
Freya menghentikan mobilnya dengan mendadak, hingga terdengar bunyi decitan rem yang sangat keras. Freya melotot tajam saat melihat ledakan besar di depan matanya.
Apakah itu bom? Lalu dimana Jordan? batin Freya kala itu.
Dengan jantung yang berdetak sangat cepat, ia melihat ponselnya, dan memeriksa kembali alamat yang dikirimkan Jordan padanya.
Dan ternyata ia tidak salah, ia sudah tiba di lokasi. Freya mencoba menghubungi Jordan, namun tidak bisa. Nomornya tidak aktif. Dimana Jordan?
Kemudian dengan langkah yang cepat Freya keluar dari mobilnya. Ia harus menemukan Jordan.
Freya berlari mendekati villa yang hanya tinggal puing-puingnya, asap yang masih tebal membuat pandangannya kurang tajam.
Saat ia mencari jejak tentang keberadaan Jordan, tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang laki-laki. Ia memakai jubah hitam, dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Yang dapat Freya lihat hanyalah, mata hitamnya, dan rambutnya yang juga berwarna hitam. Apakah dia Mr.X?
Freya menatap tajam mata lelaki itu, sepertinya ia pernah melihat tatapan mata seperti ini, tapi dimana ya?
Untung saja saat itu Freya tidak menampakkan dirinya. Ia memakai masker, dan juga jubah yang berwarna hitam. Freya juga memakai lensa mata, dan rambut palsu. Hingga orang melihatnya bermata biru, dan berambut coklat.
"Siapa kau?" tanya lelaki itu dengan tatapan tajamnya.
"Sepertinya dia memang Mr.X, apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus menembaknya sekarang juga. Tapi tidak, aku tidak boleh gegabah, membunuhnya tidak akan semudah itu. Aku harus menyusun rencana." batin Freya dalam hatinya.
"Apa aku sedang berhadapan dengan Mr.X?" ucap Freya balik bertanya.
"Rupanya kau sudah tahu tentang aku." jawab Mr.X.
"Aku tertarik dengan bisnismu." kata Freya.
"Tapi aku tidak tertarik bekerjasama denganmu." jawab Mr.X dengan tegas.
"Kenapa? Bahkan kau belum tahu berapa banyak keuntungan yang akan kau dapatkan." kata Freya menahan kekesalannya.
Sial, dia sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan.
"Karena aku tidak tahu kau siapa. Lagi pula uangku sudah banyak, untuk apa bekerja sama dengan orang yang belum tentu bisa kupercaya." jawab Mr.X.
"Sangat sombong. Benar-benar menyebalkan. Dia sangat pintar memancing emosiku." gerutu Freya dalam hatinya.
"Namaku Atana, kau bisa memanggilku Ata, atau Ana. Jika kau tidak tertarik, aku juga tidak memaksa, aku akan mencari rekan lain untuk bekerjasama denganku." ucap Freya.
__ADS_1
Mr.X melangkah mendekati Freya, "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya sambil menatap Freya lebih tajam.
"Sudah kubilang namaku Atana." jawab Freya.
"Kau bekerja untuk siapa?" Mr.X kembali bertanya.
"Aku bekerja untuk diriku sendiri." jawab Freya sambil memundurkan langkahnya, karena Mr.X semakin mendekatinya.
"Untuk apa kau kesini?" tanya Mr.X.
"Aku tertarik dengan bisnismu, aku ingin menemuimu, dan mengajakmu kerjasama. Tapi ternyata aku salah. Rupanya kau datang kesini tidak untuk berbisnis." kata Freya sambil menoleh kesamping, menatap villa yang tinggal puing-puing. Freya mencoba setenang mungkin.
Mr.X tidak boleh tahu, jika ia sedang merasa takut.
"Dari mana kau tahu, jika aku ada di sini?" tanya Mr.X lagi.
"Kau terlalu banyak bertanya, kau sudah menolak tawaranku, jadi ya sudah, kita tidak ada urusan lagi." ucap Freya.
"Kau sangat sombong. Sekarang katakan padaku, kau bekerja untuk siapa? Aku tidak pernah mendengar namamu, aku yakin kau tidak berdiri seorang diri." kata Mr.X dengan nada tinggi.
"Ada saatnya nanti, kau akan mendengar namaku." ucap Freya sambil melangkah pergi.
Freya melangkah menuju mobilnya, dan mulai melaju meninggalkan tempat itu. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak punya banyak waktu.
