
Freya tersenyum puas saat melihat Mike tidak bergerak lagi.
Ia menunduk, dan memeriksa denyut nadinya. Ternyata tidak ada, Mike sudah mati.
"Semoga kau bahagia di alam sana," ucap Freya sambil tersenyum lebar. Kemudian ia beranjak, dan mencari alat penerang yang lebih besar.
Dengan membawa lampu emergency, Freya berlari menaiki anak tangga, kamar David adalah tujuannya. Freya berharap tidak terjadi apa-apa dengannya.
Beberapa detik kemudian Freya telah sampai di kamar David, ia langsung masuk, dan melihat kamar itu kosong.
"David! David!" teriak Freya sambil memeriksa setiap jengkal ruangan kamar itu.
"David! Di mana kamu?" Freya kembali berteriak, ia merasa kebingungan karena sosok lelaki itu tak juga ditemukan. Bahkan sampai ke kamar mandi, dan balkon kamarpun, Freya belum juga menemukannya.
Freya mulai panik, ia takut jika terlambat menemukannya. Tidak, ia tidak mau lagi kehilangan seseorang yang dekat dengannya. Freya keluar dari kamar itu, dan kembali mencari David di ruangan yang lain. Namun hingga beberapa saat lamanya Freya belum juga menemukannya.
Lalu Freya berlari menuju pintu utama, mungkin saja David ada di sana, pikir Freya.
Luka di lengannya tak lagi ia rasakan, keselamatan rekannya adalah yang paling penting untuk saat ini. Freya melambatkan langkahnya saat mendekati pintu utama. Ia melirik ke sana ke mari mencari keberadaan David.
Dan tiba-tiba matanya menangkap sosok lelaki yang sedang terbaring di lantai, di depan pintu utama.
Freya berlari mendekatinya, dan jantungnya berdetak cepat saat melihat perut David sudah bersimbah darah.
"David! David! Bangun David!" teriak Freya sambil mengguncang tubuh David. Namun David hanya terdiam, matanya terpejam dengan rapat.
Freya memeriksa denyut nadinya, dan ia merasa sedikit lega saat mengetahui David masih bernyawa.
Freya mengangkat tubuh David, dan membaringkannya di sofa.
Dengan terengah-engah Freya berlari ke kamarnya, dan mengambil ponselnya. Ia menghubungi Leon, salah satu dokter yang cukup dekat dengan David dan Jordan.
"Hallo." Sapa seseorang di seberang sana.
"Hallo Leon, tolong kamu cepat ke sini!" jawab Freya.
"Ada apa Fre?" tanya Leon terkejut. Selarut ini Freya memintanya datang ke sana, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"David terluka, kamu harus menyelamatkan dia," jawab Freya dengan cepat.
"Apa! Baik aku akan segera ke sana." Ucap Leon dengan tegas.
Freya menghela nafas panjang, sambil mondar-mandir tidak karuan. Ia khawatir, dan panik. Rasanya waktu sudah begitu lama berlalu, namun Leon tak kunjung datang.
Dan Jordan, entah apa yang terjadi padanya. Kenapa sampai selarut ini belum juga pulang. Mengingat semua ini adalah jebakan Mike, Freya merasa semakin tidak tenang. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan mereka?
Namun tiba-tiba, pintu utama terbuka, bersamaan dengan lampu-lampu yang kembali menyala.
Sontak Freya menoleh, dan tampak di sana Leon datang bersama dengan Jordan.
"Leon cepat selamatkan dia!" teriak Freya sambil menunjuk David yang terbaring tak berdaya, di atas sofa.
"Aku pasti akan menyelamatkannya." Jawab Leon.
__ADS_1
Kemudian Leon mulai mendekati David, dan memeriksa luka di perutnya.
"Aku akan membawanya ke ruang pengobatan, tolong bawakan alat-alatku," ucap Leon sambil mengangkat tubuh David.
Freya dan Jordan membantu membawakan alat-alatnya, dan berjalan mengikuti Leon.
Di rumah ini memang tersedia ruang pengobatan, mirip dengan ruangan di rumah sakit. Alat-alatnyapun juga lengkap. Digunakan saat salah satu dari mereka ada yang terluka.
Leon membaringkan David di ranjang, dan ia mulai mengobatinya.
Sedangkan Jordan dan Freya, mereka menunggunya sambil duduk di salah satu sofa yang tak jauh dari ruangan itu.
"Mike datang kesini." Ucap Freya sambil menatap Jordan.
"Maaf aku memang bodoh, aku sama sekali tidak menyadari rencananya." Jawab Jordan dengan penuh penyesalan.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, dia memang licik," kata Freya.
