
Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Freya masuk ke dalam rumah Jordan dengan langkah yang tertatih. Ia terlalu lelah malam ini, berhadapan dengan Mr.X, berhadapan dengan anak buah Jonathan, semua itu cukup menguras tenaganya. Namun Freya merasa bahagia, perjalanannya tidak sia-sia. Ia mendapatkan satu benda berharga, dan juga satu informasi penting.
Freya menjatuhkan dirinya di sofa runag tengah, terlalu malas untuk naik ke lantai atas. Freya berbaring di sana, dan tak lama kemudian ia memejamkan matanya.
Tiga jam kemudian, Jordan menuruni anak tangga dengan langkah yang tergesa. Kabar tentang keonaran di markas Jonathan, sudah sampai di telinganya. Dan detik ini, Jordan bermaksud untuk menemui Freya, karena wanita itu sama sekali tidak menjawab teleponnya.
Tak lama kemudian, mata Jordan terpaku pada satu sosok yang sedang terlena di atas sofa. Wajahnya tampak cantik dan anggun di balik rambutnya yang berwarna cokelat.
Dengan cepat Jordan melangkah menghampirinya, mengguncang lengannya, dan mencoba menariknya dari dunia mimpi.
"Fre! Fre, bangun Fre!" panggil Jordan berusaha membangunkan Freya. Ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukannya semalam.
"Fre, Freya!" panggil Jordan seraya mengguncang lengannya dengan lebih keras.
"Aw!" teriak Freya sambil menarik lengannya dengan cepat. Ia berdesis pelan, menahan rasa sakit karena Jordan memegang tepat di lukanya.
"Kau kenapa?" tanya Jordan dengan mata yang menyipit. Ia menatap Freya dengan intens, menilik gerak-geriknya yang beranjak dari tidurnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jordan dengan cepat.
"Separuh jiwaku masih tertinggal di dunia mimpi, bersabarlah sebentar, Jordan!" ucap Freya sambil memijit pelipisnya, rasa kantuk membuat kepalanya sedikit pusing.
"Aku butuh penjelasan, apa yang kau lakukan, dan kenapa dengan lenganmu?" tanya Jordan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Hanya luka kecil, nanti aku akan meminta bantuan David untuk mengobatinya." Jawab Freya dengan santainya.
"Kau membuat keonaran di markasnya Jonathan, ya? Kenapa kamu melakukan ini Fre, kenapa kamu gegabah. Bukankah aku sudah bilang, jangan dulu menjadi Atana, Jonathan sedang memburumu!" kata Jordan dengan nada yang sedikit tinggi. Ia benar-benar tidak menyangka, jika Freya akan senekad itu.
"Yang penting aku baik-baik saja, Jordan. Kau tahu, aku mendapatkan dua hal yang sangat berharga, aku yakin kau sangat menyukainya," ucap Freya sambil tersenyum lebar.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau dapatkan, yang kupedulikan adalah keselamatanmu!" jawab Jordan, masih belum menurunkan nada suaranya.
"Sekarang aku tahu siapa Mr.X." Ucap Freya mengabaikan perkataan Jordan.
Entah kenapa, Freya merasa biasa saja kala Jordan mengkhawatirkannya, mungkinkah hatinya benar-benar berpaling? Ahh tanpa dipinta, bayangan tentang Calvin melintas begitu saja dalam ingatannya.
"Kamu serius?" tanya Jordan dengan sungguh-sungguh.
"Tentu saja, kali ini aku yakin dugaanku tidak meleset." Jawab Freya.
"Katakan!" kata Jordan.
"Selama ini aku mencurigai Marcel, tangan kanannya Jonathan. Setiap kali aku mendapatkan lokasi Mr.X, aku selalu bertemu dengannya. Dan semalam aku bertemu dengan Mr.X, kita sempat dikepung oleh Jonathan dan anak buahnya. Dan kau tahu, aku sama sekali tidak bertemu dengan Marcel, bahkan sampai aku bertandang ke markasnya. Aku yakin ini bukan sekedar kebetulan," ucap Freya dengan panjang lebar.
__ADS_1
Jordan tampak berpikir keras, dulu dia dan teman-temannya sempat menyelidiki Jonathan, namun hasilnya tidak sesuai dengan dugaan.
"Freya!" panggil Jordan.
"Hmmm." Gumam Freya dengan pelan.
"Jika Mr.X adalah Marcel, kenapa Jonthan mengepung kalian? Apakah itu semua hanya pura-pura, semacam trik begitu?"
"Kurasa tidak." Jawab Freya.
"Apa maksudmu?" tanya Jordan.
"Sepertinya hubungan Marcel dan Jonathan tidak sebaik kelihatannya. Jonthan adalah pria hidung belang, aku akan menyelidiki ini dengan menjadi Freya. Sekaligus, aku akan mencabut nyawanya. Membiarkan dia hidup lebih lama, itu bukan hal yang baik Jordan. Mr.X mulai curiga, jika aku berdiri di pihakmu. Aku tidak ingin Jonathan punya pemikiran yang sama," ucap Freya menjelaskan pendapatnya.
