Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Lima Tahun Kemudian


__ADS_3

Di dalam burung besi yang membawanya terbang di atas awan, Freya menunduk menatap kedua tangannya. Dua cincin permata masih melingkar cantik di jari manis. Calvin, Jordan, dua cinta yang sempat singgah, dan berakhir dengan tragedi berdarah.


Freya mengusap kedua lengannya yang dibungkus kemeja panjang, beberapa menit lagi, dia akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Ia memutuskan untuk meninggalkan Rusia, dan segala kenangan di sana. Ia kembali ke negara asal, Negara Indonesia.


"Kulihat sejak tadi kau hanya diam, apakah ada masalah?" tanya Ibu-ibu paruh baya yang duduk di sebelahnya.


"Tidak," jawab Freya singkat.


"Syukurlah," sahut Ibu itu dengan senyum ramah.


Lantas tak ada lagi perbincangan diantara mereka, hingga pesawat mendarat di bandara.


Dengan kaki yang dibalut high hells, Freya melangkah sambil menyeret koper besar. Wajah ayu kian menawan kala angin meriapkan rambutnya.


"Indonesia, tempat yang pernah menorehkan kenangan pahit. Namun nyatanya, aku kembali menapakkan kakiku di sini. Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, aku akan melanjutkan hidupku di sini. Mama, sebentar lagi kita akan bertemu," batin Freya dengan mata yang memicing.


Kendati keluarganya tinggal di Surabaya, dan ia memilih tinggal di Jakarta. Namun bukan hal yang mustahil bagi Freya untuk merebut kembali aset orang tuanya.


***


Hari demi hari terus berjalan menjadi minggu dan bulan. Bulan pun silih berganti menjadi tahun. Waktu seolah berjalan begitu cepat, tak terasa lima tahun sudah berlalu sejak Freya kembali ke Indonesia.


Bagaimana kabar Jordan? Entahlah, Freya sama sekali tak pernah mencari tahu. Entah dia selamat, atau sudah tiada. Freya menanamkan satu opini di dalam hati. Jika Jordan selamat, dan suatu ketika dapat bersua, itu artinya dia harus memaafkannya. Namun jika Jordan tiada, dia harus melupakan kenangan bersamanya, dan menghapus sisa-sisa cinta untuknya.


Di Indonesia, Freya masih tetap pada jalannya. Ia menjadi pembunuh berdarah dingin, demi mengembangkan bisnis yang ia rintis sendiri. Freya mengubah nama panggilannya dengan nama baru, yakni Olivia. Dia berharap suatu saat nanti, dunia bisnis di Indonesia, berada dalam kendalinya. Masih ambisi yang mengendalikan pikiran Freya.


Indonesia adalah negara yang masih menjunjung tinggi norma dan etika. Demi mendapatkan simpati, dan penilaian positif dari publik, Freya kerap kali menyumbangkan dananya. Baik pada lembaga kesehatan, pendidikan, dan juga panti asuhan. Kini, nama Olivia sudah cukup dikenal. Citranya di tengah-tengah masyarakat sungguh sempurna.


Namun, selama lima tahun ia berkecimpung di Indonesia. Berkali-kali berkunjung ke Surabaya, Malang, Bandung, serta kota yang lain. Freya masih belum menemukan jejak keluarganya. Rumah yang dulu ia tinggali kini sudah menjadi milik orang lain, begitu pula dengan perusahaan yang didirikan oleh ayahnya.


Berbagai cara Freya lakukan untuk mendapatkan informasi tentang ini, namun hasilnya nihil. Tidak ada setitik pun petunjuk untuk menemukan mereka. Seolah keluarganya menghilang ditelan bumi.


Dalam hal bisnis, Freya memang sukses, namun tidak demikian dengan hal asmara. Hatinya sudah terlanjur mati, ia tak punya lagi benih-benih cinta untuk pria manapun.


Sejauh ini, banyak sekali relasi yang menyatakan perasaan. Namun Freya tak pernah menanggapi mereka. Ia tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Ia masih senang bertahan dalam kesendirian.


Siang ini, Freya duduk sendiri di sudut kafe. Menikmati secangkir milkshake dingin, dan sepiring aple pie.

__ADS_1


"Bu Oliv!" sapa seseorang yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya.


"Renata," gumam Freya dengan senyum ramah.


