
Tubuh tegap yang sedang tergolek di kursi tunggu, semakin meringkuk dan mengeratkan lipatan tangannya. Suhu dingin yang menusuk tulang, mengusik mimpinya yang teramat indah. Detik demi detik terus berlalu, sepasang mata milik tubuh itu mengerjap perlahan. Rupanya, hawa dingin benar-benar mengganggu tidurnya.
"Freya, Freya!" panggil Jordan antara sadar dan tidak.
"Freya, Fre, kamu di mana?" Jordan mengucek matanya yang masih mengantuk. Lantas ia bangkit, saat menyadari Freya tak ada di sampingnya.
"Freya! Fre! Freya!" panggil Jordan berulang kali.
Jordan menoleh ke sana kemari, mencari sosok wanita yang beberapa saat lalu masih ia dekap. Namun nihil, yang tertangkap netranya hanyalah beberapa perawat yang sesekali melintas.
"Kemana Freya," Jordan menggumam pelan sembari beranjak dari duduknya.
"Suster!" panggil Jordan pada salah seorang perawat yang baru saja keluar dari IGD.
"Iya, Pak," jawab Suster dengan ramah.
"Mmm saya mau tanya, Sus. Teman saya yang tadi duduk di sini ... ke mana, ya?" tanya Jordan dengan ragu-ragu. Dalam hati, ia tak yakin jika suster tahu dimana Freya saat ini.
"Apakah yang Anda maksud Bu Oliv?" Suster balik bertanya.
"Iya."
"Saya tadi berpapasan di sana, Pak, di lorong yang menuju ke surau." Suster menjawab sembari menunjuk ke arah samping.
"Surau?"
"Iya. Coba Bapak periksa dulu, siapa tahu Bu Oliv ada di sana," jawab Suster.
"Baik Sus, terima kasih, ya." Jordan menghela napas panjang sambil berusaha tersenyum. Dalam hati ia sangat kebingungan, untuk apa Freya datang ke surau di tengah malam. Sudah sejauh itukah ia mengenal Tuhan?
Jordan mulai mengayunkan kakinya, dan menuju lorong yang membawanya ke surau. Di tengah perjalanan, ia melirik jarum jam yang melingkar di tangan, pukul 01.00 dini hari. Jordan semakin mempercepat langkahnya, tak peduli meskipun dingin angin malam menerpanya.
Tak lama kemudian, surau yang berdiri kokoh mulai tampak di depan mata. Walaupun ukurannya tidak terlalu besar, namun surau itu terlihat megah.
Jordan semakin mendekat tanpa mengalihkan pandangan. Mata birunya terus mencari keberadaan Freya, namun hingga ia berhenti tepat di hadapan surau, sosok Freya masih belum tertangkap korneanya.
"Di mana Freya," gumam Jordan pelan.
__ADS_1
Jordan ragu-ragu, ketika hendak menapakkan kakinya di teras surau. Pantaskah ia datang ke tempat suci itu? Satu pertanyaan yang menghantui pikiran Jordan, hingga membuat kakinya mematung di awang-awang. Ia berada dalam dilema, antara menarik kembali kakinya, atau menapakkannya di sana.
Ketika Jordan masih terjebak dalam keraguan, tiba-tiba matanya menatap sosok wanita yang baru saja bangun dari sujudnya. Hati Jordan bergetar seketika, sampai ia tak sadar telah menapakkan kakinya, dan bahkan juga berjalan mendekati jendela.
Dari balik kaca, Jordan melihat seorang wanita dalam balutan kain putih panjang sedang menghadap Tuhan-nya.
Benarkah itu Freya?
Apakah dia sedang shalat tahajjud?
Apakah dia benar-benar bertaubat?
Apakah dirinya harus melakukan hal yang sama?
Apakah kira-kira masih ada pintu ampunan untuknya?
Begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam pikiran Jordan.
"Sudah hampir 30 tahun, aku tidak pernah menyebut nama Tuhan. Ah, jangankan menyebut, mengingat saja aku tidak pernah. Begitu banyak dosa yang melumuriku, lantas apa masih ada harapan untuk memperbaiki diri. Jalan yang kulalui sudah membelok jauh dari jalan yang seharusnya, apakah masih ada kesempatan untuk kembali," batin Jordan dengan perasaan yang kian tak menentu.