"Satu hal yang harus kau ingat Freya! Pikirkan keselamatan kamu, aku tidak suka melihatmu seperti ini. Kau berharga bagiku, aku tidak ingin kau mati konyol karena ambisimu! Baik menjadi Freya ataupun menjadi Atana, keselamatanmu adalah yang nomor satu!" kata Jordan dengan tegas.
"Iya." Jawab Freya dengan singkat.
Freya menunduk, mencoba memahami hatinya sendiri. Bahkan sampai Jordan mengatakan bahwa dirinya berharga pun, Freya masih biasa saja. Jantungnya tidak berdegub kencang seperti biasanya. Secepat itukah Calvin mengisi hatinya?
"Oh ya, ini rute perdagangan milik Jonathan, kita bisa menguasainya sekarang," ucap Freya sambil menyerahkan lipatan kertas kepada Jordan.
Jordan meraih kertas itu, ia tersenyum miring saat menatap coretan-coretan tinta yang tertera di sana.
"Kau lebih dari yang kuharapkan, Freya." Kata Jordan.
"Semoga kamu tidak menyesali keputusan yang telah kau ambil Freya. Ujian terbesar dalam dunia mafia, bukanlah terluka atau mati, tapi kehilangan. Karena hal itu, aku menjadi dingin dan kejam seperti sekarang, bahkan hatiku mati dan cintaku juga padam. Kuharap kau tidak merasakan apa yang kurasakan, Freya." Batin Jordan dalam hatinya.
"Apakah David belum bangun?" tanya Freya.
"Ayo ke atas, aku akan membangunkannya," kata Jordan.
"Baik."
***
Senja telah lama padam, bulan dan bintang mulai tampak samar-samar menghiasi sang malam. Freya duduk di sofa ruang tamu, di dalam apartemennya. Tubuhnya yang sintal dibalut celana pendek, dan kemeja lengan panjang.
Jantungnya berdegub kencang, kala menatap satu pesan chat yang baru saja Calvin kirimkan padanya.
Aku sudah tiba di halaman apartemen, buka pintu untuk menyambutku ya
"Untuk apa dia datang ke sini, dan kenapa aku merasa sangat gugup." Gumam Freya dengan pelan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Lagi-lagi pesan dari Calvin.
Aku sudah di depan pintu
Freya menghela napas panjang, lalu ia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu. Freya membukanya dengan lebar, dan tampak di sana sosok lelaki yang sangat rupawan sedang tersenyum padanya.
"Boleh aku masuk?" tanya Calvin sambil menatap Freya.
"Mmm iya silakan," jawab Freya sambil menunduk, ia tak sanggup berlama-lama menatap manik biru milik Calvin, sangat menghanyutkan.
Calvin dan Freya masuk ke dalam ruangan, tak lupa Freya kembali menutup pintunya.
"Duduklah, aku akan membuatkanmu minum," ucap Freya sambil melangkahkan kakinya, hendak pergi ke ruangan dapur.
Namun, baru beberapa langkah Freya berjalan, Calvin sudah menarik tangannya, dan memaksa Freya untuk berbalik ke arahnya.
"Aku merindukanmu Freya," bisik Calvin tepat di depan wajah Freya.
"Mmmm aku, aku___"
"Apakah kamu tidak merindukan aku, hmmm?" tanya Calvin seraya merengkuh pinggang Freya dengan erat. Sementara tangan yang lainnya, menangkup pipi Freya dan memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Aku mencintaimu, apakah kamu sudah menemukan jawabannya?"
"Belum, aku...aku..."
"Rasanya aku tidak sanggup lagi untuk menunggu, biarkan aku membantumu menemukan jawabannya," bisik Calvin sambil mendekatkan wajahnya, dan memangkas habis jarak di antara keduanya.
"Calvin jangan, aku___" belum sempat Freya meneruskan kalimatnya, benda kenyal dan manis sudah membungkam mulutnya.
Freya memejamkan matanya, entah kenapa dia tak kuasa menolak perlakuan Calvin. Bahkan ia selalu menikmati setiap permainan bibir yanh disuguhkan lelaki itu. Freya, secepat inikah hatimu berpaling?
Beberapa menit kemudian, Calvin melepaskan kecupannya.
"Freya, apakah kau ingin aku berhenti?" tanya Calvin seraya mengusap sudut bibir Freya yang basah.
"Mmmm."
"Katakan saja," ucap Calvin.
Namun Freya tetap bergeming, ia tidak tahu harus menjawab apa. Hendak menolak, namun hatinya masih menginginkannya. Hendak menerima, ia terlalu malu untuk mengatakan itu.
"Jika kau diam, berarti kau ingin aku melanjutkannya. Dan itu artinya, kau sudah mencintaiku. Dengan begitu, kita resmi menjadi sepasang kekasih. Kau wanitaku, dan aku lelakimu," kata Calvin.
__ADS_1
"Jawab aku Freya, sebelum aku menyimpulkannya sendiri," sambung Calvin dengan lebih mengeratkan rengkuhannya.
Bersambung...