
Dalam gelapnya malam, Calvin turun dari mobil. Di balik jubah kebesarannya, ia menatap rumah kosong yang berdiri tepat di hadapannya. Calvin mengulas senyuman licik, lantas ia mengayunkan kakinya menuju pintu.
Calvin membuka pintunya lebar-lebar, dan aroma pengap mulai menyeruak di hidungnya. Calvin tak peduli, ia terus melangkah mencari sosok yang membangkitkan amarahnya.
Selang beberapa detik, Calvin tiba di ruang tengah. Matanya langsung tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk di kursi. Satu kakinya diangkat, dan kedua tangannya dilipat.
Mata biru milik wanita itu menatapnya dengan tajam. Seolah ingin melumpuhkannya lewat netra. Dan hal ini membuat amarah Calvin semakin membara.
"Kau berani mengajakku bermain, Atana! Malam ini, jangan harap nyawamu masih menyatu dengan raga!" kata Calvin dengan tegas. Tatapannya menyiratkan aura pembunuh yang sangat menakutkan.
"Aku ingin mengajakmu bekerjasama. Duduklah dan kita bicarakan baik-baik!"
"Tidak, aku tidak percaya dengan wanita licik sepertimu! Malam ini, aku akan mengantarmu ke alam baka!" geram Calvin.
"Kau tidak akan bisa melakukan itu, karena aku yang akan lebih dulu mencabut nyawamu!"
"Begitukah? Kusarankan jangan terlalu percaya diri, karena itu yang akan mempercepat kematianmu!" kata Calvin sembari mengayunkan kakinya.
"Jangan, jangan mendekat!"
"Kenapa, kau mulai takut?" ejek Calvin sambil melangkah lebih dekat.
"Berhenti di sana, aku bilang berhenti!"
"Baiklah, aku akan berhenti!" jawab Clavin, "karena peluruku cukup mampu menempuh jarak ini," ucapnya sambil menodongkan pistol ke depan.
Wanita di depannya diam tak bergerak, namun sorot matanya menyiratkan ketakutan yang teramat kuat. Dia terus merapatkan tubuhnya di kursi, berharap lelaki di hadapannya masih memiliki rasa iba.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu mengundangku! Tapi aku datang dengan membawa tujuan. Pergilah ke neraka, Atana!" teriak Calvin dengan amarah yang kian membuncah, bersamaan dengan bunyi ledakan pistol yang memecah heningnya malam.
"Otakmu tidak sebanding dengan kekuatanmu! Dengan mudahnya kamu terperangkap dalam jebakanku!" kata Freya sambil menghela napas lega.
__ADS_1
"Misiku sudah berakhir. Setelah ini, aku akan hidup damai bersama Calvin. Aku akan mengejar kebahagiaan dengan cinta, bukan ambisi." Batin Freya.
Mr.X sudah tersungkur di hadapan Freya. Ia mengira wanita di sana adalah Atana. Padahal, dia adalah anak buahnya. Freya sengaja menyuruhnya menyamar, agar dia punya kesempatan untuk membunuh Mr.X.
Freya datang disaat Mr.X akan membunuh wanita itu. Dan Freya menembaknya dari belakang, sebelum Mr.X sempat menarik pelatuk pistolnya.
Calvin mengerang kesakitan, timah panas yang bersarang di punggungnya menyisakan rasa sakit yang teramat kuat. Calvin menggigit bibirnya, ia sadar peluru yang melukainya adalah peluru beracun.
Calvin melirik wanita di depannya, dia berlari meninggalkan ruangan itu. Kini Calvin tahu, dia bukanlah Atana. Dirinya telah masuk dalam jebakan.
Freya berjalan mendekati Calvin, dan berjongkok tepat di hadapannya. Calvin menatapnya dengan penuh emosi, sambil berusaha menahan rasa sesak di dada.
"Demi Freya aku harus bertahan, aku harus bisa melindunginya dari bahaya," batin Calvin sembari mengumpulkan sisa-sisa tenaganya.
"Aku akan menikmati wajahmu yang tersiksa, tanpa terhalang masker," ucap Freya sambil mengangkat tangannya, hendak melepaskan masker Mr.X.
"Aku tidak akan sudi dilihat olehmu!" bentak Calvin sembari menepis tangan Freya dengan kasar.
Freya tersentak kaget saat mendapat perlawanan yang tiba-tiba. Tubuhnya terhuyung ke belakang, dan Calvin memanfaatkan kesempatan ini. Calvin bangkit dengan tertatih. Lantas ia menodongkan pistolnya, dan bersiap menembak dada Freya.
Namun Calvin kalah cepat, sebelum ia berhasil menembak, Freya lebih dulu menendang tangannya. Pistol milik Calvin terpental jauh, dan sang empunya juga terjatuh. Freya memberikan kadar racun yang lebih besar, sehingga dampaknya jauh lebih kuat.