Jordan mencengkeram bingkai jendela dengan erat, perlahan tapi pasti, bayangan masa silam melintas dalam ingatan. Ia pernah memiliki kehidupan damai di panti, namun semua itu berakhir karena kebiadaban manusia yang haus ambisi.
"Sebenarnya aku tidak ingin hidup seperti ini, Bunda. Maafkan aku yang telah mengabaikan nasihat-nasihatmu," gumam Jordan dengan pelan.
Jordan menunduk, menatap jemari kaki yang berpijak di lantai marmer. Petuah dan nasihat ibu panti terngiang jelas dalam telinganya, lantas rasa penyesalan perlahan menyeruak dalam benaknya.
"Apapun yang terjadi, berdoalah kepada Allah, karena hanya Dia yang Maha-tahu, apa yang terbaik untuk kita. Juga jangan lupa untuk senantiasa mendoakan orang tua, meskipun kalian tidak pernah bertemu dengan mereka, tapi percaya sama Bunda, mereka sangat menyayangi kalian."
Salah satu nasihat ibu panti yang detik ini terus berputar dalam ingatan Jordan. Berdoa kepada Allah, mendoakan orang tua, dua hal yang selama ini tak pernah ia lakukan. Entah di mana orang tuanya, Jordan sama sekali tak ada niatan untuk mencari.
Kecewa, itulah satu hal yang ia rasa. Menurut keterangan ibu panti, orang tuanya akan datang menjemput. Namun hingga malam nahas itu, tak ada seorang pun yang datang kepadanya. Itu artinya, kehadirannya memang tidak diharapkan.
"Jordan, apa yang kau lakukan?"
Suara Freya membuyarkan lamunan Jordan. Pikirannya yang sempat berkelana ke masa lalu, ditarik kembali ke masa kini. Jordan masih tetap menunduk, terlalu malu jika Freya mengetahui matanya berkaca-kaca.
"Jordan!" Freya kembali memanggil sembari memegang lengan Jordan.
__ADS_1
Jordan menghela napas dalam-dalam, hangat sentuhan Freya menjalar di relung hati. Lantas Jordan mengangkat wajah, dan mengusap sudut matanya yang basah.
"Kamu ... kenapa?" tanya Freya ragu-ragu.
"Tidak ada," jawab Jordan.
"Lalu, kenapa kamu ada di sini?" Freya kembali bertanya.
"Aku mencarimu," sahut Jordan masih dengan suara lirih.
"Tadi kau tidur, jadi aku langsung pergi. Aku tahu kamu lelah, jadi aku tidak membangunkanmu," ucap Freya.
"Iya, tidak apa-apa."
"Kalau begitu ayo, aku sudah selesai," ajak Freya.
Jordan menahan tangan Freya yang hendak pergi meninggalkan surau. Namun ia tetap bergeming, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Jordan berusaha mengutarakan keinginannya lewat tatapan netra.
"Jordan, ada apa?" tanya Freya dengan heran. Ia menilik genggaman Jordan di lengannya, sangat erat, mungkin Jordan memang tidak ingin ia pergi.
"Jordan!" panggil Freya untuk yang kesekian kali.
"Jangan tinggalkan aku," bisik Jordan.
"Aku tidak meninggalkanmu, aku mengajakmu, Jordan," sahut Freya.
"Tidak." Jordan menggelengkan kepala.
"Hei, kau kenapa? Ada masalah apa, Jordan?" Freya menepuk pipi Jordan, sambil menatap wajah sendunya yang dipenuhi gurat-gurat kesedihan.
"Aku ... aku ... ahh____" Jordan mengacak rambutnya sendiri.
"Katakan saja, kau ini kenapa!" kata Freya dengan tegas.
"Ajari aku shalat, aku sudah melupakan tata caranya," ucap Jordan setelah terdiam cukup lama.
"Kamu serius?" Freya mengulum senyum di bibirnya yang ranum.
__ADS_1
"Iya." Jordan mengangguk. "Aku tidak tahu shalat dan taubatku akan diterima atau tidak, tapi saat ini aku benar-benar ingin menangis di hadapan-Nya," sambungnya dalam hati.
Bersambung...