
Jordan sedang duduk di kursi sambil merakit senapan panjang. Beberapa luka di tubuhnya masih dibalut perban, tapi sepertinya Jordan tak menghiraukannya. Ia lebih mementingkan senjata, daripada kesehatannya sendiri.
"Apa yang kau lakukan Jordan?" tanya Freya sambil mendekati Jordan. Alex, dan Andrew menatap Freya sambil tersenyum.
"Andrew membawakan senjata baru untukku. Lihatlah, sangat menarik." ucap Jordan sambil menyodorkan senjatanya.
"Aku tidak tertarik, bentuknya terlalu besar, tidak bisa disembunyikan." tolak Freya. Ia memang lebih menyukai pistol daripada senapan panjang.
"Tapi kecepatannya luar biasa, ini sangat mematikan. Kau tidak ingin mencobanya?" tanya Jordan.
"Tidak. Sekarang katakan padaku, apa yang terjadi pada malam itu?" Freya balik bertanya. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Jordan.
"Dia menjebakku disebuah ruangan tertutup, yang sudah dipasangi bom." jawab Jordan.
"Lalu bagaimana kau bisa keluar?" tanya Freya.
"Aku menembaki pintunya. Tapi pintunya model rolling door, jadi membutuhkan waktu yang lama untuk melubanginya. Aku kehabisan waktu, dan tidak sempat ke lantai bawah, jadi aku loncat dari lantai tiga, itu sebabnya aku terluka." jawab Jordan menjelaskan.
"Lalu kenapa sekarang kau sudah disini? Seharusnya kau masih di ruangannya David." kata Freya sambil menatap Jordan.
"Marahi saja dia Fre, siapa tahu kalau kamu yang bicara dia menurut. Aku sudah capek menyuruhnya diam di sana, tak dihiraukan sama sekali." sahut Andrew.
"Aku tidak selemah itu kawan." ucap Jordan sambil terkekeh.
"Tapi kau masih dalam tahap pemulihan. Seharusnya kau masih berbaring di sana." Andrew kembali menyahut.
"Aku tidak suka memanjakan diri sendiri." jawab Jordan.
"Terserah kau saja." kata Andrew dengan kesal.
"Lex, kau mau kemana?" tanya Freya saat melihat Alex menyiapkan beberapa senjata.
"Aku ada sedikit urusan dengan tikus-tikus kecil." jawab Alex sambil tersenyum miring.
"Butuh bantuan?" tanya Freya.
"Tidak usah, kau fokus saja untuk mencari rekaman itu." jawab Alex sambil beranjak dari duduknya.
"Ndrew aku pergi dulu, jaga rumah, dan jaga dia." kata Alex sambil melirik Jordan.
"Kau fikir aku hewan peliharaan, yang butuh penjagaan." sahut Jordan sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kau melebihi hewan, tidak bisa diatur sama sekali." jawab Alex dengan kesal.
Alex sangat menyayangkan tindakan Jordan kemarin, terlalu gegabah menurutnya. Andai saja saat itu Jordan membawa pengawal, mungkin tidak seperti ini kejadiannya. Jika sudah berhubungan dengan Mr.X, Jordan memang sangat terburu-buru, ia seperti tak bisa lagi berfikir dengan jernih. Itulah salah satu hal yang tidak disukai Alex, balas dendam boleh saja, Alex juga tahu betapa bencinya Jordan pada Mr.X. Tapi sebenci, dan semarah apapun, seharusnya masih bisa memikirkan tentang keselamatannya.
"Apa kau terburu-buru Lex?" tanya Freya.
"Kenapa?" Alex balik bertanya.
"Aku membawa kabar baik, kau tidak ingin mendengarnya?" tanya Freya sambil menaikkan alisnya.
Alex langsung duduk di depan Freya, ia sangat antusias untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Freya.
"Kabar baik apa?" tanya Alex sambil menatap Freya. Namun bukan Alex saja, Andrew dan Jordan juga ikut menatap Freya.
"Aku sudah mendapatkan rekaman cctv pada hari itu, dan aku sudah tahu, siapa pria yang yang menabrakku di depan toilet." kata Freya sambil melirik teman-temannya. Mereka masih diam menunggu Freya melanjutkan kata-katanya.
"Pria itu adalah Marcellino, tangan kanannya Jonathan Marquis." sambung Freya.
"Jonathan Marquis." gumam Jordan dengan pelan.
"Dari data yang kudapatkan, kau pernah berselisih dengannya." kata Freya sambil menatap Jordan.
"Kau benar, dan sampai sekarangpun hubungan kita cukup buruk." jawab Jordan.
"Kita pernah mencurigainya, dan juga pernah menyelidikinya. Dan kita mendapatkan satu kesimpulan, dia bukan Mr.X" sahut Alex.
