Jordan dengan senyuman lebar.
"Kamu salah Jordan, dalam perjalananku, yang kubawa adalah lilin kecil, bukan pemantik api. Sekarang lilin itu sudah padam, tak ada jalan untuk membuatnya menyala," kata Freya. Tawa sumbang terdengar di ujung kalimatnya.
"Masih ada jalan yang terbentang, hanya saja kau tidak menyadarinya, Freya," jawab Jordan masih dengan senyuman.
Freya bergeming, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia hanya menatap Jordan tanpa kedip, seolah meminta penjelasan lewat isyarat netra.
"Jika lilin itu mati, kau bisa mencari pemantik api untuk menyalakannya. Apakah kau tidak ingin melakukan itu, Freya?"
"Bagaimana cara melakukannya. Aku sedang dalam kegelapan, tidak ada pemantik di sekitarku. Apakah aku harus kembali ke tempat semula, dan mengulang perjalanan dari awal?" Freya balik bertanya.
"Kamu salah Freya." Jordan menggenggam jemari Freya. "Ada satu pemantik di sekitarmu, bahkan tidak jauh dari tempatmu berdiri. Apa kau tidak menyadari keberadaannya, Freya?" sambungnya.
"A...apa maksudmu?"
"Kau cukup cerdas, seharusnya kau paham apa maksudku," jawab Jordan.
Ia melangkah lebih dekat, dan mengikis jarak dengan Freya.
"Jordan, aku, aku___"
Belum sempat Freya meneruskan kalimatnya, Jordan sudah lebih dulu memeluknya dengan erat.
"Aku ingin menjadi pemantik api yang bisa menyalakan lilinmu, Freya!" Jordan mengusap rambut Freya dengan lembut.
Dalam pelukan Jordan, Freya tersentak kaget. Tak pernah ia bayangkan jika Jordan akan mengungkapkan cinta padanya. Dulu, dia sangat mengharapkan hal ini. Namun sekarang, keadaannya sudah berubah. Hati dan perasaanya sudah berbelok arah. Pemilik cinta kini sudah berada di alam yang berbeda.
"Jika kamu belum bisa mencintaiku, setidaknya ijinkan aku membahagiakan kamu. Terimalah hadirku, dan biarkan cinta tumbuh perlahan dalam perasaan," ucap Jordan dengan pelan.
Lantas ia melepaskan pelukannya, dan menatap mata Freya dalam-dalam.
"Jordan, benarkah ucapanmu itu? Bukankah, bukankah kamu hanya mencintai Lyana. Bukankah hatimu sudah tertutup untuk wanita mana pun?" Dengan gugup Freya membalas tatapan Jordan.
"Aku tidak mencintai wanita mana pun, bukan karena mencintai Lyana, tapi ada alasan lain. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, aku takut tidak bisa menjaga wanitaku untuk yang kedua kali. Freya, sejak awal aku menyimpan perasaan untuk kamu. Tapi aku menepisnya, aku tidak ingin membawamu dalam bahaya. Tapi sekarang, aku pupuk kembali perasaan itu. Aku yakin, kau cukup mampu berdiri di sisiku," ungkap Jordan dengan serius.
"A...apa!" Freya tersentak kaget, bahkan ia sampai menunduk. Ia mengerjapkan mata sambil menata hatinya yang bergejolak.
"Aku ingin membuatmu bahagia, dengan cinta yang kupunya. Tolong beri aku kesempatan, Freya," ucap Jordan.
Lantas ia meraih dagu Freya, dan memaksa gadis itu untuk mendongak.
__ADS_1
Jantung Freya berdetak semakin cepat, kala mata biru milik Jordan menyelam jauh ke dasar netranya.
"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan," jawab Freya dengan senyuman manis yang terulas di bibir.
"Terima kasih Freya." Jordan kembali memeluk Freya dengan erat. Membiarkan wanita itu tenggelam dalam dadanya.
"Maafkan aku, Freya," batin Jordan.
***
Ribuan kerlip lampu kota yang berpendar di bawah sana, bak cerminan cahaya bintang yang berkedip mesra di langit luas. Di atas kursi panjang, di balkon kamar, dua insan sedang duduk bersama. Menikmati dinginnya angin malam yang sesekali menerpa. Menikmati butir demi butir buah anggur yang baru terlepas dari tangkainya.