Sesampainya di perempatan, Freya membelokkan mobilnya, dan mencari jalan lain yang menuju villa. Ia harus menemukan Jordan, mudah-mudahan saja Mr.X sudah pergi.
Freya memarkirkan mobilnya cukup jauh dari Villa. Lalu ia berjalan mengendap-endap sambil tetap waspada. Saat ia sedang melangkah di balik pepohonan, tiba-tiba ada cahaya dari arah depan.
Ternyata cahaya itu berasal dari mobilnya Mr.X yang baru saja dihidupkan. Freya bernafas lega, bagus jika ia sudah pergi.
Setelah mobil itu melaju pergi, Freya berlari menuju puing-puing villa. Ia mencari Jordan di sekitar sana.
"Kau harus selamat Jordan, kau tidak boleh celaka." gumam Freya, jantungnya berdetak dengan cepat, ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk tentang Jordan.
Sudah hampir dua jam, Freya mencari Jordan, namun Freya belum juga menemukannya. Matanya mulai berkaca-kaca, Jordan adalah segalanya bagi Freya, ia tidak mau lagi kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya.
Freya terduduk lesu di bawah pohon, ia nyaris putus asa mencari Jordan. Kemana sebenarnya dia, dihubungi tidak bisa, dicari juga tidak ada. Freya mulai menitikkan air matanya, hancur sekali hatinya.
"Andai saja aku bisa datang lebih cepat, mungkin aku bisa meyelamatkan Jordan." gumam Freya sambil menangis.
__ADS_1
Tak lama kemudian tiba-tiba Freya mendengar langkah kaki dari arah belakang. Freya beranjak dari duduknya, ia menoleh mencari sumber suara itu. Tampak di sana seseorang sedang berjalan tertatih sambil memegangi dadanya.
Freya kenal betul siapa sosok itu, dia adalah Jordan. Spontan Freya langsung berlari menghampirinya. Namun belum sempat Freya sampai di sana, tiba-tiba Jordan sudah terjatuh, dan terjerembab di tanah.
"Jordan!" panggil Freya sambil mendekati Jordan.
"Jordan! Bangun Jordan! Jordan!" teriak Freya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Jordan, namun Jordan tetap saja diam. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
"Jordan!" Freya kembali berteriak, namun tetap saja, tidak ada respon dari Jordan.
Tidak ada jalan lain, Freya langsung mengangkat tubuh Jordan, meski sangat berat, namun Freya tetap berusaha membawanya ke mobil. Keselamatan Jordan adalah yang terpenting saat ini.
Dengan terengah-engah, dan bersusah payah Freya membawa tubuh Jordan sampai ke mobil. Freya membaringkan tubuh Jordan di bangku belakang. Kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya Freya sampai di rumah. David, dan Leon yang sebelumnya sudah dihubungi, berlari menghampiri mobil Freya.
Dan dengan cepat mereka membawa tubuh Jordan ke ruang pengobatan.
Freya mengikuti mereka, ia melihat David, dan Leon mulai memeriksa Jordan, dan memberikan pertolongan.
Tubuh Jordan penuh dengan luka, kepalanya, tangannya, dadanya, juga kakinya, semua terluka, dan berlumuran darah. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Freya tak mampu lagi menahan air matanya, saat melihat tubuh Jordan tetap diam, meskipun Leon sudah memasangkan beberapa alat bantu padanya.
Freya menutup mukanya, rasanya tidak tega melihat keadaan Jordan sekarang, dadanya telanjang, dan terlihat begitu banyak slang yang terpasang di sana. Juga oksigen, dan alat bantu lainnya, yang Freya tidak tahu apa namanya. Lalu Freya duduk di sofa, diluar ruangan. Ia tak mampu lagi melihat Jordan yang begitu menderita.
Meski sudah tak melihatnya lagi, namun Freya belum bisa berhenti menangis. Tubuh Jordan yang penuh luka, dan lebam tidak bisa hilang dari fikirannya.
Sekitar setengah jam kemudian, David keluar dari ruangan, dan mendekati Freya. Sontak Freya langsung berdiri, dan menatapnya.
"Bagaimana keadaan Jordan?" tanya Freya dengan tidak sabar.
"Maaf Freya..." David menggantung kalimatnya.
Deggggg....
Tubuh Freya melemas seketika, tidak, ini tidak mungkin.
Bersambung........
__ADS_1