
Dua bulan sudah waktu berlalu, sejak Jordan dan Freya menjalin hubungan dalam ikatan halal. Keduanya hidup bersama, layaknya suami istri pada umumnya. Kamila tetap ada di tengah-tengah mereka. Jordan dan Freya sangat menyayanginya seperti anak sendiri.
Setelah menikah, Freya hanya kadangkala pergi ke kantor. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, mengurus Kamila dan juga mengurus suaminya. Kendati ada beberapa pelayan yang bekerja di rumahnya, namun urusan makanan, tetap Freya yang menyiapkan.
Pagi ini, ada yang berbeda dari kebiasaan Freya. Ia tetap berbaring, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 7.
Jordan menggeliat pelan, ia baru saja terjaga dari lena. Ia mengernyitkan kening kala menatap sang istri masih bergulung di bawah selimut tebal.
Ada apa dengannya?
"Sayang, kamu masih tidur?" tanya Jordan dengan suara serak.
Freya tak menjawab, dia hanya merintih pelan, dan hal itu membuat Jordan tersentak. Jordan langsung bangkit dan menyingkap selimut yang menutupi wajah Freya.
"Sayang, kamu kenapa?" Jordan meletakkan punggung tangannya di kening sang istri.
"Sayang, suhu tubuhmu sangat tinggi. Apa yang terjadi?" Jordan mulai panik.
"Perutku sangat sakit, ini ... ini sangat menyiksa," jawab Freya dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku, Sayang? Sekarang ayo ke rumah sakit. Aku tidak mau kamu kenapa-napa." Jordan mengangkat tubuh Freya dan membawanya keluar kamar.
Jordan bergegas menuju garasi, dan membaringkan tubuh Freya di dalam mobil. Tanpa mencuci muka, tanpa mengganti baju, Jordan membawa Freya ke rumah sakit. Dalam balutan celana kasual dan kaus putih berlengan pendek, Jordan membelah jalanan kota yang mulai padat.
__ADS_1
"Sayang, sakit," rintih Freya. Ia memegangi perutnya yang akhir-akhir ini sering sakit tanpa sebab.
"Sabar, ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai." Jordan menjawab sambil menginjak pedal gas. Dia terus menambah laju kecepatan, demi menolong sang istri yang tersiksa dalam rasa sakit.
"Ahhhh." Freya kembali mengerang.
Jordan terus menenangkannya. Sesungguhnya, jauh di dalam hatinya ia sangat khawatir. Sekian lamanya berkecimpung dalam dunia mafia, belum pernah Freya merintih seperti sekarang. Berkali-kali peluru panas melukai tubuhnya, tak sekali pun dia kesakitan.
Apakah yang ia rasakan kini, benar-benar sakit di luar batas? Apa yang terjadi dengannya?
Freya menggigit bibirnya. Rasa sakit kian menjadi, menggerogoti perutnya tanpa ampun. Satu bulan terakhir, tamunya tidak hadir. Sempat berpikir, mungkinkah sakit itu karena hamil? Namun detik ini, Freya merasa pesimis. Dari banyak artikel yang pernah ia baca, sakit dalam masa kehamilan, tidak separah yang ia rasakan. Jauh di dalam hatinya, Freya malah takut dengan kemungkinan terburuk. Ahh, semoga saja tidak.
Tak lama kemudian, Jordan menghentikan mobilnya di halaman rumah sakit. Freya bernapas lega, sebentar lagi sakitnya akan mendapatkan penanganan.
Ia membuka pintu mobil dan dengan cepat mengangkat tubu Freya.
Dua orang perawat datang menghampiri Jordan. Mereka membawa brankar dan membantu meletakkan tubuh Freya di sana. Lantas, mereka mendorong brankar dan menuju ke IGD.
Jordan tetap mengikutinya di belakang, dengan harap-harap cemas ia terus memanjatkan doa. Berharap tidak terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Mohon tunggu di luar ya, Pak, biarkan kami yang memeriksanya," kata Dokter, ketika Freya sudah di bawa masuk ke IGD.
"Baik, Dokter. Tolong berikan pelayanan yang terbaik untuk istri saya," jawab Jordan.
__ADS_1
"Pasti, Pak. Keselamatan pasien adalah tujuan utama kami." Dokter tersenyum, dan kemudian masuk ke IGD.
Jordan mengusap wajahnya dengan kasar, ketika pintu ruangan ditutup rapat. Ia mondar-mandir di dekat kursi dengan perasaan khawatir. Kening dan pelipisnya mulai dibasahi bintik-bintik keringat, namun Jordan tak peduli. Ia tetap bergerak ke sana kemari dalam kebingungan.
Berkali-kali Jordan melirik jarum jam yang menggantung di dinding rumah sakit. Sudah hampir satu jam Freya dibawa masuk, namun belum ada tanda-tanda dokter keluar dan memberi kabar. Apa yang terjadi dengan Freya?
"Ya Allah, semoga dia baik-baik saja."
Entah sudah keberapa kalinya Jordan menggumamkan kalimat itu. Ia sangat takut jika lagu lama terulang kembali. Kehilangan sosok wanita yang amat dicintai, karena panggilan Ilahi.
"Tidak, Freya tidak mungkin meninggalkan aku. Dia wanita yang kuat, dia pasti baik-baik saja," ucap Jordan, menenangkan dirinya sendiri.
Sekitar satu jam kemudian, dokter membuka pintu ruangan. Jordan langsung menghambur ke arahnya dan menanyakan keadaan istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Jordan dengan cepat.
Dokter tak langsung menjawab. Beliau mengusap wajahnya dengan kasar sambil menghela napas panjang, seolah informasi yang dibawa adalah sesuatu yang berat untuk disampaikan.
"Dokter!" Jordan berteriak sambil mengguncang lengan Dokter.
Ia sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi sang istri.
"Maaf___"
__ADS_1
Bersambung...