Malam ini, Jordan dan Freya memutuskan untuk menginap di villa. Menghabiskan waktu bersama dalam alunan kasih, melupakan sejenak kehidupan yang kejam.
Untuk kesekian kalinya, Jordan menuang vodka ke dalam gelas. Menyesepnya perlahan hingga tandas.
Freya memperhatikan setiap gerak-gerik Jordan. Mata birunya terlihat menawan di antara keremangan malam. Rambut kecoklatan tampak serasi dengan hidungnya yang mancung. Bibir sensual yang begitu andal dalam meneguk vodka, memberikan kesan tersendiri dalam benak Freya.
Jordan adalah gambaran yang rupawan, bahkan di awal pertemuan Freya seolah terhipnotis oleh ketampanannya. Namun entahlah, masih Calvin yang memenuhi seluruh ruang dalam hati.
"Apa aku terlihat tampan, Baby?" goda Jordan.
Freya tersentak, lamunannya buyar seketika. Ia menatap Jordan sedang tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.
"Heran, kenapa?"
"Kau suka sekali dengan alkohol, apa tidak ada minuman yang lebih baik dari itu?" tanya Freya.
Jordan terkekeh, lantas ia beringsut dan merapatkan duduknya. Dengan luwes tangannya merangkul bahu Freya, seolah mereka adalah pasangan kekasih yang sudah lama membina cinta.
"Jika kau keberatan, aku akan berhenti," ucap Jordan seperti tanpa beban.
"Kau serius?" tanya Freya seakan tak percaya.
"Sangat serius. Alkohol, rokok, mana yang tidak kau suka? Katakan saja!"
"Jika aku memilih pistol?" goda Freya.
"Tidak masalah. Aku akan mundur dari dunia mafia ... bersamamu," jawab Jordan.
Satu jawaban yang membuat pipi Freya merona.
"Aku tidak ingin mundur," sahut Freya. Ucapan Calvin saja tak ia turuti, apalagi ucapan Jordan. Pistol sudah menjadi bagian dari hidupnya, tak mungkin ia meninggalkannya begitu saja.
"Kalau begitu, kau juga tidak boleh memilih pistol," ujar Jordan.
__ADS_1
"Aku tidak masalah dengan rokok ataupun alkohol," kata Freya.
"Jadi kau menyukai semua___"
"Tapi ada satu hal yang menjadi masalah," pungkas Freya dengan cepat, sebelum Jordan menyelesaikan kalimatnya.
"Apa itu?"
"Sikapmu,"
"Sikap?"
"Iya. Jangan mudah memeluk tanpa permisi, kita bukan pasangan." Freya melepaskan rangkulan Jordan di bahunya.
Bukannya marah, namun Jordan malah tersenyum. Ia tak beringsut menjauh, tapi justru menarik tubuh Freya, dan membawanya dalam pelukan.
Freya meronta, namun Jordan mendekapnya dengan lebih erat.
"Kenapa aku tidak boleh melakukannya?" Jordan menunduk, dan menatap wajah Freya yang bersandar di dadanya.
"Kita bukan pasangan,"
"Kalau begitu ayo berpasangan,"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Sekarang aku tidak bisa. Aku tidak mencintaimu," ucap Freya dengan pelan.
"Tapi aku mencintaimu, dan ini caraku untuk memenangkan hatimu," sahut Jordan diiringi dengan senyuman manis.
"Tapi aku merasa tidak nyaman." Freya memejamkan matanya. Tak ingin lagi menatap wajah tampan milik Jordan, yang berada tepat di atas wajahnya.
"Kau merasa gugup, atau malu, atau jantungmu berdetak cepat?" tanya Jordan.
Freya semakin gugup, jarak mereka teramat dekat. Bahkan hangat napas Jordan dapat ia rasakan di wajahnya.
"Tidak, aku tidak merasakan apapun!" Freya berusaha keras melepaskan diri dari pelukan Jordan.
Namun lelaki itu malah memangkas jarak di antara keduanya. Dan dalam hitungan detik, benda kenyal nan basah menyentuh keningnya dengan lembut.
"Biarkan saja rasa gugup dan malu itu terus tumbuh. Mungkin itu adalah awal dari perasaan cintamu padaku. Aku ingin selamanya mencintaimu, Freya!" bisik Jordan.
Bersambung...
__ADS_1