Jordan diam, dan tidak menjawab perkataan Freya. Dia merasa kesal pada dirinya sendiri, karena kebodohannya kini nyawa David sedang terancam. Semoga saja dia masih bisa diselamatkan.
"Siapa Frans? Mike merencanakan semua ini hanya demi melepaskan dia?" tanya Freya ingin tahu.
"Dia adalah rekan baiknya." Jawab Jordan sambil pikirannya menerawang jauh.
"Sekarang mereka pasti merencanakan sesuatu untuk menghancurkanku," sambung Jordan sambil menunduk.
"Merencanakan sesuatu?" tanya Freya dengan heran.
"Iya."
"Apa maksudmu?" tanya Jordan dengan pelan.
Bukankah sekarang mereka sudah kabur bersama?
"Aku sudah membunuh mereka, mayat Frans ada di penjara bawah tanah, dan mayat Mike ada di ruang keluarga." Jawab Freya menjelasakn.
"Kau serius?" tanya Jordan sambil memegang kedua lengan Freya.
Freya meringis menahan sakit di lengannya, karena Jordan memegang lukanya dengan kuat.
Jordan menyadari hal itu, lalu ia menatap lengan Freya, ada banyak darah di sana.
"Fre kenapa lenganmu?" tanya Jordan kaget. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang?
"Mike berhasil menembakku." Jawab Freya.
"Kau harus segera diobati Freya," kata Jordan.
"Leon masih mengobati David, lagi pula lukaku ini tidak seberapa." Jawab Freya sambil tersenyum.
Meskipun ia merasakan sakit di lengannya, tetapi ia mencoba bertahan, Leon harus menyelamatkan David terlebih dahulu.
"Kau tidak ingin melihat Mike?" tanya Freya saat melihat Jordan diam sambil memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, bawa aku melihatnya," jawab Jordan sambil beranjak dari duduknya.
Kemudian mereka berdua turun ke lantai bawah. Namun baru saja mereka menginjakkan kakinya di anak tangga yang terakhir, mereka berpapasan dengan Alex dan Andrew.
"Bagaimana David?" tanya Alex.
"Leon sudah menanganinya." Jawab Jordan.
"Kalian mau ke mana?" Alex kembali bertanya.
"Melihat sesuatu yang menarik, kalian ikutlah," sahut Freya sambil tersenyum.
Meskipun Alex, dan Andrew tidak terlalu paham dengan maksud Freya, namun mereka memilih untuk mengikutinya.
Dan mereka bertiga terkejut saat melihat Mike terbaring tak bernyawa di lantai.
"Kau kah yang melakukan itu Fre?" tanya Alex sambil menatap Freya.
Dan Freya menjawabnya dengan anggukan, dan senyuman.
"Kau luar biasa Fre." Ucap Alex kagum.
"Lalu di mana Frans?" tanya Andrew menyela.
"Di ruangan bawah tanah." Jawab Freya.
"Kau juga membunuhnya?" tanya Andrew.
"Sepertinya begitu." Jawab Freya dengan singkat.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. David belum siuman, namun keadaannya sudah stabil. Peluru yang bersarang di perutnya sudah berhasil dikeluarkan. Freya juga sudah diobati, Leon baru saja mengeluarkan peluru yang ada di lengannya.
Kini Freya sedang berbaring di ranjang kamarnya, dengan ditemani Jordan yang duduk di sebelahnya.
"Terima kasih." Kata Jordan sambil menatap Freya.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Freya sambil membalas tatapan Jordan.
"Kau sudah membantuku sampai terluka." Jawab Jordan.
"Bukankah itu sudah menjadi tugas kita untuk saling menjaga." Kata Freya dengan tersenyum manis.
"Iya, kau benar. Tapi entahlah, aku merasa bersalah saat melihatmu terluka." Ucap Jordan.
"Ini hanya luka kecil, kau jangan berlebihan Jordan," kata Freya sambil tersipu malu. Hatinya mulai berdebar dengan keras.
"Kau tidak menyesal menjadi mafia? Kelak hidupmu tidak akan bisa tenang Freya. Jika kau merasa menyesal, mundurlah sekarang, selagi keadaan masih belum terlambat," kata Jordan.
"Aku sama sekali tidak menyesal, aku menikmati hidupku saat ini." Jawab Freya dengan tegas.
"Selalu ada di dekat kamu, aku merasa bahagia Jordan. Seakan aku menemukan kembali cahaya dalam hidupku, yang dulu sempat padam. Jordan ijinkan aku mencintaimu." Ucap Freya dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung......