Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Hubungan Marcel Dan Jonathan


__ADS_3

Freya tersenyum miring, ia menatap wajah-wajah garang yang sedang berdiri di hadapannya.


Dengan high hells yang masih melekat di jemari kakinya, Freya melangkah maju, sembari mengangkat dagu, seolah ia tak takut dengan bahaya yang siap menerkamnya.


"Siapa kalian?" tanya Freya sambil memicingkan matanya. Ia menatap kelima lelaki itu dengan sangat tajam. Sorot matanya seakan mampu membekukan tubuh lawan, atau bahkan juga menghisap nyawanya.


"Kau apakan dia?" tanya salah seorang dari mereka, seraya melirik Jonthan yang sudah terbujur dalam tidur panjangnya.


"Beban hidupnya terlalu berat, aku hanya membantunya untuk melupakan semua itu," jawab Freya dengan santainya, sembari menyibakkan rambut yang berantakan di wajahnya.


"Kau, apakah kau mafia?" tanya lelaki itu sambil melangkah maju, dan mendekati Freya. Matanya menatap tajam ke arah pistol yang ada dalam genggaman Freya.


"Apakah kamu masih butuh jawaban, apa kamu memang sebodoh itu?" ejek Freya sambil tertawa kecil.


"Hanya lima orang, aku pasti bisa membereskan mereka dengan cepat," batin Freya dalam hatinya.


Melihat sikap Freya yang sengaja meremehkannya, lelaki itu menjadi murka. Amarah mulai membara dalam hatinya. Sebagai lelaki yang sudah lama berkecimpung dalam dunia mafia, tak mungkin diam saja saat harga dirinya dijatuhkan, terlebih lagi yang melakukan itu adalah wanita.


"Mulutmu sangat pedas Nona, memohonlah, atau aku akan menyumpal mulutmu dengan peluru!" kata lelaki itu dengan penuh kebencian.


"Kita tidak bisa melukainya, ini perintah Bos," bisik salah seorang dari mereka.


Sebelum menyandang predikat seorang mafia, Freya sudah dilatih untuk menggunakan panca indera dengan lebih baik, termasuk juga indera pendengaran. Kendati lelaki itu hanya berbisik, Freya mampu mendengarnya dengan sangat jelas.


"Bos, siapa yang dia maksud? Aku pikir mereka adalah anak buahnya Jonathan yang datang untuk menyelamatkam tuannya. Tapi ternyata aku salah, siapa yang mengirim mereka kemari?" batin Freya dengan jantung yang mulai berdetak cepat.


"Dia adalah mafia, dan kita tidak tahu dia berdiri di pihak mana. Bos pasti akan mengerti," jawab lelaki yang ada di hadapan Freya, tanpa mengalihkan pandangannya.


"Buang senjatamu, dan menyerahlah! Katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan ini!" bentak lelaki itu.


"Dia menyamar menjadi wanita yang sangat anggun, tapi dibalik semua itu, dia seperti iblis yang bengis dan kejam. Melihat cara kerjanya, aku yakin orang yang berdiri di belakangnya, bukanlah mafia biasa," batin lelaki itu sambil menilik Freya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Sayangnya aku bukan pengecut yang mudah menyerah. Dan, aku juga tidak tertarik untuk menjawab pertanyaanmu, terlalu membosankan," jawab Freya, lagi-lagi dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, lelaki itu langsung menyerang Freya. Ia menarik pelatuk pistolnya, dan berusaha menembak Freya.


Namun, Freya adalah wanita yang sangat gesit dan cekatan. Dengan lincah ia menghindari setiap peluru yang meluncur ke arahnya.


Empat lelaki lainnya langsung ambil tindakan, mereka bersama-sama mengeroyok Freya. Menendang, memukul, dan juga menembak. Namun, hal seperti ini bukanlah yang pertama bagi Freya. Semua serangan dapat ia tangkis dengan begitu mudahnya. Kendati demikian, dress yang dikenakannya robek di bagian pinggang, akibat gerakan yang terlalu berlebihan.


Setelah baku hantam selama setengah jam, akhirnya Freya berhasil menumbangkan empat lawannya. Mereka terkapar tak berdaya di lantai, darah segar bersimbah dan menggenang di sana, manguarkan aroma amis yang cukup menyengat.


"Kau wanita berengsek!" teriak satu lelaki yang paling tegap. Satu-satunya lawan yang masih mampu menopang tubuhnya.


Lantas lelaki itu menyerang Freya, dan berusaha melumpuhkannya. Namun nahas, Freya berhasil memukul lengannya, hingga senjata yang yang digenggamnya terlempar jauh. Freya tertawa menyeringai, ia menangkap dua tangan lelaki itu, dan memelintirnya ke belakang.


Lelaki itu meringis kesakitan, ia menggeram marah, namun tak bisa berbuat apa-apa, karena Freya berhasil mengunci gerakannya.


"Ahhh!" teriak lelaki itu. Ia merasakan panas dan sakit di bahu kanannya.


Freya melepaskan cengkeramannya, lantas ia mendorong tubuh lelaki itu dengan kasar. Raga yang mulai melemah, tersungkur di lantai dengan darah yang bersimbah.


Freya melangkah mendekatinya, kemudian membalikkan tubuh itu dengan kaki jenjangnya. Lelaki yang sudah tak berdaya, menatap Freya dengan penuh kebencian. Dalam hati, ia sangat tidak rela direndahkan seperti ini.


Tanpa pikir panjang, lelaki itu meludah, dan tepat mengenai wajah Freya. Meskipun tidak bisa melukainya, tapi setidaknya bisa menghinanya, pikir lelaki itu.


Freya mengusap air ludah itu dengan pelan, ia mencoba tersenyum, meskipun emosi sudah membuncah di ubun-ubun.


"Rupanya, kamu masih ingin bermain denganku," ucap Freya seraya membelai pipi lelaki itu. Ia mengusapkan air ludah itu di sana.


"Baiklah, akan aku turuti keinginanmu!" sambung Freya sembari mengeluarkan benda kecil dari dalam tasnya.


Lelaki itu tak menjawab, hanya dadanya yang terlihat naik turun. Entah menahan amarah, ataukah menahan rasa sakit.


Freya mengeluarkan sebilah pisau kecil, lalu mendekatkannya ke wajah lelaki itu.


"Berbahagialah, karena kamu akan menjadi lelaki pertamaku. Lelaki yang aku kuliti hidup-hidup. Mungkin rasanya akan sedikit sakit, tapi seharusnya kamu berterima kasih, karena ini bisa mengalihkan rasa sakit di bahumu. Racun yang bersarang di sana, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pisau ini," ucap Freya seraya menempelkan pisau miliknya di pelipis lelaki itu.

__ADS_1


"Apa yang akan kamu lakukan?" geram lelaki itu dengan wajah yang memucat. Ia tak menduga akan bertemu dengan iblis betina yang wujudnya bak seorang putri.


"Mengiris wajahmu, dan kemudian mengulitinya. Seperti ini, seperti ini, seperti ini," jawab Freya dengan santainya. Ia menggoreskan luka yang cukup dalam di pelipis dan pipi lelaki itu.


"Sangat menarik," kata Freya sembari mengangkat pisaunya. Darah segar tampak berlumuran di ujungnya.


"Tolong maafkan aku, maafkan kesalahanku! Tembak aku, dan bunuh aku, jangan seperti ini. Tolong hentikan!" kata lelaki itu dengan napas yang tersengal-sengal, dan wajah yang semakin pucat pasi.


"Kau ingin aku berhenti, baiklah. Tapi jawab pertanyaanku dengan jujur. Siapa tuanmu, dan apa tujuanmu kemari?" tanya Freya dengan sorot mata yang tajam.


"Tuan Marcel, dia menyuruh kami untuk membunuh Tuan Jonathan." Jawab lelaki itu dengan terbata-bata.


"Marcellino?"


"I...iya."


"Membunuh Jonathan, kenapa dia menginginkan ini?" tanya Freya dengan cepat.


"Karena dia, karena dia___" belum sempat lelaki itu meneruskan kalimatnya, nyawa sudah lebih dulu meninggalkan raganya.


Kepala lelaki itu tergolek lemas di lantai, tak ada lagi hembusan napas darinya. Freya berdecak kesal, ia sangat menyayangkan kepergian lelaki itu yang terlalu cepat.


"Sial, aku belum mendapatkan jawabannya!" gerutu Freya sambil beranjak dari duduknya.


Ia beralih menuju lawan yang lainnya, memeriksa mereka dan berharap ada salah satu diantaranya yang masih bernyawa. Namun Freya harus menelan kekecewaan, karena mereka semua sudah pergi ke alam baka.


"Apa alasannya, kenapa Marcel melakukan ini. Aku curiga hubungan mereka tidak baik, tapi aku tidak menyangka jika seburuk ini. Apakah dugaanku memang benar, apakah Marcel itu benar-benar Mr.X?" ucap Freya seorang diri.


Lalu ia merogoh ponselnya dan menghububgi seseorang.


"Aku butuh bantuanmu, untuk membereskan sesuatu. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu!" ucap Freya pada seseorang di seberang sana.


"Aku harus membereskan ini, Marcel tidak boleh melacak jejakku." Gumam Freya dengan pelan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2