Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Kematian Jonathan


__ADS_3

Jonathan menghentikan mobilnya di halaman apartemen. Kemudian ia turun dari mobil, dan membukakan pintu untuk Freya.


"Terima kasih," ucap Freya sambil tersenyum. Lalu ia melangkah turun dan berdiri tepat di samping Jonathan.


"Kamu benar-benar cantik," puji Jonathan sambil menyelipkan rambut Freya ke belakang telinganya.


"Jangan terlalu memujiku, aku tidak secantik itu." Jawab Freya, ia menundukkan wajahnya, seolah sedang terpesona.


"Silakan terpesona, selagi ragamu masih bernyawa. Aku tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama, aku tidak ingin kau mengetahui siapa Atana dan di kubu mana ia berpihak. Sebelum aku mendapatkan Mr.X, aku tidak akan membiarkan siapa pun tahu identitasku." Batin Freya dalam hatinya.


"Bagiku kamu yang paling cantik," bisik Jonathan tepat di telinga Freya, seraya merengkuh pinggang wanita itu dengan erat.


"Apa kamu tidak mengajakku masuk?" tanya Freya sambil melepaskan rengkuhan Jonathan.


"Maaf aku lupa, ayo!" ajak Jonathan sambil melangkahkan kakinya.


Freya mengikuti langkah Jonathan, mereka berjalan beriringan menuju ke apartemen.


"Setelah masuk ke dalam sana, kau tidak akan bisa mempertahankan kesucianmu, kau akan jatuh dalam pelukanku." Batin Jonathan dalam hatinya, ia mulai berimajinasi dengan liar.


Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di tempat tujuan. Jonathan membuka pintu apartemennya dengan lebar.


"Silakan!" ucap Jonathan sambil tersenyum lebar.


Freya mengangguk sembari membalas senyuman Jonathan, lalu ia melangkah masuk dan mulai mengamati setiap jengkal ruangan itu.


"Tidak ada yang aneh," ucap Freya dalam hatinya.


"Ada apa, Freya?" tanya Jonathan, ia tahu jika Freya menelisik setiap hal yang ada dalam ruangan itu.


"Sangat indah, apartemen ini jauh lebih mewah dari apartemen milikku. Rasanya aku minder masuk ke dalam ruangan ini," jawab Freya sambil tersenyum kaku. Ia berpura-pura gugup dan salah tingkah.


"Kau menyukainya?" tanya Jonathan sambil melangkah mendekati Freya.


"Tempat seperti ini, siapa yang tidak suka." Jawab Freya.

__ADS_1


"Kau mau memilikinya?" bisik Jonathan, lagi-lagi tepat di telinga Freya.


"Apakah boleh?" Freya balik bertanya, sambil menatap Jonathan lekat-lekat. Ia sedikit membuka bibirnya, seolah memang sengaja menggoda.


Jonathan tersenyum miring, "kupikir dia berbeda, dan lebih sulit untuk mendapatkannya. Tapi ternyata sangat mudah, pada dasarnya seumua wanita sama, akan silau jika melihat harta." Batin Jonathan.


"Senangkan aku, dan tempat ini akan menjadi milikmu!" ucap Jonathan sambil meraih dagu Freya, dan memaksa wanita itu mendongak.


"Aku masih perawan, apa itu cukup menyenangkan? Kau adalah lelaki pertama yang pernah sedekat ini denganku," jawab Freya. Jarak mereka begitu dekat, hingga keduanya dapat merasakan hangat napas masing-masing.


"Kau perawan, dan kau berani senakal ini. Sekarang senangkan aku, dan mulailah menjadi simpananku. Aku akan memberimu barang apa saja yang kau mau," kata Jonathan sambil merengkuh pinggang Freya dengan erat, dan menariknya ke dalam pelukannya.


Freya mengangkat tangannya, dan mendorong dada Jonathan. Hingga menciptakan jarak di antara keduanya.


"Aku butuh tempat yang tertutup," ucap Freya sebelum Jonathan sempat membuka suara.


"Karena yang kuinginkan adalah nyawamu," sambung Freya dalam hatinya.


"Baiklah, aku mengerti. Ayo pergi ke kamar!" kata Jonathan seraya melepaskan pelukannya.


Jonathan melangkahkan kakinya, dan Freya mengikutinya dari belakang.


Bunyi tembakan terdengar nyaring di telinga Freya, seiring tubuh Jonathan yang jatuh tersungkur di lantai. Lelaki yang menyandang status sebagai seorang mafia besar, kini terkapar di tangan seorang wanita.


Jonathan meringis, menahan rasa perih dan panas, akibat peluru yang melubangi punggungnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, ia menoleh dan menatap wanita yang berdiri di belakangnya.


Wajah yang tadi memancarkan keanggunan, kini berubah menjadi dingin dan kejam. Jemarinya yang lentik, tampak menggenggam senjata, sangat kontras.


