Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Menggali Informasi


__ADS_3

"Menjauhlah sedikit," kata Freya seraya mendorong dada Clavin, berharap lelaki itu memberikan jarak di antara mereka.


"Jawab aku Freya, jangan membuatku terus menunggu," ucap Calvin sembari mendorong tubuh Freya dan merapatkannya di dinding. Mengunci tubuh wanita itu, hingga tak bisa melakukan banyak gerakan.


Jantung Freya berdetak semakin cepat, dan rasa panas mulai menjalar dalam dirinya, kala manik biru itu menatapnya dengan lebih lekat. Jiwa Freya seakan menyelam ke dasar netra, mencari kebenaran tentang cinta yang diucapkannya.


Freya menghela napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan pelan. Kendati ia sangat andal dalam pergulatan, namun ia sangat lemah dalam perasaan. Ia sama sekali tak kuasa menolak perlakuan Calvin, meskipun sebenarnya ia sanggup melakukan hal itu.


Mendorong Calvin, dan melempar tubuhnya hingga terjerembab adalah hal sangat mudah untuk Freya lakukan, tapi ia tak melakukan itu. Hatinya mengalahkan logika, hasratnya bahkan meminta hal yang lebih dari Calvin. Seperti inikah cinta?


"Freya!" panggil Calvin dengan napas yang memburu. Freya dapat merasakan kehangatannya, menyembur dan menyapu seluruh wajahnya.


Namun tiba-tiba Freya mengernyitkan keningnya, ia mencium bau aneh yang menguar samar-samar dari mulut Calvin. Tanpa pikir panjang, Freya mendorong tubuh Calvin dengan kasar, hingga tubuh lelaki itu terhuyung ke belakang. Freya tahu jelas, apa yang baru saja Calvin minum. Ahh bodoh sekali Freya, kenapa saat ciuman tadi, sama sekali tak menyadarinya.


"Pergi, aku tidak butuh kata cinta dari lelaki yang sedang mabuk!" bentak Freya sambil menatap tajam ke arah Calvin.


Entah kenapa, hatinya sangat kecewa saat tahu jika Calvin sedang mabuk. Ia menuntut jawaban darinya, kala dalam pengaruh alkohol, mungkinkah itu sesuatu yang tulus?


"Aku tidak mabuk Fre, aku hanya___"


"Aku bukan wanita bodoh Vin, aku dapat mencium aroma nafasmu. Berani sekali kamu meminta jawaban disaat sedang mabuk, aku sangat kecewa. Sekarang juga pergi dari sini!" bentak Freya sebelum Calvin sempat meneruskan kalimatnya.


"Fre maafkan aku Fre, tolong jangan marah. Hari ini aku sedang kalut, banyak hal yang terjadi di kantorku, aku hanya sedikit menenangkan diri. Aku tidak punya tempat untuk berbagi, hanya ini caraku meringankan beban." Ucap Calvin dengan pelan. Ia menunduk lesu, terlihat jelas jika hatinya sedang lelah.


Freya bergeming di tempatnya, ia hanya menatap gerak-gerik Calvin. Lelaki itu melangkah lunglai mendekati sofa, kemudian duduk di sana sambil memegangi kepalanya.


"Ada seseorang yang berusaha mengacaukan bisnisku, tapi aku tidak tahu siapa dia. Entah apa salahku, yang jelas aku sangat lelah memikirkan ini. Aku tidak peduli apa jawaban kamu, dan bagaimana nanti hubungan kita, yang jelas aku ingin berbagi beban denganmu. Aku tidak memintamu untuk memberi solusi, cukup dengarkan saja aku sudah lega," kata Calvin seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Freya masih terdiam, bibirnya terkatup rapat, dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Namun ia tak mengalihkan pandangannya, tetap menatap lekat ke arah Calvin.


"Jika masalahku tidak terlalu berat, aku juga tidak minum Fre. Dan ini tadi aku meninggalkan minumanku demi kamu. Aku ingin berbagi masalah denganmu saja, bukan dengan alkohol. Yang barusan kukatakan, itu tulus dari dasar hatiku. Aku hanya minum beberapa teguk, tidak sampai mabuk. Aku masih sadar dan ingat jelas apa yang kubicarakan." Sambung Calvin dengan pandangan mata yang masih tetap menunduk.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, Freya melangkah mendekati Calvin. Ia berjalan pelan, lalu duduk di sebelahnya.


"Apa yang terjadi dengan bisnismu? Aku tahu, Emerald bukanlah perusahaan kecil, pasti tidak mudah untuk mengacaukannya," tanya Freya dengan pelan.


Melihat Calvin yang kalut, Freya tak bisa diam saja. Hatinya tergerak untuk menenangkan lelaki itu, sekaligus membantu masalahnya dari balik layar.