Calvin mengerang sambil memegangi dadanya. Rasa sesak dan sakit semakin menyiksa. Jangankan untuk bangkit, untuk bernapaspun ia merasa kesulitan.
"Kau tidak bisa lagi menutupi identitasmu, Mr.X!" kata Freya sambil berjongkok di sebelah Calvin, dan dengan gerakan cepat ia menarik maskernya.
Tubuh Freya membeku seketika, detik itu juga jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia sangat kaget saat melihat wajah Mr.X, yang tak lain adalah Calvin.
"Calvin, Calvin! Kenapa ini kamu, Calvin!" teriak Freya sambil meraih kepala Calvin, dan menyandarkan di pangkuannya. Air mata jatuh berderaian membasahi pipinya.
"Kenapa kau kaget, dan kenapa kau menangis?" tanya Calvin dengan napas yang terengah-engah.
__ADS_1
Sebenarnya ia juga penasaran, kenapa bola mata Atana berubah hitam, tidak biru seperti biasanya. Dan melihat mata teduh yang menitikkan air mata, Calvin merasa familiar dengan sosok Atana.
Malam ini, Freya tidak sempat memakai lensa mata. Karena mempersiapkan senjata saja sudah memakan waktu yang cukup lama.
"Calvin maafkan aku. Aku pikir Mr.X itu Andrew, bukan kamu! Calvin, katakan jika semua ini hanya mimpi!" kata Freya disela-sela tangisnya. Sambil menarik masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Freya, kaukah itu?" ucap Calvin sambil mengangkat tangannya, dan mengusap pipi Freya. "Ini bukan mimpi, Mr.X memanglah diriku, maafkan aku yang tidak jujur dari awal, Sayang!" sambung Calvin.
"Jangan minta maaf, aku juga salah, aku tidak jujur siapa diriku. Calvin bertahanlah, aku ada penawarnya di markas! Ku mohon bertahanlah sebentar!" kata Freya sambil mengangkat kepala Calvin.
"Tidak Freya!" ucap Calvin sembari menahan tangan Freya. "Aku tidak bisa bertahan lagi, berjanjilah untuk selalu baik-baik saja!" sambung Calvin.
"Tidak, kamu harus bertahan. Kamu sudah berjanji akan selalu menjagaku, kamu harus tetap hidup Calvin!" kata Freya. Ia tak menghiraukan penolakan Calvin, ia mengangkat tubuh lelaki itu dan membawanya keluar.
Di halaman rumah, anak buah Calvin menghadangnya. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas perbuatannya. Namun Freya mengabaikan mereka, ia menyerahkan semuanya pada bawahannya.
Freya terus berlari menuju mobil, dengan tetap membawa Calvin dalam gendongannya.
"Cepat kemudikan mobilnya, dan segera menuju markas!" teriak Freya pada salah satu bawahan yang bertugas menjadi supir.
Lantas Freya membaringkan tubuh Calvin di bangku belakang. Kemudian ia juga duduk di sana, ia menyandarkan kepala Calvin di pangkuannya. Detik berikutnya, mobil melesat menembus dinginnya malam.
"Calvin, bertahanlah Calvin! Sebentar lagi kita akan tiba di markas," ucap Freya sembari menangkup pipi Calvin yang semakin pucat.
"Kalaupun aku tidak bisa bertahan, aku rela Freya. Mati ditanganmu jauh lebih baik, daripada hidup tapi melihatmu dalam bahaya. Setidaknya sekarang aku tenang, kau cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri. Freya, aku tidak bisa melihatmu terluka," ucap Calvin sambil menggenggam jemari Freya. Suaranya terbata-bata, namun senyuman lebar terukir di bibirnya
Freya semakin menangis, tangan Calvin terasa dingin kala menyentuh kulitnya. Lelaki yang biasanya hadir dengan sejuta kehangatan, kini berada di ambang kematian, karena dirinya.
"Jangan berkata yang tidak-tidak, Calvin. Kamu harus bertahan, kamu harus sembuh. Kamu sudah berjanji akan selalu menjagaku dan mencintaiku, kamu juga mengajakku hidup bersama. Calvin, kamu harus menepati janjimu!" kata Freya dengan histeris. Mendengar setiap kalimat yang terucap dari mulut Calvin, hatinya kian teriris.
Calvin melepaskan genggamannya, lantas ia merogoh saku jubahnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Lalu Calvin meraih tangan Freya, dan menyerahkan sebuah kunci padanya.
__ADS_1
"Ini kunci rumahku. Di laci, di dalam kamar, ada sebuah cincin yang kubeli untuk melamarmu. Freya, jika aku tidak bisa bertahan. Ambilah cincin itu, dan pakailah! Berjanjilah untuk tidak melepasnya, Freya!" kata Calvin sambil tersenyum. Kendati demikian, napasnya semakin terengah-engah.
Bersambung...