Renata adalah gadis cerdas yang dulu pernah menjadi sekertarisnya. Sejak dua tahun yang lalu dia izin undur diri, dan menikah. Meskipun usianya belum genap 25 tahun, namun kini Renata sudah menggendong bayi mungil yang sangat cantik.


"Bagaimana kabarnya Bu?" tanya Renata.


"Baik, kau sendiri?"


"Alhamdulillah saya juga baik Bu. Saya baru tiba minggu lalu, setelah sekian lama tinggal di rumah suami, di Bandung," jawab Renata dengan senyum ramah.


"Oh, anaknya umur berapa, siapa namanya?" tanya Freya.


"Lima bulan Bu, namanya Kirana," jawab Renata.


"Nama yang cantik." Freya merogoh tas miliknya, dan mengambil Tiga lembar uang ratusan ribu. Lantas ia memberikannya pada Kirana.


"Maaf ya, saya tidak datang waktu kamu lahir." Freya mencubit pipi Kirana dengan lembut.


"Wah terima kasih banyak, Bu. Sebenarnya tidak perlu repot-repot," ucap Renata malu-malu.


"Ibu sendirian?" tanya Renata.


Sebenarnya hanya pertanyaan sederhana, namun entah kenapa hati Freya seketika teriris.


Renata masih muda, tapi dia sudah memiliki keluarga yang lengkap. Sementara dirinya, sudah menginjak usia 30, namun masih tak bisa lepas dari kesendirian.


Haruskah ia menikah tanpa cinta?


"Bu Oliv!" panggil Renata.


"Ehh, mmm iya, kenapa?"


"Tidak apa-apa. Mmm kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu. Itu suami saya sudah selesai." Renata menunjuk ke arah lelaki yang sedang membayar tagihan.


"Iya, hati-hati."

__ADS_1


Freya menatap kepergian Renata dengan nanar. Ia dan suaminya bergandengan tangan dengan mesra. Sesekali sang suami menggoda bayi yang ada dalam gendongan Renata.


Tanpa sadar, bibir Freya mengukir senyum tipis. Ia ikut bahagia, melihat hubungan Renata yang harmonis.


"Apakah suatu saat nanti aku juga bisa seperti dia. Ahh tapi jika tidak ada cinta, mana bisa aku bahagia seperti mereka," gumam Freya seorang diri.


Ketika Freya masih bergelut dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponsel di atas meja berdering nyaring. Freya mengernyit heran, untuk apa sekertarisnya menelepon di saat jam makan siang.


"Ada apa?" tanya Freya tanpa basa-basi.


"Ada orang yang memohon-mohon ingin bekerja di sini, Bu. Katanya sudah melamar kemana-mana namu ditolak. Dia ingin jadi cleaning service, dan sudah saya beritahu jika posisi itu penuh. Tapi, dia malah ngotot ingin bertemu dengan Bu Oliv."


"Baiklah, suruh menunggu sebentar!" kata Freya tanpa pikir panjang. Entah kenapa hatinya tergerak untuk menemui orang itu.


"Baik Bu."


Lantas Freya memutus sambungan telepon, dan menyimpan ponselnya. Ia menyuap sisa aple pie, sebelum beranjak pergi.


Freya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sudah menjadi kebiasaannya, tak pernah berkendara dengan pelan.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Freya tiba di halaman kantor.


"Tolong taruh di parkiran!" perintah Freya pada satpam yang bekerja di kantornya.


"Baik, Bu."


Kemudian Freya melangkah memasuki kantor. Bunyi ketukan high hells yang ia kenakan, bak tombol otomatis yang menundukkan kepala karyawan. Mereka tersenyum, dan sedikit membungkuk, kala Freya melangkah di hadapannya.


"Di mana orang itu?" tanya Freya pada Yana, gadis muda yang menjadi sekertarisnya sejak dua tahun terakhir.


"Masih ke toilet, Bu. Sudah sejak tadi, mungkin sebentar lagi kembali," jawab Yana.


"Aku tunggu di ruangan, antar ke sana jika dia sudah kembali!" kata Freya.


"Baik, Bu."


Freya hendak melangkah menuju ruangannya. Namun baru saja ia mengayunkan kaki, tiba-tiba netranya menangkap sosok yang sangat familiar. Sosok yang tak disangka akan hadir di sana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2