Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Kembali Beraksi


__ADS_3

"Kabar apa Ndrew, cepat katakan!" kata Jordan dengan tegas.


"Ini tentang Jonathan, dia mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Atana." jawab Andrew dari seberang sana.


"Atana." gumam Jordan dengan pelan.


"Iya, dan aku mengkhawatirkan Freya, aku tidak bisa menghubunginya, apa dia masih ada di puncak?" tanya Andrew.


"Iya, seharian ini dia juga tidak memberiku kabar." jawab Jordan sambil menghembuskan nafas panjang.


"Tapi dia baik-baik saja kan." kata Andrew.


"Menurutku begitu, dia kesana sebagai Freya, tidak akan ada yang tahu, meskipun orang-orangnya Jonathan bertemu dengannya." ucap Jordan. Meskipun ia berkata demikian, namun jujur didalam hatinya ia juga merasa khawatir.


"Jordan, cobalah hubungi dia." kata Andrew.


"Baiklah, aku akan mencobanya." jawab Jordan.


"Dan satu lagi, tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Mr.X, aku takut dia merencanakan sesuatu yang mematikan." ucap Andrew dengan serius.


"Kita harus tetap waspada." kata Jordan dengan tegas.


"Aku tahu, tapi tolong beri tahu Freya, sepertinya situasi ini tidak bagus untuknya." kata Andrew.


"Baik, aku akan segera menghubunginya." jawab Jordan.


Lalu sambungan telefonnya berakhir, Jordan menaruh kembali ponselnya keatas meja.


"Ada apa?" tanya Alex tanpa menoleh.


"Jonathan mengerahkan anak buahnya untuk mencari Atana, dan juga tidak ada pergerakan apapun dari Mr.X. Kira-kira apa yang sedang direncanakannya?" tanya Jordan meminta pendapat pada Alex.


Alex meletakkan pena yang sedang dipegangnya, ia menatap Jordan dengan tajam.


"Kau sudah menghubungi Freya?" tanya Alex.


"Belum, ini masih jam kerja, kalau dia masih di samping rekannya bagaimana. Freya tidak mau, jika orang lain tahu kita mengenalnya." jawab Jordan.


"Kau benar juga, tapi nanti segera hubungi dia. Freya harus sangat waspada." ucap Alex.


"Iya." jawab Jordan singkat.


***


Ditengah kebisingan alat kontruksi yang sedang bekerja, Freya duduk di kursi kerjanya sambil memeriksa pengeluaran untuk pembelian material. Sedangkan Calvin, saat itu dia sedang menyeleksi beberapa orang yang dicalonkan untuk menggantikan Pak Benny. Rencananya hari ini juga mereka akan membereskan masalahnya di sini, dan besok pagi mereka akan pulang ke kota.


Disaat Freya sedang sibuk dengan deretan angka yang berjajar rapi, tiba-tiba ponselnya bergetar, ada satu notif pesan dari Jordan. Freya membuka pesan itu.


*Telfon aku jika keadaan memungkinkan*


Itulah pesan yang Jordan kirimkan padanya.


Lalu Freya mencari nomor kontak Jordan, dan menelfonnya.


Beberapa detik kemudian, sambungan telfon mulai terhubung.


"Hallo Fre." sapa Jordan dari seberang sana.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Freya tanpa basa basi. Dia tidak bisa telfon dengan Jordan lama-lama, ia tidak mau Calvin curiga.


"Andrew mendapat kabar, Jonathan mengerahkan anak buahnya untuk mencari Atana, kau berhati-hatilah." kata Jordan.


"Benarkah, tidak kusangka, mereka akan bergerak secepat itu." ucap Freya sambil tertawa senang.


"Jangan kau anggap ini remeh Freya, kau harus berhati-hati. Jonathan orang yang cukup berbahaya." kata Jordan memperingatkan.


"Aku mengerti, tapi sebenarnya bukan ini yang ingin aku ketahui, aku lebih penasaran dengan Mr.X, bagaimana reaksi dia." ucap Freya.


"Tidak ada pergerakan apapun darinya, aku rasa dia sedang menyusun strategi yang licik. Freya aku sarankan, untuk sementara ini, jangan pernah menjadi Atana." kata Jordan dengan serius.


"Yah baiklah." jawab Freya dengan asal.


"Aku serius Freya." ucap Jordan.


"Aku juga serius Jordan." jawab Freya sambil terkekeh.


"Kapan kau pulang?" tanya Jordan mengalihkan pembicaraan.


"Jika tidak ada kendala, besok aku akan pulang." jawab Freya.


"Baiklah hati-hati disana, Calvin tidak menyulitkanmu kan." kata Jordan.


"Tidak." jawab Freya singkat.


Lalu Freya mengakhiri sambungan telefonnya.


"Biasanya aku bahagia, jika Jordan mengkhawatirkanku, tetapi kenapa sekarang tidak. Benarkah hatiku ini sudah berubah haluan?" gumam Freya dengan pelan.


Freya menghembuskan nafasnya dengan kasar, ahh entahlah, ia sangat kesulitan memahami perasaannya saat ini, jadi biarlah waktu yang menjelaskan, sekarang biarkanlah semua mengalir dengan sendirinya.


"Freya." panggil seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri didepan pintu.