"Benarkah?" gumam Freya dengan heran. Padahal dia sudah sangat mencurigainya.
"Memangnya kau mencurigainya Fre?" kali ini Andrew yang bertanya.
"Iya. Aku bertemu dengan Marcel ditempat yang sama dengan lokasi terakhir Mr.X. Jadi aku mencurigainya. Tapi kalaupun yang menjadi Mr.X itu Marcel, tentu saja atas suruhan dari Jonathan. Aku akan menyelidikinya, karena sepertinya dia juga tahu sesuatu tentang Diamond." jawab Freya menjelaskan pendapatnya.
"Tentang Diamond? Apa maksudmu Fre, memangnya kau pernah bertemu dengannya?" tanya Alex.
"Percaya atau tidak, tadi dia mengantarkan aku pulang ke apartemen." jawab Freya dengan tersenyum lebar.
Jordan, Alex, dan Andrew menatap Freya secara bersamaan. Mereka terkejut mendengar ucapan Freya. Baru tadi pagi Alex menyuruhnya mencari rekaman itu, dan malam harinya dia sudah bilang, baru saja diantarkan pulang oleh targetnya. Bagaimana bisa?
"Kau serius?" tanya Jordan sambil menatap Freya lekat-lekat.
"Tentu saja." jawab Freya dengan bangga.
__ADS_1
"Memangnya kau dari mana?" Jordan kembali bertanya.
"Kantornya." jawab Freya singkat.
"Kau pergi ke kantornya?" tanya mereka bertiga bersamaan.
"Kenapa kalian sekaget itu? Aku tidak masuk ke kantornya, hanya di depan gerbangnya saja. Tapi aku berhasil menarik perhatiannya, dan akhirnya dia mengantarkan aku pulang. Kau benar Jordan, umpan terbaik adalah wanita cantik. Dan aku rasa aku cukup cantik untuk menjadi umpan. Tapi jika aku boleh memberi saran, lebih baik tambahi uang untuk perawatanku, agar aku terlihat semakin cantik." kata Freya dengan santainya, seperti tanpa beban.
"Kau jangan bercanda Fre, aku sedang serius." jawab Jordan.
"Aku juga serius. Kalian tahu, kami berkenalan, dan dia menanyakan tempat kerjaku. Dan dia seperti terkejut, saat aku mengatakan bekerja di Diamond. Dia tidak mungkin tahu kan, kalau Diamond sudah menjadi milik kamu?" tanya Freya sambil menatap Jordan.
"Seharusnya tidak, aku sudah menutup rapat tentang masalah itu. Tapi kenapa kau seberani itu mendekatinya? Kau tahu Freya, dia adalah mafia yang berbahaya." kata Jordan.
"Aku juga mafia, apa yang perlu ditakutkan. Lagipula aku menemuinya sebagai Freya, bukan Atana." jawab Freya dengan santainya.
"Tapi kau harus berhati-hati Fre." sahut Andrew.
"Aku tahu. Dia adalah pecinta wanita, bukan hal yang sulit untuk mendekatinya. Kalaupun dia bukan Mr.X, tapi setidaknya aku bisa mengorek informasi tentang Diamond, siapa tahu itu ada hubungannya dengan Mr.X." ucap Freya.
"Kau akan merayunya?" tanya Jordan.
"Tentu saja." jawab Freya.
"Ternyata kau licik juga Fre." sahut Alex.
"Asal kau tahu Lex, licik itu adalah sebagian dari kecerdasan." jawab Freya sambil tertawa.
"Baiklah, terserah kau saja." kata Alex sambil memutar bola matanya.
"Aku juga punya rencana baru." ucap Freya, yang sontak menarik perhatian dari ketiga temannya.
"Rencana apa?" tanya Alex.
"Jordan masuk dalam jebakan, karena dia menemui Mr.X. Dia adalah mafia yang licik, jadi kita juga harus melawannya dengan cara yang licik. Sekarang kita jangan lagi menemuinya, tapi kita pancing dia, untuk menemui kita." kata Freya panjang lebar.
"Memancingnya keluar bukanlah hal yang mudah Freya. Selama ini kita sudah sering mencobanya." ucap Jordan.
"Aku ada cara. Selama ini dunia mafia identik dengan lelaki hebat. Jadi jika ada wanita hebat yang tiba-tiba muncul, dunia mafia akan gempar, dan Mr.X pasti penasaran akan hal itu. Dan dengan sendirinya dia akan keluar menemui wanita itu." kata Freya sambil berdiri, dan mengeluarkan pistolnya.
"Dengan benda ini aku akan mengukir sejarah, aku pastikan dunia mafia tidak akan pernah melupakan aku." kata Freya sambil menatap pistolnya, dan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Bersambung.......