"Mungkin Emerald memang bukan perusahaan kecil, tapi juga perusahaan besar." Sahut Calvin.


"Apakah kamu pernah menyinggung orang besar?" tanya Freya.


"Kurasa tidak, tapi entahlah, bisnis terkadang keras. Yang menurutku persaingan bersih, tapi terkadang tidak di mata orang lain. Keberhasilah yang kuraih dengan susah payah, terkadang tidak diterima oleh beberapa pihak." Jawab Calvin, kali ini sambil mengangkat wajahnya. Ia menoleh dan menatap Freya.


"Bolehkah aku tahu rinci permasalahannya?" tanya Freya dengan serius.


Calvin menatap Freya tanpa kedip, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.


"Aku memang karyawan biasa, tidak punya pengaruh penting di negara ini, tapi siapa tahu aku bisa membantumu. Tapi kalau kau berat untuk menceritakannya, ya sudah, aku tidak memaksa, aku mengerti," sambung Freya sambil tersenyum.


"Kalaupun tidak bisa menceritakan dengan detail, setidaknya ceritakan garis besarnya saja Vin. Dengan kekuasaanku di dunia gelap, aku pasti bisa membantumu. Kamu adalah orang baik Vin, aku pasti menolongmu," batin Freya dalam hatinya.


"Ada orang yang memfitnahku. Melakukan hal buruk dengan mengatas namakan Emerald. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk mencari pelakunya. Tidak ada petunjuk sama sekali," ucap Calvin sambil menghela napas panjang.


"Cukup rumit." Gumam Freya dengan pelan.


"Iya, dan jika dibiarkan, lama kelamaan Emerald akan hancur." Sahut Calvin.


"Bertahanlah, aku akan berusaha membantumu, yah walaupun aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Tapi setidaknya, aku berusaha untuk mendengarkan keluh kesahmu. Agar kamu tidak merasa sendiri lagi," ucap Freya sambil tersenyum. Ia berusaha menghibur Calvin, dan menenangkan lelaki itu.


"Terima kasih Freya, maafkan sikapku tadi. Tapi jujur, aku tulus mengatakan itu, dan aku masih selalu menunggu jawaban darimu," kata Calvin seraya mengusap rambut hitam milik Freya.


"Oh ya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu," ucap Calvin dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa?" tanya Freya.


"Apakah Om Julian belum pulang?" tanya Calvin.


"Belum," jawab Freya sambil menggeleng.


"Apa yang dia lakukan di luar kota, kenapa begitu lama?" tanya Calvin.


"Aku hanya karyawan biasa Vin, aku tidak tahu apa yang dilakukan bos, dan aku juga tidak berani untuk menanyakan hal itu. Yang kutahu hanyalah menyelesaikan pekerjaanku, agar bisa menerima gaji yang utuh, itu aja," jawab Freya sambil tertawa renyah. Dan Calvin, ia juga ikut tertawa meskipun sedikit kaku.


"Julian tidak akan pernah kembali Vin, dia bukan keluar kota, tapi keluar dunia. Dia sudah damai di dalam tanah. Tapi maaf Vin, untuk masalah ini, aku terpaksa bohong padamu." Batin Freya dalam hatinya.


***


Jarum jam menunjukkan tepat pukul 10.00 malam. Freya masih terjaga di depan layar komputer miliknya. Calvin sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Freya bernapas lega, karena lelaki itu terlihat lebih tenang setelah berbincang dengannya. Dan kini, Freya bermaksud untuk membantu masalahnya.


Freya fokus menatap layar monitor di hadapannya. Ia menunggu munculnya data yang sedang dicarinya. Mencari informasi tentang Calvin, agar bisa menebak siapa kira-kira rivalnya.


Tak lama kemudian, Freya mengulas sebuah senyuman. Calvin Zaiden adalah pembisnis yang bersih. Ia sama sekali tidak terlibat dengan dunia gelap.


"Aku kagum pada pendirianmu," gumam Freya dengan pelan.


Menit berikutnya, Freya mengerutkan kening sambil memicingkan matanya. Berulang kali ia membaca kata demi kata yang terangkai di sana. Dalam informasi yang ia dapatkan, Calvin dan Julian memiliki hubungan yang sangat dekat, seolah Julian adalah tangan kanannya.


"Aku tidak menyangka hubungan mereka sedekat ini, pantas saja Calvin selalu bertanya tentangnya." Ucap Freya seorang diri.


Lalu Freya mengalihkan pandangannya, dan ia terpaku saat menatap tulisan yang sangat mengejutkan. Jantungnya berdetak dengan cepat, dalam hati ia bertanya-tanya.


Apakah informasi ini benar?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2