"Ada apa?" tanya Freya pada Calvin.


"Aku sudah menemukan penggantinya Pak Benny." ucap Calvin sambil tersenyum, dan duduk didepan Freya.


"Itu bagus, jadi besok kita bisa pulang kan?" tanya Freya sambil tersenyum.


"Iya." jawab Calvin sambil mengangguk.


"Berangkat pagi ya." ucap Freya memberi usul.


"Rupanya kau benar-benar ingin pulang ya." goda Calvin.


"Aku sudah merindukan kamarku." jawab Freya sambil tertawa renyah.


"Karena di sana, aku menyimpan alat yang bisa membuatku menjadi Atana. Aku sudah tidak sabar untuk menjadi Atana." batin Freya dalam hatinya.


"Kau cantik kalau tertawa." kata Calvin sambil menatap Freya.


"Oh ya, aku kira aku selalu cantik, ternyata tidak ya." ucap Freya pura-pura kesal.


"Bukan begitu Fre, kau selalu cantik hanya saja lebih cantik, jika tertawa. Untuk itu sering-seringlah tertawa." ucap Calvin sambil tetap tersenyum.


"Aku tidak suka dirayu." kata Freya sambil menunduk. Pipinya mulai merona.

__ADS_1


"Aku tidak merayu Freya, aku bicara apa adanya." kata Calvin.


"Sudahlah, kau diam saja. Aku akan mengerjakan ini, sebentar lagi sudah selesai." kata Freya sambil mengambil kembali penanya.


"Tidak butuh bantuan?" tanya Calvin.


"Tidak usah." jawab Freya.


***


Keesokan harinya.


Freya, dan Calvin sudah kembali ke kota. Kini mereka sudah berada didepan apartemen Freya.


Freya meraih tasnya, dan hendak turun dari mobil. Namun baru saja tangan kirinya membuka pintu, Calvin sudah meraih tangan kanannya.


"Freya." panggil Calvin sambil menggenggam tangan Freya.


"Ada apa?" tanya Freya dengan pelan, jantungnya kembali berdegub kencang.


"Aku masih menunggu jawaban kamu." ucap Calvin.


"Iya, aku akan memikirkannya, dan akan memberikan jawaban secepatnya." jawab Freya sambil tersenyum.


"Terima kasih." ucap Calvin.


"Iya, aku masuk dulu ya, kamu hati-hati." kata Freya.


Calvin menanggapinya dengan anggukan. Lalu Freya turun dari mobil, dan melangkah memasuki apartemen.


Freya langsung masuk kedalam kamarnya, ia melemparkan tasnya begitu saja, dan merebahkan dirinya di ranjang. Ahh perjalanan yang cukup panjang, benar-benar melelahkan.


"Aku harus istirahat, nanti malam aku punya sedikit misi." gumam Freya sambil memeluk gulingnya.


Lalu ia mencoba memejamkan matanya, dan tak berapa lama kemudian, Freya sudah tenggelam dalam dunia mimpinya.


Detik demi detik terus bergulir, sang surya yang tadi masih bersinar terang, kini mulai merangkak kembali ke peraduannya. Suasana sudah mulai senja, namun Freya masih terlelap dalam tidurnya. Hingga sekitar dua jam kemudian, Freya mulai menggeliat pelan, ia perlahan membuka matanya. Gelap, hanya gelap yang bisa dilihat olehnya. Freya beranjak dari tidurnya, ia meraba saklar lampu di kamarnya.


"Hoaamm, aku tidur terlalu lama." gumam Freya sambil menguap.Ia menatap layar ponselnya yang tergeletak diatas meja, sudah jam delapan malam.


Lalu Freya melangkah ke kamar mandi, ia merendam tubuhnya dalam air hangat. Cukup lama Freya menghabiskan waktunya di kamar mandi, hingga tanpa disadari perutnya mulai keroncongan.


Freya keluar dari kamar mandi, memakai dress selutut tanpa lengan, ia mencari sesuatu dalam kulkasnya, tidak ada makanan sama sekali. Ahh maklum, ia berhari-hari meninggalkan apartemennya. Mau tidak mau Freya harus makan mie instan, karena hanya itu makanan yang ada di dapurnya saat ini.


Sebenarnya ia juga bisa memesan makanan jadi, tapi entahlah rasanya Freya sangat malas untuk melakukannya.


Akhirnya Freya mengganjal perutnya dengan mie instan, ia menyantap makananannya sambil menonton tv.


Empat jam sudah berlalu, kini waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, Freya menyunggingkan senyum di bibirnya. Ia beranjak dari duduknya, dan mematikan tvnya, lalu ia melangkah kedalam kamarnya. Mengambil jubah hitam, dan rambut palsunya.


"Selamat datang kembali Atana, malam ini kau akan bersenang-senang." ucap Freya sambil tertawa menyeringai.


Ia menatap pantulan dirinya di cermin, bukan lagi seorang Freya gadis khas Indonesia. Tapi ia sudah menjadi wanita bermata biru, dan berambut coklat.


"Aku akan pastikan, dunia mafia tidak akan pernah melupakan aku." ucap Freya sambil menatap pistol yang sedang digenggamnya.


Lalu ia melangkah keluar dari kamarnya, entah kemana tujuannya, hanya dirinya yang tahu.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2