"Kau!" geram Jonathan sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Mata Jonathan memicing, tak menyangka jika ia terjatuh dalam jebakan musuh.


"Apa aku masih terlihat cantik, Jonathan," kata Freya sambil duduk berjongkok di depan Jonathan. Lelaki itu sedang terkapar di lantai.


Jonathan terus meringis, menahan rasa sakit yang kian menajadi-jadi. Sebenarnya ia juga merasa heran, kenapa peluru kali ini benar-benar melemahkannya. Padahal bukan sekali, atau dua kali ia tertembak, sudah berulang kali, namun belum pernah merasakan peluru yang seganas ini.

__ADS_1


"Siapa kau?" geram Jonathan dengan napas yang tersengal-sengal. Tubuhnya sudah dibasahi keringat, mati-matian ia berusaha untuk tetap sadar.


Sebenarnya banyak sekali senjata tersembunyi yang berada di apartemen itu, namun Jonathan terlanjur tak berdaya untuk mengambilnya. Alhasil dia hanya terkapar sambil menunggu keberuntungan.


"Apa kau tidak bisa menebak siapa aku? Kupikir dengan merasakan peluruku, kau sudah tahu identitasku. Tapi ternyata kau tidak secerdas itu," kata Freya sambil tersenyum miring.


"Kau wanita berengsek!" geram Jonathan dengan napas yang semakin tersengal. Darah segar mulai merembas dari punggungnya, mengalir dan membasahi kemeja yang dikenakannya.


"Iya aku memang berengsek, aku licik, dan aku juga kejam." Kata Freya sambil tertawa.


"Jonathan Marquis, mafia besar yang sangat disegani, berterima kasihlah padaku, karena aku akan menguak identitasku dengan suka rela. Dengarkan aku baik-baik!" ucap Freya sambil menopang dagu Jonathan dengan ujung pistolnya.


"Aku adalah Atana, wanita misterius yang mengacaukan markas Larry. Sekarang kau tidak heran kan, kenapa tubuhmu langsung lemas hanya dengan satu tembakan saja. Karena aku tidak pernah menggunakan peluru biasa, aku selalu melapisinya dengan racun," sambung Freya sambil tertawa menyeringai.


"Atana, jadi kau benar orangnya Mr.X. Kenapa kalian mengusikku?" Jonathan bertanya sambil memicingkan matanya. Terlihat jelas jika ia sangat membenci Freya.


"Mr.X, aku tidak berdiri dipihaknya." Jawab Freya dengan cepat.


"Jangan lagi berdusta, aku tahu kau adalah orangnya Mr.X! Sekarang semuanya masuk akal, kenapa kau bekerja di Diamond. Kau adalah mata-mata yang menggantikan Julian, benar kan?" bisik Jonathan dengan pelan, ia semakin melemah, mungkin sebentar lagi raganya tidak bernyawa.


"Julian, apa maksdumu? Apa hubungannya Mr.X dengan Julian?" tanya Freya dengan cepat.


Tidak ada jawaban dari Jonthan. Lelaki itu telah menghembuskan napas terakhirnya. Kepalanya terkulai di lantai, tidak ada lagi gerakan darinya, hanya darah segar yang tampak bersimbah menggenangi tubuhnya.


"Bangun, Jonathan bangun! Bangun dan jawab pertanyaanku!" teriak Freya sambil mengguncang lengan Jonathan.


Namun lelaki itu tetap bergeming, jiwanya sudah terlanjur pergi meninggalkan jasad yang masih terbujur di lantai.


"Kenapa dia pergi begitu cepat, padahal dia mengetahui sesuatu yang sangat penting. Diamond, ternyata perusahaan itu memiliki hubungan dengan Mr.X." Kata Freya dengan pelan, seakan ia tak percaya dengan informasi yang baru saja didapatnya.


Diamond hanyalah perusahaan kecil yang dikuasai Jordan untuk menyamarkan status Freya. Kebetulan sekali, jika ternyata perusahaan itu memiliki hubungan dengan Mr.X.


"Tapi apakah sekarang Mr.X masih belum tahu, jika perusahaan itu sudah berada dalam kendali Jordan. Aku harus lebih berhati-hati, semoga saja tidak sulit menguak misteri ini. Mr.X, sedikit demi sedikit aku akan menemukan identitas aslimu," ucap Freya sambil beranjak dari duduknya.


Belum sempat Freya melangkahkan kakinya, tiba-tiba pintu apartemen terbuka dengan kasar, bersamaan dengan suara tembakan yang meledak berkali-kali.

__ADS_1


Dengan cepat Freya membalikkan badannya, dan dapat ia lihat, beberapa senjata sudah mengarah padanya, siap melubangi dadanya.


Bersambung...


__ADS_2